Para Milister Ysh,
Ijinkan saya untuk ikut rembug, ttp mohon dicatat saya bukan planner, shg kalau 
salah-salah mohon dpt dimaafkan, maklum sdg belajar.
Saya melihat 'spatial development' (jika planning tentu utk future/kedepan = 
pengembangan) dan 'development plan' seperti 1 mata uang coin dengan 2 
permukaan yg berbeda, namun tujuannya sama utk suatu skala wilayah tertentu. 
Sehingga keduanya harus sinkron, utk mendptkan sinergitas yang efisien dan 
efektif, dari sisi waktu penyelesaian (sesuai skala prioritas) dan dana; sangat 
mudah diucapkan, namun sulit utk diterapkan. Memang 'pengembangan SDM' dan 
'pelayanan kesehatan' tidak dpt 100 % dispatialkan, ttp untuk penyediaan 
prasarana 'komplek lengkap gedung sekolah', 'komplek lengkap prasarana rumah 
sakit' ?, ini tentu lingkup perencanaan/pengembangan keruangan. Shg ada yg 
jalur dispatial dev.kan dan ada yg jalur didevelopment plan-kan (a.l 
:pendidikan/pelatihan SDMnya). Dengan demikian RTRW/Indikasi Program Utama 5 
tahunan dan RPJPD/RPJMD mutlak perlu  disingkronkan, diikat ? sesuai kemampuan 
daerah. Mohon koreksi Bapak?ibu milisters....
Salam.............

--- On Tue, 10/27/09, Risfan M <[email protected]> wrote:


From: Risfan M <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Tgp Re: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot
To: [email protected]
Date: Tuesday, October 27, 2009, 11:46 AM


  








Pak Iman, Pak Aby, Pak Djarot dan temans ysh,
 
Sebetulnya saya hanya ingin mengangkat apa yang terjadi di lapangan secara 
eksplisit. Karena saya amati memang ada kecenderungan kepada dua "area" itu..
 
1. Gampangnya sekarang ada dua produk rencana yang sedang populer: RTRW dan 
RPJP/MD. Sampai saat ini kalau saya ketemu senior juga suka ditanya bagaimana 
mengaitkannya? Pertanyaan yang sama tentu juga pada Pemda.Kalau mau lebih 
sedikit "mendalam" seperti kata Pak Djarot - ada persamaan, ada perbedaan. 
Sekali lagi bagaimana mengaitkannya dalam planning process dan penerapannya, 
siapa mengacu ke siapa?
 
2. Kalau melihat di tingkat nasional yang akan diacu oleh daerah. Kan di 
tingkat nasional Bappenas, DDN, dan departemen teknis banyak melakukan kajian 
rencana yang sifatnya development model "RPJP/M Nas dan Renstra L/K". Sehingga 
di daerah juga menyusun RPJP/MD dan Renstra SKPD. Dari segi keilmuan basisnya 
lebih banyak mengacu ke Strategic Planning dengan cakupan area, terutama output 
yang sos-ek-bud-link dalam rekomendasi program/kegiatannya , termasuk di 
dalamnya urusan tata ruang tentu.
 
Sementara RTRW kan lebih fokus ke aspek fisik, ruang, lingkungan, walau tentu 
pertimbangannya sos-ek-link juga; tapi outputnya sudah baku kepada land-use, 
jaringan prasarana, norma standar ruang, building code dan pemrograman 
pembangunan fisik/ruang/ lingkungan.
 
3. Kalau datang ke satu daerah, tentu kedua orang dengan orientasi itu segera 
beda. 
Yang bias ke "spasial" - melihat struktur ruang daerah tersebut, sebaran 
spasial kegiatan, kaidah teknis ruangnya, masalah lingkungan yang ada terkait 
pembangunan fisik, prasarana. 
Yang bias ke "development" - bisa saja melihat dari sisi tingkat kehidupan 
masyarakatnya, potensi utama apa yang jadi sumber kehidupan kota/daerah itu? 
masalah fisik/ruangnya, masalah ekonomi utama, sektor kegiatan utama, potensi 
utama apa yang perlu diprioritaskan, urusan/sektor apa saja yang perlu 
diprioritaskan. 
 
Seperti misalnya Bu Armida bilang: RPJM Nas akan banyak memprioritaskan 
Pengembangan SDM. pernyataan seperti ini tentu bukan kesimpulan dari RTRW kan. 
Juga di RPJMD visinya bisa "pendidikan, kesehatan", ini kan tidak keluar dari 
proses RTRW tentunya.
 
Sekali lagi pengalaman ketemu alumni di sana sini yang memberi kesan kepada 
saya ada teman-teman yang fakus di "spatial", ada yang fokus di "development" . 
Masing-masing populasinya besar, jadi exist memang keduanya. Bagaimana sekolah 
menganatisipasinya, bagaimana asosiasi profesi mengakomodirnya. Ini yang perlu 
jadi bahan diskusi barangkali.
 
Untuk sekolah - sekarang ini misalnya kalau ada demand "urban/regional" 
planner, tidak selalu kebutuhan daerah atau lembaga itu untuk urusan 
"tata-ruang kota/daerah" , tapi banyak juga untuk menyusun RPJP/MD, Renstra. 
Apa tidak sebaiknya sekolah juga membekali mahasiswa sekarang dengan ilmu 
"development studies" dan teknik menyusun Renstra dan komponen-komponenny a.
 
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 
 
 
 


--- On Mon, 10/26/09, isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com> wrote:


From: isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com>
Subject: Re: [referensi] Re: Tgp Re: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, October 26, 2009, 10:37 PM


  

Pak Risfan.
Saya ngga mengeri kenapa kho ada opini adanya dua kiprah tsb. Bisa ngga kita 
melepas dulu pemahaman mengenai kiprah spatial plan dan development plan, 
maksudnya saya mau mengajak apabila kita membangun suatu wilayah Prov/Kab/Kota 
apakah berpikir atas dua kiprah tsb? 
Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> 
Date: Mon, 26 Oct 2009 18:47:08 -0700 (PDT)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: [referensi] Re: Tgp Re: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot

  





Pak Risfan, sangat menarik pandangan panjenengan. Saya terkesima. Tetapi (maaf 
ada tetapinya), bukankah persoalan kedalaman atau pendalaman substansial juga 
menarik untuk diintensifkan ? Dalam menggarap kedalaman tematik, substansialnya 
dapat lebih disentuh (secara abstrak/teoritik dan konkrit), disamping dan 
melengkapi upaya "memperluas ruang gerak". 

Mohon maaf Pak, saya kok masih ada di pinggiran kalangan planning dan terus 
rindu menimba ilmu dari para guru planner saya di milis ini, yang kadang 
wacananya sulit saya mengerti karena berbagai tokohnya sangat banyak dan 
istilah yang rumit-rumit.

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Tue, 10/27/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:


From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Re: Tgp Re: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, October 27, 2009, 7:53 AM


  






Rekans ysh,

Kalau kita mikir ke depan saya melihat di lapangan ada tren dua jalur kiprah 
planner, yaitu: "spatial plan" dan "development plan". 
Saya tidak tahu bagaimana sekolah mengantisipasi. Tapi sebaran alumni nampaknya 
ada yang ber-spatial- ria (DJPR, LH, dan jamaahnya), dan yg ber-development- 
ria (Bappenas, DDN, Bappeda, PDT, Kesra/PNPM, dan ummatnya). Keduanya bermain 
di area Kota/Daerah. Dan ini bukan dikotomi, hanya fokusnya saja, walaupun 
dalam praktek seperti paradigma yang berbeda. Yang spatial cenderung menerapkan 
konservasi (pembatasan, penertiban), sedang yang development lebih mengarah 
kepada pembangunan dalam konteks kota/daerah termasuk capaian MDG dst.
 
Mungkin trend ini perlu diresponse dengan penguatan knowledge management nya, 
terutama yang "development" , nampaknya masih dianggap anak pungut. Padahal 
kontribusi dan populasi planner dalam bidang "development" besar. Apalagi dr 
sejarahnya mulai dgn UNDP yang tentu bias ke "development" nya lebih besar. 
Wajarlah kalau kita lebih terpanggil untuk menyukseskan capaian MDG.

Mari kita songsong Plano-50 dengan memperluas ruang gerak.

Salam,
Risfan Munir
www.samuraisejati. blogspot. com

 
 


 


















      

Kirim email ke