Pak Budi,kalo gitu methode boleh bebeda,yang penting mesti ada consensus besama atau masing masing analisis memberi vote di harga wajar berapa saham tersebut.
Rgds Kayogo ________________________________ From: Tikno Susatio <[email protected]> To: [email protected] Sent: Friday, 25 March 2011 08:46:13 Subject: Re: [saham] valuasi saham [article] Pak Budi, kalau analis menggunakan metode yang konsisten, tentunya hasilnya bisa digunakan untuk menilai valuasi saham antara tahun lalu dan sekarang apakah ada kenaikan/penurunan harga. menurut bapak, analis mana saja yang menggunakan metode valuasi secara konsisten? btw, terima kasih untuk sharingnya sudah menambah wawasan. 2011/3/24 sahamvalas <[email protected]> >Hati-hati baca valuasi saham >By: daniri >http://www.madani-ri.com/2008/11/10/hati-hati-baca-valuasi-saham/ > > >Bisnis Indonesia, Minggu, 9 November 2008 > > Sebagai pencinta matematika, beberapa kali saya mendapatkan kesempatan >mempresentasikan makalah tentang aplikasi matematika dalam investasi dan >keuangan dalam seminar nasional dan internasional matematika serta metode >kuantitatif. >Terakhir, September lalu saya kembali mengikuti seminar nasional matematika di >sebuah universitas swasta favorit di Bandung yang tahun ini mengambil tema >kontribusi matematika dalam menjawab tantangan dunia kerja. > >Sesuai dengan tema ini, dua orang pembicara utama dihadirkan yaitu seorang >mantan CEO sebuah perusahaan multinasional dan seorang chief economist BEI. >Yang >menarik dari paparan kedua pembicara ini, sehingga saya merasa perlu untuk >menuliskannya adalah perbedaan pandangan mereka tentang sebuah isu dasar. >Pembicara pertama, mantan CEO yang sekarang berkiprah sebagai pimpinan puncak >di >sebuah perusahaan penerbangan terkemuka, mengatakan kalau pekerjaannya sangat >terbantu dengan matematika. > >“Matematika memungkinkan saya selalu mempunyai banyak solusi untuk sebuah >permasalahan,” ujarnya. “Kontribusi matematika dalam dunia kerja adalah nyata >dan saya mengalaminya.” >Pembicara kedua justru berpendapat sebaliknya. Dengan tegas dia menyatakan >ketidaksetujuannya atas pernyataan pembicara pertama. Menurutnya, yang benar >itu >adalah matematika membuat kita mendapatkan satu solusi tunggal untuk banyak >persoalan. “Matematika akan memberikan kita satu solusi sapu jagat untuk >multipel masalah yang kita hadapi,” komentarnya. > >Banyak cara penyelesaian >Mendengar dua pandangan yang bertolak belakang ini, saya pun langsung >memanfaatkan sesi tanya jawab untuk meluruskan kedua pernyataan yang sama-sama >salah ini. Tanpa bermaksud menggurui kedua tokoh yang saya hormati ini, saya >katakan kalau pernyataan yang benar adalah, “Matematika mengajarkan kita kalau >ada banyak cara untuk menyelesaikan suatu persoalan. > > >Semua cara itu, dalam matematika, mesti memberikan hasil yang sama. Dalam >banyak >kasus, solusinya adalah tunggal. Namun, tidak jarang kita memperoleh banyak >solusi atau bahkan tidak ada solusi sama sekali.” Itulah sebabnya, matematika >pernah disebut sebagai ilmu pasti sebelum tahun 1980-an. >Lebih lanjut saya juga menyatakan, “Jika sebuah persoalan saja belum tentu ada >solusinya, adalah tidak mungkin kita mempunyai solusi sapu jagat untuk >berbagai >persoalan.” > >Sebagai contoh, kita semua pernah belajar persamaan linier di sekolah >menengah. >Untuk menyelesaikan persamaan linier paling sederhana hingga yang kompleks, >kita >mempunyai sedikitnya enam cara yaitu eliminasi, substitusi, determinan (aturan >Cramer), matrik invers, metode Gauss, dan metode Gauss-Jordan. > >Semua cara di atas akan memberikan hasil yang persis sama. Jika yang satu >mengatakan ada solusi tunggal, yang lainnya juga akan berkesimpulan seperti >itu. >Demikian juga jika yang satu mengatakan persamaan linier mempunyai multipel >solusi atau tidak mempunyai solusi. > >Untuk konkretnya, saya akan menggunakan tiga contoh persamaan linier paling >sederhana. Pertama, persamaan linier X + 2Y = 8 dan 2X + Y = 10. Diselesaikan >dengan cara apa pun, persamaan linier ini akan memberikan solusi tunggal yaitu >(X, Y) = (4, 2). >Tetapi, untuk persamaan linier X + 2Y = 8 dan 2X + 4Y = 16, kita mempunyai >multipel solusi seperti (2, 3), (4, 2), dan lainnya. >Kemudian, jika angka 16 dalam persamaan terakhir kita ganti dengan sembarang >angka lain, 15 misalnya, kita tidak akan pernah mendapatkan solusi karena >persamaan tidak konsisten. > >Banyak jalan menuju Roma. Dalam matematika pun, kita mempunyai banyak cara >untuk >menyelesaikan sebuah soal dan semuanya harus memberikan hasil yang sama. > >Beda metode, beda nilai >Soal banyak cara ini, tidak berbeda dengan matematika, penilaian produk >investasi terutama saham juga mempunyai banyak metode. Sayangnya, hasil >penilaian berbagai metode yang ada ini seringnya tidak sama. Perbedaan >penilaian >inilah yang menyebabkan terjadinya transaksi. > >Ada pihak yang memandang harga sebuah saham masih murah (pembeli) sementara >pihak lain berpendapat sebaliknya (penjual). Jika semua metode ini memberikan >hasil yang sama, tidak akan banyak transaksi yang terjadi karena hanya akan >ada >satu nilai yang disepakati bersama. Jika ini terjadi, frekuensi perdagangan >dan >volatilitas harga saham akan menjadi rendah karena investor hanya akan menjual >saham saat memerlukan kas dan membelinya saat kelebihan kas. > >Berbagai metode untuk penilaian saham itu adalah metode pendiskontoan dividen, >aliran kas bersih, residual income atau abnormal earnings, EVA (economic value >added), dan price multiple. > >Metode pendiskontoan dividen dibagi lagi menjadi model dividen konstan, >dividen >bertumbuh, dan dividen dengan beberapa tingkat pertumbuhan. >ntuk aliran kas bersih dan residual income, kita mempunyai model satu tahap >dan >banyak tahap (dua dan tiga tahap). > >Terakhir, metode price multiple mempunyai varians PER, PEG (price earning to >growth), PBV (price to book value), price to sales, price to cash flows, dan >EV/EBITDA (enterprise value to earnings before interest, taxes, depreciation, >& >amortization). > >Memahami banyaknya metode di atas, Anda tidak perlu kaget lagi jika valuasi >antaranalis saham tidak sama karena sangat mungkin mereka menggunakan metode >yang berbeda. Untuk metode yang sama saja, nilai wajar saham dapat berbeda >jika >asumsinya (tingkat diskonto dan tingkat pertumbuhan) berbeda. > > >Kesimpulannya, menghitung nilai wajar saham itu tidak hanya banyak caranya, >tetapi juga banyak hasilnya. > >Tip dari saya, hati-hati membaca laporan valuasi saham dari para analis. Jika >dia menargetkan nilai tertentu untuk sebuah saham, dia dapat melakukannya >dengan >mudah yaitu dengan mencari metode dan asumsi yang mendukung target harganya >itu. >. >Oleh : Budi Frensidy >Staf pengajar FEUI dan penulis buku Matematika Keuangan >
