Pak Iman, Pak Aby, Pak Djarot dan temans ysh, Sebetulnya saya hanya ingin mengangkat apa yang terjadi di lapangan secara eksplisit. Karena saya amati memang ada kecenderungan kepada dua "area" itu. 1. Gampangnya sekarang ada dua produk rencana yang sedang populer: RTRW dan RPJP/MD. Sampai saat ini kalau saya ketemu senior juga suka ditanya bagaimana mengaitkannya? Pertanyaan yang sama tentu juga pada Pemda.Kalau mau lebih sedikit "mendalam" seperti kata Pak Djarot - ada persamaan, ada perbedaan. Sekali lagi bagaimana mengaitkannya dalam planning process dan penerapannya, siapa mengacu ke siapa? 2. Kalau melihat di tingkat nasional yang akan diacu oleh daerah. Kan di tingkat nasional Bappenas, DDN, dan departemen teknis banyak melakukan kajian rencana yang sifatnya development model "RPJP/M Nas dan Renstra L/K". Sehingga di daerah juga menyusun RPJP/MD dan Renstra SKPD. Dari segi keilmuan basisnya lebih banyak mengacu ke Strategic Planning dengan cakupan area, terutama output yang sos-ek-bud-link dalam rekomendasi program/kegiatannya, termasuk di dalamnya urusan tata ruang tentu. Sementara RTRW kan lebih fokus ke aspek fisik, ruang, lingkungan, walau tentu pertimbangannya sos-ek-link juga; tapi outputnya sudah baku kepada land-use, jaringan prasarana, norma standar ruang, building code dan pemrograman pembangunan fisik/ruang/lingkungan. 3. Kalau datang ke satu daerah, tentu kedua orang dengan orientasi itu segera beda. Yang bias ke "spasial" - melihat struktur ruang daerah tersebut, sebaran spasial kegiatan, kaidah teknis ruangnya, masalah lingkungan yang ada terkait pembangunan fisik, prasarana. Yang bias ke "development" - bisa saja melihat dari sisi tingkat kehidupan masyarakatnya, potensi utama apa yang jadi sumber kehidupan kota/daerah itu? masalah fisik/ruangnya, masalah ekonomi utama, sektor kegiatan utama, potensi utama apa yang perlu diprioritaskan, urusan/sektor apa saja yang perlu diprioritaskan. Seperti misalnya Bu Armida bilang: RPJM Nas akan banyak memprioritaskan Pengembangan SDM. pernyataan seperti ini tentu bukan kesimpulan dari RTRW kan. Juga di RPJMD visinya bisa "pendidikan, kesehatan", ini kan tidak keluar dari proses RTRW tentunya. Sekali lagi pengalaman ketemu alumni di sana sini yang memberi kesan kepada saya ada teman-teman yang fakus di "spatial", ada yang fokus di "development". Masing-masing populasinya besar, jadi exist memang keduanya. Bagaimana sekolah menganatisipasinya, bagaimana asosiasi profesi mengakomodirnya. Ini yang perlu jadi bahan diskusi barangkali. Untuk sekolah - sekarang ini misalnya kalau ada demand "urban/regional" planner, tidak selalu kebutuhan daerah atau lembaga itu untuk urusan "tata-ruang kota/daerah", tapi banyak juga untuk menyusun RPJP/MD, Renstra. Apa tidak sebaiknya sekolah juga membekali mahasiswa sekarang dengan ilmu "development studies" dan teknik menyusun Renstra dan komponen-komponennya. Salam, Risfan Munir
--- On Mon, 10/26/09, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: Tgp Re: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot To: [email protected] Date: Monday, October 26, 2009, 10:37 PM Pak Risfan. Saya ngga mengeri kenapa kho ada opini adanya dua kiprah tsb. Bisa ngga kita melepas dulu pemahaman mengenai kiprah spatial plan dan development plan, maksudnya saya mau mengajak apabila kita membangun suatu wilayah Prov/Kab/Kota apakah berpikir atas dua kiprah tsb? Powered by Telkomsel BlackBerry® From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Date: Mon, 26 Oct 2009 18:47:08 -0700 (PDT) To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: Re: [referensi] Re: Tgp Re: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot Pak Risfan, sangat menarik pandangan panjenengan. Saya terkesima. Tetapi (maaf ada tetapinya), bukankah persoalan kedalaman atau pendalaman substansial juga menarik untuk diintensifkan ? Dalam menggarap kedalaman tematik, substansialnya dapat lebih disentuh (secara abstrak/teoritik dan konkrit), disamping dan melengkapi upaya "memperluas ruang gerak". Mohon maaf Pak, saya kok masih ada di pinggiran kalangan planning dan terus rindu menimba ilmu dari para guru planner saya di milis ini, yang kadang wacananya sulit saya mengerti karena berbagai tokohnya sangat banyak dan istilah yang rumit-rumit. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Tue, 10/27/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Re: Tgp Re: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, October 27, 2009, 7:53 AM Rekans ysh, Kalau kita mikir ke depan saya melihat di lapangan ada tren dua jalur kiprah planner, yaitu: "spatial plan" dan "development plan". Saya tidak tahu bagaimana sekolah mengantisipasi. Tapi sebaran alumni nampaknya ada yang ber-spatial- ria (DJPR, LH, dan jamaahnya), dan yg ber-development- ria (Bappenas, DDN, Bappeda, PDT, Kesra/PNPM, dan ummatnya). Keduanya bermain di area Kota/Daerah. Dan ini bukan dikotomi, hanya fokusnya saja, walaupun dalam praktek seperti paradigma yang berbeda. Yang spatial cenderung menerapkan konservasi (pembatasan, penertiban), sedang yang development lebih mengarah kepada pembangunan dalam konteks kota/daerah termasuk capaian MDG dst. Mungkin trend ini perlu diresponse dengan penguatan knowledge management nya, terutama yang "development" , nampaknya masih dianggap anak pungut. Padahal kontribusi dan populasi planner dalam bidang "development" besar. Apalagi dr sejarahnya mulai dgn UNDP yang tentu bias ke "development" nya lebih besar. Wajarlah kalau kita lebih terpanggil untuk menyukseskan capaian MDG. Mari kita songsong Plano-50 dengan memperluas ruang gerak. Salam, Risfan Munir www.samuraisejati. blogspot. com

