Astaghfirullah Al'adzim, tidak perlu sewot begitu Boss...........
namanya juga wadah untuk diskusi dan ajang ngasih pendapat, keliru atau nyinyir 
menurut Bapak, toch belum tentu menurut teman yang lain......
Salam

--- On Tue, 8/25/09, [email protected] <[email protected]> wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!!?? Wahhh!
To: [email protected]
Date: Tuesday, August 25, 2009, 9:45 AM


  



Tanpa menurunkan kadar utk introsepksi, sy kira tdk perlu mengerdilkan apa yg 
telah dilakukan bangsa sendiri. Apabila kita telisik, sy kira telah banyak yg 
dilakukan oleh budpar, dephum ham maupun pihak2 lain, pemerintah maupun 
non-pmerintah, utk melestarikan budaya bangsa.

Seperti yg dibilang menbudpar telah ada kesepakatan antara ind malay jika mau 
menggunakan kebudayaan masing2 utk tujuan komersil, harus izin kpd pihak yg 
bersangkutan, termasuk utk seni yg masuk wilayah abu2 krn seni melayu yg bisa 
diklaim olh kedua belah pihak. Apalagi ini tari pendet yg jelas2 seni bali yg 
ga ad hub sama sekali dgn malaysia.

Sy liat semalam di tv one, si PH pembiuat iklan itu minta maaf dan berkilah bhw 
produk itu bukan iklan tp film dokumenter.. Lucu banget.. Anak TK aja akan 
bilang jelas2 itu iklan.. Trus ketika ditanya, siapa yg biayai iklan itu? Dia 
bilang ga ada yg biayai krn biaya sendiri.. Aneh, masa iya ph bikin iklan dgn 
biaya sendiri, utk apa?

Soal tari pendet, lagi2 satu bentuk keusilan negeri tetangga yang laknat n 
super jahanam, n perlu disikapi dgn tegas agar tdk lagi berbuat seenaknya. Krn 
sesama tetangga hrs saling menghargai sebagaimana layaknya sesama tetangga yg 
beradab... Kita sendiri, jangan malah menyalah2kan negeri sendiri dgn sinis n 
nyinyir..

Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: Djarot Purbadi 
Date: Mon, 24 Aug 2009 19:22:18 -0700 (PDT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh!

  





Pak Risfan dan sahabats,

Tadi malam ada uraian dari Rhenald Kasali yang menarik seputar ulah Malaysia di 
MetroTV. Katanya, soal Batik yang diklaim Malaysia ada fenomena yang menarik di 
balik klaim itu. Sebelum klaim dilakukan, Malaysia pernah serius 
memperbincangkan batik. Mereka serius mempelajari batik, misalnya bagaimana 
persebaran batik dalam kajian ilmiah. Bahkan mereka pernah mengadakan seminar 
internasional tentang batik sebanyak enam kali (sekali lagi...enam kali). 
Rhenald Kasali geleng-geleng kepala, dan bertanya, kita yang mengaku punya 
batik bagaimana ? Apakah para ilmuwan kita pernah seserius Malaysia dalam 
melakukan kajian pusaka/warisan budaya bangsanya ?

Bagaimana dengan pusaka budaya yang lain ? Reog pernah diseminarkan secara 
internasional ? Lagu-lagu daerah ? Masakan daerah ? Kain adat lokal ? Wayang ? 
Saya kira ada hikmah dan tantangan di balik fenomena ulah Malaysia, jika kita 
berpikir jernih dan positif ! Tantangannya bukan sekedar bisnis-ekonomi 
pariwisata, bukan sekedar teriak-teriak heee ini punyaku...tetapi kita abai dan 
lalai terhadapnya. 

Kita perlu berterima kasih, sebab sudah sebanyak 22 kasus Malaysia melakukan 
"klaim" terhadap warisan budaya kita dan kita masih belum punya konsep yang 
jelas tentang bagaimana mencintai pusaka budaya kita yang tersebar di seluruh 
wilayah Nusantara... ha ha ha ha ha......

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Mon, 8/24/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:


From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh!
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, August 24, 2009, 10:26 AM


  






Dear All,
 
Menyambung Pak Djarot, BTS tentang "perang informasi, perang bisnis", dan era 
(perang) industri kreatif. Kebetulan sedang baca buku "CO-OPETITION - the game 
theory that changing the game of business". Tentang kompetisi dan kolaborasi. 
Nampaknya pola hubungan antar organisasi bisnis, hubungan antar negara, antar 
instansi pemerintah, LSM, tidak bisa lagi dilihat sebagai selamanya kawan, atau 
selamanya lawan. Ini adalah "game" yang kalau menguntungkan berkawan, tapi 
kalau perlu juga jadi lawan atau pesaing pada waktu yang berjalan.
 
Di satu sisi kita jengkel dengan ulah Malaysia yang berulang kali "mengakui" 
(mencuri?)property kita seperti batik, lagu, tarian, di sisi lain kita juga 
harus menitipkan jutaan warga negara kita untuk bergantung pada pekerjaan 
disana. Dalam ASEAN antar negara juga bekerja sama.
Tapi yang bangsa kita tak boleh lupa, persaingan itu berjalan terus. Karenanya 
mesti waspada. Dalam strategi informasi kayaknya mereka memanfaatkan 
"ketidak-terkenalan " Indonesia dalam promosi wisata dengan mengaburkan batas. 
Seolah budaya Asia (Truly Asia) itu ada semua di Malaysia. Mungkin bukan 
mencuri, tetapi ada kesan "ke Malaysia saja cukuplah, semua yang di Asia ada di 
sini.....". Peluang ini timbul karena dari Indonesia juga promosinya kurang 
kuat. Apalagi ada persamaan budaya dan ekologi kedua negara terutama budaya 
Melayu dan Kalimantan. Seperti juga ada komunitas China dan India di sana.
 
Menghadapinya memang tak bisa dengan emosi, demo di kedutaan dst. atau sekedar 
kunjungan menteri untuk minta penjelasan.
Pertama, ya bikin promosi yang lebih kuat. Tapi ini bukan cuma pasang 
billboard, di TV. Tapi perlu bukti kalau di datangi memang kesenian itu tersaji 
baik. Kalau kita jalan-jalan ke KL misalnya, kita lihat galeri batik, juga 
model rumah dayak dan berbagai perlengkapannya tersaji dengan sangat baik. 
Sementara di kita bagaimana menyajikannya? Packaging nya belum memadai dan 
menarik, termasuk lokasinya yang tersebar luas sulit bagi wisatawan yang 
lama-tinggalnya terbatas.
Dalam hal ini 'tourism area/urban design' juga berperan dalam meningkatkan 
nilai dari produk budaya yang disajikan.
 
Kedua, soal inventarisasi, katalog karya budaya, dan upaya pengurusan HAKI nya. 
Kita belum punya katalog yang lengkap. Urusan HAKI yang di era informasi dan 
'industri kreatif' ini menjadi hal penting juga masih belum mendapat prioritas. 
Padahal nilainya bisa sama dengan kekayaan tambang dan hutan. Belum dilakukan 
upaya sistematis dan agresif. Ini kalau tidak ditangani dengan baik bisa jadi 
masalah. Pertama pengakuan/pencurian oleh bangsa lain, kedua bisa jadi alat 
eksploitasi dari pemilik modal yang mampu mengurus atas mereka (komunitas) yang 
mengambangkan dan memproduksinya.
 
Alternatif lain ya berkolaborasi, minta royalty, dst.
 
Cara pandang bisnis ini mungkin tidak disetujui semua orang, tapi realita yang 
dilakukan pesaing nampaknya motivasinya memang itu. Kita tidak bisa merespons 
dengan romantisme "mestinya dia kan ngerti asal muasal...... ."
 
Salam,
Risfan Munir
 


--- On Sun, 8/23/09, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote:


From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh!
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, August 23, 2009, 9:00 PM


  






Dear all.
 
Memang sudah cukup banyak karya budaya Indonesia sepertinya diklaim Malaysia 
mulai dari batik,lagu rasa sayange, reog, dan terakhir tari pended. Menurut 
saya sebenarnya Malaysia tidak mengklaim. Misalnya batik. Jelas batik itu 
banyak ragamnya mulai dari Batik Jogya, Pekalongan, Cirebon, dan macam-macam 
batik termasuk Malaysia sendiri juga punya batik. Yang diklaim bukan batiknya, 
tetapi Malaysia telah membuat Katalog Batik. Ini yang diklaim, bukan batiknya. 
Salahnya kita yang punya banyak ragam batik tidak membuat katalog.
 
Sedangkan yang lain seperti lagu rasa sayange, reog, dan tari pendet itu khan 
hanya ada dalam promosi pariwisata. Mengapa Malaysia berbuat demikian? Karena 
mereka tidak sekaya kita dalam budaya sehingga bingung mau apa yang 
dipromosikan? Kasihan deh, karena nggak punya apa-apa, makanya ambil beberapa 
budaya kita untuk promosi. Yang penting wisatawan itu mau datang ke Malaysia. 
Ini bisnis.  Kalau wisatawan menanyakan mana reog atau tari pendet, jawabnya 
tidak ada... tapi saya siap antar Anda ke Indonesia. Nah ini khan bisnis lagi. 
Itulah soalnya... mereka tidak punya budaya sekaya kita bekoar-koar mengklaim 
budaya kita, sementara kita yang kaya budaya ini lha koq "jumeneng kemawon" 
(bergeming saja). Ayo donk, promosi ke stasiun televisi luar negeri tentang 
segala kekayaan budaya kita. Ini pake modal tentunya.
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Mon, 8/24/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:


From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh!
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, August 24, 2009, 1:12 AM


  





Sahabats, kalau menurut saya kita memasuki perang informasi dalam kerangka 
besar meladeni keinginan Malaysia. Maksudnya, informasi jangan dibalas dengan 
emosi atau diplomasi, melainkan ya dibalas dengan informasi. Artinya, ulah 
Malaysia kita lihat mengandung inspirasi bahwa kita harus semakin mencintai 
budaya kita, sekaligus berusaha mendokumentasikan dan mempublikasikan. Jika ada 
sahabats yang bisa meneliti secara mendalam Tari Pendet kita kemudian 
dituliskan menjadi produk ilmiah yang berbobot dunia akan tahu bahwa kebenaran 
ditemukan dan ditegakkan. Sisi lain, publikasi tari Pendet atau Reog atau 
apapun yang pernah muncul justru mengundang kita untuk semakin intens 
membuatnya. Ulah Malaysia saya kira akan terus berlanjut yaitu mengusik hal-hal 
yang sifatnya Melayu demi publikasi dirinya, dan kita imbangi dengan kecintaan 
yang mendalam budaya-budaya kita sambil mendokumentasikan dan mempublikasikan. 
Jaman informasi yang semakin terbuka ini ASU GEDE
 nggak mesti MENANG KERAHE....anjing besar belum tentu menang dalam 
perkelahian. ...waktu yang akan membuktikan kebenaran... .kecuali kita diam 
saja atau menangis terus dan tidak berbuat apa-apa..... ha ha ha ha....

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Mon, 8/24/09, I G Oka Sindhu Pribadi <okaprib...@cbn. net.id> wrote:


From: I G Oka Sindhu Pribadi <okaprib...@cbn. net.id>
Subject: [referensi] Pendet tarian Malaysia??!! ?? Wahhh!
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, August 24, 2009, 8:00 AM


  



Rekan2 yb,
 
Spt juga rekan2 sy yakin kita terusik lagi dengan berita ttg Malaysia yg 
mengklaim kembali tari pendet kita menjadi kesenian mereka. Sepertinya belum 
berakhir juga atau memang never ending ya persoalan kita dng Malaysia....
Kita tahu bahwa persoalan dng Malaysia dimulai dengan persoalan wilayah yang 
menjadi sensitif memberikan dampak pada kegiatan kenegaraan secara menyeluruh. 
Batas Malaysia dan Indonesia yang tidak tegas secara kualitatif (dlm hal 
maintenance, beberapa pulau kita diklaim oleh Malaysia krn secara defacto 
dihidupi oleh mereka tetapi secara deyure msk wilayah Indo). Ini sangat berbeda 
dengan yang terjadi di Eropa, yang sudah jauh lebih tenang meski perbatasan 
tiap negara juga berada di daratan bukan lautan. Persoalannya mgkn karena batas 
Indo dan Malaysia di sebuah pulau dan bukan benua ya jauh lbh luas dan tdk ada 
yg bisa klaim kepemilikan benua.

 

Kalau kita lihat sejarahnya, memang perseteruan antara Indo-Malay ini diawali 
thn 1961, ketika pembagian wilayah Kalimantan menjadi 4 administrasi, Indonesia 
di selatan pulau Kalimantan, sementara di utara adalah Kerajaan Brunei dan dua 
koloni Inggris yaitu Sarawak dan Britania Borneo Utara, kemudian dinamakan 
Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, 
Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya 
untuk membentuk Malaysia. Rencana ini ditentang oleh Presiden Soekarno, krn 
dianggap bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia 
hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam 
kemerdekaan Indonesia kembali.

  
Sejak itulah kemudian berlanjut thn 1963 dengan pidato Bung Karno yang isinya 
ttg ‘Ganyang Malaysia’ dengan beberapa statement politiknya, dan Menteri Luar 
Negeri Indonesia Soebandrio jg mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap 
bermusuhan terhadap Malaysia. 
  
Kini, 48 thn sudah masih saja kita berurusan dg Malaysia dan justru bukan hanya 
pada lingkup soal wilayah lagi tetapi sudah masuk ke wilayah HAM, teritorial 
negara, serta persoalan dunia, lihat saja masalah TKI, klaim kesenian, 
perebutan pulau,  persoalan celebriti ‘M’ kita (klo benar lho...) sampai pada 
jaringan teroris dunia yang sebagian warga negara Malaysia. 
  
Bagaimana nih? Mhn pencerahan.. ..tky
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melakukan. 
Salam, 
I G. Oka Sindhu Pribadi




____________ _________ _________ _________ _________ __
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail. yahoo.com 















      

Kirim email ke