Uda Ekadj dan rekans ysh, Kalau dari segi pendekatan keilmuan, saya kira teman-teman dosen kita juga berkembang maju terus Pak. Pendekatan yang lebih partisipatif, kualitatif seperti yang dilontarkan Pak Djarot dan Anda juga dikembangkan mereka. Tapi bidang seperti kita ini kan tidak pernah atau tak bisa dilepaskan dari konteks environment kebijakan. Justru contoh Anda sendiri yang menggunakan konteks environment politic era Belanda dan awal 60an yang mana "peran pemerintah" mutlak. Dengan perubahan environment politik tentu pendekatan planningnya juga beda. Kalau dari segi perkembanagn planning theory sekarang jauh lebih maju, lebih partisipatif. Saya percaya itu.
Tapi jangan lupa Pak, Thomas Karsten itu urban designer yg lebih banyak untuk real-astate swasta lho Pak. Ini juga faktor yang mesti dikaji. Kenapa dulu hubungan komunitas Planning pemerintah - swasta tak ada masalah. Kenapa sekarang kita "dididik" bahwa developer itu teman setan. Planner harus sama pemerintah. Padahal keduanya juga cenderung "menggusur" rakyat tak bertanah. Tapi Thomas Karsten cenderung mengakomodasi permukiman rakyat dalam desainnya. Kampung-kampung di Malang misalnya tertata baik jaringan jalan (kaki) dan drainasenya. Dan, uuh jalan-jalan di Malang itu selalu mengarahkan kita ke panorama gunung-gunung Pak. Kebetulan sekolah saya dulu dekat stadion, dengan 4 lapangan bola, 6-8 lapangan tenis, kolam renang, lapangan basket, ruang body-building, taman tempat saya latihan pramuka. Saya kira tidak ada fasilitas seperti itu kecuali Gelora Bung Karno. Setidaknya saya pernah merasakan indah dan nyamannya kota di negeri sendiri, sampai 80an. Sebelum Pemkot mengundang bangunan Mal disitu. Gombal. Tapi kembali ke RTRW dan saudaranya RPJP/MD, memang ini produk aktual kan Pak. Sudah ditataran aplikasi kebijakan. Namun keduanya, yang ingin saya angkat, mewakili dua komunitas perencana. Yang satu berbasis "spatial", yang lain berbasis "(general) development". contoh adanya RTRW dan RPJP/MD itu sebagai jejak di lapangannya. Namanya Perencana Wilayah dan Kota, kan mestinya menangani daya saing daerah, pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, disamping juga Tata Ruang sebagai satu dari belasan urusan wajib (UUPemDa 32/2004) juga UU Siatem Perencanaan (25/200?). Sekali lagi saat ini ada komunitas besar perencana "spatial" dan (ternyata) ada komunitas besar planner yang berkecimpung dalam "development" planning & management. Dan, komunitas planner secara keseluruhan akan jadi mantap eksistensinya kalau merangkul keduanya. Selamat Plano-50. Salam, Risfan Munir ffekadj wrote: > > Pak Risfan dan Harya ysh, yang perlu disadari bila RTRW dan RPJP/M > bukanlah karya akademis, karena tidak menggunakan kaidah-kaidah ilmiah. > Malah beberapa produk itu menggunakan acuan pedoman yang telah > ditetapkan. > Saya baru bongkar-bongkar buku, dan uuups, ketemu buku usang > "Penindjauan Keadaan Kota", karya Kenneth Watts, diterbitkan Bagian Tata > Pembangunan Daerah dan Kota - ITB. Ada tjap stempel di covernya : "tidak > diperjual belikan di luar ITB". Rupanya terjemahan dari buku "How to > Make An Urban Planning Survey based on Djakarta, Indonesia", yang > diterjemahkan dan diselenggarakan oleh Balai Usaha Mahasiswa Planologi, > Februari 1961. Redaksi: Risman Maris, Wisnu Murti, Moch. Oemar > Boerhanoeddin, Kustini Ibrahim, Dedi Sopandi. > Isi buku kurang lebih pengantar umum, penyelidikan perancangan, > teknik-teknik survai dan observasi, serta selincam teknik perencanaan. > Suatu metodologi, bahan yang paling substansial untuk keilmuan, > menggunakan data primer. > Kurang tahu kapan berganti menjadi Planologi, namun tentunya pada saat > itu tersedia optimisme keilmuan, logos-patos- etos. Sekurangnya > seharusnya tersedia: metodologi - konseptualisasi - relationship. Untuk > bahan metodologi telah tersedia sejak 1961, tinggal mengembangkan. Untuk > konseptualisasi sebenarnya tinggal mempertajam pada 'planografi' . Untuk > relationship, telah tersedia demand dan relasi yang luas sebagaimana > disinyalir Pak Risfan. Plus beberapa teori hermeneutics, dan wawasan > perencanaan dari Pak Djoko dan Suwardjoko, dan contoh-contoh dari > Karsten. > Bila Kenneth Watts dkk masih terus berkarya di Bandung, saya yakin > eksperimen PBB akan berhasil mempersembahkan karya keilmuan untuk dunia, > sebagai 'ilmu', bukan 'studi'. Berpotensi memproduksi 'teori-teori > baru', yang relevan dengan 'menginjakbumian' . Apalagi sejak pertengahan > 1980an sudah ada pertarungan dua institusi besar yang ingin menempatkan > 'the half-baked concept of planografi' sebagai produk birokrasi, ketika > pada saat itu positivisme sedang di ujung kehebatan. Saya kira sejak > saat itu para pembangun -logi telah kehilangan momentum kedjoangannja. > Perlu kesadaran, kita tidak lagi di era positivisme, dan juga mungkin > telah melewati era konstruksivisme. > Mohon maaf ini hanya analisis pengamat saja, penjelasan pelaku sejarah > tentunya lebih signifikan. Salam. > -ekadj > --- In refere...@yahoogrou ps.com , Harya Setyaka <harya.setyaka@ ...> > wrote: >> >> Thx Pak Risfan, >> >> Perubahan yg terakhir memang di-drive oleh reformasi ITB secara > menyeluruh >> (and I think its for the better.. I think).. >> >> Namun saya terlambat lahir untuk menyaksikan sejarah sebelumnya.. >> >> Menurut catatan saya, yg saya kutip juga dari sumber lain (wikipedia > siih.. >> ga canggih-2 amat..); yaitu bahwa Thomas Karsten pernah jadi pengajar > di THS >> (ITB-Belanda) tahun 1941-1945. Karsten meninggal di kamp tahanan > Jepang. >> >> mungkin sebelum 1959, belum ada jurusan Planologi,.. tapi ilmu > perencanaan >> kota (atau minimal banget urban design atau hanya site-planning) > sepertinya >> sudah diajarkan.. mungkin masuk dalam arsitektur.. yang memang > sejarahnya >> dimana-mana demikian..minimal secara praksis >> >> Saya koq cenderung bahwa Planologi ada dari arsitekturnya. . >> ya gak jauh beda dengan lahirnya Teknik Penerbangan dari Teknik > Mesin.. dan >> juga Teknik Material dari Teknik Mesin (bahkan dulu nya.. Mesin & > Elektro >> jadi satu? betul? ) >> lalu Teknik Kelautan dari Teknik Sipil .. >> >> dan memang yg dibahas saat ini adalah penjurusan S1 .. >> >> btw, bukannya ada mahasiswa arsitektur yg lantas pindah planologi pada > masa >> awal-2 nya itu? >> >> >> Seperti apakah kurikulum yg dibawakan Karsten tsb? >> >> bagaimana kurikulum Planologi berubah dari masa ke masa? >> >> lalu mulai kapan tenaga pengajar planologi mulai 'multi-kultural' > dalam arti >> kata; campur aduk ada yg lulusan USA, Aussie, Francais, British, > Belanda.. & >> Jepang .. apa dampaknya ke kurikulum? >> >> >> Menarik nih, info mengenai orang-2 UN.. >> pada waktu itu, UN praktis ya 'tangan international' nya USA ... >> (Eisenhower. .) >> USA membantu Eropa membangun kembali kota-2 nya.. >> >> Siapa kah gerangan nama para Prof. dari UN tsb? >> (maksudnya para Prof nya meng-invoice ke UN sebagai rekanan kan? bukan >> pegawai tetap UN.. ) >> Mungkin masih bisa kita lacak nama-2 nya saksi sejarah ini.. >> >> Ketika itu, apakah hanya Planologi yg mendapat bantuan dari UN? atau > ITB >> atau bahkan seluruh perguruan tinggi yg mendapat bantuan UN? >> >> PYM PBR PT itu apa ya? >> >> Apa semua ini masuk paket kompensasi terhadap Allan Pope? >> >> Lalu .. apa yg terjadi masa konfrontasi dengan Malaysia, sehingga Bung > Karno >> pun cabut dari UN, bagaimana nasib Planologi saat itu? >> >> >> Ketika ada S2 PWK dan S1 Planologi, ijazah nya S1 nya tertulis > Planologi? >> naah.. sy tertarik periodisasi dari perubahan-2 ini.. >> >> >> Saya pernah lihat foto-2 tua ketika di ITB dulu (2000-2005). . tapi > bukan di >> jurusan Planologi.. >> yaitu di Sipil dan Geologi.. dimana ada Dosen Bule-Belanda berfoto > bareng >> dengan Mahasiswa pribumi.. >> lalu kan ada gerakan pengusiran Belanda pada Desember 1957, >> (sekaligus men-nasionalisasi perusahaan Belanda, dijadikan BUMN) .. >> >> apakah hal yg serupa juga terjadi pada pendidikan tata kota? >> lalu siapa yg menggantikan para Belanda tsb? >> >> >> mungkin ada pelaku sejarah juga disini? (selain saksi sejarah > tentunya..) >> >> >> >> Gusur menggusur itu memang warisannya Corbusier .. perubahan paradigma >> perencanaan memang dilatar-belakangi, atau me-latar-belakangi > perubahan yg >> lebih besar di aras politik .. >> >> Salam, >> -K- >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> 2009/10/25 Risfan M risf...@... >> >> > >> > >> > Hi there, >> > >> > Persisnya pergantian nama tentu para dosen dan Institut yang tahu. > Karena >> > regrouping itu juga berlaku untuk semua jurusan ITB, seperti elektro > dan >> > informatika tergabung dalam STEI (sekolah tinggi elektro dan >> > informatika) ...jangan keliru dengan STIE (...ilmu ekonomi). Ada > Fakultas, >> > ada Sekolah, konon katanya kalau isinya dua jurusan Sekolah, kalau > tiga >> > jurusan lebih Fakultas.... Tapi London School of Economic itu > universitas ya? >> > >> > Nama PWK setahu saya sudah dipakai sejak awal program S-2 > Perencanaan >> > Wilayah dan Kota. Tapi...ini nostalgia... pertengahan 70an, nama tak > resmi >> > PWK sudah dipakai ...(ada papan nama besar di antara ruang kuliah) > tertulis >> > "Tata Pembangunan Kota dan Daerah", sementara papan nama Planologi > papannya >> > kecil menghadap ke parkiran, sehingga jarang dilihat mahasiswa > (kecuali yg >> > kebetulan bawa mobil ortunya dan parkir disitu). >> > >> > Seingat saya waktu pertengahan 70an itu dalam bahasa umum Planologi > itu >> > dikenal sebagai Tata Kota....dan terminologi "tata ruang" seingat > saya belum >> > dipakai. Bahkan produknya Direktorat Tata Kota dan Tata Daerah > (DTKD-DPU) >> > waktu itu namanya Masterplan. Lalu ada RUK, RIK, RSTRP, hingga RTRW >> > sekarang.... Sempat juga ada semacam "rivalitas", antara produk > rencana kota >> > dari PU dengan rencana kota dari DDN. >> > >> > Planologi, ternyata oleh Belanda tidak dipopulerkan di bidang > perencanaan >> > kota saja ya. Di bidang kehutanan mereka juga familiar dengan > Planologi >> > (tata guna hutan?). Saya dulu sering dikira ahli kehutanan kalau > mengaku >> > dari planologi. >> > >> > Pengajar awal Planologi, yang saya tahu kok kebanyakan bukan dari > Belanda, >> > tapi dari UN yang mengambil pengajar dari Harvard/MIT. Kalau yang > dari >> > Belanda kayaknya itu mungkin embrionya dulu di Jurusan Arsitek. Dan, > sejarah >> > planologi kayaknya bukan "pecahan dari arsitek". >> > >> > Ada kebutuhan yang dirasa tentang perencanaan pembangunan fisik > skala kota, >> > lalu dibentuk jurusan yang tenaganya diambil dari jurusan arsitek > (Pak Wawo, >> > dkk), juga dari Sipil (Abukasan A, dkk). Sewaktu PYM PBR PT Presiden > RI Dr. >> > Ir. H. Soekarno menyatakan kita berdikari, yang diminta pergi dari > planologi >> > ya tenaga-tenaga dari UN itu. Tadinya bantuan UN untuk pembentukan > PL itu >> > kan sejajar dengan pembentukan AIT di Thailand dan AIM di Filipina. >> > Jadi pergeseran dominasi Belanda ke team UN sudah terjadi sebelum > policy >> > Berdikari (berdiri diatas kaki sendiri) itu. Lalu Planologi > dikendalikan >> > oleh Pak Wawo (ITB, Univ Hawaii), Pak Hasan Poerbo (ITB, Univ > Hawaii?), Pak >> > SS (UGM, UPen, Harvard, MIT?) dan Pak Abukasan (ITB, UC Berkeley?) > dan >> > kawan-kawan. >> > Gitu kayaknya.... he he he....tapi yang bener kita tunggu tulisan pak > Wawo >> > di Plano-50 tentunya. >> > >> > Waktu saya kuliah masih ada di tata usaha jurusan dijual stensilan > tulisan >> > tim UN itu a.l. "Hawker & Peddler" (?). Saya kira itu wasiat yang > tak pernah >> > dilaksanakan oleh alumni....Dari awal Planologi didirikan ada > empathi kepada >> > mereka yang tak punya tanah. Tapi sungguh memprihatinkan Rencana > kota >> > sekarang bukan menolong PKL, tapi jadi alat "pengusir, penggusur" > dan jadi >> > justifikasi untuk "memukuli" kaum yang tak punya tanah itu. Rencana > kota >> > hanya untuk mereka yang mampu punya/sewa lahan....??? ? >> > Ini mungkin yang masih perlu jadi agenda, terutama di masa kini, > dimana >> > kemiskinan dan pengangguran menjadi agenda utama. Ini peluang bagi > sarjana >> > PWK dan kita untuk berkontribusi kepada bangsa. Mungkin kita perlu > belajar >> > dari tokoh seperti Jokowi dll. >> > >> > Salam, >> > Risfan Munir >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > >> > --- On *Sun, 10/25/09, Harya Setyaka harya.setyaka@ ...* wrote: >> > >> > >> > From: Harya Setyaka harya.setyaka@ ... >> > Subject: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot __ Re: [referensi] > Rencana >> > adalah karya Disain Grafis >> > To: refere...@yahoogrou ps.com , "plitb-abroad" < >> > plitb-abroad@ yahoogroups. com , perkot...@yahoogrou ps.com , >> > kebuday...@yahoogro ups.com , futurol...@yahoogro ups.com >> > Date: Sunday, October 25, 2009, 12:17 PM >> > >> > >> > >> > >> > Sorry X-posting... >> > >> > Menyambut 50 tahun, its appropriate to be nostalgic. >> > >> > Dulu Planologi, lalu menjadi Perencanaan Wilayah dan Kota.. >> > >> > Resmi dianggap berdiri tahun 1959 (kalao gak, ya gak Dies Emas > sekarang.. >> > hehe..). >> > >> > Menurut catatan saya yang belum tentu sahih; jaman pra-Soekarno, > ilmu tata >> > kota sudah diajarkan di THS, antara lain oleh Ir. H. Thomas > Karsten.. >> > Mengikuti terminologi Belanda; Planologie .. maka diserap dalam > bahasa >> > Indonesia; Planologi. >> > >> > Lalu, suatu ketika, the Groote Bung; Soekarno marah besar dan kalap > sama >> > orang Belanda perkara sengketa Papua (was Irian Barat) dengan > Pemerintah >> > Belanda.. >> > tahun 1957 semua orang Belanda, dan yg 'berbau' Belanda (yg belum > tentu >> > mendukung keputusan Pemerintah Belanda tersebut) diusir paksa, > digusur, ... >> > Lalu didatangkan Profesor-2 dari Kentucky, USA (jauh sebelum > Kentucky Fried >> > Chicken pertama buka cabang di Jakarta tahun 1979) .. (untung yg > dateng >> > Professor, kalao Kolonel, malah buka restoran..) >> > >> > Di USA, tidak dikenal Planologie.. . yg ada adalah Urban&Regional > Planning, >> > City&Reg Planning, Regional&City Planning. etc.. >> > yang kalao diterjemahkan (bukan diserap); menjadi Perencanaan > Wilayah & >> > Kota.. >> > >> > Lalu semula masuk FSTP-Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (School > of >> > Civil Engineering and Planning) >> > lalu sekarang SAPPK - Sekolah Arsitektur dan Perencanaan > Pengembangan >> > Kebijakan (School of Architecture, Planning and Policy Development > (?)) >> > >> > Di USA, Planning masuk ke School of apa? >> > Bagaimana di Belanda? >> > >> > Apakah ini hanya sekedar perubahan nama ? atau perubahan nama itu > adalah >> > pertanda reformasi (perubahan) cara pikir, cara-kategorisasi dan > sekaligus >> > penegasan statement maksud dan tujuan yang diharapkan dari perubahan > nama >> > tsb? >> > >> > Mohon diskusinya.. >> > >> > >> > Salam hangat, >> > -K- >> > >> > NB: apperently, Shakespere sedang menggambarkan seorang yg sedang > dimabuk >> > cinta ketika berpuisi mengenai nama sekuntum mawar.. awal pemikiran >> > semiologi (atau semiotika, atau.. gak penting namanya apa.. haha). >> > Dalam kebudayaan kita, nama adalah doa.. memberi nama pun pakai > upacara dan >> > doa.. >> > Perubahan nama dari Planologi ke PWK mungkin memberi isyarat bahwa >> > soko-guru perencanaan Indonesia atau kiblat pembangunan; pindah dari >> > Belanda.. ke USA .. (for better or worse..) >> > >> > >> > >> > >> > >> > ============ ==== >> > Harya Setyaka >> > >> > 973 Turtle Crest Drive | Irvine, CA 92603 >> > Phone : +1.949.769.3624 | Mobile : +1.949.748.0978 >> > Skype ID : harya.setyaka | BB-M PIN: 20EEEBB4 >> > >> > >> > >> > >> > >> > 2009/10/24 Risfan Munir risf...@yahoo. > com< http://us.mc1115. mail.yahoo. com/mc/compose? to=risfano@ ... >> > > >> > >> >> >> >> Uda Ekadj, >> >> Penggunaan istilah Planologi menunjukkan usia Anda. Pada jaman > (saya he he >> >> he) sekarang ini namanya sudah lebih eksplisit "Perencanaan Wilayah > dan >> >> Kota". Jadi tak perlu gothal-gathuk nama. >> >> >> >> Salam, >> >> Risfan Munir >

