Pak Abi Ysh, Dari penjelasan Pak Risfan, saya baru tahu kalau diskusi case PL/Perenc Wil-Kot dlm rangka Plano-50 (saya tdk secara continous mengikutinya). Namun dengan uraian Pak Abi, yang sdh mendetail, sdh ke 'syllabus'nya, walau belum menyeluruh, berarti dipikiran Bapak sudah ada Fam-Tree-nya tuh.... Salam --- On Tue, 10/27/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:
From: hengky abiyoso <[email protected]> Subject: [referensi] Re: Tgp (2) Re: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot To: [email protected] Date: Tuesday, October 27, 2009, 5:16 PM Ibu Cut Safana dan milisters ysh, Mohon ijinkan utk saya (walau blm tentu benar) ingin kemukakan lagi khayalan pandangan saya ttg perbedaan tekanan sekaligus integrasi dn sinergi dari ‘spatial development’ dan ‘development plan’ (merujuk pembagian oleh pak Risfan)….. pada konteks ‘skala wilayah tertentu’ yg sama spt yg Ibu perumpamakan……sekaligus mengambil contoh umpama obyek perencanaan ‘kompleks sekolah’ dan ‘kompleks rumah sakit’ dari Ibu pula……. Menurut hemat saya…..ketika telah ditentukan bhw pd suatu ruang pd suatu waktu tertentu akan dikembangkan fasilitas kesehatan dan pendidikan itu……disitulah ‘site plan’ dibuat oleh tim kerja ‘spatial plan’ (bersama dgn tim arsitektur, sipil dkk) dgn hasil kerja berupa gambar kerja ‘site plan’…… Sementara itu dlm pemikiran saya…..pd ruang yg sama pd waktu yg berbeda (mungkin pd waktu yg jauh lbh awal)….development plan bekerja bukan dgn output utama berupa gambar ‘site plan’ namun lbh berupa ‘tulisan’ (dpt disertai denah2 sederhana) berupa rekomendasi ttg ‘apa’ (yg semula blm ada dikawasan tsb)….agar sebaiknya dibuat diwilayah tersebut…..dan ‘dimana’ ia perlu diletakkan…..disertai dgn alasan2 ttg mengapa sebuah ‘apa’ itu perlu dibuat dikawasan tsb……serta apa manfaatnya.. ...... Dgn kata lain ‘spatial plan’ bekerja (menggambar) atas dasar ‘permintaan’ yg jelas ttg pola/ desain penataan ruang disuatu kawasn tertentu…..sementara itu ‘development plan’ bekerja ‘menjual ide’ (mengusulkan) ttg ‘apa’ dan ’dimana’ yg semula blm ada….lalu sebaiknya ia perlu dibuat disuatu kawasan tertentu……….. Spt ttg fasilitas pendidikan dan kesehatan yg diambil contoh oleh ibu Cut….saya kira tanpa perlu diusul2kan oleh plannerpun pd umumnya saat ini berbagai pihak (khususnya dept terkait) telah sangat paham ttg perlunya dibuat fasilitas2 kes dan dik dimana2 (krn itu sdh tak lagi istimewa) spt bhw kalau didesa ya setidaknya perlu dibuat sekolah SD dan puskesmas….atau kalau dikota kecamatan perlu dibuat SMP bahkan SLA dan poliklinik…. Lalu kalau dikota kabupaten perlu dibuat selain SLA setidaknya ada program D3 dan rumah sakit umum…dst……. Saya kira pada ‘development plan’ planner perlu berpikir lbh utk masalah2 yg jauh lbh strategis lagi namun yg ‘terlewat / belum terpikirkan utk dibuat disuatu kawasan’…… Pada level desa (tertinggal) misalnya…..suatu desa brkali sudah memiliki puskesmas dan sekolah SD….namun selain hampir pasti desa itu blm memiliki fasilitas rekreasi…. belum tentu jg desa itu tlh memiliki fasilitas ‘balai latihan kerja desa’….atau jg ‘pompa bensin’ atau ‘tukang tambal ban’ apalagi yg buka sampai malam hari ..…..yg kalau diusut2 kenapa….kadang jawabnya krn pengusaha bensin eceran dan tk tambal ban tinggal dipinggir desa….dan utk ia dpt memiliki ‘pangkalan’ dilokasi strategis pusat desa ia tak mampu membeli atau menyewa ruang…dan sementara itu yg tinggal dipusat desa bisa jadi malah bukan wiraswastawan desa namun pensiunan pegawai misalnya yg membiarkan halamannya sekedar ditanami bunga2 dan sayur2an……. Disitulah kiranya diperlukan kiprah pemikiran ‘development plan’……spt perlunya diupayakan sebuah fasilitas dari pmrth utk pengembangan kewiraswastaan sekaligus fasilitas jasa2 desa yg strategis melalui ‘teknologi keruangan’ berupa pengembangan ruko2 desa sederhana dipusat desa (bila perlu lantai tanah dan dinding bambu)…..dimana penduduk desa bisa menyediakan jasa ‘jual bensin’ dan ‘tambal ban’ dirumah sekaligus diruang usahanya dipusat desa……. secara sambil lalu (krn ruang usaha dan ruang tinggal yg menyatu)…... namun (manfaatnya) dpt beroperasi setiap hari dan buka sampai malam……dan orang2 dari kota atau desa lain yg lewat dimalam hari sekalipun dpt memanfaatkan jasa2 tsb.. sekaligus itu dpt menjadi mata pencaharian tambahan penduduk desa......... . Pada tingkat kota kecamatan… pada tingkat kota kabupaten atau kotamadya dan apalagi metropolitan dikawasan tertinggal spt Mks di KTI……tentu diperlukan pemikiran2 yg jauh lebih rumit dan lbh kompleks lagi dari ‘development plan’……spt utk rumah sakit dikota kecamatan misalnya.... pemikiran 'dvlpmnt plan' kiranya lbh berfokus pd mslh 'plus' spt apakah selain hanya dokter umum....dptkah dipastikan adanya praktek dokter spesialis kandungan dan kebidanan disitu atau tidak......atau brkali juga dokter gigi........ Hasil2 pemikiran itu bukan berupa gambar ‘site plan’.. namun berupa ‘dokumen tertulis’…..berisi rekomendasi ttg ‘apa2 saja’ yg amat sangat strategi dan perlu (dan dapat) dibuat disuatu kawasan (dari semula blm ada)…… dan ‘dimana’ ia perlu diletakkan (ini mencakup berbagai bidang yg strategis spt industri, pariwisata dsb)…..dilengkapi dgn alasan2nya serta hasil2 strategis yg kiranya dpt dicapai……. yg mana bila rekomendasi itu disetujui oleh dewan rakyat dan pmrth…. maka kembali pd contoh kota kecamatan tadi....pada gilirannyalah ‘spatial plan’ bekerja membuat gambar ‘siteplan’ (maka pd rumah sakit dikota kecamatan pd siteplannya brkali hrs tertera pula gbr rumah dinas dokter spesialis ObGyn dan Gigi dsb...) …..apakah begitu pak Risfan?..... .. Salam, --- On Mon, 10/26/09, cut safana <cutsaff...@yahoo. com> wrote: From: cut safana <cutsaff...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Re: Tgp Re: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, October 26, 2009, 10:31 PM Para Milister Ysh, Ijinkan saya untuk ikut rembug, ttp mohon dicatat saya bukan planner, shg kalau salah-salah mohon dpt dimaafkan, maklum sdg belajar. Saya melihat 'spatial development' (jika planning tentu utk future/kedepan = pengembangan) dan 'development plan' seperti 1 mata uang coin dengan 2 permukaan yg berbeda, namun tujuannya sama utk suatu skala wilayah tertentu. Sehingga keduanya harus sinkron, utk mendptkan sinergitas yang efisien dan efektif, dari sisi waktu penyelesaian (sesuai skala prioritas) dan dana; sangat mudah diucapkan, namun sulit utk diterapkan. Memang 'pengembangan SDM' dan 'pelayanan kesehatan' tidak dpt 100 % dispatialkan, ttp untuk penyediaan prasarana 'komplek lengkap gedung sekolah', 'komplek lengkap prasarana rumah sakit' ?, ini tentu lingkup perencanaan/ pengembangan keruangan. Shg ada yg jalur dispatial dev.kan dan ada yg jalur didevelopment plan-kan (a.l :pendidikan/ pelatihan SDMnya). Dengan demikian RTRW/Indikasi Program Utama 5 tahunan dan RPJPD/RPJMD mutlak perlu disingkronkan, diikat ? sesuai kemampuan daerah. Mohon koreksi Bapak?ibu milisters... . Salam....... ...... --- On Tue, 10/27/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Re: Tgp Re: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, October 27, 2009, 11:46 AM Pak Iman, Pak Aby, Pak Djarot dan temans ysh, Sebetulnya saya hanya ingin mengangkat apa yang terjadi di lapangan secara eksplisit. Karena saya amati memang ada kecenderungan kepada dua "area" itu.. 1. Gampangnya sekarang ada dua produk rencana yang sedang populer: RTRW dan RPJP/MD. Sampai saat ini kalau saya ketemu senior juga suka ditanya bagaimana mengaitkannya? Pertanyaan yang sama tentu juga pada Pemda.Kalau mau lebih sedikit "mendalam" seperti kata Pak Djarot - ada persamaan, ada perbedaan. Sekali lagi bagaimana mengaitkannya dalam planning process dan penerapannya, siapa mengacu ke siapa? 2. Kalau melihat di tingkat nasional yang akan diacu oleh daerah. Kan di tingkat nasional Bappenas, DDN, dan departemen teknis banyak melakukan kajian rencana yang sifatnya development model "RPJP/M Nas dan Renstra L/K". Sehingga di daerah juga menyusun RPJP/MD dan Renstra SKPD. Dari segi keilmuan basisnya lebih banyak mengacu ke Strategic Planning dengan cakupan area, terutama output yang sos-ek-bud-link dalam rekomendasi program/kegiatannya , termasuk di dalamnya urusan tata ruang tentu. Sementara RTRW kan lebih fokus ke aspek fisik, ruang, lingkungan, walau tentu pertimbangannya sos-ek-link juga; tapi outputnya sudah baku kepada land-use, jaringan prasarana, norma standar ruang, building code dan pemrograman pembangunan fisik/ruang/ lingkungan. 3. Kalau datang ke satu daerah, tentu kedua orang dengan orientasi itu segera beda. Yang bias ke "spasial" - melihat struktur ruang daerah tersebut, sebaran spasial kegiatan, kaidah teknis ruangnya, masalah lingkungan yang ada terkait pembangunan fisik, prasarana. Yang bias ke "development" - bisa saja melihat dari sisi tingkat kehidupan masyarakatnya, potensi utama apa yang jadi sumber kehidupan kota/daerah itu? masalah fisik/ruangnya, masalah ekonomi utama, sektor kegiatan utama, potensi utama apa yang perlu diprioritaskan, urusan/sektor apa saja yang perlu diprioritaskan. Seperti misalnya Bu Armida bilang: RPJM Nas akan banyak memprioritaskan Pengembangan SDM. pernyataan seperti ini tentu bukan kesimpulan dari RTRW kan. Juga di RPJMD visinya bisa "pendidikan, kesehatan", ini kan tidak keluar dari proses RTRW tentunya. Sekali lagi pengalaman ketemu alumni di sana sini yang memberi kesan kepada saya ada teman-teman yang fakus di "spatial", ada yang fokus di "development" . Masing-masing populasinya besar, jadi exist memang keduanya. Bagaimana sekolah menganatisipasinya, bagaimana asosiasi profesi mengakomodirnya. Ini yang perlu jadi bahan diskusi barangkali. Untuk sekolah - sekarang ini misalnya kalau ada demand "urban/regional" planner, tidak selalu kebutuhan daerah atau lembaga itu untuk urusan "tata-ruang kota/daerah" , tapi banyak juga untuk menyusun RPJP/MD, Renstra. Apa tidak sebaiknya sekolah juga membekali mahasiswa sekarang dengan ilmu "development studies" dan teknik menyusun Renstra dan komponen-komponenny a. Salam, Risfan Munir --- On Mon, 10/26/09, isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com> wrote: From: isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com> Subject: Re: [referensi] Re: Tgp Re: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, October 26, 2009, 10:37 PM Pak Risfan. Saya ngga mengeri kenapa kho ada opini adanya dua kiprah tsb. Bisa ngga kita melepas dulu pemahaman mengenai kiprah spatial plan dan development plan, maksudnya saya mau mengajak apabila kita membangun suatu wilayah Prov/Kab/Kota apakah berpikir atas dua kiprah tsb? Powered by Telkomsel BlackBerry® From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Date: Mon, 26 Oct 2009 18:47:08 -0700 (PDT) To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: Re: [referensi] Re: Tgp Re: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot Pak Risfan, sangat menarik pandangan panjenengan. Saya terkesima. Tetapi (maaf ada tetapinya), bukankah persoalan kedalaman atau pendalaman substansial juga menarik untuk diintensifkan ? Dalam menggarap kedalaman tematik, substansialnya dapat lebih disentuh (secara abstrak/teoritik dan konkrit), disamping dan melengkapi upaya "memperluas ruang gerak". Mohon maaf Pak, saya kok masih ada di pinggiran kalangan planning dan terus rindu menimba ilmu dari para guru planner saya di milis ini, yang kadang wacananya sulit saya mengerti karena berbagai tokohnya sangat banyak dan istilah yang rumit-rumit. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Tue, 10/27/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Re: Tgp Re: Planologi --> Perencanaan Wil-Kot To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, October 27, 2009, 7:53 AM Rekans ysh, Kalau kita mikir ke depan saya melihat di lapangan ada tren dua jalur kiprah planner, yaitu: "spatial plan" dan "development plan". Saya tidak tahu bagaimana sekolah mengantisipasi. Tapi sebaran alumni nampaknya ada yang ber-spatial- ria (DJPR, LH, dan jamaahnya), dan yg ber-development- ria (Bappenas, DDN, Bappeda, PDT, Kesra/PNPM, dan ummatnya). Keduanya bermain di area Kota/Daerah. Dan ini bukan dikotomi, hanya fokusnya saja, walaupun dalam praktek seperti paradigma yang berbeda. Yang spatial cenderung menerapkan konservasi (pembatasan, penertiban), sedang yang development lebih mengarah kepada pembangunan dalam konteks kota/daerah termasuk capaian MDG dst. Mungkin trend ini perlu diresponse dengan penguatan knowledge management nya, terutama yang "development" , nampaknya masih dianggap anak pungut. Padahal kontribusi dan populasi planner dalam bidang "development" besar. Apalagi dr sejarahnya mulai dgn UNDP yang tentu bias ke "development" nya lebih besar. Wajarlah kalau kita lebih terpanggil untuk menyukseskan capaian MDG. Mari kita songsong Plano-50 dengan memperluas ruang gerak. Salam, Risfan Munir www.samuraisejati. blogspot. com

