Pak Budi, kalau analis menggunakan metode yang konsisten, tentunya hasilnya
bisa digunakan untuk menilai valuasi saham antara tahun lalu dan sekarang
apakah ada kenaikan/penurunan harga. menurut bapak, analis mana saja yang
menggunakan metode valuasi secara konsisten?
btw, terima kasih untuk sharingnya sudah menambah wawasan.

2011/3/24 sahamvalas <[email protected]>

>
>
> Hati-hati baca valuasi saham
> By: daniri <http://www.madani-ri.com/author/admin/>
> http://www.madani-ri.com/2008/11/10/hati-hati-baca-valuasi-saham/
>
>
>  Bisnis Indonesia, Minggu, 9 November 2008
>
>  Sebagai pencinta matematika, beberapa kali saya mendapatkan kesempatan
> mempresentasikan makalah tentang aplikasi matematika dalam investasi dan
> keuangan dalam seminar nasional dan internasional matematika serta metode
> kuantitatif.
> Terakhir, September lalu saya kembali mengikuti seminar nasional matematika
> di sebuah universitas swasta favorit di Bandung yang tahun ini mengambil
> tema kontribusi matematika dalam menjawab tantangan dunia kerja.
>
> Sesuai dengan tema ini, dua orang pembicara utama dihadirkan yaitu seorang
> mantan CEO sebuah perusahaan multinasional dan seorang chief economist BEI.
> Yang menarik dari paparan kedua pembicara ini, sehingga saya merasa perlu
> untuk menuliskannya adalah perbedaan pandangan mereka tentang sebuah isu
> dasar.
> Pembicara pertama, mantan CEO yang sekarang berkiprah sebagai pimpinan
> puncak di sebuah perusahaan penerbangan terkemuka, mengatakan kalau
> pekerjaannya sangat terbantu dengan matematika.
>
> “Matematika memungkinkan saya selalu mempunyai banyak solusi untuk sebuah
> permasalahan,” ujarnya. “Kontribusi matematika dalam dunia kerja adalah
> nyata dan saya mengalaminya.”
> Pembicara kedua justru berpendapat sebaliknya. Dengan tegas dia menyatakan
> ketidaksetujuannya atas pernyataan pembicara pertama. Menurutnya, yang benar
> itu adalah matematika membuat kita mendapatkan satu solusi tunggal untuk
> banyak persoalan. “Matematika akan memberikan kita satu solusi sapu jagat
> untuk multipel masalah yang kita hadapi,” komentarnya.
>
> *Banyak cara penyelesaian*
> Mendengar dua pandangan yang bertolak belakang ini, saya pun langsung
> memanfaatkan sesi tanya jawab untuk meluruskan kedua pernyataan yang
> sama-sama salah ini. Tanpa bermaksud menggurui kedua tokoh yang saya hormati
> ini, saya katakan kalau pernyataan yang benar adalah, “Matematika
> mengajarkan kita kalau ada banyak cara untuk menyelesaikan suatu persoalan.
>
> Semua cara itu, dalam matematika, mesti memberikan hasil yang sama. Dalam
> banyak kasus, solusinya adalah tunggal. Namun, tidak jarang kita memperoleh
> banyak solusi atau bahkan tidak ada solusi sama sekali.” Itulah sebabnya,
> matematika pernah disebut sebagai ilmu pasti sebelum tahun 1980-an.
> Lebih lanjut saya juga menyatakan, “Jika sebuah persoalan saja belum tentu
> ada solusinya, adalah tidak mungkin kita mempunyai solusi sapu jagat untuk
> berbagai persoalan.”
>
> Sebagai contoh, kita semua pernah belajar persamaan linier di sekolah
> menengah. Untuk menyelesaikan persamaan linier paling sederhana hingga yang
> kompleks, kita mempunyai sedikitnya enam cara yaitu eliminasi, substitusi,
> determinan (aturan Cramer), matrik invers, metode Gauss, dan metode
> Gauss-Jordan.
>
> Semua cara di atas akan memberikan hasil yang persis sama. Jika yang satu
> mengatakan ada solusi tunggal, yang lainnya juga akan berkesimpulan seperti
> itu. Demikian juga jika yang satu mengatakan persamaan linier mempunyai
> multipel solusi atau tidak mempunyai solusi.
>
> Untuk konkretnya, saya akan menggunakan tiga contoh persamaan linier paling
> sederhana. Pertama, persamaan linier X + 2Y = 8 dan 2X + Y = 10.
> Diselesaikan dengan cara apa pun, persamaan linier ini akan memberikan
> solusi tunggal yaitu (X, Y) = (4, 2).
> Tetapi, untuk persamaan linier X + 2Y = 8 dan 2X + 4Y = 16, kita mempunyai
> multipel solusi seperti (2, 3), (4, 2), dan lainnya.
> Kemudian, jika angka 16 dalam persamaan terakhir kita ganti dengan
> sembarang angka lain, 15 misalnya, kita tidak akan pernah mendapatkan solusi
> karena persamaan tidak konsisten.
>
> Banyak jalan menuju Roma. Dalam matematika pun, kita mempunyai banyak cara
> untuk menyelesaikan sebuah soal dan semuanya harus memberikan hasil yang
> sama.
>
> *Beda metode, beda nilai*
> Soal banyak cara ini, tidak berbeda dengan matematika, penilaian produk
> investasi terutama saham juga mempunyai banyak metode. Sayangnya, hasil
> penilaian berbagai metode yang ada ini seringnya tidak sama. Perbedaan
> penilaian inilah yang menyebabkan terjadinya transaksi.
>
> Ada pihak yang memandang harga sebuah saham masih murah (pembeli) sementara
> pihak lain berpendapat sebaliknya (penjual). Jika semua metode ini
> memberikan hasil yang sama, tidak akan banyak transaksi yang terjadi karena
> hanya akan ada satu nilai yang disepakati bersama. Jika ini terjadi,
> frekuensi perdagangan dan volatilitas harga saham akan menjadi rendah karena
> investor hanya akan menjual saham saat memerlukan kas dan membelinya saat
> kelebihan kas.
>
> Berbagai metode untuk penilaian saham itu adalah metode pendiskontoan
> dividen, aliran kas bersih, residual income atau abnormal earnings, EVA
> (economic value added), dan price multiple.
>
> Metode pendiskontoan dividen dibagi lagi menjadi model dividen konstan,
> dividen bertumbuh, dan dividen dengan beberapa tingkat pertumbuhan.
> ntuk aliran kas bersih dan residual income, kita mempunyai model satu tahap
> dan banyak tahap (dua dan tiga tahap).
>
> Terakhir, metode price multiple mempunyai varians PER, PEG (price earning
> to growth), PBV (price to book value), price to sales, price to cash flows,
> dan EV/EBITDA (enterprise value to earnings before interest, taxes,
> depreciation, & amortization).
>
> Memahami banyaknya metode di atas, Anda tidak perlu kaget lagi jika valuasi
> antaranalis saham tidak sama karena sangat mungkin mereka menggunakan metode
> yang berbeda. Untuk metode yang sama saja, nilai wajar saham dapat berbeda
> jika asumsinya (tingkat diskonto dan tingkat pertumbuhan) berbeda.
>
> Kesimpulannya, menghitung nilai wajar saham itu tidak hanya banyak caranya,
> tetapi juga banyak hasilnya.
>
> Tip dari saya, hati-hati membaca laporan valuasi saham dari para analis.
> Jika dia menargetkan nilai tertentu untuk sebuah saham, dia dapat
> melakukannya dengan mudah yaitu dengan mencari metode dan asumsi yang
> mendukung target harganya itu.
> .
> Oleh : Budi Frensidy
> Staf pengajar FEUI dan penulis buku Matematika Keuangan
>
>  
>

Kirim email ke