Perdamaian dunia Islam saat ini masih sebatas impian belaka. Konflik merebak di
mana-mana, bahkan tak jarang menimpa sesama umat Muslim. Padahal, mereka
sama-sama menganut keyakinan yang mengajarkan cinta, belas kasihan, dan
toleransi atas nama Allah. Berbagai kelompok yang menyebut diri mereka sebagai
umat Muslim kini justru melakukan pertumpahan darah kepada orang-orang tak
bersalah, termasuk di kalangan umat Muslim itu sendiri.
Tidak berlebihan jika konflik global, yang sekarang ini justru banyak terjadi
di negara-negara Islam, sangat dirisaukan. Perang Palestina-Israel tak
berkesudahan, begitu pula sejumlah konflik seperti Irak, Pakistan, Afghanistan,
Sudan, hingga negara-negara di kawasan Balkan.
Perjuangan kemerdekaan kelompok Muslim di Pattani (Thailand Selatan) dan
Mindanao (Filipina Selatan) juga tidak luput menyisakan kisah tragis
berkecamuknya konflik di wilayah Muslim. Sejumlah konflik memang dipicu
perlawanan atas kesewenang-wenangan rezim penguasa yang non-Muslim. Tetapi,
deraan konflik kekerasan banyak yang menyeruak di antara sesama umat Muslim.
Sementara, Islam dari substansi ajarannya adalah agama yang mencintai
perdamaian, toleransi, dan menolak kekerasan.
Persoalannya, persepsi umat Islam tentang akar penyebab konflik di dunia Islam
belum sama, apalagi untuk orang-orang yang di luar Islam. Keragaman persepsi
tentang akar konflik di negara-negara Muslim itulah yang sangat dicermati oleh
para peserta dari 64 negara yang menghadiri Konferensi Internasional
Cendekiawan Islam (ICIS) ketiga, pada 29 Juli - 1 Agustus. Konferensi yang
diselenggarakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan Departemen Luar
Negeri bertema "Upholding Islam as Rahmatan lil 'Alamin: Peace Building and
Conflict Prevention in Muslim World".
Sejalan tema itu, berbagai kasus konflik kekerasan di dunia Muslim mulai dari
Afghanistan, Pakistan, Irak, Lebanon, Maroko, Iran, Palestina, Sudan, Filipina
Selatan, hingga Thailand Selatan, dibahas dalam sesi-sesi konferensi. Dua
konferensi sebelumnya diselenggarakan pada Februari 2004 dan Juni 2006.
Globalisasi
Penelusuran akar konflik diyakini sangat penting untuk mendorong pemajuan
perdamaian di negara-negara Muslim. Konflik, menurut sebagian kalangan, dipicu
problem internal di negara-negara Muslim.
Misalnya, buruknya hubungan antara Islam dengan negara, pemerintahan yang
lemah, ketidaksiapan berdemokrasi, hingga ketimpangan pembangunan ekonomi.
Sementara itu, kalangan lain berpendapat, konflik di dunia Muslim sebagian
besar dipicu faktor-faktor eksternal. Misalnya, ketidakadilan sosial, warisan
kolonialisme di masa lalu, serta perebutan sumber-sumber alam.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan kesenjangan ekonomi akibat
globalisasi jadi salah satu penyebab munculnya konflik di negara-negara Muslim.
Mengacu UN Human Development Index yang terbaru, hanya sembilan negara di dunia
Muslim yang masuk kategori negara-negara maju. Secara rata-rata, sekitar 40
persen penduduk dewasa di tiap negara Muslim masih buta huruf. Hampir 40 persen
umat Muslim hidup di bawah garis kemiskinan. Jutaan warga Muslim hidup dengan
penghasilan di bawah satu dolar per hari. Negara-negara Muslim hanya memberikan
kontribusi sebesar tujuh persen dari perdagangan antarnegara di dunia serta
13,5 persen untuk total perdagangan valuta asing. Padahal, dunia Muslim memasok
70 persen kebutuhan energi dunia serta 40 persen bahan baku yang diubah
industri-industri dunia menjadi produk-produk konsumen. Umat Muslim sendiri
menempati 20 persen penduduk dunia.
"Wajar jika kemiskinan yang dirasakan mayoritas umat Muslim tidak bisa
ditolerir," kata Presiden Yudhoyono, saat pembukaan konferensi, Rabu pagi.
Faktor Eksternal
Setelah dicermati, para peserta konferensi sepakat jika konflik di
negara-negara Muslim sebagian dipicu faktor eksternal. Agama juga ditegaskan
bukanlah penyebab konflik di negara-negara Muslim. "Ada sejumlah faktor lain,
di antaranya eksploitasi politik, ekonomi, dan sosial," ungkap Masykuri
Abdillah, ketua panitia penyelenggara, tentang kesimpulan konferensi yang
ditutup secara resmi oleh Menlu Hassan Wirajuda, Jumat (1/8) pagi.
Ayatollah Mohammad Ali Taskhiri, ulama dari Iran, mengatakan kekacauan di
negara-negara Islam tidak bisa dilepaskan dari campur tangan Barat. "Penyebab
paling utama dan terbesar dari munculnya kekacauan di negara-negara Islam lebih
cenderung dipicu faktor eksternal, terutama eksploitasi oleh negara-negara
Barat," ungkap Ali Taskhiri.
Sulaiman Hassan Qeeq, cendekiawan Palestina, menyebutkan tekanan dan
penderitaan Bangsa Palestina dipicu penjajahan Israel. "Palestina terjajah
sejak 60 tahun lalu, bahkan lebih," kata Sulaiman. Umat Muslim sejatinya punya
paradigma berpikir bahwa setiap manusia memiliki kemerdekaan. Tetapi,
kemerdekaan Bangsa Palestina terampas oleh penjajahan Israel yang didukung
sekutu-sekutu Baratnya.
"Konflik di Palestina sama sekali bukan konflik agama antara Islam, Kristen,
maupun Yahudi, melainkan konflik antara penjajah dan yang dijajah," tegas
Sulaiman.
Ketertindasan di sisi lain disepakati tidak bisa dijadikan alasan munculnya
kekerasan. Rais 'Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Sahal Mahfudz,
mengatakan Islam sebagai agama yang memiliki prinsip rahmat bagi seluruh alam
semesta (rahmatan lil'alamin) telah mengajarkan perdamaian yang dibingkai dalam
kerangka toleransi.
"Hidup toleran dimulai dari sikap keberagamaan yang hanief, bahwa hidup adalah
untuk kedamaian, bukan untuk kekerasan," kata Kiai Sahal. Di dalam Islam,
hubungan antara warga dalam suatu komunitas diatur dengan prinsip kerja sama,
toleransi, dan ajakan damai.
Kekerasan dan kerusakan di muka bumi sama sekali tidak diajarkan oleh Islam.
"Islam tidak sekadar menjadi rahmat bagi pengikutnya, tetapi lebih dari itu
menjadi rahmat bagi pengikut agama yang lain, umat lain, dan bahkan semua
makhluk yang diciptakan Tuhan," tegas Kiai Sahal.
"Dan sesungguhnya sebaik-baik agama di sisi Allah adalah semangat pencarian
kebenaran yang lapang (al-hanifiyah al-samhah)," sabda Nabi Muhammad SAW.
Ucapan itu setidaknya memberi dasar bagi terwujudnya masyarakat, bangsa, dan
agama yang toleran, termasuk di dalam menyikapi tantangan hidup yang dihadapi.
[SP/Elly Burhaini Faizal]