Logikanya jika Dow naik dan hanya jika besok hari Jumat maka IHSG ?
________________________________ From: tobeno <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thu, March 24, 2011 10:30:26 PM Subject: Re: [saham] Re: valuasi saham [article] MATEMATIKA kan MAkin TEliti MAkin TIdak KAruan. Kalo ada murid yang nilai mate-nya jelek, kemungkinan besar gurunya galak. Guru mate gw di SMA suka ngasi kuis yang duluan jawab bener dikasih sebatang Jie-Sam-Soe! "The more quantitative a model, the better the valuation." ________________________________ From: "BAKRY" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 24 Mar 2011 15:06:02 -0000 To: <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: [saham] Re: valuasi saham [article] waduuhh, jadi phobia klo inget matematika dpt 5 pas ebtanas.. kita orang bisanya cm ngitung duit...duit sendiri maupun duit orang, hehehehe... cheers.. --- In [email protected], yarais2002@... wrote: > > Waduh. Keren nih. Jadi pengen memperdalam matematika :) > > > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung >Teruuusss...! > > -----Original Message----- > From: alwayscuan@... > Sender: [email protected] > Date: Thu, 24 Mar 2011 15:01:01 > To: <[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: [saham] valuasi saham [article] > > Les matematika dimulai. Siakan ke ruang kelas segera. Kepada member saham > harap >segera ke kelas!!!!! > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: "tobeno" <tobeno2@...> > Sender: [email protected] > Date: Thu, 24 Mar 2011 14:58:59 > To: <[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: [saham] valuasi saham [article] > > > > Intinya adalah suka-suka analis. Kalo dia pengen valuasinya kemurahan dia > bisa >cari metode yg mendukung perhitungannya. Begitu pula sebaliknya. > Bahkan bila perlu 1 bisa dibuat sama dengan 2. > > Bukti: > > (a+a)(a-a)=(a+a)(a-a) > (a^2-a^2)=(a+a)(a-a) > a(a-a) =(a+a)(a-a) > > Coret (a-a) pada kedua ruas sehingga tersisa: > > a=(a+a) > a=2a > Masing-masing dibagi a: > > 1=2 q.e.d. > > Hehehe... > > > "The more quantitative a model, the better the valuation." > > -----Original Message----- > From: pingincuan@... > Sender: [email protected] > Date: Thu, 24 Mar 2011 14:29:11 > To: SHM<[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: Re: [saham] valuasi saham [article] > > Kook puanjaang banget ya Om?? Inti nya apa sih? Klo memperdebatkan tentang >matematika...pasti antara alumni IPA vs IPS ya?? â™"Î;)â™"Î;)â™"Î;)â™"Î >...perasaan klo di negara asal matematika itu semua nya di Sinergikan lho >(maka >nya menjadi negara maju), ane baru baca setengah artikel tsb sdh >nheek....kesombongan yg tersamar â™"Î;)â™"Î;)â™"Î;)â™"Î ..(Baru CEO aja >dah >blagu â™"Î;)â™"Î;)â™"Î;)â™"Î ...klo dah level nya Bill gates or Steve Job, >baru boleh ber koar2 n sy yakin beliau2 itu pasti nggak mempermasalahkan >Matematika...).gw mlai nylamur neh...maapin yaaa > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung >Teruuusss...! > > -----Original Message----- > From: sahamvalas <sahamvalas@...> > Sender: [email protected] > Date: Thu, 24 Mar 2011 07:17:36 > To: <[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: [saham] valuasi saham [article] > > Hati-hati baca valuasi saham > By: daniri > http://www.madani-ri.com/2008/11/10/hati-hati-baca-valuasi-saham/ >  >  > > Bisnis Indonesia, Minggu, 9 November 2008 >  >  Sebagai pencinta matematika, beberapa kali saya mendapatkan kesempatan >mempresentasikan makalah tentang aplikasi matematika dalam investasi dan >keuangan dalam seminar nasional dan internasional matematika serta metode >kuantitatif. > Terakhir, September lalu saya kembali mengikuti seminar nasional matematika > di >sebuah universitas swasta favorit di Bandung yang tahun ini mengambil tema >kontribusi matematika dalam menjawab tantangan dunia kerja. >  > Sesuai dengan tema ini, dua orang pembicara utama dihadirkan yaitu seorang >mantan CEO sebuah perusahaan multinasional dan seorang chief economist BEI. >Yang >menarik dari paparan kedua pembicara ini, sehingga saya merasa perlu untuk >menuliskannya adalah perbedaan pandangan mereka tentang sebuah isu dasar. > Pembicara pertama, mantan CEO yang sekarang berkiprah sebagai pimpinan puncak >di sebuah perusahaan penerbangan terkemuka, mengatakan kalau pekerjaannya >sangat >terbantu dengan matematika. >  > “Matematika memungkinkan saya selalu mempunyai banyak solusi untuk sebuah >permasalahan,â€� ujarnya. “Kontribusi matematika dalam dunia kerja adalah >nyata dan saya mengalaminya.â€� > Pembicara kedua justru berpendapat sebaliknya. Dengan tegas dia menyatakan >ketidaksetujuannya atas pernyataan pembicara pertama. Menurutnya, yang benar >itu >adalah matematika membuat kita mendapatkan satu solusi tunggal untuk banyak >persoalan. “Matematika akan memberikan kita satu solusi sapu jagat untuk >multipel masalah yang kita hadapi,â€� komentarnya. >  > Banyak cara penyelesaian > Mendengar dua pandangan yang bertolak belakang ini, saya pun langsung >memanfaatkan sesi tanya jawab untuk meluruskan kedua pernyataan yang sama-sama >salah ini. Tanpa bermaksud menggurui kedua tokoh yang saya hormati ini, saya >katakan kalau pernyataan yang benar adalah, “Matematika mengajarkan kita >kalau >ada banyak cara untuk menyelesaikan suatu persoalan. > >  > Semua cara itu, dalam matematika, mesti memberikan hasil yang sama. Dalam >banyak kasus, solusinya adalah tunggal. Namun, tidak jarang kita memperoleh >banyak solusi atau bahkan tidak ada solusi sama sekali.â€� Itulah sebabnya, >matematika pernah disebut sebagai ilmu pasti sebelum tahun 1980-an. > Lebih lanjut saya juga menyatakan, “Jika sebuah persoalan saja belum tentu >ada solusinya, adalah tidak mungkin kita mempunyai solusi sapu jagat untuk >berbagai persoalan.â€� >  > Sebagai contoh, kita semua pernah belajar persamaan linier di sekolah > menengah. >Untuk menyelesaikan persamaan linier paling sederhana hingga yang kompleks, >kita >mempunyai sedikitnya enam cara yaitu eliminasi, substitusi, determinan (aturan >Cramer), matrik invers, metode Gauss, dan metode Gauss-Jordan. >  > Semua cara di atas akan memberikan hasil yang persis sama. Jika yang satu >mengatakan ada solusi tunggal, yang lainnya juga akan berkesimpulan seperti >itu. >Demikian juga jika yang satu mengatakan persamaan linier mempunyai multipel >solusi atau tidak mempunyai solusi. >  > Untuk konkretnya, saya akan menggunakan tiga contoh persamaan linier paling >sederhana. Pertama, persamaan linier X + 2Y = 8 dan 2X + Y = 10. Diselesaikan >dengan cara apa pun, persamaan linier ini akan memberikan solusi tunggal yaitu >(X, Y) = (4, 2). > Tetapi, untuk persamaan linier X + 2Y = 8 dan 2X + 4Y = 16, kita mempunyai >multipel solusi seperti (2, 3), (4, 2), dan lainnya. > Kemudian, jika angka 16 dalam persamaan terakhir kita ganti dengan sembarang >angka lain, 15 misalnya, kita tidak akan pernah mendapatkan solusi karena >persamaan tidak konsisten. >  > Banyak jalan menuju Roma. Dalam matematika pun, kita mempunyai banyak cara >untuk menyelesaikan sebuah soal dan semuanya harus memberikan hasil yang sama. >  > Beda metode, beda nilai > Soal banyak cara ini, tidak berbeda dengan matematika, penilaian produk >investasi terutama saham juga mempunyai banyak metode. Sayangnya, hasil >penilaian berbagai metode yang ada ini seringnya tidak sama. Perbedaan >penilaian >inilah yang menyebabkan terjadinya transaksi. >  > Ada pihak yang memandang harga sebuah saham masih murah (pembeli) sementara >pihak lain berpendapat sebaliknya (penjual). Jika semua metode ini memberikan >hasil yang sama, tidak akan banyak transaksi yang terjadi karena hanya akan >ada >satu nilai yang disepakati bersama. Jika ini terjadi, frekuensi perdagangan >dan >volatilitas harga saham akan menjadi rendah karena investor hanya akan menjual >saham saat memerlukan kas dan membelinya saat kelebihan kas. >  > Berbagai metode untuk penilaian saham itu adalah metode pendiskontoan > dividen, >aliran kas bersih, residual income atau abnormal earnings, EVA (economic value >added), dan price multiple. >  > Metode pendiskontoan dividen dibagi lagi menjadi model dividen konstan, > dividen >bertumbuh, dan dividen dengan beberapa tingkat pertumbuhan. > ntuk aliran kas bersih dan residual income, kita mempunyai model satu tahap > dan >banyak tahap (dua dan tiga tahap). >  > Terakhir, metode price multiple mempunyai varians PER, PEG (price earning to >growth), PBV (price to book value), price to sales, price to cash flows, dan >EV/EBITDA (enterprise value to earnings before interest, taxes, depreciation, >& >amortization). >  > Memahami banyaknya metode di atas, Anda tidak perlu kaget lagi jika valuasi >antaranalis saham tidak sama karena sangat mungkin mereka menggunakan metode >yang berbeda. Untuk metode yang sama saja, nilai wajar saham dapat berbeda >jika >asumsinya (tingkat diskonto dan tingkat pertumbuhan) berbeda. > >  > Kesimpulannya, menghitung nilai wajar saham itu tidak hanya banyak caranya, >tetapi juga banyak hasilnya. >  > Tip dari saya, hati-hati membaca laporan valuasi saham dari para analis. Jika >dia menargetkan nilai tertentu untuk sebuah saham, dia dapat melakukannya >dengan >mudah yaitu dengan mencari metode dan asumsi yang mendukung target harganya >itu. > . > Oleh : Budi Frensidy > Staf pengajar FEUI dan penulis buku Matematika Keuangan >
