Catatan sedikit :
Kalau menurut berita, penggunaan Bahasa Jawa itu hanya hari Sabtu. Padahal 
hampir semua kantor pemda hari sabtu khan libur. Mengapa koq diributin?
 
 
Thanks. CU. BTS. 

--- On Sat, 8/15/09, suhadi hadiwinoto <[email protected]> wrote:


From: suhadi hadiwinoto <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Think locally, do globally ?
To: [email protected]
Date: Saturday, August 15, 2009, 4:35 PM


  







Sedikit catatan:


Dalam Sumpah Pemuda kita bersumpah untuk menjunjung tinggi bahasa persatuan: 
Indonesia. Disamping bahasa persatuan Indonesia, kita mempunyai bahasa daerah 
sebagai aset yang sangat berharga dan harus dilestarikan. Untuk melestarikan 
bahasa daerah itu seharusnya ia digunakan oleh masyarakatnya dalam kehidupan 
sehari-hari.


Pertanyaannya adalah apakah kantor-kantor resmi yang juga harus melayani 
masyarakat dari berbagai daerah lain dapat mengharuskan penggunaan bahasa 
daerah lokal dalam pelayanannya? Apakah orang asing juga harus belajar bahasa 
daerah dulu untuk bisa mendapat pelayanan atau informasi?


Gagasan mengunakan bahasa lokal dalam kehidupan sesama masyarakat lokal adalah 
hal yang positif. Tetapi kita harus berhati-hati dalam penggunaannya dalam 
pelayanan formal. Kalau dipaksakan penggunaan bahasa daerah d dalam pengadilan, 
kepolisian, kedokteran, penelitian ilmiah,penerbangan, lalulintas, bea-cukai 
dll akan sangat membingungkan.


Bahasa daerah dapat dipromosikan, dipelihara, dan dilestarikan, tetapi tidak 
dapat dipaksakan dengan semana-mena kepada semua orang diuar komunitasnya. Kita 
perlu belajar hidup dalam keberagaman dimana kita menghargai budaya sendiri dan 
budaya orang lain tanpa paksaan.


Bahasa daerah tidak boleh punah. Ia harus dilesttarikan, tetapi pemerrintah 
daerah perlu berhati hati dalam menetapkan ketentuan bagi masyarakatnya. 
Sesuatu yang baik bisa jadi counter productive jika keliru menerapkannya. 
Bagaimana kita mengembangkan yang positif tanpa membawa dampak negatif perlu 
dibahas bersama dengan cermat


sh.
--- On Sat, 8/15/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote:


From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Think locally, do globally ?
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Saturday, August 15, 2009, 6:29 PM


  






Kangmas, Mbakyu, Uda, Uni milisters ysh, 
Jum’at kemarin di acara rapat paripurna DPR di Senayan utk mendengarkan  pidato 
kenegaraan Presiden dalam rangka HUT ke64 proklamasi RI……. lagu Indonesia Raya 
juga lupa  nggak dinyanyikan diawal acara….. lalu akhirnya ganti dinyanyikan 
dipenutup acara……. 
Yah…. Ada yg katakan….. nasionalisme kita ini memang nasionalisme belum 
selesai…… dasar selama 30 tahun sempat dibikin  sakit oleh orde baru……dan dasar 
ada pula metafora istilah ‘pasang-surut’……. Yah.. begitulah….mungkin itu 
merupakan bagian dari pasang surut  nasionalisme kita yg belum selesai itu……. 
Salam,

--- On Sat, 8/15/09, Reny ansih <renyan...@yahoo. com> wrote:


From: Reny ansih <renyan...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Think locally, do globally ?
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Saturday, August 15, 2009, 3:47 AM


  





Selamat Sore Bung dan Zus.... nimbrung dikit, sato sakaki yo...
Ada peribahasa: "Bahasa menunjukkan Bangsa...."
Kalau masing2 daerah mem-formal-kan bahasa lokal (boso Jowo, baso awak, baso 
Batak, basa Sunda dll) maka negeri tercinta ini adalah negeri yang terdiri dari 
Bangsa Jawa, Bangsa Minang, Bangsa Sunda, Bangsa Bugis, Bangsa Batak, Bangsa 
Banjar .... wah banyak sekali bangsa-bangsa dinegeri ini ya kalau disebut satu 
persatu mungkin akan ada yang ketinggalan. 
Mungkin Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik yang di Depdagri perlu ditanya 
gejala apa ini yang telah berkembang di negeri tercinta ini? 
Ada pertanyaan yang saya juga ga tau harus bertanya kemana, yaitu waktu di 
Sekolah Rakyat zadoel.... saya diajari dalam pelajaran Ilmu Bumi, bahwa 
pulau-pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi disebut Kepulauan Sunda Besar, 
sedangkan pulau-pulau Bali, NTB, NTT dan kayaknya juga Maluku itu disebut 
Kepulauan Sunda Ketjil.... Irian Barat yang sekarang disebut Papua itu ga ingat 
apa termasuk Kepulauan Sunda Besar, mungkin juga waktu itu belum jelas 
statusnya dalam hubungan pemerintahan dengan Belanda. 
Nah kalau melihat kumpulan pulau-pulau itu saya jadi bertanya-tanya: "Kenapa 
Negeri ini tidak disebut dengan Republik Sunda saja ya?" , apalagi nama 
Indonesia itu kok suka diplesetkan jadi "hedonesia" (pernah denger?), yang 
artinya ... gak enaklah buat nama suatu negara besar (jumlah penduduknya) khan 
?!
Kembali terkait bahasa tadi apa ya kita lupakan saja tuh "Sumpah Pemuda" itu, 
bukankah itu berarti bahasa formal kita harus satu yaitu bahasa Indonesia yang 
telah disepakati berakar pada bahasa Melayu itu ? Repot juga nih kalau bener di 
Jogya harus formal berbahasa Jowo.... selasa depan saya harus pagi2 kesana, 
bisa ga diladeni ya kalau berbahasa Indonesia ?
Berat memang mengurus negeri ini ya.... semoga Allah menunjukkan arti MERDEKA 
yang sebenar-benarnya paling baik buat kita.... aaaamiiiiin - dan karena dekat 
17 Agustus 2009 "Dirgahayu Kemerdekaan ke 64 tahun" .... dan tentu saja karena 
dekat menjelang Ramdhan mohon maaf lahir bathin untuk segala kesalahan dan 
kekhilafan berpendapat dan beremail-ria.
Salam - 2ny

--- On Fri, 8/14/09, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> wrote:


From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com>
Subject: [referensi] Think locally, do globally ?
To: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com>
Date: Friday, August 14, 2009, 8:52 PM


  

Rekan-2 ysh,
Mulai kemarin para birokrat di D.I. Jogyakarta secara resmi diharuskan 
berkomunikasi formil lisan dengan bahasa Jowo, kalau tertulis resmi pakai 
bahasa Indonesia. Apakah ini akan menghidupkan 'kearifan lokal' atau 
'neo-feodalisme' ? (silahkan baca artikel dibawah).
Bagaimana kalau daerah-2 lain di Indonesia mengikuti dengan bahasa daerah 
masing-2, sepertinya kita musti belajar bahasa Bali, Batak, Kalimantan, Papua, 
dll. asyiiik... ngaturaken sugeng 'shaum Ramadhan' ...nyuwun pangapunten. .. 
matur nuwun.
Wassalam,
 

okezone.com - 8/14/2009 11:50 AM Local Time


Hari Ini Pemprov DIY Terapkan Bahasa Jawa
YOGYAKARTA - Mulai hari ini seluruh pegawai di seluruh lingkungan dinas di 
Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta serta kabupaten/kota akan menggunakan bahasa 
Jawa dalam aktivitas sehari-hari.
Menurut Gubernur DIY Sri Sultan Hb X, sebenarnya penggunaan bahasa Jawa ini 
telah dilakukan sebelumnya di tingkat kabupaten/kota namun harinya belum 
seragam. 
"Itu kan sebenarnya sudah jauh hari lalu diterapkan khususnya di tingkat 
kabupaten/kota tapi beda-beda harinya. Nah, mulai besok itu diseragamkan tiap 
hari Sabtu semua," ujar Sultan di Yogyakarata, Jumat (14/8/2009). 
Menurut Sri Sultan, penggunaan bahasa Jawa dalam aktivitas sehari-hari ini 
merupakan bentuk penghargaan atas nilai-nilai budaya masyarakat Jawa. Apalagi 
sejak Indonesia belum merdeka masyarakat Jawa sudah memiliki tradisi sendiri, 
filosofi sendiri, cara berbusana sendiri, maupun makanan sendiri. 
"Langkah ini sebagai bentuk penghargaan nilai-nilai budaya masyarakat Jawa yang 
sudah lama diajarkan oleh para orangtua kita," tuturnya. 
Sebelumnya Kepala Biro Umum, Humas, dan Protokol Pemprop DIY Sigit Sapto 
Raharjo menjelaskan, aturan penggunaan bahasa Jawa ini utamanya untuk 
komunikasi lisan. Sedang untuk komunikasi tertulis secara formal tetap 
menggunakan bahasa Indonesia, mengingat jika menggunakan bahasa Jawa dibutuhkan 
pedoman dan kaidah-kaidah yang perlu dipelajari, surat-surat tidak formal, bisa 
dimulai dengan bahasa Jawa. 
"Misalnya memo kepala kepada stafnya, bisa saja menggunakan bahasa Jawa," kata 
Sigit. 



Be seen with Buddy! Tag your picture and win exciting prizes! Click here 


















      

Kirim email ke