Sedikit catatan: Dalam Sumpah Pemuda kita bersumpah untuk menjunjung tinggi bahasa persatuan: Indonesia. Disamping bahasa persatuan Indonesia, kita mempunyai bahasa daerah sebagai aset yang sangat berharga dan harus dilestarikan. Untuk melestarikan bahasa daerah itu seharusnya ia digunakan oleh masyarakatnya dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya adalah apakah kantor-kantor resmi yang juga harus melayani masyarakat dari berbagai daerah lain dapat mengharuskan penggunaan bahasa daerah lokal dalam pelayanannya? Apakah orang asing juga harus belajar bahasa daerah dulu untuk bisa mendapat pelayanan atau informasi? Gagasan mengunakan bahasa lokal dalam kehidupan sesama masyarakat lokal adalah hal yang positif. Tetapi kita harus berhati-hati dalam penggunaannya dalam pelayanan formal. Kalau dipaksakan penggunaan bahasa daerah d dalam pengadilan, kepolisian, kedokteran, penelitian ilmiah,penerbangan, lalulintas, bea-cukai dll akan sangat membingungkan. Bahasa daerah dapat dipromosikan, dipelihara, dan dilestarikan, tetapi tidak dapat dipaksakan dengan semana-mena kepada semua orang diuar komunitasnya.. Kita perlu belajar hidup dalam keberagaman dimana kita menghargai budaya sendiri dan budaya orang lain tanpa paksaan. Bahasa daerah tidak boleh punah. Ia harus dilesttarikan, tetapi pemerrintah daerah perlu berhati hati dalam menetapkan ketentuan bagi masyarakatnya. Sesuatu yang baik bisa jadi counter productive jika keliru menerapkannya. Bagaimana kita mengembangkan yang positif tanpa membawa dampak negatif perlu dibahas bersama dengan cermat sh. --- On Sat, 8/15/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:
From: hengky abiyoso <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Think locally, do globally ? To: [email protected] Date: Saturday, August 15, 2009, 6:29 PM Kangmas, Mbakyu, Uda, Uni milisters ysh, Jum’at kemarin di acara rapat paripurna DPR di Senayan utk mendengarkan pidato kenegaraan Presiden dalam rangka HUT ke64 proklamasi RI……. lagu Indonesia Raya juga lupa nggak dinyanyikan diawal acara….. lalu akhirnya ganti dinyanyikan dipenutup acara……. Yah…. Ada yg katakan….. nasionalisme kita ini memang nasionalisme belum selesai…… dasar selama 30 tahun sempat dibikin sakit oleh orde baru……dan dasar ada pula metafora istilah ‘pasang-surut’……. Yah.. begitulah….mungkin itu merupakan bagian dari pasang surut nasionalisme kita yg belum selesai itu……. Salam, --- On Sat, 8/15/09, Reny ansih <renyan...@yahoo. com> wrote: From: Reny ansih <renyan...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Think locally, do globally ? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Saturday, August 15, 2009, 3:47 AM Selamat Sore Bung dan Zus.... nimbrung dikit, sato sakaki yo... Ada peribahasa: "Bahasa menunjukkan Bangsa...." Kalau masing2 daerah mem-formal-kan bahasa lokal (boso Jowo, baso awak, baso Batak, basa Sunda dll) maka negeri tercinta ini adalah negeri yang terdiri dari Bangsa Jawa, Bangsa Minang, Bangsa Sunda, Bangsa Bugis, Bangsa Batak, Bangsa Banjar .... wah banyak sekali bangsa-bangsa dinegeri ini ya kalau disebut satu persatu mungkin akan ada yang ketinggalan. Mungkin Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik yang di Depdagri perlu ditanya gejala apa ini yang telah berkembang di negeri tercinta ini? Ada pertanyaan yang saya juga ga tau harus bertanya kemana, yaitu waktu di Sekolah Rakyat zadoel.... saya diajari dalam pelajaran Ilmu Bumi, bahwa pulau-pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi disebut Kepulauan Sunda Besar, sedangkan pulau-pulau Bali, NTB, NTT dan kayaknya juga Maluku itu disebut Kepulauan Sunda Ketjil.... Irian Barat yang sekarang disebut Papua itu ga ingat apa termasuk Kepulauan Sunda Besar, mungkin juga waktu itu belum jelas statusnya dalam hubungan pemerintahan dengan Belanda. Nah kalau melihat kumpulan pulau-pulau itu saya jadi bertanya-tanya: "Kenapa Negeri ini tidak disebut dengan Republik Sunda saja ya?" , apalagi nama Indonesia itu kok suka diplesetkan jadi "hedonesia" (pernah denger?), yang artinya ... gak enaklah buat nama suatu negara besar (jumlah penduduknya) khan ?! Kembali terkait bahasa tadi apa ya kita lupakan saja tuh "Sumpah Pemuda" itu, bukankah itu berarti bahasa formal kita harus satu yaitu bahasa Indonesia yang telah disepakati berakar pada bahasa Melayu itu ? Repot juga nih kalau bener di Jogya harus formal berbahasa Jowo.... selasa depan saya harus pagi2 kesana, bisa ga diladeni ya kalau berbahasa Indonesia ? Berat memang mengurus negeri ini ya.... semoga Allah menunjukkan arti MERDEKA yang sebenar-benarnya paling baik buat kita.... aaaamiiiiin - dan karena dekat 17 Agustus 2009 "Dirgahayu Kemerdekaan ke 64 tahun" .... dan tentu saja karena dekat menjelang Ramdhan mohon maaf lahir bathin untuk segala kesalahan dan kekhilafan berpendapat dan beremail-ria. Salam - 2ny --- On Fri, 8/14/09, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> Subject: [referensi] Think locally, do globally ? To: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com> Date: Friday, August 14, 2009, 8:52 PM Rekan-2 ysh, Mulai kemarin para birokrat di D.I. Jogyakarta secara resmi diharuskan berkomunikasi formil lisan dengan bahasa Jowo, kalau tertulis resmi pakai bahasa Indonesia. Apakah ini akan menghidupkan 'kearifan lokal' atau 'neo-feodalisme' ? (silahkan baca artikel dibawah). Bagaimana kalau daerah-2 lain di Indonesia mengikuti dengan bahasa daerah masing-2, sepertinya kita musti belajar bahasa Bali, Batak, Kalimantan, Papua, dll. asyiiik... ngaturaken sugeng 'shaum Ramadhan' ...nyuwun pangapunten. .. matur nuwun. Wassalam, okezone.com - 8/14/2009 11:50 AM Local Time Hari Ini Pemprov DIY Terapkan Bahasa Jawa YOGYAKARTA - Mulai hari ini seluruh pegawai di seluruh lingkungan dinas di Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta serta kabupaten/kota akan menggunakan bahasa Jawa dalam aktivitas sehari-hari. Menurut Gubernur DIY Sri Sultan Hb X, sebenarnya penggunaan bahasa Jawa ini telah dilakukan sebelumnya di tingkat kabupaten/kota namun harinya belum seragam. "Itu kan sebenarnya sudah jauh hari lalu diterapkan khususnya di tingkat kabupaten/kota tapi beda-beda harinya. Nah, mulai besok itu diseragamkan tiap hari Sabtu semua," ujar Sultan di Yogyakarata, Jumat (14/8/2009). Menurut Sri Sultan, penggunaan bahasa Jawa dalam aktivitas sehari-hari ini merupakan bentuk penghargaan atas nilai-nilai budaya masyarakat Jawa. Apalagi sejak Indonesia belum merdeka masyarakat Jawa sudah memiliki tradisi sendiri, filosofi sendiri, cara berbusana sendiri, maupun makanan sendiri. "Langkah ini sebagai bentuk penghargaan nilai-nilai budaya masyarakat Jawa yang sudah lama diajarkan oleh para orangtua kita," tuturnya. Sebelumnya Kepala Biro Umum, Humas, dan Protokol Pemprop DIY Sigit Sapto Raharjo menjelaskan, aturan penggunaan bahasa Jawa ini utamanya untuk komunikasi lisan. Sedang untuk komunikasi tertulis secara formal tetap menggunakan bahasa Indonesia, mengingat jika menggunakan bahasa Jawa dibutuhkan pedoman dan kaidah-kaidah yang perlu dipelajari, surat-surat tidak formal, bisa dimulai dengan bahasa Jawa. "Misalnya memo kepala kepada stafnya, bisa saja menggunakan bahasa Jawa," kata Sigit. Be seen with Buddy! Tag your picture and win exciting prizes! Click here

