Pak Risfan dan milisters ysh,
Maaf nambah lagi tgp saya……
‘Temuan lapangan’ pak Risfan ttg adanya semacam tren dua jalur kiprah planner, 
yaitu: "spatial plan" dan "development plan" semakin memberi saya inspirasi utk 
menyampaikan lanjutan masukan2 berikutnya……
Sbgmn di-keruangan trdpt ‘temuan’ ttg jalur ‘spatial plan’ dan ‘dvlpmnt plan’ 
dimana yg pertama lbh bersifat amat lokal, intra-regional, sgt lebih terbatas 
dan lebih detail serta siap utk diestafetkan kepada arsitek utk pekerjaan 
konstruksi selanjutnya……. lalu yg kedua secara keruangan berskala lebih luas…. 
ialah bersifat antar propinsi (inter-regional) dimana kalau sudah begini itu 
sama artinya dgn bersifat nasional dan mengandung aspek integratif……..
Adanya 2 jalur yg sifatnya berbeda ini memang  samasekali bukan bersifat 
dikotomik ……namun saling berspesialisasi, integral dan saling bersinergi……. itu 
kiranya analog dgn pembagian jalur di ilmu ekonomi spt bhw disana terdapat 
ekonomi mikro (jurusan manajemen) yg lbh bersifat  mengurus perekonomian 
perusahaan (sendiri, individual) dan utamanya berorientasi profit making, 
marketing, inovasi serta efisiensi….sementara itu dijalur yg lain terdpt pula 
makroekonomi (studi pembangunan) yg bersifat nasional dan regional….yg 
berkepentingan dgn kinerja  perekonomian seluruh bangsa, negara (nasional) 
serta integrasinya….yg berkepentingan dgn masalah inflasi,  kebijakan2 moneter, 
perbankan, ekspor, GNP, perkembangan industri dan bisnis, pengembangan pasar, 
pengentasan kemiskinan, perluasan kesempatan kerja, perbaikan upah buruh, 
temuan2 teknologik, nasionalisme konsumsi dsb……..
Mengingat urusannya yg sama2 ‘mikro’ …….brkali ‘Jurusan spatial planning’ (K 
dari PWK) bolehlah disejajarkan dgn jurusan ‘manajemen’ (mikro) dlm 
ekonomi…...dan sementara itu jurusan ‘development plan’ (W dari PWK) pantaslah 
kiranya berpartnership dgn jurusan ekonomi makro (studi pembangunan)……dimana 
keduanya sama2 berpikir makro, regional  dan nasional…..sama2 berpikir ttg 
perluasan kesempatan kerja….sama2 berpikir ttg pembangunan kawasan 
tertinggal….hanya bedanya PWK akan lbh berkonsentrasi pd  ‘pembangunan’ dlm 
kaitannya dgn pembentukan/ pengembangan bentuk serta desain “kota“ dan hirarkhi 
besaran kota/ pengembangan fasilitas kota dan utamanya sistem kota secara 
nasional (trmsk perlunya pemikiran countermagnet city kpd kot aprimat dsb) dlm 
kerangka lbh menggalakkan lagi pertumbuhan perekonomian dan integrasi 
perekonomian nasional…..sementara itu makroekonomi lbh berkecimpung dlm masalah 
efisiensi industri/
 teknologi industri/ ekonomi/ financing/ pasar/ ekspor……….
Kedua pihak... ekonomi dan teknik keruangan perlu saling memahami perbedaan 
serta fungsi strategis masing2.... ada yg perlu dikerjakan sendiri2.. tetapi 
ada pula yg perlu dipikirkan bersama dan dikerjakan bersama (teknik dan 
perekonomian migrasi/ urbanisasi, teknik dan perekonomian persemaian industri 
foot loose dsb)...... 
Rasanya setelah 50thn planologi bolehlah  dibuat penjurusan semacam itu di PWK/ 
apa nama terakhirnya kini….yg pertama (sptl plan) mungkin lbh menjadi konsumsi 
industri properti dan rencana2 lokal juga departemen spt PU ….sementara itu yg 
kedua (dvlpmnt) lbh menjadi konsumsi Bappenas, Depdagri, DepHub, DepHan, 
DepTan namun juga PU (agar PU tak berpikir fisik saja terus) dsb……. dan 
seharuslah akan ada peluang besar mrk dari jurusan ini menjadi ketua Bappenas/ 
Menteri PPN atau setidaknya Wkl Menteri PPN……….
Salam,

--- On Mon, 10/26/09, Risfan M <[email protected]> wrote:


From: Risfan M <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Tgp Re: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot
To: [email protected]
Date: Monday, October 26, 2009, 5:53 PM


  








Rekans ysh,

Kalau kita mikir ke depan saya melihat di lapangan ada tren dua jalur kiprah 
planner, yaitu: "spatial plan" dan "development plan". 
Saya tidak tahu bagaimana sekolah mengantisipasi. Tapi sebaran alumni nampaknya 
ada yang ber-spatial- ria (DJPR, LH, dan jamaahnya), dan yg ber-development- 
ria (Bappenas, DDN, Bappeda, PDT, Kesra/PNPM, dan ummatnya). Keduanya bermain 
di area Kota/Daerah. Dan ini bukan dikotomi, hanya fokusnya saja, walaupun 
dalam praktek seperti paradigma yang berbeda. Yang spatial cenderung menerapkan 
konservasi (pembatasan, penertiban), sedang yang development lebih mengarah 
kepada pembangunan dalam konteks kota/daerah termasuk capaian MDG dst.
 
Mungkin trend ini perlu diresponse dengan penguatan knowledge management nya, 
terutama yang "development" , nampaknya masih dianggap anak pungut. Padahal 
kontribusi dan populasi planner dalam bidang "development" besar. Apalagi dr 
sejarahnya mulai dgn UNDP yang tentu bias ke "development" nya lebih besar. 
Wajarlah kalau kita lebih terpanggil untuk menyukseskan capaian MDG.

Mari kita songsong Plano-50 dengan memperluas ruang gerak.

Salam,
Risfan Munir
www.samuraisejati. blogspot. com

 
 


 















__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke