saya setuju karo bukanlah batak
________________________________ Dari: robinson g munthe <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Ming, 18 Juli, 2010 13:02:37 Judul: Re: [tanahkaro] Kenapa (harus) Karo Bukan Batak? Jika kita tidak setuju dipanggil Batak, katakan "aku bukan Batak tapi Karo". Jika kita ingin Karo sebagai sebuah etnis lebih dikenal dan eksis, gunakan segala media menyebarluaskan Karo, terutama prestasi yang diraih putra-putri Karo. Jika kita peneliti atau antropolog ingin Karo tidak dikaitkaitkan lagi dengan Batak, baik oleh orang Karo sendiri maupun orang luar Karo, lakukan penelitian yang mendalam dan komprehensif bahwa Batak dan Karo tidak ada hubungan sama sekali. Lalu (bila perlu) bikin Kongres Kebudayaan Karo atau Deklarasi Karo atau apapun namanya dan deklarasikan disitu bahwa Batak dan Karo tidak ada hubungan (budaya). Saya rasa orang di luar Karo tidak ada yang keberatan dan barangkali polemik penggunaan istilah Batak dan Batak Karo menjadi reda. RGM --- On Sat, 7/17/10, Alexander Firdaust <daustco...@yahoo. com> wrote: >From: Alexander Firdaust <daustco...@yahoo. com> >Subject: [tanahkaro] Kenapa (harus) Karo Bukan Batak? >To: infok...@yahoogroup s.com, tanahk...@yahoogrou ps.com, komunitaskaro@ >yahoogroups. com >Date: Saturday, July 17, 2010, 8:01 PM > > > >Jones Gultom > >Identitas Karo dalam kaitannya dengan Batak, kembali digugat. Gugatan ini >dalam >sebuah diskusi bersama Antroplog Karo, Juara Ginting di Rumah Buku, Padang >Bulan, beberapa waktu lalu. > > >Dalam kesempatan itu, Juara mengajak para peserta diskusi yang notabene, >Mahasiswa Karo USU, mempertanyakan kembali latarbelakang kata Batak yang >lazim >disematkan pada sukunya. > >“Kenapa mesti ada embel-embel Batak, jika tak ada kaitan antara Batak dengan >Karo?” Tanya Juara. Sudah sejak lama prokontra itu muncul ke permukaan, >terutama di masyarakat Karo. Menurut penulis, mulanya polemik ini muncul >sebagai imbas dari persepsi keliru, dimana ketika menyebut Batak, masyarakat >seolah-olah terbayang deskripsi akan sub etnis Batak tertentu (Toba). Mungkin >tak menjadi soal, jika Batak Karo, Batak Toba, Batak Simalungun serta Batak >lain duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. > >Apa yang digugat Juara lebih dari itu. Secara ekstrem, dosen USU ini sama >sekali menentang penggunaan kata Batak dari Karo. “Bilapun posisi >masing-masing kelompok masyarakat Sumatera Utara ini normal, tetap saya tak >setuju jika Karo dianggap Batak. Karo punya standar adat-istiadat yang >mandiri. >Kalaupun ada kemiripan jangan langsung diklaim, harus dilihat dari banyak >sisi.” > >Penggunaan kata “Batak” terutama di masa kolonial Belanda, digunakan untuk >mendiskreditkan sekelompok masyarakat yang dalam buku “Riwayat Poelaoe >Soematra” karangan Dja Endar Moeda (1903); “Adapoen bangsa jang mendoedoeki >residetie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata “Batak” >itoe >pengertiannja; orang pandai berkuda. Masih ada kata “Batak” jang terpakai, >jaitoe “mamatak”, jang ertinja menaiki koeda. Kemoedian hari orang >perboeatlah >kata itoe djadi kata pemaki kepada bangsa itoe…” > >Dari versi ini terlihat, penggunaan kata “Batak” yang kemudian dibubuhi >nuansa >negatif itu, berlaku bagi setiap kelompok masyarakat yang secara >administratif >bermukim di persekitaran Tapanuli (Silindung-Humbahas -Toba-Samosir) yang >melakukan perlawanan terhadap Belanda. Kemudian jika, batas geografis itu >menjadi faktor, pertanyaannya, mengapa pula “Perang Sunggal” disebut Belanda >sebagai “Batak Oorlog” (Perang Batak)? > >Beberapa Pengertian Budaya > >Beberapa perkataan “Batak” nyaris ditemui di semua suku di Sumut. Di Pakpak >Dairi berbunyi:“Mmas Batakn mahan gmgmmn laho mahan tabungn, biat ni kata >mahan >sungkunn mndahi kalak sipantas singg ddang radumn”. Maksudnya adalah mmas >batak >dijadikan warisan (homitan) dibuat menjadi tepak sirih, sudah sepantasnya >tempat untuk bertanya itu adalah orang yang mengetahui. Mmas Batakn diartikan >sebagai serbuk emas dulangan menjadi emas murni atau logam mulia. > >Di Karo dikenal upacara mbatak-mbataken; yakni mengembalikan roh penjaga >(jinujung) kepada seseorang. Seorang Karo yang hendak mendirikan rumah, juga >melakukan “Ibatakkenmin adah nda”, yakni ritual meratakan tanah, agar rumah >yang akan dibangun diberkahi. > >Pada Simalungun, terdapat perkataan “Batak” antara lain ” Patinggi ma batohon >i, ase dear sabahtaon”. Artinya, tinggikanlah benteng agar bagus sawah kita >ini. >Di luar itu, di masyarakat Pilipina konon ada satu pulau yang bernama “Batac” >(huruf “c” di belakang). > > >Konon pengertian kata “Batac” di sana juga mencerminkan makna sesuatu yang >kokoh, kuat, tegar, berani, perkasa? Sejumlah kata yang sama ucap dan >pengertiannya, juga ditemukan di pulau itu, seperti; “mangan” (makan), >“inong” >(inang), “ulu” (kepala), “sangsang” (daging babi cincang dimasak pakai >darahnya). > >“Akuisisi” Gereja dan PKI > >Menurut Lembaga Penelitian dan Studi GBKP seperti dikutip penulis dari www. >Permatabethesda, perkabaran Injil di Karo, dibagi atas dua kurun waktu. >Pertama >tahun 1890-1906 yang disebut waktu Permulaan. Kurun waktu kedua disebut masa >Penanaman dan Penggarapan (1906-1940). > > >Bisa dikatakan, penginjilan di Karo, tak disengaja. Awalnya merupakan >strategi >Belanda untuk memuluskan aksi dagangnya di Karo. Waktu itu, keberadaan >Belanda >ditentang habis-habisan karena mengambil tanah rakyat untuk ditanami tembakau. > >Untuk meredamnya, Belanda melakukan pendekatan agama, yakni pengabaran injil. > >Upaya itu berhasil. Lantas, Kepala Administrasi Deli Mij, Mr. J.T. Cremer, >mengadakan perjanjian dengan Nederlandsche Zending Genoothchac (NZG), sebuah >zending yang ada di Belanda untuk mengirim tenaga-tenaga tambahan Pengabar >Injil ke Deli. > >Melihat dinamika itu, sejak 1939 upaya untuk memandirikan Karo mulai >dirintis. >Pada 1940, dikirimlah dua guru injil pribumi, masing Palem Sitepu dan Thomas >Sibero ke sekolah Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Sipaholon. Keduanya > >menyelesaikan studi pada pertengahan sidang Sinode Pertama, yang menetapkan >nama Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) di Sibolangit tanggal 23 Juli 1941. > >Sebelumnya, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang dirintis Nommensen >(Jerman) sendiri, dianggap simbol keberhasilan kerja misionaris di Tanah >Batak, >sekaligus merupakan Kristen Lutheran yang pertama ada di Tanah Batak. Euforia >kejayaan Jerman mengkristenkan Batak yang sarat herois ini, kemudian >diberlakukan bagi kelompok-kelompok masyarakat Kristen lain, termasuk Karo. >Bisa disebut, masyarakat Kristen Karo yang “bentukan” Belanda, itu >“diakuisisi” >Jerman menjadi Batak. > >Setelah fase itu, perkembangan GBKP, menurut Juara, tak serta merta pesat. >Banyak masyarakat Karo yang belum memilih Kristen sebagai afiliasi >keyakinannya. Di antaranya, masih menganut ajaran-ajaran yang bercikal pada >tradisi leluhur mereka. Kemudian meletuslah pemberontakan PKI tahun 1965. >Dalam >rangka pembumihangusan PKI, pemerintah menyusup ke daerah-daerah, terutama >yang >masyarakatnya belum menganut identitas agama resmi versi pemerintah. > >Kesan yang dihembuskan pemerintah waktu itu, menyiratkan PKI identik dengan >masyarakat yang belum mengenal agama dan mesti dibantai. Stereotif itu >memaksa >kelompok masyarakat tradisi Karo harus menganut salah satu agama. Karena >kedekatan emosional, mereka kemudian memilih GBKP sebagai identitasnya. Sejak >itu, jemaat GBKP membludak, sehingga berkembang mindset, setiap Karo yang >Kristen adalah GBKP. GBKP sudah pasti Batak. > >Bagaimana pun penggalan-penggalan kisah ini merupakan sekelumit sejarah yang >mengiringi perjalanan Karo sebagai Batak. Menurut saya, Batak hanyalah sebuah >induk, predikat umum yang menjelaskan Karo, Toba atau Simalungun yang mapan. >Mestinya semangat identitas masing-masing tak perlu ditanggapi secara “buta”, >sembari juga perlahan-lahan menghapus hegemoni dan klaim-klaim yang cenderung >membuat kita primordial. > >Sumber: http://www.analisad aily.com/ index.php? option=com_ >content&view=article&id=62217:kenapa- harus-karo- >bukan-batak&catid=127:artikel&Itemid=150 > >Salam Mejuah Juah > >Karo Cyber Community > >
