Pak Djarot dan rekans ysh, Ya begitulah kenyataannya. Tapi catatan pak Djarot ttg "bukan sekedar bisnis-ekonomi-tourism" ingin saya tanggapi. Memang bukan sekedar itu, tapi itulah motivasi dan sumber resources nya Pak. Kalau motivasinya cuma 'mengagungkan nilai budaya' saja, ya seperti sekarang, nunggu santunan pemerintah, UNESCO, Jepang dst. Malaysia bersemangat karena motifnya jelas devisa dari pariwisata dan industri kreatif. Kita fobi ekonominya di kalangan budayawan terlalu besar, padahal namanya kerajinan itu nyatanya ya dijual. Banyak perusahaan batik jadi besar, juga mebel, logam, perak, para operator industri pariwisata. Mereka layaknya dilibatkan. Produk budaya masa kini bukan cuma dipakai upacara adat terus ditonton gratisan. Bakar menyan saja butuh biaya lho Pak.
Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: Djarot Purbadi <[email protected]> Sent: Tuesday, August 25, 2009 9:22 AM To: [email protected] Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!!?? Wahhh! Pak Risfan dan sahabats, Tadi malam ada uraian dari Rhenald Kasali yang menarik seputar ulah Malaysia di MetroTV. Katanya, soal Batik yang diklaim Malaysia ada fenomena yang menarik di balik klaim itu. Sebelum klaim dilakukan, Malaysia pernah serius memperbincangkan batik. Mereka serius mempelajari batik, misalnya bagaimana persebaran batik dalam kajian ilmiah. Bahkan mereka pernah mengadakan seminar internasional tentang batik sebanyak enam kali (sekali lagi...enam kali). Rhenald Kasali geleng-geleng kepala, dan bertanya, kita yang mengaku punya batik bagaimana ? Apakah para ilmuwan kita pernah seserius Malaysia dalam melakukan kajian pusaka/warisan budaya bangsanya ? Bagaimana dengan pusaka budaya yang lain ? Reog pernah diseminarkan secara internasional ? Lagu-lagu daerah ? Masakan daerah ? Kain adat lokal ? Wayang ? Saya kira ada hikmah dan tantangan di balik fenomena ulah Malaysia, jika kita berpikir jernih dan positif ! Tantangannya bukan sekedar bisnis-ekonomi pariwisata, bukan sekedar teriak-teriak heee ini punyaku...tetapi kita abai dan lalai terhadapnya. Kita perlu berterima kasih, sebab sudah sebanyak 22 kasus Malaysia melakukan "klaim" terhadap warisan budaya kita dan kita masih belum punya konsep yang jelas tentang bagaimana mencintai pusaka budaya kita yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara...ha ha ha ha ha...... Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Mon, 8/24/09, Risfan M <[email protected]> wrote: From: Risfan M <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!!?? Wahhh! To: [email protected] Date: Monday, August 24, 2009, 10:26 AM Dear All, Menyambung Pak Djarot, BTS tentang "perang informasi, perang bisnis", dan era (perang) industri kreatif. Kebetulan sedang baca buku "CO-OPETITION - the game theory that changing the game of business". Tentang kompetisi dan kolaborasi. Nampaknya pola hubungan antar organisasi bisnis, hubungan antar negara, antar instansi pemerintah, LSM, tidak bisa lagi dilihat sebagai selamanya kawan, atau selamanya lawan. Ini adalah "game" yang kalau menguntungkan berkawan, tapi kalau perlu juga jadi lawan atau pesaing pada waktu yang berjalan. Di satu sisi kita jengkel dengan ulah Malaysia yang berulang kali "mengakui" (mencuri?)property kita seperti batik, lagu, tarian, di sisi lain kita juga harus menitipkan jutaan warga negara kita untuk bergantung pada pekerjaan disana. Dalam ASEAN antar negara juga bekerja sama. Tapi yang bangsa kita tak boleh lupa, persaingan itu berjalan terus. Karenanya mesti waspada. Dalam strategi informasi kayaknya mereka memanfaatkan "ketidak-terkenalan " Indonesia dalam promosi wisata dengan mengaburkan batas Seolah budaya Asia (Truly Asia) itu ada semua di Malaysia. Mungkin bukan mencuri, tetapi ada kesan "ke Malaysia saja cukuplah, semua yang di Asia ada di sini.....". Peluang ini timbul karena dari Indonesia juga promosinya kurang kuat. Apalagi ada persamaan budaya dan ekologi kedua negara terutama budaya Melayu dan Kalimantan. Seperti juga ada komunitas China dan India di sana. Menghadapinya memang tak bisa dengan emosi, demo di kedutaan dst. atau sekedar kunjungan menteri untuk minta penjelasan. Pertama, ya bikin promosi yang lebih kuat. Tapi ini bukan cuma pasang billboard, di TV. Tapi perlu bukti kalau di datangi memang kesenian itu tersaji baik. Kalau kita jalan-jalan ke KL misalnya, kita lihat galeri batik, juga model rumah dayak dan berbagai perlengkapannya tersaji dengan sangat baik. Sementara di kita bagaimana menyajikannya? Packaging nya belum memadai dan menarik, termasuk lokasinya yang tersebar luas sulit bagi wisatawan yang lama-tinggalnya terbatas. Dalam hal ini 'tourism area/urban design' juga berperan dalam meningkatkan nilai dari produk budaya yang disajikan. Kedua, soal inventarisasi, katalog karya budaya, dan upaya pengurusan HAKI nya. Kita belum punya katalog yang lengkap. Urusan HAKI yang di era informasi dan 'industri kreatif' ini menjadi hal penting juga masih belum mendapat prioritas. Padahal nilainya bisa sama dengan kekayaan tambang dan hutan. Belum dilakukan upaya sistematis dan agresif. Ini kalau tidak ditangani dengan baik bisa jadi masalah. Pertama pengakuan/pencurian oleh bangsa lain, kedua bisa jadi alat eksploitasi dari pemilik modal yang mampu mengurus atas mereka (komunitas) yang mengambangkan dan memproduksinya. Alternatif lain ya berkolaborasi, minta royalty, dst. Cara pandang bisnis ini mungkin tidak disetujui semua orang, tapi realita yang dilakukan pesaing nampaknya motivasinya memang itu. Kita tidak bisa merespons dengan romantisme "mestinya dia kan ngerti asal muasal...... ." Salam, Risfan Munir --- On Sun, 8/23/09, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote: From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh! To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Sunday, August 23, 2009, 9:00 PM Dear all. Memang sudah cukup banyak karya budaya Indonesia sepertinya diklaim Malaysia mulai dari batik,lagu rasa sayange, reog, dan terakhir tari pended. Menurut saya sebenarnya Malaysia tidak mengklaim. Misalnya batik. Jelas batik itu banyak ragamnya mulai dari Batik Jogya, Pekalongan, Cirebon, dan macam-macam batik termasuk Malaysia sendiri juga punya batik. Yang diklaim bukan batiknya, tetapi Malaysia telah membuat Katalog Batik. Ini yang diklaim, bukan batiknya. Salahnya kita yang punya banyak ragam batik tidak membuat katalog. Sedangkan yang lain seperti lagu rasa sayange, reog, dan tari pendet itu khan hanya ada dalam promosi pariwisata. Mengapa Malaysia berbuat demikian? Karena mereka tidak sekaya kita dalam budaya sehingga bingung mau apa yang dipromosikan? Kasihan deh, karena nggak punya apa-apa, makanya ambil beberapa budaya kita untuk promosi. Yang penting wisatawan itu mau datang ke Malaysia. Ini bisnis. Kalau wisatawan menanyakan mana reog atau tari pendet, jawabnya tidak ada... tapi saya siap antar Anda ke Indonesia. Nah ini khan bisnis lagi. Itulah soalnya... mereka tidak punya budaya sekaya kita bekoar-koar mengklaim budaya kita, sementara kita yang kaya budaya ini lha koq "jumeneng kemawon" (bergeming saja). Ayo donk, promosi ke stasiun televisi luar negeri tentang segala kekayaan budaya kita. Ini pake modal tentunya. Thanks. CU. BTS. --- On Mon, 8/24/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote: From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh! To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, August 24, 2009, 1:12 AM Sahabats, kalau menurut saya kita memasuki perang informasi dalam kerangka besar meladeni keinginan Malaysia. Maksudnya, informasi jangan dibalas dengan emosi atau diplomasi, melainkan ya dibalas dengan informasi. Artinya, ulah Malaysia kita lihat mengandung inspirasi bahwa kita harus semakin mencintai budaya kita, sekaligus berusaha mendokumentasikan dan mempublikasikan. Jika ada sahabats yang bisa meneliti secara mendalam Tari Pendet kita kemudian dituliskan menjadi produk ilmiah yang berbobot dunia akan tahu bahwa kebenaran ditemukan dan ditegakkan. Sisi lain, publikasi tari Pendet atau Reog atau apapun yang pernah muncul justru mengundang kita untuk semakin intens membuatnya. Ulah Malaysia saya kira akan terus berlanjut yaitu mengusik hal-hal yang sifatnya Melayu demi publikasi dirinya, dan kita imbangi dengan kecintaan yang mendalam budaya-budaya kita sambil mendokumentasikan dan mempublikasikan. Jaman informasi yang semakin terbuka ini ASU GEDE nggak mesti MENANG KERAHE....anjing besar belum tentu menang dalam perkelahian. ...waktu yang akan membuktikan kebenaran... .kecuali kita diam saja atau menangis terus dan tidak berbuat apa-apa..... ha ha ha ha.... Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Mon, 8/24/09, I G Oka Sindhu Pribadi <okaprib...@cbn. net.id> wrote: From: I G Oka Sindhu Pribadi <okaprib...@cbn. net.id> Subject: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh! To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, August 24, 2009, 8:00 AM Rekan2 yb, Spt juga rekan2 sy yakin kita terusik lagi dengan berita ttg Malaysia yg mengklaim kembali tari pendet kita menjadi kesenian mereka. Sepertinya belum berakhir juga atau memang never ending ya persoalan kita dng Malaysia.... Kita tahu bahwa persoalan dng Malaysia dimulai dengan persoalan wilayah yang menjadi sensitif memberikan dampak pada kegiatan kenegaraan secara menyeluruh. Batas Malaysia dan Indonesia yang tidak tegas secara kualitatif (dlm hal maintenance, beberapa pulau kita diklaim oleh Malaysia krn secara defacto dihidupi oleh mereka tetapi secara deyure msk wilayah Indo). Ini sangat berbeda dengan yang terjadi di Eropa, yang sudah jauh lebih tenang meski perbatasan tiap negara juga berada di daratan bukan lautan. Persoalannya mgkn karena batas Indo dan Malaysia di sebuah pulau dan bukan benua ya jauh lbh luas dan tdk ada yg bisa klaim kepemilikan benua. Kalau kita lihat sejarahnya, memang perseteruan antara Indo-Malay ini diawali thn 1961, ketika pembagian wilayah Kalimantan menjadi 4 administrasi, Indonesia di selatan pulau Kalimantan, sementara di utara adalah Kerajaan Brunei dan dua koloni Inggris yaitu Sarawak dan Britania Borneo Utara, kemudian dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya untuk membentuk Malaysia. Rencana ini ditentang oleh Presiden Soekarno, krn dianggap bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia kembali. Sejak itulah kemudian berlanjut thn 1963 dengan pidato Bung Karno yang isinya ttg ‘Ganyang Malaysia’ dengan beberapa statement politiknya, dan Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio jg mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Kini, 48 thn sudah masih saja kita berurusan dg Malaysia dan justru bukan hanya pada lingkup soal wilayah lagi tetapi sudah masuk ke wilayah HAM, teritorial negara, serta persoalan dunia, lihat saja masalah TKI, klaim kesenian, perebutan pulau, persoalan celebriti ‘M’ kita (klo benar lho...) sampai pada jaringan teroris dunia yang sebagian warga negara Malaysia. Bagaimana nih? Mhn pencerahan.. ..tky Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melakukan. Salam, I G. Oka Sindhu Pribadi __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com

