Bapak-bapak & Ibu-ibu referensiers ysh,
 
Kalau saya pribadi sih berpendapat bahwa langkah Guberbur Yogya tsb adalah cara 
salah dalam meningkatkan penguasaan dan peningkatan nilai budaya Bahasa Jawa. 
Saya sangat terkesan dengan kesadaran para pendahulu bangsa tentang pentingnya 
bahasa nasional dan bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia yang unsur 
utamanya berasal dari Bahasa Melayu. Mengapa para pendahulu bangsa 
memilih Bahasa Melayu sebagai basis dari Bahasa Indonesia? Tidak lain karena 
Bahasa Melayu merupakan lingua franca atau bahasa yang secara de facto 
digunakan dalam pergaulan antar-bangsa atau antar-suku bangsa di masa lampau 
hingga dideklarasikannya Bahasa Indonesia sebagai sebagai bahasa resmi negara 
(official language) pada saat deklarasi kemerdekaan Indonesia untuk mengikuti 
deklarasi dan kesepakatan para pemuda bangsa untuk menggunakan Bahasa Indonesia 
sebagai Bahasa Persatuan Indonesia. Padahal, pada saat itu pun "Bangsa Jawa" 
merupakan suku bangsa yang terbesar di dalam
 penduduk Netherlands Indische sehingga paling banyak penuturnya. Tapi para 
pemuda yang didominasi olep para pimpinan yang bersuku Jawa (Sugondo, Sunaryo, 
Moh Yamin, dsb) tidak memilih Bahasa Jawa karena bahasa tsb bukan merupakan 
bahasa yang lingua franca. Ini memperlihatkan sifat visioner dari para pemoeda 
pendiri bangsa tsb. Mereka sadar bahwa bahasa persatoean tidaklah harus diambil 
dari bahasa yang paling banyak penuturnya, melainkan harus diambil dari bahasa 
yang paling banyak digunakan dalam pergaulan antar-bangsa, setidaknya antara 
bangsa-bangsa yang terdapat di wilayah Netehrlands Indische. Hal ini, kemudian 
terbukti bahwa keberadaan Bahasa Indonesia mampu menjadi salah satu elemen 
pencegah terjadinya perpecahan di dalam bangsa yang baru dideklarasikan pada 
tanggal 17 Agustus 1945 tsb. Tdak seperti banyak bangsa jajahan yang kemudia 
terpecah menjadi beberapa negara setelah merdeka, Indonesia tetap menjadi 
sebuah bangsa yang satu walaupun
 memiliki banyak perbedaan di dalamnya. Bahkan, dalam sebuah diskusi terbatas, 
François Raillon, seorang pengamat asing pernah mengatakan bahwa apabila 
Indonesia tidak memiliki Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang 
memiliki kekuatan identitas bangsa, mungkin NKRI tidak akan bertahan di dalam 
badai krisis di akhir tahun 1990an kemarin. Mungkin hal-hal ini bisa menjadi 
bukti dari kekuatan visi dari para pemoeda pendiri bangsa dahulu.
 
Berbeda dengan hal di atas, apa yang dilakukan oleh Gubernur Yogyakarta adalah 
kebalikannya. Alih-alih menerapkan bahasa yang bersifat lingua franca di dalam 
tata pergaulan pemerintahan di wilayahnya, Beliau malah mempergunakan bahasa 
yang tidak semua orang mampu menggunakannya secara baik dan benar. Bahkan 
termasuk sebagian pegawainya pun diyakini tidak mampu mempergunakannya dengan 
baik dan benar terutama di dalam bahasa tulisan. Saya tidak tahu, apakah hal 
ini tidak bertentangan dengan konstitusi dan peraturan perundangan lainnya yang 
menyatakan bahwa bahasa nasional (official language?) di negara kita adalah 
Bahasa Indonesia. Tetapi apabila langkah tersebut diikuti oleh para gubernur 
lainnya, maka hal tersebut bisa jadi akan menjadi awal dari peretasan 
sendi-sendi persatuan bangsa he he he he.... 
 
Akan berbeda apabila sebagai Gubernur, Beliau menginstruksikan untuk 
peningkatan jam belajar Bahasa Jawa di seluruh sekolah di wilayah Yogyakarta, 
misalnya dari 2 jam per minggu menjadi 6 jam per minggu sebagai cara untuk 
melestarikan pengusaan Bahasa Jawa. Atau instruksi memberikan daftar menu yg 
juga memiliki daftar yg berbahasa Jawa di bawah bahasa Indonesia (untuk 
meningkatkan karakter pariwisata yang berbasis pada Budaya Jawa di wilayah 
Yogyakarta), dll. 
 
Penggunaan Bahasa Jawa di dalam lingkungan pemerintahan, suatu lingkungan 
publik yang notabene tidak hanya akan berurusan dengan orang-orang yang berasal 
dari suku Jawa saja, kayaknya kok kurang tepat, menurut saya. Ketimbang 
menggunakan Bahasa Jawa, walau hanya untuk suatu hari tertentu, saya lebih 
sepakat kalau pengintruksian tersebut ditujukan untuk menggunakan Bahasa 
Inggris yang juga merupakan lingua franca pada level global. Bisa jadi, hal itu 
akan lebih bermanfaat untuk meningkatkan kinerja pemerintahan mengingat 
Yogyakarta , di samping karena bahasa Inggris merupakan bahasa ilmu pengetahuan 
di tingkat dunia, juga karena Yogyakarta merupakan propinsi yang berbasis pada 
kegiatan pariwisata.
 
Jadi harapan saya sangat sederhana, yaitu semoga semangat kedaerahan yang pasca 
reformasi ini semakin melebar tidak menjadi semakin kuat di hari-hari 
mendatang...
 
Salam,
 
Fadjar Undip


--- On Sat, 8/15/09, Risfan M <[email protected]> wrote:


From: Risfan M <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Think locally, do globally ?
To: [email protected]
Date: Saturday, August 15, 2009, 1:28 PM


  








Rekans ysh,
 
Bahasa Jawa itu punya maslah dengan "strata" itu juga sebabnya maka disaat 
Soempah Pemoeda justru para pemuda Jawa yang mengusulkan agar bahasa nasional 
pakai bahasa Melayu, sebagai lingua franca.
 
Bagaimana kalau bahasa Jawanya gini:
 
Yok opo kabarmu Jo, jare ndek kerajaanmu saiki dikongkon nggawe coro jowo yo? 
Uaapik iku rek, sueneng aku. Tapi aku ape takon sing bener jenenge kerajaannmu 
iku Yogjo, Ngayojo opo Jogja sih bengung aku. Terus yok opo Jo, lek wargamu 
sing gak iso coro jowo, terus gak diladeni...lha tugasmu lak ngladeni, dhudhuk 
rojo-rojoan terus. Ilingo lo Jo, riko iku abdi negoro... pelayan masyarakat 
Indonesa, duduk rojo Jowo thok lho rek....Tak dungakno seger waras yo Jo. 
 
Maaf ini bahasa Jawa super egaliter, bisakah dipakai di Jogja? Sekedar 
menunjukkan sulitnya berbahasa Jawa dengan meninggalkan unsur perbedaan "strata 
sosial". Kuatirnya pemaksaan berbahasa Jawa itu mengandung unsur diskriminasi 
(?). Kita tahu di Jawa Barat juga begitu kalau tak salah, harus berbahasa 
Sunda, tapi tidak tahu dengan Gubernur yang sekarang.
 
Jangan lupa NKRI masih banyak yang mesti dilakukan.
 
Salam,
Risfan Munir
 
 

--- On Sat, 8/15/09, muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. co.uk> wrote:


From: muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. co.uk>
Subject: Re: [referensi] Think locally, do globally ?
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Saturday, August 15, 2009, 12:43 AM


  





Mas & mbakyu Milister

Asw. Dalem remen sanget menawi wonten ketentuan (paugeran?) kados mekaten, 
supados mboten ichal warisan poro pinisepuh rumiyen..Sebab, wonten ing Pattani 
Thailand Kidul  ugi wonten boso Jawi ingkang dipun ginaaken..utaminipu n wonten 
pesantren. Malahan masyarakat mriko ngertosipun sebatan ing pengajian coro 
'Huruf Jawi'. Ing kota Johor lan kebupaten sekitaripun malah kathah ingkang 
saged boso Jawi ngoko ketimbang boso Inggris. Matur kesuwun sinuhun Gubernur 
lan sakbrayanipun. ..Saya ikut gembira bila ada ketentuan yang mewajibkan 
penggunaan bahasa Jawa di Jogja. Sebab di wilayah Pattani Thailan selatan 
banyak kata-kata yang sama dengan bahasa Jawa, terutama di lingkungan 
pesantren... yang mereka sebut pengajian huruf Jawi (arab gundul berbahasa 
Jawa). Bahkan di kota Johor dan sekitarnya penduduk bumi putera (melayu) malah 
pada ngerti bahasa Jawa campur aduk antara ngoko dan kromo.

Komunikasi lisan resmi yang menggunakan bahasa daerah memang terasa nikmat dan 
pas apa yang dimaksud. Terima kasih Sultan...Tentunya komunikasi tulisan harus 
menggunkan bahasa Indonesia. pasti dimengerti secara nasional. Sebab, agak 
njlimet kalau istilah teknis tata ruang dan arsitektur diterjemahkan ke bahasa 
Jawa untuk DIY...Misalnya hinterland/wilayah mburi?, dapur (pawon), garis 
langit (?), selimut bangunan (kemul tembok?), groundwater (banyu ngisor..?)

Salah satu kelebihan Indonesia adalah mengenalkan (mewajibkan) warganya 
menggunakan bahasa Indonesia, sehingga mulai dari Banda Aceh sampai pulau Wamar 
(kota Dobo) penduduknya (pribumi, non pribumi, asli, pendatang, arab, cina, 
india, pakistan, dll) mengenal bahasa kesatuan bahasa Indonesia. Metoda yang 
bagus ini mau diterapkan (ditiru/dilirik) oleh Malaysia. Malaysia, populasi 
bukan Melayu/bumi putera (keturunan Cina India dan Timur Tengah)  sudah 
mencapai 55-58% pada tidak menggunakan bahasa Melayu. Mereka menggunakan bahasa 
asalnya masing-masing dan bahasa Inggris. Penggunaan bahasa Melayu bagi mereka 
suatu kesulitan..Inilah yang sudah mulai dirisaukan oleh Kerajaan (pemerintah) 
untuk mulai mencari jalan mewajibkan penggunaan bahasa komunikasi sehari-2 
menggunakan bahasa Melayu. 

Daerah mana lagi di Nusantara yang bakal menyusul..Jogja. .Mungkinkah Sunda, 
Batak, Madura, Jateng, NTT? Punten, Ngapora...

--- On Sat, 15/8/09, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> wrote:


From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com>
Subject: [referensi] Think locally, do globally ?
To: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com>
Date: Saturday, 15 August, 2009, 10:52 AM


  

Rekan-2 ysh,
Mulai kemarin para birokrat di D.I. Jogyakarta secara resmi diharuskan 
berkomunikasi formil lisan dengan bahasa Jowo, kalau tertulis resmi pakai 
bahasa Indonesia. Apakah ini akan menghidupkan 'kearifan lokal' atau 
'neo-feodalisme' ? (silahkan baca artikel dibawah).
Bagaimana kalau daerah-2 lain di Indonesia mengikuti dengan bahasa daerah 
masing-2, sepertinya kita musti belajar bahasa Bali, Batak, Kalimantan, Papua, 
dll. asyiiik... ngaturaken sugeng 'shaum Ramadhan' ...nyuwun pangapunten. .. 
matur nuwun.
Wassalam,
 

okezone.com - 8/14/2009 11:50 AM Local Time


Hari Ini Pemprov DIY Terapkan Bahasa Jawa
YOGYAKARTA - Mulai hari ini seluruh pegawai di seluruh lingkungan dinas di 
Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta serta kabupaten/kota akan menggunakan bahasa 
Jawa dalam aktivitas sehari-hari.

Menurut Gubernur DIY Sri Sultan Hb X, sebenarnya penggunaan bahasa Jawa ini 
telah dilakukan sebelumnya di tingkat kabupaten/kota namun harinya belum 
seragam.

"Itu kan sebenarnya sudah jauh hari lalu diterapkan khususnya di tingkat 
kabupaten/kota tapi beda-beda harinya. Nah, mulai besok itu diseragamkan tiap 
hari Sabtu semua," ujar Sultan di Yogyakarata, Jumat (14/8/2009).

Menurut Sri Sultan, penggunaan bahasa Jawa dalam aktivitas sehari-hari ini 
merupakan bentuk penghargaan atas nilai-nilai budaya masyarakat Jawa. Apalagi 
sejak Indonesia belum merdeka masyarakat Jawa sudah memiliki tradisi sendiri, 
filosofi sendiri, cara berbusana sendiri, maupun makanan sendiri. 
"Langkah ini sebagai bentuk penghargaan nilai-nilai budaya masyarakat Jawa yang 
sudah lama diajarkan oleh para orangtua kita," tuturnya. 
Sebelumnya Kepala Biro Umum, Humas, dan Protokol Pemprop DIY Sigit Sapto 
Raharjo menjelaskan, aturan penggunaan bahasa Jawa ini utamanya untuk 
komunikasi lisan. Sedang untuk komunikasi tertulis secara formal tetap 
menggunakan bahasa Indonesia, mengingat jika menggunakan bahasa Jawa dibutuhkan 
pedoman dan kaidah-kaidah yang perlu dipelajari, surat-surat tidak formal, bisa 
dimulai dengan bahasa Jawa. 
"Misalnya memo kepala kepada stafnya, bisa saja menggunakan bahasa Jawa," kata 
Sigit. 



Be seen with Buddy! Tag your picture and win exciting prizes! Click here 


















      

Kirim email ke