Saya termasuk yang berbeda dari ketiga pendapat di bawah, dua pembicara plus penulisnya :)
Matematika hanya sebuah alat atau media bagi pemakainya. Dia bisa membantu memecahkan masalah, bisa juga tidak membantu memecahkan masalah. Bagi sebagian orang, dia bisa dikategorikan sebagai ilmu pasti, tapi bagi sebagian orang lagi lebih melihat sebagai arts. Dst. Lalu, siapakah yang benar dan siapa yang salah dari kami berempat? Menurut saya, semuanya benar. Suka2nya masing2 orang sajalah mau melihat matematika itu sebagai apa. Bahkan mau melihatnya sebagai suatu candu juga bisa, sebagai penggoda juga bisa, sebagai racun pun juga bisa :) Mengenai contoh persamaan linear yang diberikan: Dua persamaan pertama: X + 2Y = 8 dan 2X + Y = 10 Bisa memberikan satu hasil karena dua persamaan linear itu kalau digambar merupakan dua garis lurus yang berbeda dan tidak sejajar. Sehingga akan ketemu satu titik perpotongan, yaitu di koordinat x=4 dan y=2 Dua persamaan kedua: X + 2Y = 8 dan 2X + 4Y = 16 Bisa memberikan banyak hasil, karena dua garis tersebut adalah identik alias dua garis yang saling tindih menindih sehingga perpotongannya ada di seluruh titik pada garis tersebut. Nah, untuk memberikan contoh bahwa matematik bisa juga tidak memberikan solusi apapun adalah dua persamaan sbb: Dua persamaan ketiga (dari saya): X + 2Y = 8 dan X + 2Y = 16 Tidak ada jawaban/solusi untuk X dan Y dikarenakan dua persamaan tersebut adalah dua garis yang sejajar dan tidak saling berpotongan :) Mengenai cara perhitungan valuasi saham yang banyak caranya, saya sependapat. Masing2 cara bisa memberikan hasil angka yang berbeda dikarenakan formula dan asumsi yang digunakan juga berbeda. Saya tidak setuju dengan kesimpulan penulis yang mengatakan, "menghitung nilai wajar saham itu tidak hanya banyak caranya, tetapi juga banyak hasilnya." dalam konteks seperti contoh dua persamaan kedua di atas yang memberikan banyak hasil. Coba kita lihat, perhitungan PER suatu saham, akan selalu menghasilkan satu angka/result di harga pasar yang sama. Mau yang menghitung analis hebat atau analis kemarin sore, angka PER yang dihasilkan hanya ada satu selama menggunakan harga pasar yang sama. Begitu juga angka PBV, angka P/S, dst. Ketika kita mencoba membuat valuasi wajar suatu saham, maka barulah bisa memiliki banyak jawaban karena asumsi yang digunakan bisa berbeda2. Sebagai contoh, ada analis yang menganggap valuasi wajar saham ABCD saat ini di PER 15x, tapi analis lain menganggap harga wajarnya di PER 20x, ada lagi analisa satunya lagi beranggapan saham ABCD harga wajarnya di PER 8x. Kalau semua sepakat bahwa harga wajar suatu saham ABCD saat ini di PER 15x, maka angka valuasi wajar saham tersebut hanya ada satu angka saja. Saya sepakat dengan penulis bahwa ketika kita membaca valuasi saham dari seorang pengamat atau siapapun, kita perlu tahu asumsi2 yang digunakan apa, atau bagaimana cara dia mendapatkan perhitungan tersebut. Kemudian tinggal kita nilai saja apakah asumsi2 yg digunakannya masih wajar atau tidak, apakah terlalu optimis atau terlalu pesimis. Pada hakekatnya, tidak ada satu angka mutlak untuk valuasi saham, yang ada hanyalah angka relatif untuk valuasi saham. Semoga bermanfaat. :) jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu 2011/3/24 sahamvalas <[email protected]> > > > Hati-hati baca valuasi saham > By: daniri <http://www.madani-ri.com/author/admin/> > http://www.madani-ri.com/2008/11/10/hati-hati-baca-valuasi-saham/ > > > Bisnis Indonesia, Minggu, 9 November 2008 > > Sebagai pencinta matematika, beberapa kali saya mendapatkan kesempatan > mempresentasikan makalah tentang aplikasi matematika dalam investasi dan > keuangan dalam seminar nasional dan internasional matematika serta metode > kuantitatif. > Terakhir, September lalu saya kembali mengikuti seminar nasional matematika > di sebuah universitas swasta favorit di Bandung yang tahun ini mengambil > tema kontribusi matematika dalam menjawab tantangan dunia kerja. > > Sesuai dengan tema ini, dua orang pembicara utama dihadirkan yaitu seorang > mantan CEO sebuah perusahaan multinasional dan seorang chief economist BEI. > Yang menarik dari paparan kedua pembicara ini, sehingga saya merasa perlu > untuk menuliskannya adalah perbedaan pandangan mereka tentang sebuah isu > dasar. > Pembicara pertama, mantan CEO yang sekarang berkiprah sebagai pimpinan > puncak di sebuah perusahaan penerbangan terkemuka, mengatakan kalau > pekerjaannya sangat terbantu dengan matematika. > > “Matematika memungkinkan saya selalu mempunyai banyak solusi untuk sebuah > permasalahan,” ujarnya. “Kontribusi matematika dalam dunia kerja adalah > nyata dan saya mengalaminya.” > Pembicara kedua justru berpendapat sebaliknya. Dengan tegas dia menyatakan > ketidaksetujuannya atas pernyataan pembicara pertama. Menurutnya, yang benar > itu adalah matematika membuat kita mendapatkan satu solusi tunggal untuk > banyak persoalan. “Matematika akan memberikan kita satu solusi sapu jagat > untuk multipel masalah yang kita hadapi,” komentarnya. > > *Banyak cara penyelesaian* > Mendengar dua pandangan yang bertolak belakang ini, saya pun langsung > memanfaatkan sesi tanya jawab untuk meluruskan kedua pernyataan yang > sama-sama salah ini. Tanpa bermaksud menggurui kedua tokoh yang saya hormati > ini, saya katakan kalau pernyataan yang benar adalah, “Matematika > mengajarkan kita kalau ada banyak cara untuk menyelesaikan suatu persoalan. > > Semua cara itu, dalam matematika, mesti memberikan hasil yang sama. Dalam > banyak kasus, solusinya adalah tunggal. Namun, tidak jarang kita memperoleh > banyak solusi atau bahkan tidak ada solusi sama sekali.” Itulah sebabnya, > matematika pernah disebut sebagai ilmu pasti sebelum tahun 1980-an. > Lebih lanjut saya juga menyatakan, “Jika sebuah persoalan saja belum tentu > ada solusinya, adalah tidak mungkin kita mempunyai solusi sapu jagat untuk > berbagai persoalan.” > > Sebagai contoh, kita semua pernah belajar persamaan linier di sekolah > menengah. Untuk menyelesaikan persamaan linier paling sederhana hingga yang > kompleks, kita mempunyai sedikitnya enam cara yaitu eliminasi, substitusi, > determinan (aturan Cramer), matrik invers, metode Gauss, dan metode > Gauss-Jordan. > > Semua cara di atas akan memberikan hasil yang persis sama. Jika yang satu > mengatakan ada solusi tunggal, yang lainnya juga akan berkesimpulan seperti > itu. Demikian juga jika yang satu mengatakan persamaan linier mempunyai > multipel solusi atau tidak mempunyai solusi. > > Untuk konkretnya, saya akan menggunakan tiga contoh persamaan linier paling > sederhana. Pertama, persamaan linier X + 2Y = 8 dan 2X + Y = 10. > Diselesaikan dengan cara apa pun, persamaan linier ini akan memberikan > solusi tunggal yaitu (X, Y) = (4, 2). > Tetapi, untuk persamaan linier X + 2Y = 8 dan 2X + 4Y = 16, kita mempunyai > multipel solusi seperti (2, 3), (4, 2), dan lainnya. > Kemudian, jika angka 16 dalam persamaan terakhir kita ganti dengan > sembarang angka lain, 15 misalnya, kita tidak akan pernah mendapatkan solusi > karena persamaan tidak konsisten. > > Banyak jalan menuju Roma. Dalam matematika pun, kita mempunyai banyak cara > untuk menyelesaikan sebuah soal dan semuanya harus memberikan hasil yang > sama. > > *Beda metode, beda nilai* > Soal banyak cara ini, tidak berbeda dengan matematika, penilaian produk > investasi terutama saham juga mempunyai banyak metode. Sayangnya, hasil > penilaian berbagai metode yang ada ini seringnya tidak sama. Perbedaan > penilaian inilah yang menyebabkan terjadinya transaksi. > > Ada pihak yang memandang harga sebuah saham masih murah (pembeli) sementara > pihak lain berpendapat sebaliknya (penjual). Jika semua metode ini > memberikan hasil yang sama, tidak akan banyak transaksi yang terjadi karena > hanya akan ada satu nilai yang disepakati bersama. Jika ini terjadi, > frekuensi perdagangan dan volatilitas harga saham akan menjadi rendah karena > investor hanya akan menjual saham saat memerlukan kas dan membelinya saat > kelebihan kas. > > Berbagai metode untuk penilaian saham itu adalah metode pendiskontoan > dividen, aliran kas bersih, residual income atau abnormal earnings, EVA > (economic value added), dan price multiple. > > Metode pendiskontoan dividen dibagi lagi menjadi model dividen konstan, > dividen bertumbuh, dan dividen dengan beberapa tingkat pertumbuhan. > ntuk aliran kas bersih dan residual income, kita mempunyai model satu tahap > dan banyak tahap (dua dan tiga tahap). > > Terakhir, metode price multiple mempunyai varians PER, PEG (price earning > to growth), PBV (price to book value), price to sales, price to cash flows, > dan EV/EBITDA (enterprise value to earnings before interest, taxes, > depreciation, & amortization). > > Memahami banyaknya metode di atas, Anda tidak perlu kaget lagi jika valuasi > antaranalis saham tidak sama karena sangat mungkin mereka menggunakan metode > yang berbeda. Untuk metode yang sama saja, nilai wajar saham dapat berbeda > jika asumsinya (tingkat diskonto dan tingkat pertumbuhan) berbeda. > > Kesimpulannya, menghitung nilai wajar saham itu tidak hanya banyak caranya, > tetapi juga banyak hasilnya. > > Tip dari saya, hati-hati membaca laporan valuasi saham dari para analis. > Jika dia menargetkan nilai tertentu untuk sebuah saham, dia dapat > melakukannya dengan mudah yaitu dengan mencari metode dan asumsi yang > mendukung target harganya itu. > . > Oleh : Budi Frensidy > Staf pengajar FEUI dan penulis buku Matematika Keuangan > > > >
