Ayo pak training valuasi saham :)

--- On Thu, 3/24/11, Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> wrote:


From: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
Subject: Re: [saham] valuasi saham [article]
To: [email protected]
Date: Thursday, March 24, 2011, 10:24 PM


  



Saya termasuk yang berbeda dari ketiga pendapat di bawah, dua pembicara plus 
penulisnya :)

Matematika hanya sebuah alat atau media bagi pemakainya. Dia bisa membantu 
memecahkan masalah, bisa juga tidak membantu memecahkan masalah. Bagi sebagian 
orang, dia bisa dikategorikan sebagai ilmu pasti, tapi bagi sebagian orang lagi 
lebih melihat sebagai arts. Dst.

Lalu, siapakah yang benar dan siapa yang salah dari kami berempat?
Menurut saya, semuanya benar. Suka2nya masing2 orang sajalah mau melihat 
matematika itu sebagai apa. Bahkan mau melihatnya sebagai suatu candu juga 
bisa, sebagai penggoda juga bisa, sebagai racun pun juga bisa :)

Mengenai contoh persamaan linear yang diberikan:

Dua persamaan pertama:
X + 2Y = 8 dan 2X + Y = 10
Bisa memberikan satu hasil karena dua persamaan linear itu kalau digambar 
merupakan dua garis lurus yang berbeda dan tidak sejajar. Sehingga akan ketemu 
satu titik perpotongan, yaitu di koordinat x=4 dan y=2

Dua persamaan kedua:
X + 2Y = 8 dan 2X + 4Y = 16
Bisa memberikan banyak hasil, karena dua garis tersebut adalah identik alias 
dua garis yang saling tindih menindih sehingga perpotongannya ada di seluruh 
titik pada garis tersebut.

Nah, untuk memberikan contoh bahwa matematik bisa juga tidak memberikan solusi 
apapun adalah dua persamaan sbb:

Dua persamaan ketiga (dari saya):
X + 2Y = 8 dan X + 2Y = 16
Tidak ada jawaban/solusi untuk X dan Y dikarenakan dua persamaan tersebut 
adalah dua garis yang sejajar dan tidak saling berpotongan :)

Mengenai cara perhitungan valuasi saham yang banyak caranya, saya sependapat. 
Masing2 cara bisa memberikan hasil angka yang berbeda dikarenakan formula dan 
asumsi yang digunakan juga berbeda.

Saya tidak setuju dengan kesimpulan penulis yang mengatakan, "menghitung nilai 
wajar saham itu tidak hanya banyak caranya, tetapi juga banyak hasilnya." dalam 
konteks seperti contoh dua persamaan kedua di atas yang memberikan banyak hasil.

Coba kita lihat, perhitungan PER suatu saham, akan selalu menghasilkan satu 
angka/result di harga pasar yang sama. Mau yang menghitung analis hebat atau 
analis kemarin sore, angka PER yang dihasilkan hanya ada satu selama 
menggunakan harga pasar yang sama. Begitu juga angka PBV, angka P/S, dst.

Ketika kita mencoba membuat valuasi wajar suatu saham, maka barulah bisa 
memiliki banyak jawaban karena asumsi yang digunakan bisa berbeda2. Sebagai 
contoh, ada analis yang menganggap valuasi wajar saham ABCD saat ini di PER 
15x, tapi analis lain menganggap harga wajarnya di PER 20x, ada lagi analisa 
satunya lagi beranggapan saham ABCD harga wajarnya di PER 8x.

Kalau semua sepakat bahwa harga wajar suatu saham ABCD saat ini di PER 15x, 
maka angka valuasi wajar saham tersebut hanya ada satu angka saja.

Saya sepakat dengan penulis bahwa ketika kita membaca valuasi saham dari 
seorang pengamat atau siapapun, kita perlu tahu asumsi2 yang digunakan apa, 
atau bagaimana cara dia mendapatkan perhitungan tersebut. Kemudian tinggal kita 
nilai saja apakah asumsi2 yg digunakannya masih wajar atau tidak, apakah 
terlalu optimis atau terlalu pesimis.

Pada hakekatnya, tidak ada satu angka mutlak untuk valuasi saham, yang ada 
hanyalah angka relatif untuk valuasi saham.

Semoga bermanfaat. :)

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu


2011/3/24 sahamvalas <[email protected]>









Hati-hati baca valuasi saham
By: daniri
http://www.madani-ri.com/2008/11/10/hati-hati-baca-valuasi-saham/
 
 

Bisnis Indonesia, Minggu, 9 November 2008
 
 Sebagai pencinta matematika, beberapa kali saya mendapatkan kesempatan 
mempresentasikan makalah tentang aplikasi matematika dalam investasi dan 
keuangan dalam seminar nasional dan internasional matematika serta metode 
kuantitatif.
Terakhir, September lalu saya kembali mengikuti seminar nasional matematika di 
sebuah universitas swasta favorit di Bandung yang tahun ini mengambil tema 
kontribusi matematika dalam menjawab tantangan dunia kerja.
 
Sesuai dengan tema ini, dua orang pembicara utama dihadirkan yaitu seorang 
mantan CEO sebuah perusahaan multinasional dan seorang chief economist BEI. 
Yang menarik dari paparan kedua pembicara ini, sehingga saya merasa perlu untuk 
menuliskannya adalah perbedaan pandangan mereka tentang sebuah isu dasar.
Pembicara pertama, mantan CEO yang sekarang berkiprah sebagai pimpinan puncak 
di sebuah perusahaan penerbangan terkemuka, mengatakan kalau pekerjaannya 
sangat terbantu dengan matematika.
 
“Matematika memungkinkan saya selalu mempunyai banyak solusi untuk sebuah 
permasalahan,” ujarnya. “Kontribusi matematika dalam dunia kerja adalah nyata 
dan saya mengalaminya.”
Pembicara kedua justru berpendapat sebaliknya. Dengan tegas dia menyatakan 
ketidaksetujuannya atas pernyataan pembicara pertama. Menurutnya, yang benar 
itu adalah matematika membuat kita mendapatkan satu solusi tunggal untuk banyak 
persoalan. “Matematika akan memberikan kita satu solusi sapu jagat untuk 
multipel masalah yang kita hadapi,” komentarnya.
 
Banyak cara penyelesaian
Mendengar dua pandangan yang bertolak belakang ini, saya pun langsung 
memanfaatkan sesi tanya jawab untuk meluruskan kedua pernyataan yang sama-sama 
salah ini. Tanpa bermaksud menggurui kedua tokoh yang saya hormati ini, saya 
katakan kalau pernyataan yang benar adalah, “Matematika mengajarkan kita kalau 
ada banyak cara untuk menyelesaikan suatu persoalan. 
 
Semua cara itu, dalam matematika, mesti memberikan hasil yang sama. Dalam 
banyak kasus, solusinya adalah tunggal. Namun, tidak jarang kita memperoleh 
banyak solusi atau bahkan tidak ada solusi sama sekali.” Itulah sebabnya, 
matematika pernah disebut sebagai ilmu pasti sebelum tahun 1980-an.
Lebih lanjut saya juga menyatakan, “Jika sebuah persoalan saja belum tentu ada 
solusinya, adalah tidak mungkin kita mempunyai solusi sapu jagat untuk berbagai 
persoalan.”
 
Sebagai contoh, kita semua pernah belajar persamaan linier di sekolah menengah. 
Untuk menyelesaikan persamaan linier paling sederhana hingga yang kompleks, 
kita mempunyai sedikitnya enam cara yaitu eliminasi, substitusi, determinan 
(aturan Cramer), matrik invers, metode Gauss, dan metode Gauss-Jordan.
 
Semua cara di atas akan memberikan hasil yang persis sama. Jika yang satu 
mengatakan ada solusi tunggal, yang lainnya juga akan berkesimpulan seperti 
itu. Demikian juga jika yang satu mengatakan persamaan linier mempunyai 
multipel solusi atau tidak mempunyai solusi.
 
Untuk konkretnya, saya akan menggunakan tiga contoh persamaan linier paling 
sederhana. Pertama, persamaan linier X + 2Y = 8 dan 2X + Y = 10. Diselesaikan 
dengan cara apa pun, persamaan linier ini akan memberikan solusi tunggal yaitu 
(X, Y) = (4, 2).
Tetapi, untuk persamaan linier X + 2Y = 8 dan 2X + 4Y = 16, kita mempunyai 
multipel solusi seperti (2, 3), (4, 2), dan lainnya.
Kemudian, jika angka 16 dalam persamaan terakhir kita ganti dengan sembarang 
angka lain, 15 misalnya, kita tidak akan pernah mendapatkan solusi karena 
persamaan tidak konsisten.
 
Banyak jalan menuju Roma. Dalam matematika pun, kita mempunyai banyak cara 
untuk menyelesaikan sebuah soal dan semuanya harus memberikan hasil yang sama.
 
Beda metode, beda nilai
Soal banyak cara ini, tidak berbeda dengan matematika, penilaian produk 
investasi terutama saham juga mempunyai banyak metode. Sayangnya, hasil 
penilaian berbagai metode yang ada ini seringnya tidak sama. Perbedaan 
penilaian inilah yang menyebabkan terjadinya transaksi.
 
Ada pihak yang memandang harga sebuah saham masih murah (pembeli) sementara 
pihak lain berpendapat sebaliknya (penjual). Jika semua metode ini memberikan 
hasil yang sama, tidak akan banyak transaksi yang terjadi karena hanya akan ada 
satu nilai yang disepakati bersama. Jika ini terjadi, frekuensi perdagangan dan 
volatilitas harga saham akan menjadi rendah karena investor hanya akan menjual 
saham saat memerlukan kas dan membelinya saat kelebihan kas.
 
Berbagai metode untuk penilaian saham itu adalah metode pendiskontoan dividen, 
aliran kas bersih, residual income atau abnormal earnings, EVA (economic value 
added), dan price multiple.
 
Metode pendiskontoan dividen dibagi lagi menjadi model dividen konstan, dividen 
bertumbuh, dan dividen dengan beberapa tingkat pertumbuhan.
ntuk aliran kas bersih dan residual income, kita mempunyai model satu tahap dan 
banyak tahap (dua dan tiga tahap).
 
Terakhir, metode price multiple mempunyai varians PER, PEG (price earning to 
growth), PBV (price to book value), price to sales, price to cash flows, dan 
EV/EBITDA (enterprise value to earnings before interest, taxes, depreciation, & 
amortization).
 
Memahami banyaknya metode di atas, Anda tidak perlu kaget lagi jika valuasi 
antaranalis saham tidak sama karena sangat mungkin mereka menggunakan metode 
yang berbeda. Untuk metode yang sama saja, nilai wajar saham dapat berbeda jika 
asumsinya (tingkat diskonto dan tingkat pertumbuhan) berbeda. 
 
Kesimpulannya, menghitung nilai wajar saham itu tidak hanya banyak caranya, 
tetapi juga banyak hasilnya.
 
Tip dari saya, hati-hati membaca laporan valuasi saham dari para analis. Jika 
dia menargetkan nilai tertentu untuk sebuah saham, dia dapat melakukannya 
dengan mudah yaitu dengan mencari metode dan asumsi yang mendukung target 
harganya itu.
.
Oleh : Budi Frensidy
Staf pengajar FEUI dan penulis buku Matematika Keuangan












      
  • ... Tikno Susatio
    • ... Kayogo Buntara
  • ... Irwan Ariston Napitupulu
    • ... Teguh Diyanto
      • ... Susanto Salim
        • ... hakitrader
          • ... komang prasada
          • ... Susanto Salim
        • ... BK Wibowo
          • ... Susanto Salim
            • ... Mie Pangsit
              • ... Ä̶̶̶̸̶̶̶g̶̶̶̸̶̶̶u̶̶̶̸̶̶̶š̶̶̶̸̶̶̶™̶̶̶̸̶̶̶ --> @​AgusBarli

Kirim email ke