Mangstaff bro.... salam, green
2010/11/17 positif01 <[email protected]> > > > Saya pribadi sedari awal sudah memberikan 'compliment' kepada para pihak > yang terkait dengan pelaksanaan IPO KRAS. Alih-alih mereka > direndahkan/dicurigai, justru semua yang terlibat langsung patut diberi > 'award of recognition'. Perhitungan valuasi saya menunjukkan dengan level > harga Rp850 pun sudah 'overvalued'. Patokan awal di Rp600 lebih > 'justifiable' meskipun untuk pendekatan investasi yang mensyaratkan perlunya > 'margin of safety' bisa menuntut harga di kisaran Rp450. Toh tidak terlalu > keliru, animo asing secara riil di lapangan sebagaimana hasil 'book > building' pun tidak antusias di Rp850. Jadi, jika ada yang mampu menjual > jauh di atas 'fair value', itu sungguh suatu pencapaian. > > Namun demikian, pantas untuk dicatat pula untuk ke depannya perlunya rilis > informasi yang lebih berhati-hati. Tidak bisa dipungkiri kecurigaan yang > timbul bukan hanya karena "tidak atau kurang jatah" tetapi juga karena > ketidakmengertian. Keributan tentang "terlalu murah"-nya harga perdana KRAS > jika ditelusuri secara kronologis semuanya berujung kepada deduksi > psikologis sekelompok warga yang melihat dan menganggap ada kontradiksi > antara rilis 'oversubscribed' dan penentuan harga perdana di 'range' bawah > dari estimasi harga. Jika membaca 'counter' informasi dari pihak-pihak yang > berkompeten kemudian diketahui bahwa apa yang dipahami sebagai > 'oversubscribed' tidak seperti yang mungkin ada di benak para pihak yang > berkeberatan. Dan, bagi yang paham dengan valuasi, juga dengan mudah > memahami bahwa persoalannya bukan murah karena ada di 'range' bawah kisaran > estimasi harga perdana, tetapi justru 'range' estimasi harga itu sendiri > apakah sudah akurat? Kalau menilik valuasi saya sendiri, baik atas dasar > metode konvensional yang paling umum sampai dengan komparasi regional peer, > justru bukan "terlalu murah" tetapi "terlalu mahal". > > Adapun mengenai semangat "nasionalisme" yang sepertinya terkandung atau > coba dikandung oleh mereka yang berkeberatan, at first place, they are all > equally supposed to get some respect, namun demikian dalam konteks pasar > modal, tidak ada salahnya mengulang posisi yang saya selalu ambil viz-a-viz > pendekatan 'nasionalis' yang out-of-context sebagai berikut: > > Saham itu seperti air, tidak ada nasionalisme. Kalau air jatuh mencari > tempat yg rendah, terlepas air zamzam atau air sungai Bahorok, ya karakter > air seperti itu. Begitu juga dana ekuitas, yang dicari ya 'yield/return', > terlepas saham apa di mana dan dana dari mana. Apalagi konteksnya > perdagangan bursa. Tidak ada bursa di dunia ini yang membatasi asal > likuiditas. Bursa Indonesia bisa maju justru karena bersikap a-nasionalis. > Jika konsisten dengan paham dan semangat nasionalis justru tidak akan maju. > Why? Karena hingga detik ini yang menopang akselarasi bursa lokal justru > dana asing. Asing tercatat menguasai saham sebanyak 67%. Bayangkan kalau > pemilik-pemilik dana asing yang masuk ke Indonesia bersikap nasionalis > seperti beberapa tokoh terhormat, untuk apa mereka (asing) ke Indonesia, > 'ngendon' saja sebagai pahlawan nasionalis di negara-negara mereka yg > notabene sudah maju. > > Jangan hipokrisi, nasionalis untuk diri sendiri, tetapi berharap orang > lain, khususnya modal asing, bersikap a-nasionalis untuk 'inflow'/masuk baik > sebagai 'porfolio' atau 'foreign direct investment' ke negara kita sendiri. > Jika itu yang terjadi semua bangsa bisa kembali ke awal abad 18-an ketika > semua orang sibuk jadi 'chauvinistis'. Dalam konteks IPO KRAS akan lucu bagi > yg mengerti, kenapa? Karena asing pun dijatah hanya 35% dari 20% saham yg > dicatatkan. Artinya asing hanya dapat akses pasar perdana pada saat 'book > building' dan 'pooling' sebanyak 7%. Lebih lucu lagi setelah tahu bahwa > selesai listing hari pertama, asing justru ramai-ramai menjual lebih kurang > 2-3% porto sehingga tersisa hanya 3-5% saja. Di mana letak penguasaan asing? > Anehnya, yang tunjuk hidung asing malah mengatakan, "tuh asing dapat untung > gede...mereka jual sekarang sahamnya". Ini jawaban datang dari paradigma > aneh dan logika berpikir yang simpang siur ('contradictio in terminis'), > tetapi lebih tepatnya tidak mengerti. > > Kalau konsisten dengan semangat nasionalisme, justru ketika asing jual, > disambut gegap gempita dong sembari meneriakkan yel-yel, "lihatlah, kita > telah rebut kembali!", sembari membayangkan pidato Soekarno ketika merebut > Irian Barat. Yang absurd dari pandangan itu adalah, asing jual, siapa yg > beli? ...Neneknya asing? Tentu bukan. Yang beli ya investor lokal juga. Jadi > siapa yang rugi? Apa iya ada orang mau beli rugi, terlepas nantinya mungkin > keputusan investasinya tidak tepat? .... > > Pada akhirnya, semuanya hanya persoalan sederhana, 'supply and demand' dan > ekspektasi. TIDAK ADA nasionalisme di situ. (titik) > > '+' > > 2010/11/16 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> > > >> >> Bu Anita, terima kasih telah bersedia mengkoreksinya. Bayangkan Bu, dampak >> dari kesalahan Bu Anita menulis bagi mereka yg membaca dan tidak memahami. >> Bisa2 nanti tersebar rumors/klaim bahwa asing mendapatkan 73%, padahal >> tulisan itu karena Bu Anita salah menulis. Padahal seringnya orang memegang >> informasi yg pertama. >> >> Mengenai 73% dipegang oleh investor institusional itu perlu Bu Anita dan >> rekan2 lainnya juga ketahui, bahwa dibalik investor insitusional seperti >> institusi dana pensiun maupun reksadana, adalah investor peritel juga. >> Begitu banyak investor ritel yang menanamkan investasinya di reksadana >> ekuiti maupun campuran. Juga institusi dana pensiun. >> >> Pada hari Senin pagi kemarin, 15 Nov 2010 , dari jam 10-12, saya sebagai >> salah satu pengurus AAEI bersama kawan2 AAEI yg dipimpin oleh Pak Haryajid >> (ketua AAEI), Pak Budi Ruseno (Penasehat AAEI), dan 3 kawan AAEI lainnya, >> mendatangi kantor Bapepam dan diterima oleh Ketua Bapepam Bpk. Fuad beserta >> jajaran pimpinan Bapepam lainnya. Di pertemuan tersebut saya berkesempatan >> menyampaikan keluhan2 yang ada di milis ini seputar IPO KS khususnya >> mengenai alokasi penjatahan. Kawan2 sayaKami, pihak AAEI pun juga saling >> memberikan masukan ke Bapepam selain kita juga mendapat banyak masukan dari >> Bapepam seputar IPO KS ini. >> >> Proses kedepannya memang diperlukan sosialisasi kepada masyarakat luas >> agar mereka boleh memahami dan teredukasi dengan lebih baik lagi mengenai >> proses IPO ini, dan pasar modal pada umumnya. Kami, pihak AAEI, pada >> dasarnya siap membantu BEI maupun Bapepam dalam mensosialisasikan pasar >> modal kepada masyarakat luas. >> >> Banyak hal yg kami bahas selama 2 jam tersebut. Pada intinya, kami sama2 >> bersepakat untuk menjaga agar pasar modal kita tetap sehat dan tidak >> kehilangan momentum hanya karena ada segelintir orang yang baik disengaja >> atau tidak sengaja telah mengancam keberadaan pasar modal di Indonesia. Tapi >> saya yakin, dengan informasi yg tepat dan benar, masyarakat kita akan >> teredukasi dengan baik, dan tidak mudah lagi disesatkan oleh sekelompok >> orang. >> >> >> >> jabat erat, >> Irwan Ariston Napitupulu >> >> 2010/11/16 Anita Bdg <[email protected]> >> >>> >>> >>> * >>> Terima kasih banyak atas penjelasannya bang Ian. >>> sekaligus saya mengoreksi bang, >>> yg 73 % itu intitusi...bang bukan asing, sisanya 27 % publik >>> padahal singkatan IPO kan Initial Public Offering he..he... >>> OK salam sukses. >>> >>> ============================================== >>> Bela KS, Bapepam Anggap Harga IPO KS Wajar* >>> Herdaru Purnomo - detikFinance >>> >>> >>> Jakarta - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) >>> menyatakan harga saham perdana dalam initial public offering (IPO) PT >>> Krakatau Steel Tbk (KS) sebesar Rp 850 per saham sudah wajar dan tak perlu >>> diributkan. >>> >>> Ketua Bapepam LK Fuad Rahmany mengatakan, harga IPO KS sudah sangat wajar >>> dan lebih bagus dari harga saham perusahaan baja asal Korea yakni Posco. >>> >>> "Harga di situ tuh harga yang wajar bahkan lebih bagus dari harga Posco >>> di Korea kemarin. Sebelumnya Sky Tower Bersama yang IPO juga naik 49%. KS >>> itu kan sama segitu naiknya 48%. Terus Bank Jabar Banten itu naiknya sampai >>> 50% lebih gede lagi, wajar itu dari market. Kan beda pasar perdana dengan >>> sekunder di market," ujar Fuad ketika ditemui di sela acara Infobank Outlook >>> 2011 di Graha Niaga, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (16/11/2010). >>> >>> Fuad menyatakan proses IPO KS sudah positif dan tak perlu diributkan lagi >>> karena bisa mempengaruhi kepercayaan investor terhadap kondisi investasi di >>> Indonesia. >>> >>> "Sebaiknya kita positif saja lebih konstruktif walaupun ada kritik nggak >>> apa, tapi jangan ada informasi-informasi yang menyesatkan yang mempengaruhi >>> iklim investasi, kita nggak perlu khawatirlah sekarang, semua >>> indikator-indikator ekonomi kita bagus. Sekarang kalau ada perubahan indeks >>> turun lebih banyak itu global tren saja. Domestiknya itu bagus," papar Fuad. >>> >>> >>> Dikatakan Fuad dirinya sudah mendapatkan laporan alokasi tentang saham >>> KS. Dari laporan tersebut dikatakan kepemilikan saham publik KS sebesar 27% >>> dipegang investor ritel dan 73% dimiliki investor institusional. >>> >>> Investor ritel domestik yang memiliki saham KS jumlahnya 16 ribu orang di >>> luar reksa dana. Menurutnya soal permasalahan banyaknya investor yang tak >>> kebagian jatah saham KS tak perlu diributkan. >>> >>> "Kita harus ambil hikmah dari KS ini dan mudah-mudahan ke depan ada >>> perbaikan. Kita harus lebih transparan dan sosialisasi," cetus Fuad. >>> >>> (dnl/dro) >>> >>> http://www.detikfinance.com/read/2010/11/16/123840/1495390/6/bela-ks-bapepam-anggap-harga-ipo-ks-wajar?f9911013 >>> >>> >>> --- Pada *Sel, 16/11/10, Irwan Ariston Napitupulu < >>> [email protected]>* menulis: >>> >>> >>> Dari: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> >>> Judul: Re: [saham] LAGI LAGI KRAS >>> Kepada: [email protected] >>> Tanggal: Selasa, 16 November, 2010, 2:13 PM >>> >>> >>> >>> >>> Merespon keluhan Bu Anita, saya coba buatkan garis besarnya saja. Saya >>> percaya, ketidaktahuan dan kekurangan informasi kepada pelaku pasar akan >>> melahirkan kecurigaan yang sebenarnya tidak perlu sampai terjadi. >>> >>> Kira2 garis besarnya proses IPO itu seperti berikut: >>> >>> Untuk penentuan range harga IPO, ditentukan berdasarkan faktor >>> fundamental dari perusahaan dan juga mempertimbangkan kira2 minat dari >>> investor ada saat road show. >>> Berdasarkan keterangan Dirut KS di MetroTV, saat ini menggunakan >>> pembanding pabrik baja dari Korea dan India. >>> Tidak menggunakan pembanding dari China, karena growth di China sangat >>> tinggi, sementara di Indonesia pabrik baja sampai tahun 2006 pertumbuhannya >>> sangat lambat. Baru belakangan mulai terlihat ada pertumbuhan. >>> >>> Dari perhitungan fundamental tersebut, keluarlah angka 800-1150 untuk >>> harga book building. >>> >>> Pada masa bookbuilding, berdasarkan keterangan Pak Fuad di Metro TV yg >>> saya dengar: >>> oversubscribe dengan pemesanan di harga 850 adalah 1,8x >>> oversubscribe dengan pemesanan di harga 900 adalah 1,3x (atau sekitar >>> itu) >>> oversubscribe dengan pemesanan di harga 950 adalah 1x (atau sekitar itu). >>> >>> Dari kebiasaan dan pengalaman, underwritter akan memilih harga yg aman >>> untuk dia jualan yg biasanya pada harga sekitar oversubscribe 2x. Tujuannya >>> adalah agar pada masa pembayaran yg 10 hari setelah penentuan harga IPO, >>> dalam kasus ini batas tanggal tsb adalah 4 Nov 2010, jumlah saham yg >>> ditawarkan habis terbeli alias dilunasi. >>> >>> Apakah ada kemungkinan tidak dilunasi walau sudah dipesan? >>> Ya, ada kemungkinan itu. Bisa saja investor yg sudah pesan beli, lalu >>> pada masa 10 hari itu katakanlah tiba2 pasar berbalik arah jadi bearish >>> karena pasar global berubah arah jadi bearish, maka resiko investor hengkang >>> dan membatalkan pembelian jadi meningkat. Itu sebabnya, dipilih angka harga >>> dimana oversubscibe nya sekitar 2x. Kejadian hengkangnya pembeli itu >>> terjadi pada kasus BBNI dulu, dimana ada sejumlah investor sebesar 1 Triliun >>> yg hengkang tidak jadi beli karena pasar berubah bearish. Akibatnya bisa >>> kita bagaimana dulu underwritter dan pemerintah kerepotan dengan kasus BBNI. >>> >>> Pada dasarnya underwritter itu bekerja untuk menjual habis barang >>> dagangannya karena mereka mendapatkan keuntungan dari komisi penjualan yg >>> didapat. Peraturan bapepam juga melarang adanya pemesanan dari investor yg >>> memiliki konflik atau afiliasi dengan underwritter (seperti dengan >>> direksinya). Hal ini dilakukan demi menjaga keadilan dalam penjatahan. >>> Inilah yg akan diaudit oleh Bapepam sesuai kebiasaan IPO, dimana audit >>> dilakukan oleh akuntan publik untuk memeriksa bahwa tidak ada pelanggaran yg >>> terjadi dalam proses pemesanan IPO. >>> >>> Pertanyaan berikutnya yg mungkin muncul di benak rekan2 adalah mengapa >>> penjatahan bookbuilding IPO KS koq parah sekali? Mengapa Bapepam tidak >>> campur tangan akan hal tersebut? >>> >>> Jawabannya, berdasarkan peraturan, Bapepam tidak boleh mencampuri urusan >>> penjatahan maupun penentuan harga IPO setelah proses bookbuilding. >>> Underwritter lah yang memiliki hak tersebut. Tentunya underwritter telah >>> bekerjasama dengan emiten dalam hal ini pemegang saham dari KS. >>> >>> Underwritter dalam proses penjatahan akan mendahulukan prime customer >>> mereka. Ini adalah hal yg wajar dalam dunia bisnis underwritter dimana >>> mereka akan mendahulukan nasabah mereka dulu khususnya yang prime customer. >>> Karena dari prime customer inilah bisnis mereka bisa lebih berkelanjutan di >>> masa2 mendatang. >>> >>> Mengenai pernyataan Ibu Anita yg mengatakan asing dapat 73%, silakan >>> ditunjukan dan dibawa saja buktinya Bu. Bila benar Ibu Anita bisa tunjukan >>> bahwa asing mendapat penjatahan sampai 73%, maka underwritter bisa >>> diperkarakan. Karena ketentuan yg disepakati di awal adalah dari 20% saham >>> yg ditawarkan ke publik, lokal dapat jatah 65% (alias 13% dari 20%), asing >>> dapat jatah 35% (alias hanya 7% dari 20% yg ditawarkan). Tapi kalau Bu Anita >>> hanya mendengar dari orang dengan berdasarkan katanya...katanya....dan >>> katanya, sebaiknya abaikan saja Bu. Saat ini banyak yg mencoba mempolitisir >>> kasus KS ini. Bahkan saya bisa buktikan dimana para ekonom yg muncul di >>> televisi itu banyak memberikan informasi yg menyesatkan. Saya terkadang >>> miris juga, kasihan juga rakyat mendapatkan informasi yg menyesatkan >>> sehingga masyarakat jadi kehilangan hak mendapatkan informasi yang benar. >>> >>> Tapi itulah kondisinya. Kalau tidak kontroversial, kurang laku dijual ke >>> publik. Kalau kontroversial, baru menarik. Tapi saya percaya pihak TV dan >>> media sebenarnya punya kesamaan visi untuk memberikan informasi yg berimbang >>> kepada masyarakat, sayangnya mungkin mereka kekurangan informasi terhadap >>> para narasumber yang mana yg mungkin bisa diandalkan untuk memberikan >>> informasi penyeimbang. >>> >>> catatam: >>> Pada hari Rabu pagi, tanggal 9 Nov 2010, saya sempat dihubungi oleh salah >>> satu televisi swasta nasional untuk diminta memberikan semacam pelatihan >>> atau briefing kepada sekitar 30 jurnalisnya dari jam 10-12 pagi hari itu >>> juga dan diharapkan saya menyampaikan seputar IPO KS agar para jurnalis >>> televisi itu mendapatkan pengetahuan yg cukup sehingga ketika ingin meliput >>> hal ini bisa memberikan informasi yg baik kepada pemirsanya. Saya sangat >>> salut dengan upaya televisi ini untuk mendidik pemirsanya dengan informasi >>> yg berimbang. Sayang saja waktu itu saya berhalangan karena saya ingin >>> konsentrasi trading berhubung pasarnya lagi ramai. Saya katakan kalau >>> setelah jam trading, saya siap. Sayangnya, waktu tidak cocok, karena untuk >>> bisa mengumpulkan sekitar 30 jurnalis di jam yg sama itu sudah sulit dan >>> jarang bisa dilakukan. Mudah2an di lain waktu ada kesempatan lagi untuk hal >>> yg mungkin berbeda. >>> >>> Kira2 itu gambaran singkat dari saya walaupun masih banyak hal yg bisa >>> saya sampaikan untuk mengcounter pernyataan2 miring dari beberapa ekonom yg >>> saya perhatikan banyak yg menyesatkan masyarakat. >>> >>> catatan keterbukaan: >>> Saya tidak memesan saham KS pada saat book building KS maupun IPO KS. >>> Saya tidak memiliki saham KS. >>> >>> jabat erat, >>> Irwan Ariston Napitupulu >>> >>> >>> 2010/11/16 Anita Bdg >>> <[email protected]<http://mc/[email protected]> >>> > >>> >>> >>> >>> Kalo pejabat pemerintah mentalnya modelnya kek begini. >>> wajar aja negara selalu dirugikan dan selalu bangkrut. >>> Investor Asing dan lokal tentu terbahak2 mentertawakan proses IPO KS, >>> jelas2 oversubribed koq diambil harga bawah....... >>> anak tamatan SD juga tahu itu ga bener, >>> gak usah pake underwriter segala yg dibayar mahal2. >>> kalo yg kebagian satu lot mah jangan diitung investor. >>> saya warga negara indonesia dgn nasionalisme yang mau beli dan berani dgn >>> harga diatas 1000 rp. pun ngga kebagian, >>> tp asing bisa dapet 73 persen dgn harga obral....obralllll....obraaaalll >>> ============================================================= >>> >>> http://www.detikfinance.com/read/2010/11/16/131742/1495431/6/tanggapi-class-action-ipo-ks-bapepam-nilai-pengamat-asal-ngomong?f9911013 >>> =========================================================== >>> Tanggapi *Class Action* IPO KS, >>> Bapepam Nilai Pengamat Asal Ngomong >>> *Herdaru Purnomo* - detikFinance >>> >>> *Jakarta* - Sebanyak 13 ekonom akan melakukan gugatan *class action*kepada >>> pemerintah terkait dengan pelaksanaan penawaran umum perdana (initial >>> public offering/IPO) PT Krakatau Steel Tbk (KS). Badan Pengawas Pasar Modal >>> dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) menganggap 13 ekonom ini asal ngomong. >>> >>> Hal ini dilontarkan oleh Ketua Bapepam LK Fuad Rahmany saat ditemui di >>> sela acara Infobank Outlook 2011 di Graha Niaga, Jalan Sudirman, Jakarta, >>> Selasa (16/11/2010). >>> >>> "Dia tuh mau mewakili siapa *class action*? Ngarang itu. Dia wakili >>> siapa? Siapa investor yang dirugikan yang diwakili? *Class action* itu >>> jangan asal omong, *class action* itu mewakili siapa? *Class action* itu >>> harusnya sekumpulan orang-orang yang drugikan. Lah ini siapa yang dirugikan, >>> ayo siapa?" tutur Fuad. >>> >>> Seperti diketahui, 13 ekonom yang mengajukan gugatan *class action*adalah >>> Adler Manurung, Sri Edi Swasono, Kwik Kian Gie, Hendri Saparini, >>> Sumarno M, Rushadi, A. Razak, Ichsanudin Noorsy, William Tobing, Erwin >>> Ramedhan, Adhie Massardi, dan Fahmi Radi. >>> >>> Fuad mengatakan, dalam IPO KS semua pihak merasa senang dan tak ada yang >>> dirugikan. Jadi menurutnya tak perlu ada yang diributkan lagi oleh semua >>> pihak. >>> >>> "Sebenarnya semuanya happy di sini. Tugas saya kan melindungi investor. >>> Investornya happy kenapa saya harus ribut-ributin KS? Investornya saja >>> happy. Yang nggak happy itu yang mau beli nggak dapat. Normal lah itu biasa. >>> Pasti ada yang nggak dapat kan, ya semua itu keuntungan dari underwriter," >>> tukas Fuad. >>> >>> Seperti diketahui IPO KS menjadi buah bibir di kalangan masyarakat, >>> khususnya investor di pasar modal. Apalagi setelah pemerintah menetapkan >>> harga perdana saham KS Rp 850 atau mendekati batas bawah dari kisaran Rp >>> 750-1.150 per saham. >>> >>> Pihak-pihak yang tidak sepakat pun memprotes harga saham BUMN baja >>> tersebut, karena dianggap terlalu murah hingga terjadi tudingan adanya >>> perampokan uang negara. Mereka pun mendesak Bapepam-LK untuk membatalkan IPO >>> Krakatau Steel. >>> >>> Setidaknya ada 3 alasan pengajuan gugatan tersebut. Pertama, karena KS >>> bergerak dalam industri strategis yang sahamnya harus dikuasai penuh oleh >>> negara. Kedua, para penggugat menilai dalam pelaksanaan IPO tersebut negara >>> dirugikan lebih dari Rp 1 triliun. Lalu alasan terakhir adalah adanya dugaan >>> penyalahgunaan wewenang oleh oknum pejabat yang ikut berperan dalam proses >>> IPO tersebut. >>> >>> Polemik semakin runcing usai KS listing di BEI pada Rabu (10/11/2010) >>> lalu. Saham KS langsung melesat hingga menyentuh batas atas auto rejection >>> sebesar Rp 420 (49,41%) ke level Rp 1.270 per saham. Namun, investor asing >>> ternyata langsung menjual 316.129.500 saham dengan total nilai Rp 378,693 >>> miliar. Setelah aksi jual massif ini, kepemilikan asing tersisa 788.120.500 >>> saham atau setara dengan 5% dari total saham KS. >>> >>> Salah satu ekonom yaitu Adler, menduga pelepasan saham Krakatau Steel >>> oleh investor asing sebagai sebuah persengkongkolan. Selama ini pemerintah >>> selalu mendukung kepentingan investor asing dan mengabaikan investor dalam >>> negeri. >>> >>> *(dnl/dro)* >>> >>> >>> >>> >>> >>> >>> >> > >
