Pak Risfan, pernyataan "bukan sekedar" maksudnya ya lebih dari itu, dan 
bisnis-ekonomi turisme termasuk di dalamnya. Saya kira panjenengan sangat benar 
tentang hal ini, termasuk secara implisit mengatakan bahwa kita kurang melihat 
bahwa "yang sekedar" itu sebuah masalah besar.....ya industri kreatif ! Kasus 
tari Pendet bisa memicu tema diskusi yang lebih dahsyat, yaitu tentang industri 
kreatif, sebab bahan baku industri kreatif ada dimana-mana dan bisa digendong 
kemana-mana ! Kita kaya dengan bahan baku itu dan pertanyaannya, apakah kita 
bisa memanfaatkannya tanpa merusaknya ? Tadi malam juga terungkap gagasan 
(entah siapa yang mengatakan), katanya: Malaysia menjadikan Indonesia yang kaya 
budaya ini sebagai "hinterland" bagi dirinya. Saya yakin para sahabat planner 
memahami artinya ! 

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Tue, 8/25/09, Risfan M <[email protected]> wrote:

From: Risfan M <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!!?? Wahhh!
To: [email protected]
Date: Tuesday, August 25, 2009, 10:06 AM






 




    
                  Pak Djarot dan rekans ysh,

Ya begitulah kenyataannya. Tapi catatan pak Djarot ttg "bukan sekedar 
bisnis-ekonomi- tourism" ingin saya tanggapi. Memang bukan sekedar itu, tapi 
itulah motivasi dan sumber resources nya Pak.
Kalau motivasinya cuma 'mengagungkan nilai budaya' saja, ya seperti sekarang, 
nunggu santunan pemerintah, UNESCO, Jepang dst. Malaysia bersemangat karena 
motifnya jelas devisa dari pariwisata dan industri kreatif. 
Kita fobi ekonominya di kalangan budayawan terlalu besar, padahal namanya 
kerajinan itu nyatanya ya dijual. Banyak perusahaan batik jadi besar, juga 
mebel, logam, perak, para operator industri pariwisata. Mereka layaknya 
dilibatkan.
Produk budaya masa kini bukan cuma dipakai upacara adat terus ditonton 
gratisan. Bakar menyan saja butuh biaya lho Pak.

Salam,
Risfan Munir





From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Sent: Tuesday, August 25, 2009 9:22 AM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh!

  Pak Risfan dan sahabats,

Tadi malam ada uraian dari Rhenald Kasali yang menarik seputar ulah Malaysia di 
MetroTV. Katanya, soal Batik yang diklaim Malaysia ada fenomena yang menarik di 
balik klaim itu. Sebelum klaim dilakukan, Malaysia pernah serius 
memperbincangkan batik. Mereka serius mempelajari batik, misalnya bagaimana 
persebaran batik dalam kajian ilmiah. Bahkan mereka pernah mengadakan seminar 
internasional tentang batik sebanyak enam kali (sekali lagi...enam kali). 
Rhenald Kasali geleng-geleng kepala, dan bertanya, kita yang mengaku punya 
batik bagaimana ? Apakah para ilmuwan kita pernah seserius Malaysia dalam 
melakukan kajian pusaka/warisan budaya bangsanya ?

Bagaimana dengan pusaka budaya yang lain ? Reog pernah diseminarkan secara 
internasional ? Lagu-lagu daerah ? Masakan daerah ? Kain adat lokal ? Wayang ? 
Saya kira ada hikmah dan tantangan di balik fenomena ulah Malaysia, jika kita 
berpikir jernih dan positif ! Tantangannya bukan sekedar bisnis-ekonomi 
pariwisata, bukan sekedar teriak-teriak heee ini punyaku...tetapi kita abai dan 
lalai terhadapnya.

Kita perlu berterima kasih, sebab sudah sebanyak 22 kasus Malaysia melakukan 
"klaim" terhadap warisan budaya kita dan kita masih belum punya konsep yang 
jelas tentang bagaimana mencintai pusaka budaya kita yang tersebar di seluruh 
wilayah Nusantara... ha ha ha ha ha......

Salam,

 Djarot Purbadi

 http://realmwk. wordpress com [Blog Resmi MWK]
 http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
 http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Mon, 8/24/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:

From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh!
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, August 24, 2009, 10:26 AM

  Dear All, Menyambung Pak Djarot, BTS tentang "perang informasi, perang 
bisnis", dan era (perang) industri kreatif. Kebetulan sedang baca buku 
"CO-OPETITION - the game theory that changing the game of business". Tentang 
kompetisi dan kolaborasi. Nampaknya pola hubungan antar organisasi bisnis, 
hubungan antar negara, antar instansi pemerintah, LSM, tidak bisa lagi dilihat 
sebagai selamanya kawan, atau selamanya lawan. Ini adalah "game" yang kalau 
menguntungkan berkawan, tapi kalau perlu juga jadi lawan atau pesaing pada 
waktu yang berjalan. Di satu sisi kita jengkel dengan ulah Malaysia yang 
berulang kali "mengakui" (mencuri?)property kita seperti batik, lagu, tarian, 
di sisi lain kita juga harus menitipkan jutaan warga negara kita untuk 
bergantung pada pekerjaan disana. Dalam ASEAN antar negara juga bekerja 
sama.Tapi yang bangsa kita tak boleh lupa, persaingan itu berjalan terus. 
Karenanya mesti waspada. Dalam strategi informasi kayaknya mereka
 memanfaatkan "ketidak-terkenalan " Indonesia dalam promosi wisata dengan 
mengaburkan batas. Seolah budaya Asia (Truly Asia) itu ada semua di 
Malaysia. Mungkin bukan mencuri, tetapi ada kesan "ke Malaysia saja cukuplah, 
semua yang di Asia ada di sini.....". Peluang ini timbul karena dari Indonesia 
juga promosinya kurang kuat. Apalagi ada persamaan budaya dan ekologi kedua 
negara terutama budaya Melayu dan Kalimantan. Seperti juga ada komunitas China 
dan India di sana. Menghadapinya memang tak bisa dengan emosi, demo di kedutaan 
dst. atau sekedar kunjungan menteri untuk minta penjelasan.Pertama, ya bikin 
promosi yang lebih kuat. Tapi ini bukan cuma pasang billboard, di TV. Tapi 
perlu bukti kalau di datangi memang kesenian itu tersaji baik. Kalau kita 
jalan-jalan ke KL misalnya, kita lihat galeri batik, juga model rumah dayak dan 
berbagai perlengkapannya tersaji dengan sangat baik. Sementara di kita 
bagaimana menyajikannya? Packaging nya belum memadai
 dan menarik, termasuk lokasinya yang tersebar luas sulit bagi wisatawan yang 
lama-tinggalnya terbatas.Dalam hal ini 'tourism area/urban design' juga 
berperan dalam meningkatkan nilai dari produk budaya yang disajikan. Kedua, 
soal inventarisasi, katalog karya budaya, dan upaya pengurusan HAKI nya. Kita 
belum punya katalog yang lengkap. Urusan HAKI yang di era informasi dan 
'industri kreatif' ini menjadi hal penting juga masih belum mendapat prioritas. 
Padahal nilainya bisa sama dengan kekayaan tambang dan hutan. Belum dilakukan 
upaya sistematis dan agresif. Ini kalau tidak ditangani dengan baik bisa jadi 
masalah. Pertama pengakuan/pencurian oleh bangsa lain, kedua bisa jadi alat 
eksploitasi dari pemilik modal yang mampu mengurus atas mereka (komunitas) yang 
mengambangkan dan memproduksinya. Alternatif lain ya berkolaborasi, minta 
royalty, dst. Cara pandang bisnis ini mungkin tidak disetujui semua orang, tapi 
realita yang dilakukan pesaing nampaknya
 motivasinya memang itu. Kita tidak bisa merespons dengan romantisme "mestinya 
dia kan ngerti asal muasal...... ." Salam,Risfan Munir 

--- On Sun, 8/23/09, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote:

From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh!
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, August 23, 2009, 9:00 PM

  Dear all. Memang sudah cukup banyak karya budaya Indonesia sepertinya diklaim 
Malaysia mulai dari batik,lagu rasa sayange, reog, dan terakhir tari pended. 
Menurut saya sebenarnya Malaysia tidak mengklaim. Misalnya batik. Jelas batik 
itu banyak ragamnya mulai dari Batik Jogya, Pekalongan, Cirebon, dan 
macam-macam batik termasuk Malaysia sendiri juga punya batik. Yang diklaim 
bukan batiknya, tetapi Malaysia telah membuat Katalog Batik. Ini yang diklaim, 
bukan batiknya. Salahnya kita yang punya banyak ragam batik tidak membuat 
katalog. Sedangkan yang lain seperti lagu rasa sayange, reog, dan tari pendet 
itu khan hanya ada dalam promosi pariwisata. Mengapa Malaysia berbuat demikian? 
Karena mereka tidak sekaya kita dalam budaya sehingga bingung mau apa yang 
dipromosikan? Kasihan deh, karena nggak punya apa-apa, makanya ambil beberapa 
budaya kita untuk promosi. Yang penting wisatawan itu mau datang ke Malaysia. 
Ini bisnis.  Kalau wisatawan menanyakan
 mana reog atau tari pendet, jawabnya tidak ada... tapi saya siap antar Anda ke 
Indonesia. Nah ini khan bisnis lagi. Itulah soalnya... mereka tidak punya 
budaya sekaya kita bekoar-koar mengklaim budaya kita, sementara kita yang kaya 
budaya ini lha koq "jumeneng kemawon" (bergeming saja). Ayo donk, promosi ke 
stasiun televisi luar negeri tentang segala kekayaan budaya kita. Ini pake 
modal tentunya. Thanks. CU. BTS.

--- On Mon, 8/24/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:

From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh!
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, August 24, 2009, 1:12 AM

  Sahabats, kalau menurut saya kita memasuki perang informasi dalam kerangka 
besar meladeni keinginan Malaysia. Maksudnya, informasi jangan dibalas dengan 
emosi atau diplomasi, melainkan ya dibalas dengan informasi. Artinya, ulah 
Malaysia kita lihat mengandung inspirasi bahwa kita harus semakin mencintai 
budaya kita, sekaligus berusaha mendokumentasikan dan mempublikasikan. Jika ada 
sahabats yang bisa meneliti secara mendalam Tari Pendet kita kemudian 
dituliskan menjadi produk ilmiah yang berbobot dunia akan tahu bahwa kebenaran 
ditemukan dan ditegakkan. Sisi lain, publikasi tari Pendet atau Reog atau 
apapun yang pernah muncul justru mengundang kita untuk semakin intens 
membuatnya. Ulah Malaysia saya kira akan terus berlanjut yaitu mengusik hal-hal 
yang sifatnya Melayu demi publikasi dirinya, dan kita imbangi dengan kecintaan 
yang mendalam budaya-budaya kita sambil mendokumentasikan dan mempublikasikan. 
Jaman informasi yang semakin terbuka ini ASU GEDE
 nggak mesti MENANG KERAHE....anjing besar belum tentu menang dalam 
perkelahian. ...waktu yang akan membuktikan kebenaran... .kecuali kita diam 
saja atau menangis terus dan tidak berbuat apa-apa..... ha ha ha ha....

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Mon, 8/24/09, I G Oka Sindhu Pribadi <okaprib...@cbn. net.id> wrote:

From: I G Oka Sindhu Pribadi <okaprib...@cbn. net.id>
Subject: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh!
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, August 24, 2009, 8:00 AM

  Rekan2 yb, Spt juga rekan2 sy yakin kita terusik lagi dengan berita ttg 
Malaysia yg mengklaim kembali tari pendet kita menjadi kesenian mereka. 
Sepertinya belum berakhir juga atau memang never ending ya persoalan kita dng 
Malaysia....Kita tahu bahwa persoalan dng Malaysia dimulai dengan persoalan 
wilayah yang menjadi sensitif memberikan dampak pada kegiatan kenegaraan secara 
menyeluruh. Batas Malaysia dan Indonesia yang tidak tegas secara kualitatif 
(dlm hal maintenance, beberapa pulau kita diklaim oleh Malaysia krn secara 
defacto dihidupi oleh mereka tetapi secara deyure msk wilayah Indo). Ini sangat 
berbeda dengan yang terjadi di Eropa, yang sudah jauh lebih tenang meski 
perbatasan tiap negara juga berada di daratan bukan lautan. Persoalannya mgkn 
karena batas Indo dan Malaysia di sebuah pulau dan bukan benua ya jauh lbh luas 
dan tdk ada yg bisa klaim kepemilikan benua. Kalau kita lihat sejarahnya, 
memang perseteruan antara Indo-Malay ini diawali
 thn 1961, ketika pembagian wilayah Kalimantan menjadi 4 administrasi, 
Indonesia di selatan pulau Kalimantan, sementara di utara adalah Kerajaan 
Brunei dan dua koloni Inggris yaitu Sarawak dan Britania Borneo Utara, kemudian 
dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia 
Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan 
Semenanjung Malaya untuk membentuk Malaysia. Rencana ini ditentang oleh 
Presiden Soekarno, krn dianggap bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan 
konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, 
sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia kembali. Sejak itulah kemudian 
berlanjut thn 1963 dengan pidato Bung Karno yang isinya ttg ‘Ganyang Malaysia’ 
dengan beberapa statement politiknya, dan Menteri Luar Negeri Indonesia 
Soebandrio jg mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap 
Malaysia. Kini, 48 thn sudah masih saja kita berurusan dg Malaysia
 dan justru bukan hanya pada lingkup soal wilayah lagi tetapi sudah masuk ke 
wilayah HAM, teritorial negara, serta persoalan dunia, lihat saja masalah TKI, 
klaim kesenian, perebutan pulau,  persoalan celebriti ‘M’ kita (klo benar 
lho...) sampai pada jaringan teroris dunia yang sebagian warga negara 
Malaysia. Bagaimana nih? Mhn pencerahan.. ..tky
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melakukan.Salam,I G. Oka Sindhu 
Pribadi



____________ _________ _________ _________ _________ __
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail. yahoo.com
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke