Sahabats, kalau menurut saya kita memasuki perang informasi dalam kerangka 
besar meladeni keinginan Malaysia. Maksudnya, informasi jangan dibalas dengan 
emosi atau diplomasi, melainkan ya dibalas dengan informasi. Artinya, ulah 
Malaysia kita lihat mengandung inspirasi bahwa kita harus semakin mencintai 
budaya kita, sekaligus berusaha mendokumentasikan dan mempublikasikan. Jika ada 
sahabats yang bisa meneliti secara mendalam Tari Pendet kita kemudian 
dituliskan menjadi produk ilmiah yang berbobot dunia akan tahu bahwa kebenaran 
ditemukan dan ditegakkan. Sisi lain, publikasi tari Pendet atau Reog atau 
apapun yang pernah muncul justru mengundang kita untuk semakin intens 
membuatnya. Ulah Malaysia saya kira akan terus berlanjut yaitu mengusik hal-hal 
yang sifatnya Melayu demi publikasi dirinya, dan kita imbangi dengan kecintaan 
yang mendalam budaya-budaya kita sambil mendokumentasikan dan mempublikasikan. 
Jaman informasi yang semakin terbuka ini ASU GEDE
 nggak mesti MENANG KERAHE....anjing besar belum tentu menang dalam 
perkelahian....waktu yang akan membuktikan kebenaran....kecuali kita diam saja 
atau menangis terus dan tidak berbuat apa-apa.....ha ha ha ha....

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 8/24/09, I G Oka Sindhu Pribadi <[email protected]> wrote:

From: I G Oka Sindhu Pribadi <[email protected]>
Subject: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!!?? Wahhh!
To: [email protected]
Date: Monday, August 24, 2009, 8:00 AM






 




    
                  







Rekan2 yb, 

   

Spt juga rekan2 sy yakin kita terusik lagi dengan berita ttg
Malaysia yg mengklaim kembali tari pendet kita menjadi kesenian mereka. 
Sepertinya
belum berakhir juga atau memang never ending ya persoalan kita dng
Malaysia.... 

Kita tahu bahwa persoalan dng Malaysia dimulai dengan
persoalan wilayah yang menjadi sensitif memberikan dampak pada kegiatan 
kenegaraan
secara menyeluruh. Batas Malaysia dan Indonesia yang tidak tegas secara
kualitatif (dlm hal maintenance, beberapa pulau kita diklaim oleh Malaysia krn
secara defacto dihidupi oleh mereka tetapi secara deyure msk wilayah Indo). Ini
sangat berbeda dengan yang terjadi di Eropa, yang sudah jauh lebih tenang meski
perbatasan tiap negara juga berada di daratan bukan lautan. Persoalannya mgkn
karena batas Indo dan Malaysia di sebuah pulau dan bukan benua ya jauh lbh luas
dan tdk ada yg bisa klaim kepemilikan benua. 

   

Kalau kita lihat sejarahnya, memang perseteruan antara
Indo-Malay ini diawali thn 1961, ketika pembagian wilayah Kalimantan menjadi 4 
administrasi,
Indonesia di selatan pulau Kalimantan, sementara di utara adalah Kerajaan
Brunei dan dua koloni Inggris yaitu Sarawak dan Britania Borneo Utara, kemudian
dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia
Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan
Semenanjung Malaya untuk membentuk Malaysia. Rencana ini ditentang oleh Presiden
Soekarno, krn dianggap bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan
konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini,
sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia kembali. 

   

Sejak itulah kemudian berlanjut thn 1963 dengan pidato Bung
Karno yang isinya ttg ‘Ganyang Malaysia’ dengan beberapa statement
politiknya, dan Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio jg mengumumkan bahwa
Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. 

   

Kini, 48 thn sudah masih saja kita berurusan dg Malaysia dan
justru bukan hanya pada lingkup soal wilayah lagi tetapi sudah masuk ke wilayah
HAM, teritorial negara, serta persoalan dunia, lihat saja masalah TKI, klaim 
kesenian,
perebutan pulau,  persoalan celebriti ‘M’ kita (klo benar
lho...) sampai pada jaringan teroris dunia yang sebagian warga negara Malaysia. 

   

Bagaimana nih? Mhn pencerahan.. ..tky

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melakukan. 

Salam, 

I G. Oka Sindhu Pribadi 







 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke