Masyarakat Kalimantan Barat umumnya mengenal bahan makanan mie asin. Namun, ada masyarakat yang belum mengenal bahan makanan tersebut. Terutama bagi masyarakat pendatang. Mie asin merupakan makanan yang sudah diperkenalkan sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Termasuk diantaranya, perusahaan mie asin di Kota Singkawang.
Ada beberapa pengusaha yang memproduksi mie asin. Satu diantaranya Lim Sie Fui. Ia biasa dipanggil A Fui. Pabrik pembuatan mie ini, berada di Jalan Kridasana Singkawang Tengah. Ia melanjutkan usaha turun temurun. Dirinya termasuk keturunan ketiga yang ikut mengembangkan. Pertama didirikan oleh kakeknya. Kemudian diturunkan pada ayah, lalu diturunkan kepadanya. A Fui mengatakan, pabrik pembuatan mie asin termasuk pabrik yang sederhana. Akan tetapi, kegiatannya tidak kalah sibuk dengan pabrik besar. Setiap hari kegiatan produksi membuat mie asin dimulai pada pukul 06.30 Wib, dan selesai kira-kira pada pukul 17.30 Wib. Yosef, salah seorang pegawai A Fui mengatakan, pembuatan mie asin melalui proses cukup panjang. Pertama, membuat adonan mie yang terdiri dari tiga macam bahan dasar, tepung terigu, air dan garam. Setelah jadi, adonan berulang kali dimasukan pada mesin penggiling, agar mendapatkan hasil yang sama ukuran tipisnya. Kemudian, adonan yang telah berbentuk gulungan-gulungan tipis, dianginkan beberapa saat. Gulungan adonan kemudian dimasukan ke mesin pengiris. Mesin inilah yang mengubah bentuk adonan yang semula berbentuk gulungan tipis, menjadi helai-helai mie asin. Setelah berbentuk helai, mie asin dijemur selama satu atau dua jam. Waktu yang diperlukan pada saat menjemur tergantung pada cuaca. Semakin cerah atau panas cuaca saat penjemuran, semakin cepat proses penjemuran. Setelah kering, helai-helai mie dikukus dalam tong khusus yang terbuat dari kayu selama kurang lebih satu jam. Kemudian, mie-mie itu didinginkan selama beberapa menit, lalu diikat dan seterusnya dimasukan ke dalam kemasan plastik. "Semakin baik proses pembuatan mie asin ini, semakin lama pula ketahanan mie asin," kata A Fui. Untuk proses sempurna, biasanya mie asin bisa tahan dua hingga tiga bulan lamanya. Menurut A Fui, usaha pembuatan mie asin tidak begitu banyak mendapatkan keuntungan. Namun demikian, ia bisa menghidupi empat karyawan, istri serta anak-anaknya. Dalam mengelola mie asin, A Fui pernah merasakan kesulitan keuangan. Itu terjadi pada pertengahan 2007. Hal itu disebabkan, harga bahan baku mie atau tepung terigu mengalami kenaikan harga. Harga yang semula berkisar Rp 90.000/karung, bergerak naik terus setiap minggu, hingga mencapai harga berkisar Rp 170.000/karung. Walaupun terkadang merasakan kesulitan keuangan, namun A Fui mengaku tetap mendapatan hasil kotor perhari berkisar Rp 300 ribu hingga 400 ribu rupiah. Lumayanlah, untuk hidup. Sumber : www.borneo-tribune.net
