Dear Pak Andi,
Terima kasih atas apresiasinya semoga saja setiap akhir pekan bisa ikut 
memperkaya wawasan dan menumbuhkan semangat untuk terus belajar dengan join 
pada group ini. Saya tidak bisa menuliskan dengan data lengkap tetapi semoga 
saja ini lebih mengena dalam diskusinya. 
Sepengetahuan saya, soal peran swasta disini sangat besar. Karenanya termasuk 
profesi yang bergaji tinggi selain dokter dan pengacara adalah planner. Jadi 
consultan firm bertebaran dimana2 yang tujuannya adalah pengembangan kota. 
Peran negara hanya regulator, dan pelaksana pembangunan di serahkan kepada 
swasta. Contoh negara menentukan comprehensive planningnya untuk satu kota ato 
RTRW, kemudian spatial planningnya/ tata wilayah mereka menentukan akan 
membangun kawasan residensial area. Nah di situlah swasta melalui consultan 
firm mengajukan design terbaik untuk kemudian di syahkan oleh city council 
setelah melewati beberapa mekanisme seperti melaui planning commission, public 
hearing, dll. Konsep BSD, dll itu semodel dengan konsepsi planning disini. Tapi 
kita tidak mengatakan demokrasi adalah memberi peran swasta besar. Beda makna 
demokrasi disini dengan dikotomi liberalisme dan sosialisme seperti selalu di 
perdebatkan setiap kampanye di indo. Demokrasi
 disini maksudnya melibatkan community dalam seluruh proses perencanaan. Tapi 
itu tidak penting seperti apa perencanaan di amerika karena kita punya karakter 
budaya sendiri dan tidak perlu menjiplak mereka. Cuma ada 2 hal yang perlu kita 
pake napas mereka yaitu:
1. Semua perencanaan berbasis research, even keputusan politik tetap sebgai 
keputusan      final. 2. fairness dan discipline 
Ni kadang2 saya boleh dong minta data pada temen2 tentang contoh2 Perda RTRW 
karena saya bingung ngapain belajar perencanaan mereka sedangkan perencanaan di 
negara sendiri malah buta. Semoga silaturhami ini tetap terjaga.
Best,KUSWANTO



--- On Sat, 1/23/10, Andi Plano <[email protected]> wrote:

From: Andi Plano <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Jangan Ada Referendum Keistimewaan Yogyakarta
To: [email protected]
Date: Saturday, January 23, 2010, 2:10 AM















 
 



  


    
      
      
      Salam untuk pak Wanto.
 
Terima kasih untuk cerita Amerikanya mohon bapak sering2 membagi informasi 
dimilis ini. Mau nanya pak. Apakah partisipasi swasta juga bisa dimasukkan 
dalam demokrasi untuk perencanan ?
Seperti dulu ada inisiatif dari pengembang BSD, Bintaro, Agung Podomoro, 
Sinarmas dan lain-lain ?
Jadi maksudnya kan produk mereka tidak masuk dalam RUTR dan RDTR ?
Sebelumnya saya ucapkan terimakasih.
 
Wassalam
 
 
 
@ndi

--- On Fri, 1/22/10, Wanto None <kus_...@yahoo. com> wrote:


From: Wanto None <kus_...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] Jangan Ada Referendum Keistimewaan Yogyakarta
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Friday, January 22, 2010, 10:06 AM


  





Pak Bambang, Pak Onos, Pak Risfan ysh,


Lama tidak urun rembug. Maklum mahasiswa tugsnya ya melototi buku2 dan 
mendengarkan dosen. Selama 5 bulan di US ada banyak yang ak tangkap soal 
demokrasi dalam perencanaan. Ini hanya pendapat ya mohon penyempurnaan.




Kesimpulan dari pengamatan saya selama ini adalah Amerika sendiri tidak 
demokratis dalam perencanaan wilayahnya. Proses demokrasi sendiri dalam 
perencanaan tidak seperti yang kita bayangkan, bahkan para penganut Post 
Modernist di US mengkategorikan urban planning disini belum demokratis. Para 
planner seperti Hoch, Hokins, jacob mengkritisi sistem perencanaan di sini. 
Bahkan sebuah survey menyebutkan bahwa fungsi zoning dan regulating mencapai 
44% dan 40% sedangkan fungsi advokasi dan kolaborasi hanya 5% terbalik dengan 
standard demokrasi dalam perencanaan yang regulating dan zoning seharusnya cuma 
5%. Proses perencanaan  saat ini hanya berada pada level consultasi dengan 
masyarakat bukan tahap partisipasi sebenarnya. Fakta lain bahwa demokrasi 
perencanaan tidak absolut di US adalah bahwa tahun 1930 negara punya power 
besar dalam perencanaan wilayah termasuk tata ruang dengan adanya Urban
 Renewal Program. Dengan alasan menghapus slum area, negara memisahkan keluarga 
para kaum kulit hitam dari kota2 dan terjadi diskriminasi luar biasa yang 
mendorong  Marthin Luther King Jr. menyerukan perjuangan hak kaum kulit hitam 
pada tahun 1960-an. Sampe saat ini zoning yang di gunakan serta prosedur2 
kebijakannya masih jauh dari demokratis. Masalah lain yang mungkin perlu di 
perhatikan bahwa di sini juga terjadi fragmentasi politik yang menghambat 
koordinasi antar city, state, and federal government.


Belajar dari situ naif apabila kita mengagungkan demokrasi dalam segala hal. 
Untuk menuju kepada negara yang maju dengan masyarakat makmur, fokus sekarang 
adalah revolusi birokrasi secara besar2an. Urban Planning itu adalah mata 
politik, dan politik adalah badannya sedang birokrasi adalah kakinya. Kondisi 
masyarakat yang sdah jenuh dengan kondisi yang ada, frustasi, misguide, loss 
character adalah di sebabkan oleh kegagalan reformasi dan desentralisasi/ 
democratisasi untuk memenuhi harapan tinggi masyarakat waktu itu. (maaf ini 
hipotesis tanpa data, bagi para sosiolog boleh mengomentari dan meluruskan yang 
ini). Politik boleh sudah berganti rezim tapi ternyata birokrasi masih sama. 
kaki2 itu berat melangkah kepada apa yang di perintahkan oleh mata. Politik 
malah terkontaminasi dengn birokrasi, dan kita akhirnya begini2 saja. China 
tahun 1960an
 membangun  ekonomi dengan merevolusi birokrasinya. Insya Allah kita bisa dalam 
10 tahun menikmati keberhasilan pembangunan dengan konsisten pada revolusi 
birokrasi. Ide yang sulit di laksanakan tanpa kepemimpinan yang tegas dan 
berani serta jujur.


Terima Kasih.


 


--- On Thu, 1/21/10, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> wrote:


From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com>
Subject: RE: [referensi] Jangan Ada Referendum Keistimewaan Yogyakarta
To: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com>
Date: Thursday, January 21, 2010, 1:40 PM


  

Pak Bambang SP, Mas Risfan M. ysh.
Nuwunsewu, wah senang juga dapat ikutan urun rembuk tentang fenomena demokrasi 
dalam proses penataan ruang. Maksudnya mungkin buat konsep (makro s/d mikro) 
untuk menghadapi perkembangan demokrasi (atau 'demo-crazy' ) yang semakin marak 
di negeri seribu pulau ini. Sebetulnya sudah pernah dibuat PP (th ?) tentang 
'Partisipasi Masyarakat dalam Proses Penataan Ruang', tetapi kok sepertinya 
tidak jalan. Apa mungkin PP tsb. tidak cocok dengan 'sikon' masyarakat 
kita atau belum mengantisipasi perkembangan era-reformasi dan otonomi daerah ? 
Ada anggapan bahwa masyarakat kita memang gampang marah (dalam kamus disebut 
'amok'), apa mungkin karena kita hidup didaerah yang beriklim tropis yang 
berhawa panas, tetapi sepertinya lebih panas di Mekah yang banyak bebatuan dan 
gurun pasirnya lho.. Kita seharusnya mensyukuri dapat hidup diwilayah Nusantara 
yang alamnya
 indah permai & subur. Apalagi kalau ruang kita hidup ini dapat di tata dengan 
baik, sehingga tidak 'amburadul' dan masyarakatnya masih 
lebih suka ber'demo-crazy' ? 
Saya sepakat dengan pendapat Pak BSP, bahwa dibutuhkan beberapa dekade lagi 
untuk bisa mengikuti 'suasana demokrasi yang baik', namun alangkah baiknya 
kalau mulai dari sekarang dicari konsep 'budaya demokrasi' model Indonesia ?
Wassalam,
Onnos
 


To: refere...@yahoogrou ps.com
From: bspr...@indosat. net.id
Date: Thu, 21 Jan 2010 16:35:00 +0700
Subject: Re: [referensi] Jangan Ada Referendum Keistimewaan Yogyakarta

  



Mas Risfan ysh,
Waduh saya kira apa yang diharapkan mas Onnos itu memang bagus untuk dibahas. 
Yang mau kita bahas ini adalah konsep ataukah mencari cara menghadapi apa yang 
terjadi saat ini.
Bila demokrasi yang hendak didorong dalam sistem perencanaan. Wuaduh, bukannya 
saya pesimis,  kayaknya masih butuh beberapa dekade lagi. Hal ini karena 
struktur politik kita yang belum favourabel untuk terciptanya demokrasi 
tersebut. Bahkan kata demokrasi itu sendiri sekarang saya harus sepakat dengan 
penganut leftist kelas dunia bahwa yang terjadi adalah demokrasi dengan value 
milik pemilik kapital. Artinya tidak ada sebenarnya kata vox populi vox dei 
.... mungkin yang ada vox populi vox dui...t. Sangat satiris dan sangat ironis. 
Namun dampaknya adalah masyarakat saat ini yang terkena akibat dari kata 
demokrasi ini adalah
 menggunakan pendekatan pembangkangan. Ini dilakukan disemua level. Saya jadi 
teringat pendapat Prof Tibout tentang ciri-ciri masyarakat tropis ... dulu 
sempat marah saya dengan pendapat itu. Dia mengatakan bahwa masyarakat pada 
wilayah tropis mempunyai kecenderungan untuk bersifat menyerahkan semuanya pada 
kekuatan luar .... namun pada saat dia mengalami tekanan maka akan melakukan 
sikap yang frontal dan destruktif. Ini persis juga dengan idiom ngalah-ngalih- 
ngamuk. Saat ini masyarakat pada level ngamuk.
Ini berbeda dengan masyarakat subtropis .... mereka cenderung melakukan 
perencanaan dengan baik juga berusaha untuk kontroling terhadap lingkungan 
dlsb. 
Ini yang mengakibatkan warna demokrasi kita menjadi sangat aneh ... Ada sebuah 
"keluwehan" namun pada saatnya akan dengan cepat dia ngamuk. Apakah ini bisa 
kita tangkap dengan mode demokrasi versi subtropikal
 tersebut.
Salam
bambang sp. 





Windows Live Hotmail: Your friends can get your Facebook updates, right from 
Hotmail®. 



      

    
     

    
    


 



  











      

Kirim email ke