Dear all.
 
Memang sudah cukup banyak karya budaya Indonesia sepertinya diklaim Malaysia 
mulai dari batik,lagu rasa sayange, reog, dan terakhir tari pended. Menurut 
saya sebenarnya Malaysia tidak mengklaim. Misalnya batik. Jelas batik itu 
banyak ragamnya mulai dari Batik Jogya, Pekalongan, Cirebon, dan macam-macam 
batik termasuk Malaysia sendiri juga punya batik. Yang diklaim bukan batiknya, 
tetapi Malaysia telah membuat Katalog Batik. Ini yang diklaim, bukan batiknya. 
Salahnya kita yang punya banyak ragam batik tidak membuat katalog.
 
Sedangkan yang lain seperti lagu rasa sayange, reog, dan tari pendet itu khan 
hanya ada dalam promosi pariwisata. Mengapa Malaysia berbuat demikian? Karena 
mereka tidak sekaya kita dalam budaya sehingga bingung mau apa yang 
dipromosikan? Kasihan deh, karena nggak punya apa-apa, makanya ambil beberapa 
budaya kita untuk promosi. Yang penting wisatawan itu mau datang ke Malaysia. 
Ini bisnis.  Kalau wisatawan menanyakan mana reog atau tari pendet, jawabnya 
tidak ada... tapi saya siap antar Anda ke Indonesia. Nah ini khan bisnis lagi. 
Itulah soalnya... mereka tidak punya budaya sekaya kita bekoar-koar mengklaim 
budaya kita, sementara kita yang kaya budaya ini lha koq "jumeneng kemawon" 
(bergeming saja). Ayo donk, promosi ke stasiun televisi luar negeri tentang 
segala kekayaan budaya kita. Ini pake modal tentunya.
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Mon, 8/24/09, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote:


From: Djarot Purbadi <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!!?? Wahhh!
To: [email protected]
Date: Monday, August 24, 2009, 1:12 AM


  







Sahabats, kalau menurut saya kita memasuki perang informasi dalam kerangka 
besar meladeni keinginan Malaysia. Maksudnya, informasi jangan dibalas dengan 
emosi atau diplomasi, melainkan ya dibalas dengan informasi. Artinya, ulah 
Malaysia kita lihat mengandung inspirasi bahwa kita harus semakin mencintai 
budaya kita, sekaligus berusaha mendokumentasikan dan mempublikasikan. Jika ada 
sahabats yang bisa meneliti secara mendalam Tari Pendet kita kemudian 
dituliskan menjadi produk ilmiah yang berbobot dunia akan tahu bahwa kebenaran 
ditemukan dan ditegakkan. Sisi lain, publikasi tari Pendet atau Reog atau 
apapun yang pernah muncul justru mengundang kita untuk semakin intens 
membuatnya. Ulah Malaysia saya kira akan terus berlanjut yaitu mengusik hal-hal 
yang sifatnya Melayu demi publikasi dirinya, dan kita imbangi dengan kecintaan 
yang mendalam budaya-budaya kita sambil mendokumentasikan dan mempublikasikan. 
Jaman informasi yang semakin terbuka ini ASU GEDE
 nggak mesti MENANG KERAHE....anjing besar belum tentu menang dalam 
perkelahian. ...waktu yang akan membuktikan kebenaran... .kecuali kita diam 
saja atau menangis terus dan tidak berbuat apa-apa..... ha ha ha ha....

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Mon, 8/24/09, I G Oka Sindhu Pribadi <okaprib...@cbn. net.id> wrote:


From: I G Oka Sindhu Pribadi <okaprib...@cbn. net.id>
Subject: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh!
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, August 24, 2009, 8:00 AM


  



Rekan2 yb,
 
Spt juga rekan2 sy yakin kita terusik lagi dengan berita ttg Malaysia yg 
mengklaim kembali tari pendet kita menjadi kesenian mereka. Sepertinya belum 
berakhir juga atau memang never ending ya persoalan kita dng Malaysia....
Kita tahu bahwa persoalan dng Malaysia dimulai dengan persoalan wilayah yang 
menjadi sensitif memberikan dampak pada kegiatan kenegaraan secara menyeluruh. 
Batas Malaysia dan Indonesia yang tidak tegas secara kualitatif (dlm hal 
maintenance, beberapa pulau kita diklaim oleh Malaysia krn secara defacto 
dihidupi oleh mereka tetapi secara deyure msk wilayah Indo). Ini sangat berbeda 
dengan yang terjadi di Eropa, yang sudah jauh lebih tenang meski perbatasan 
tiap negara juga berada di daratan bukan lautan. Persoalannya mgkn karena batas 
Indo dan Malaysia di sebuah pulau dan bukan benua ya jauh lbh luas dan tdk ada 
yg bisa klaim kepemilikan benua.
 
Kalau kita lihat sejarahnya, memang perseteruan antara Indo-Malay ini diawali 
thn 1961, ketika pembagian wilayah Kalimantan menjadi 4 administrasi, Indonesia 
di selatan pulau Kalimantan, sementara di utara adalah Kerajaan Brunei dan dua 
koloni Inggris yaitu Sarawak dan Britania Borneo Utara, kemudian dinamakan 
Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, 
Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya 
untuk membentuk Malaysia. Rencana ini ditentang oleh Presiden Soekarno, krn 
dianggap bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia 
hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam 
kemerdekaan Indonesia kembali.
 
Sejak itulah kemudian berlanjut thn 1963 dengan pidato Bung Karno yang isinya 
ttg ‘Ganyang Malaysia’ dengan beberapa statement politiknya, dan Menteri Luar 
Negeri Indonesia Soebandrio jg mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap 
bermusuhan terhadap Malaysia.
 
Kini, 48 thn sudah masih saja kita berurusan dg Malaysia dan justru bukan hanya 
pada lingkup soal wilayah lagi tetapi sudah masuk ke wilayah HAM, teritorial 
negara, serta persoalan dunia, lihat saja masalah TKI, klaim kesenian, 
perebutan pulau,  persoalan celebriti ‘M’ kita (klo benar lho...) sampai pada 
jaringan teroris dunia yang sebagian warga negara Malaysia.
 
Bagaimana nih? Mhn pencerahan.. ..tky
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melakukan.
Salam,
I G. Oka Sindhu Pribadi
















      

Kirim email ke