Wah ya jangan dibiarkan mati tho, yang namanya anak jalanan itu kan 
bagaimanapun juga adalah manusia. Coba kalo ANda digitukan? mau? Itu namanya 
bukan mati sevara terhormat, namun mati sebagai seorang manusia yang sia-sia.
Apakah itu sebuah Eksploitasi..?? saya rasa bukan. Yang meksploitasi mereka 
pada dasarnya adalah para preman2 ataupun mafia2 yang mengkoordinir Anak2 
jalanan itu sehingga mereka tetap menjadi Anjal hingga sekarang. Tapi bukanlah 
caranya jika kita ber suudzon sehingga kita tidak mau meberikan rupiah bagi 
mereka..!!
Dengan memberikan mereka beberapa rupiah, itu bukanlah eksploitasi bagi mereka. 
Jika kita berpositive thinking, setidaknya uang itu dapa menyambung hidup 
mereka. MESKI HANYA SATU JAM...!! Atau pun jika Anda berpikir bahwa mereka 
dikoordinir oleh semacam mafia, Setidaknya kita bisa mengurangi sebuah pukulan 
yang diberikan oleh bos mereka hanya karena setoran mereka kurang.
Namun dibalik itu, sebenarnya memberi mereka uang masih adalah jauh lebih mulia 
daripada tidak. Meski itu hanya berefek pendek. Mau hal yang berefek 
panjang..?? jadikan mereka jadi anak asuh. Sekolahkan, dan penuhi kebutuhannya. 
Ini akan menjadi sebuah efek berantai bagi pahala dan amal anda untuk 
seterusnya. MAu tahu cara yang lain? ini saya lampirkan (di bagian paling bawah 
email ini) sebuah cerita dari eramuslim.com n moga berguna. Tak hanya mengentas 
anak jalanan, namun juga mengangkat mereka dan orang2 disekitar mereka, menjadi 
jauh lebih ......
Ingin sebenarnya saya juga melakukan apa yang saya katakan diatas. Namun apalah 
daya, diri ini masih SMA kelas 3, NAmun sungguh benar, bahwa jika kelak saya 
diberi Rizki yang berlebih dari Allah, Insya Allah akan saya usahakan untuk 
melakukan hal diatas. so doain saya ya..!!
sesama orang baru...   Salam kenal, aku jugabaru koq..   ^_^;

(Baca lampiran di bagian paling bawah email ini..)
  ----- Original Message ----- 
  From: [EMAIL PROTECTED] 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, April 18, 2005 11:10 AM
  Subject: Re: [Sarikata.com] anak jalanan
  Kalau menurut saya, berilah dan tidak usah berpikir macam-macam tentang
  mereka karena
  tak ada yang buruk dengan memberi, apalagi memberi dengan ikhlas dan dari
  kekurangan anda.
  Lebih baik memberi daripada menerima bukan?
  Salam.


  sari mawar <[EMAIL PROTECTED]> on 18/04/2005 10:43:51
  Please respond to [email protected]

  To:   [email protected]
  cc:    (bcc: Antonius S Santosa/1000/SJB)
  Subject:  Re: [Sarikata.com] anak jalanan


  kalau menurut saya, kalau anda mau memberi berilah, kalau tidak jangan.
  Jangan sampai apa yang anda berikan tidak menjadi berkat buat dia. Untuk
  urusan perkataan apakah itu mengeploitasi mereka, itu masalah yang bicara
  saja. Mungkin anda coba mencari cara lain dalam memberi. Kan memberi tidak
  harus berupa uang, mungkin dengan mengajarkan keterampilan yang anda
  miliki. Kalau soal peraturan pemerintah????????? jangan harap pemerintah
  memikirkannya, karena mereka sudah sibuk dengan pikiran mereka masing2
  bagaimana untuk mempertahankan kedududkan mereka di sana.
  Anak jalanan? ga tahu tuch?????Penting apa anak jalanan itu?(mungkin itu
  kali yach pikiran mereka)Semoga bisa berguna thanks.

  akubiru_85 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  halo, aku orang baru. namun aku tertarik mengemukakan satu pertanyaan
  yang selama ini mengganggu. apa memberi sedekah pada org2 di jalanan
  itu benar suatu eksploitasi terhadap mereka sendiri? burukkah itu? apa
  lebih baik membiarkan mereka mati begitu saja 'dgn terhormat'? (krn
  pemerintah kita belum scr jelas memberi perhatian terhadap hal ini.



  ::Berhenti Menjadi Pengemis

   

  Publikasi: 05/10/2004 11:18 WIB

  eramuslim - Selama ini, saya selalu menyediakan beberapa uang receh untuk 
berjaga-jaga kalau melewati pengemis atau ada pengemis yang menghampiri. Satu 
lewat, ku beri, kemudian lewat satu pengemis lagi, kuberi. Hingga persediaan 
receh di kantong habis baru lah aku berhenti dan menggantinya dengan kata 
"maaf" kepada pengemis yang ke sekian. 

   

  Tidak setiap hari saya melakukan itu, karena memang pertemuan dengan pengemis 
juga tidak setiap hari. Jumlahnya pun tidak besar, hanya seribu rupiah atau 
bahkan lima ratus rupiah, tergantung persediaan. 

   

  Sahabat saya, Diding, punya cara lain. Awalnya saya merasa bahwa dia pelit 
karena saya tidak pernah melihatnya memberikan receh kepada pengemis. Padahal 
kalau kutaksir, gajinya lebih besar dari gajiku. Bahkan mungkin gajiku itu 
besarnya hanya setengah dari gajinya. Tapi setelah apa yang saya lihat sewaktu 
kami sama-sama berteduh kehujanan di Pasar Minggu, anggapan saya itu ternyata 
salah. 

   

  Seorang ibu setengah baya sambil menggendong anaknya menghampiri kami seraya 
menengadahkan tangan. Tangan saya yang sudah berancang-ancang mengeluarkan 
receh ditahannya. Kemudian Diding mengeluarkan dua lembar uang dari sakunya, 
satu lembar seribu rupiah, satu lembar lagi seratus ribu rupiah. Sementara si 
ibu tadi ternganga entah apa yang ada di pikirannya sambil memperhatikan dua 
lembar uang itu. 

   

  "Ibu kalau saya kasih pilihan mau pilih yang mana, yang seribu rupiah atau 
yang seratus ribu?" tanya Diding 

   

  Sudah barang tentu, siapa pun orangnya pasti akan memilih yang lebih besar. 
Termasuk ibu tadi yang serta merta menunjuk uang seratus ribu. 

   

  "Kalau ibu pilih yang seribu rupiah, tidak harus dikembalikan. Tapi kalau ibu 
pilih yang seratus ribu, saya tidak memberikannya secara cuma-cuma. Ibu harus 
mengembalikannya dalam waktu yang kita tentukan, bagaimana?" terang Diding. 

   

  Agak lama waktu yang dibutuhkan ibu itu untuk menjawabnya. Terlihat ia masih 
nampak bingung dengan maksud sahabat saya itu. Dan, "Maksudnya... yang seratus 
ribu itu hanya pinjaman?" 

   

  "Betul bu, itu hanya pinjaman. Maksud saya begini, kalau saya berikan seribu 
rupiah ini untuk ibu, paling lama satu jam mungkin sudah habis. Tapi saya akan 
meminjamkan uang seratus ribu ini untuk ibu agar esok hari dan seterusnya ibu 
tak perlu meminta-minta lagi," katanya. 

   

  Selanjutnya Diding menjelaskan bahwa ia lebih baik memberikan pinjaman uang 
untuk modal bagi seseorang agar terlepas dari kebiasaannya meminta-minta. 
Seperti ibu itu, yang ternyata memiliki kemampuan membuat gado-gado. Di 
rumahnya ia masih memiliki beberapa perangkat untuk berjualan gado-gado, 
seperti cobek, piring, gelas, meja dan lain-lain. 

   

  Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya kami bersama-sama ke rumah ibu tadi 
yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berteduh. Hujan sudah reda, dan kami 
mendapati lingkungan rumahnya yang lumayan ramai. Cocok untuk berdagang 
gado-gado, pikirku. 

   

  *** 

  Diding sering menyempatkan diri untuk mengunjungi penjual gado-gado itu. 
Selain untuk mengisi perutnya -dengan tetap membayar- ia juga berkesempatan 
untuk memberikan masukan bagi kelancaran usaha ibu penjual gado-gado itu. 

   

  Belum tiga bulan dari waktu yang disepakati untuk mengembalikan uang pinjaman 
itu, dua hari lalu saat Diding kembali mengunjungi penjual gado-gado. Dengan 
air mata yang tak bisa lagi tertahan, ibu penjual gado-gado itu mengembalikan 
uang pinjaman itu ke Diding. "Terima kasih, Nak. Kamu telah mengangkat ibu 
menjadi orang yang lebih terhormat." 

   

  Diding mengaku selalu menitikkan air mata jika mendapati orang yang 
dibantunya sukses. Meski tak jarang ia harus kehilangan uang itu karena orang 
yang dibantunya gagal atau tak bertanggung jawab. Menurutnya, itu sudah resiko. 
Tapi setidaknya, setelah ibu penjual gado-gado itu mengembalikan uang 
pinjamannya berarti akan ada satu orang lagi yang bisa ia bantu. Dan akan ada 
satu lagi yang berhenti meminta-minta. 

   

  Ding, inginnya saya menirumu. Semoga bisa ya. 

   

  Bayu Gautama



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Kirim kontribusi cerita Anda ke http://www.sarikata.com/ sekarang juga !!
Untuk Unsubscribe, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke