Oke, kita nggak perlu menyalahkan siapa-siapa, tetapi refleksi perlu dilakukan, 
khususnya melihat ke dalam diri sendiri dan ke luar supaya jernih. Melihat ke 
dalam dan keluar secara seimbang dan dengan kepala dingin otak berpikir cerdas 
sangat diperlukan supaya emosi jangan menjadi roh yang memimpin pikiran, 
perkataan dan perbuatan kita. Evaluasi dan refleksi untuk menarik hikmah sangat 
diperlukan sebab sopir truk yang melaju ke depan tanpa sekali-sekali melihat 
kaca spion bisa menimbulkan masalah bagi banyak orang. Melakukan evaluasi yang 
"keras" terhadap diri sendiri mungkin diperlukan juga sebab akan permasalahan 
mungkin bisa ditemukan dalam proses tersebut. Nyinyir atau tidak itu memang 
persepsi, tergantung apa isi kepala dan hati kita terhadap evaluasi yang kita 
lakukan itu. Padahal persepsi umumnya dibangun oleh deposit pengetahuan dan 
pengalaman kita, alias diri kita sendiri. Persepsi menunjukkan siapa kita.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Tue, 8/25/09, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!!?? Wahhh!
To: [email protected]
Date: Tuesday, August 25, 2009, 9:45 AM






 




    
                  
      Tanpa menurunkan kadar utk introsepksi, sy kira tdk perlu mengerdilkan 
apa yg telah dilakukan bangsa sendiri. Apabila kita telisik, sy kira telah 
banyak yg dilakukan oleh budpar, dephum ham maupun pihak2 lain, pemerintah 
maupun non-pmerintah,  utk melestarikan budaya bangsa.

Seperti yg dibilang menbudpar telah ada kesepakatan antara ind malay jika mau 
menggunakan kebudayaan masing2 utk tujuan komersil, harus izin kpd pihak yg 
bersangkutan, termasuk utk seni yg masuk wilayah abu2 krn seni melayu yg bisa 
diklaim olh kedua belah pihak. Apalagi ini tari pendet yg jelas2 seni bali yg 
ga ad hub sama sekali dgn malaysia.

Sy liat semalam di tv one, si PH pembiuat iklan itu minta maaf dan berkilah bhw 
produk itu bukan iklan tp film dokumenter.. Lucu banget.. Anak TK aja akan 
bilang jelas2 itu iklan.. Trus ketika ditanya, siapa yg biayai iklan itu? Dia 
bilang ga ada yg biayai krn biaya sendiri.. Aneh, masa iya ph bikin iklan dgn 
biaya sendiri, utk apa?

Soal tari pendet, lagi2 satu bentuk keusilan negeri tetangga yang laknat n 
super jahanam, n perlu disikapi dgn tegas agar tdk lagi berbuat seenaknya. Krn 
sesama tetangga  hrs saling menghargai sebagaimana layaknya sesama tetangga yg 
beradab... Kita sendiri, jangan  malah menyalah2kan negeri sendiri dgn sinis n  
nyinyir..
 Powered by Telkomsel BlackBerry®From:  Djarot Purbadi 
Date: Mon, 24 Aug 2009 19:22:18 -0700 (PDT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh!
                         Pak Risfan dan sahabats,

Tadi malam ada uraian dari Rhenald Kasali yang menarik seputar ulah Malaysia di 
MetroTV. Katanya, soal Batik yang diklaim Malaysia ada fenomena yang menarik di 
balik klaim itu. Sebelum klaim dilakukan, Malaysia pernah serius 
memperbincangkan batik. Mereka serius mempelajari batik, misalnya bagaimana 
persebaran batik dalam kajian ilmiah. Bahkan mereka pernah mengadakan seminar 
internasional tentang batik sebanyak enam kali (sekali lagi...enam kali). 
Rhenald Kasali geleng-geleng kepala, dan bertanya, kita yang mengaku punya 
batik bagaimana ? Apakah para ilmuwan kita pernah seserius Malaysia dalam 
melakukan kajian pusaka/warisan budaya bangsanya ?

Bagaimana dengan pusaka budaya yang lain ? Reog pernah diseminarkan secara 
internasional ? Lagu-lagu daerah ? Masakan daerah ? Kain adat lokal ? Wayang ? 
Saya kira ada hikmah dan  tantangan di balik fenomena ulah Malaysia, jika kita 
berpikir jernih dan positif ! Tantangannya bukan sekedar bisnis-ekonomi 
pariwisata, bukan sekedar teriak-teriak heee ini punyaku...tetapi kita abai dan 
lalai terhadapnya. 

Kita perlu berterima kasih, sebab sudah sebanyak 22 kasus Malaysia melakukan 
"klaim" terhadap warisan budaya kita dan kita masih belum punya konsep yang 
jelas tentang bagaimana mencintai pusaka budaya kita yang tersebar di seluruh 
wilayah Nusantara... ha ha ha ha ha......

Salam,

 Djarot Purbadi

 http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
 http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
 http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Mon, 8/24/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:

From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh!
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, August 24, 2009, 10:26 AM

                              Dear All, Menyambung Pak Djarot, BTS tentang 
"perang informasi, perang bisnis", dan era (perang) industri kreatif. Kebetulan 
sedang baca buku "CO-OPETITION - the game theory that changing the game of 
business". Tentang kompetisi dan kolaborasi. Nampaknya pola hubungan antar 
organisasi bisnis, hubungan antar negara, antar instansi pemerintah, LSM, tidak 
bisa lagi dilihat sebagai selamanya kawan, atau selamanya lawan. Ini adalah 
"game" yang kalau menguntungkan berkawan, tapi kalau perlu juga jadi lawan 
atau pesaing pada waktu yang berjalan. Di satu sisi kita jengkel dengan ulah 
Malaysia yang berulang kali "mengakui" (mencuri?)property kita seperti batik, 
lagu, tarian, di sisi lain kita juga harus menitipkan jutaan warga negara kita 
untuk bergantung pada pekerjaan disana. Dalam ASEAN antar negara juga bekerja 
sama.Tapi yang bangsa kita tak boleh lupa, persaingan itu berjalan terus. 
Karenanya mesti waspada. Dalam strategi
 informasi kayaknya mereka memanfaatkan "ketidak-terkenalan " Indonesia dalam 
promosi wisata dengan mengaburkan batas. Seolah budaya Asia (Truly Asia) itu 
ada semua di Malaysia. Mungkin bukan mencuri, tetapi ada kesan "ke Malaysia 
saja cukuplah, semua yang di Asia ada di sini.....". Peluang ini timbul karena 
dari Indonesia juga promosinya kurang kuat. Apalagi ada persamaan budaya dan 
ekologi kedua negara terutama budaya Melayu dan Kalimantan. Seperti juga ada 
komunitas China dan India di sana. Menghadapinya memang tak bisa dengan emosi, 
demo di kedutaan dst. atau sekedar kunjungan menteri untuk minta 
penjelasan.Pertama, ya bikin promosi yang lebih kuat. Tapi ini bukan cuma 
pasang billboard, di TV. Tapi perlu bukti kalau di datangi memang kesenian itu 
tersaji baik. Kalau kita jalan-jalan ke KL misalnya, kita lihat galeri batik, 
juga model rumah dayak dan berbagai perlengkapannya tersaji dengan sangat baik. 
Sementara di kita bagaimana menyajikannya?
 Packaging nya belum memadai dan menarik, termasuk lokasinya yang tersebar luas 
sulit bagi wisatawan yang lama-tinggalnya terbatas.Dalam hal ini 'tourism 
area/urban design' juga berperan dalam meningkatkan nilai dari produk budaya 
yang disajikan. Kedua, soal inventarisasi, katalog karya budaya, dan upaya 
pengurusan HAKI nya. Kita belum punya katalog yang lengkap. Urusan HAKI yang di 
era informasi dan 'industri kreatif' ini menjadi hal penting juga masih belum 
mendapat prioritas. Padahal nilainya bisa sama dengan kekayaan tambang dan 
hutan. Belum dilakukan upaya sistematis dan agresif. Ini kalau tidak ditangani 
dengan baik bisa jadi masalah. Pertama pengakuan/pencurian oleh bangsa lain, 
kedua bisa jadi alat eksploitasi dari pemilik modal yang mampu mengurus atas 
mereka (komunitas) yang mengambangkan dan memproduksinya. Alternatif lain ya 
berkolaborasi, minta royalty, dst. Cara pandang bisnis ini mungkin tidak 
disetujui semua orang, tapi realita yang
 dilakukan pesaing nampaknya motivasinya memang itu. Kita tidak bisa merespons 
dengan romantisme "mestinya dia kan ngerti asal muasal...... ." Salam,Risfan 
Munir 

--- On Sun, 8/23/09, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote:

From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh!
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, August 23, 2009, 9:00 PM

  Dear all. Memang sudah cukup banyak karya budaya Indonesia sepertinya diklaim 
Malaysia mulai dari batik,lagu rasa sayange, reog, dan terakhir tari pended. 
Menurut saya sebenarnya Malaysia tidak mengklaim. Misalnya batik. Jelas batik 
itu banyak ragamnya mulai dari Batik Jogya, Pekalongan, Cirebon, dan 
macam-macam batik termasuk Malaysia sendiri juga punya batik. Yang diklaim 
bukan batiknya, tetapi Malaysia telah membuat Katalog Batik. Ini yang diklaim, 
bukan batiknya. Salahnya kita yang punya banyak ragam batik tidak membuat 
katalog. Sedangkan yang lain seperti lagu rasa sayange, reog, dan tari pendet 
itu khan hanya ada dalam promosi pariwisata. Mengapa Malaysia berbuat demikian? 
Karena mereka tidak sekaya kita dalam budaya sehingga bingung mau apa yang 
dipromosikan? Kasihan deh, karena nggak punya apa-apa, makanya ambil beberapa 
budaya kita untuk promosi. Yang penting wisatawan itu mau datang ke Malaysia. 
Ini bisnis.  Kalau wisatawan menanyakan
 mana reog atau tari pendet, jawabnya tidak ada... tapi saya siap antar Anda ke 
Indonesia. Nah ini khan bisnis lagi. Itulah soalnya... mereka tidak punya 
budaya sekaya kita bekoar-koar mengklaim budaya kita, sementara kita yang kaya 
budaya ini lha koq "jumeneng kemawon" (bergeming saja). Ayo donk, promosi ke 
stasiun televisi luar negeri tentang segala kekayaan budaya kita. Ini pake 
modal tentunya. Thanks. CU. BTS.

--- On Mon, 8/24/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:

From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh!
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, August 24, 2009, 1:12 AM

  Sahabats, kalau menurut saya kita memasuki perang informasi dalam kerangka 
besar meladeni keinginan Malaysia. Maksudnya, informasi jangan dibalas dengan 
emosi atau diplomasi, melainkan ya dibalas dengan informasi. Artinya, ulah 
Malaysia kita lihat mengandung inspirasi bahwa kita harus semakin mencintai 
budaya kita, sekaligus berusaha mendokumentasikan dan mempublikasikan. Jika ada 
sahabats yang bisa meneliti secara mendalam Tari Pendet kita kemudian 
dituliskan menjadi produk ilmiah yang berbobot dunia akan tahu bahwa kebenaran 
ditemukan dan ditegakkan. Sisi lain, publikasi tari Pendet atau Reog atau 
apapun yang pernah muncul justru mengundang kita untuk semakin intens 
membuatnya. Ulah Malaysia saya kira akan terus berlanjut yaitu mengusik hal-hal 
yang sifatnya Melayu demi publikasi dirinya, dan kita imbangi dengan kecintaan 
yang mendalam budaya-budaya kita sambil mendokumentasikan dan mempublikasikan. 
Jaman informasi yang semakin terbuka  ini ASU GEDE
 nggak mesti MENANG KERAHE....anjing besar belum tentu menang dalam 
perkelahian. ...waktu yang akan membuktikan kebenaran... .kecuali kita diam 
saja atau menangis terus dan tidak berbuat apa-apa..... ha ha ha ha....

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Mon, 8/24/09, I G Oka Sindhu Pribadi <okaprib...@cbn. net.id> wrote:

From: I G Oka Sindhu Pribadi <okaprib...@cbn. net.id>
Subject: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh!
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, August 24, 2009, 8:00 AM

  Rekan2 yb, Spt juga rekan2 sy yakin kita terusik lagi dengan berita ttg 
Malaysia yg mengklaim kembali tari pendet kita menjadi kesenian mereka. 
Sepertinya belum berakhir juga atau memang never ending ya persoalan kita dng 
Malaysia....Kita tahu bahwa persoalan dng Malaysia dimulai dengan persoalan 
wilayah yang menjadi sensitif memberikan dampak pada kegiatan kenegaraan secara 
menyeluruh. Batas Malaysia dan Indonesia yang tidak tegas secara kualitatif 
(dlm hal maintenance, beberapa pulau kita diklaim oleh Malaysia krn secara 
defacto dihidupi oleh mereka tetapi secara deyure msk wilayah Indo). Ini sangat 
berbeda dengan yang terjadi di Eropa, yang sudah jauh lebih tenang meski 
perbatasan tiap negara juga berada di daratan bukan lautan. Persoalannya mgkn 
karena batas Indo dan Malaysia di sebuah pulau dan bukan benua ya jauh lbh luas 
dan tdk ada yg bisa klaim kepemilikan benua. Kalau kita lihat sejarahnya, 
memang perseteruan antara Indo-Malay ini diawali
 thn 1961, ketika pembagian wilayah Kalimantan menjadi 4 administrasi, 
Indonesia di selatan pulau Kalimantan, sementara di utara adalah Kerajaan 
Brunei dan dua koloni Inggris yaitu Sarawak dan Britania Borneo Utara, kemudian 
dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia 
Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan 
Semenanjung Malaya untuk membentuk Malaysia. Rencana ini ditentang oleh 
Presiden Soekarno, krn dianggap bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan 
konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, 
sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia kembali.  Sejak itulah kemudian 
berlanjut thn 1963 dengan pidato Bung Karno yang isinya ttg ‘Ganyang Malaysia’ 
dengan beberapa statement politiknya, dan Menteri Luar Negeri Indonesia 
Soebandrio jg mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap 
Malaysia.   Kini, 48 thn sudah masih saja kita berurusan dg
 Malaysia dan justru bukan hanya pada lingkup soal wilayah lagi tetapi sudah 
masuk ke wilayah HAM, teritorial negara, serta persoalan dunia, lihat saja 
masalah TKI, klaim kesenian, perebutan pulau,  persoalan celebriti ‘M’ kita 
(klo benar lho...) sampai pada jaringan teroris dunia yang sebagian warga 
negara Malaysia.   Bagaimana nih? Mhn pencerahan.. ..tky
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melakukan. Salam, I G. Oka Sindhu 
Pribadi


                                        
____________ _________ _________ _________ _________ __
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail. yahoo.com                                             
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke