Sip..

Saya kira terlalu sering kita memandang dari sisi Batak tapi tidak dari sisi 
Karo. Orang Batak bukan orang Karo dan sebaliknya..

Persamaan Karo dengan Batak ya sama-sama keturunan Adam itu saja.



--- Pada Sen, 19/7/10, Inigo Tarigan <[email protected]> menulis:

Dari: Inigo Tarigan <[email protected]>
Judul: Re: [tanahkaro] Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?
Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Tanggal: Senin, 19 Juli, 2010, 8:39 AM







 



  


    
      
      
      Kolonialisme dan Etnisitas - Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut
  
Doktoral Daniel Perret ini, menambah khasanah kita tentang Karo sebelum 
kemerdekaan. Meski bukan kajian etnik semata, tetapi banyak menyinggung masalah 
etnisitas Karo dari yang lainnya. Termasuk terminilogi Batak yang mencakup 
aspek sosial, budaya, politik dan ekonomi. 
Batak dalam literatur baru dikenal dalam laporan Nicolo de’Conti (1430) yang 
selama setahun tinggal di Scimuthera (Kerajaan Samudra) di pantai timur 
sumatera. Disebutkan nama tempat tempat Batech, sebagai populasi yang bersifat 
kanibal dan gemar berperang. Selanjutnya dalam laporan terkenal Tome Pires, 
Suma Oriental (awal abad ke-16). 
Adalah F. Mendes Pinto, orang Eropa pertama yang masuk ke pedalaman Sumatera 
Utara yang merekamnya secara tertulis dalam Peregrination. Diantaranya catatan 
tentang adanya kunjungan duta raja orang Bata ke kapten Melaka yang baru Pedro 
de Faria di tahun 1539. Mendes juga yang mencatat pertama kamu adanya 
masayarakat Aaru di pesisir timur laut Sumatera dan mengunjungi rajanya yang 
muslim. Sementara itu, dua puluh tahun sebelumnya, Duarte Barbosa sudah 
mencatat tentang kerajaan Aru yang ketika itu dikuasai oleh orang kanibal 
penganut paganisme.
Tak sedikit, sejak istilah Batech (Nicolo de’Conti), diikuti juga dengan Bata 
(Tome Pires, Mendes Pinto), Batang (Sidi Ali Celibi, 1954), Batas (Joao de 
Barros, 1563). Hingga kemudian Beaulieu (1629-1621), laporan Tionghoa 
(tertanggal 01/03/1701), Hamilton (1727) dan Charles Miller (1772), sampai 
akhirnya William Marsden (1783) membuat pembedaan Carrow dan Batta, dilanjutkan 
John Anderson (1823) yang mendeskripsikan pembedaan Mandiling atau Kataran, 
Pappak, Tubba, Karau-karau, Kappak dan Alas
Dalam buku bersampul warna biru (warna kebangsaan Karo? –hal 70) ini, diuraikan 
juga ruang geografi (peta Batak) versi ‘orang Eropa’ berturut-turut versi 
Junghun (1841), Collet (1925), Kennedy (1945), Cunningham (1958), Reid (1979) 
dan Sibeth (1991) (hal 63). Fakta ini menunjukkan berbagai kepentingan yang 
melandasi kawasan stategis Sumatera Utara sejak jaman pra sejarah hingga saat 
ini dan juga masa mendatang (Penulis) 
  
Batak sebagai terminologi perlawanan 
Sebagai sebuah karya ilmiah, Perret sangat hati-hati dalam menempatkan mitos, 
walaupun tidak sepenuhnya mengabaikannya bahkan cukup memberikan suatu kerangka 
pikir dalam menguraikan hipotesa-hipotesany a. 
Catatan tentang Sumatera, diawali dengan tulisan geograf Yunani, Ptolomeus 
(abad ke-2) yang menggambarkan Sumatera sebagai kawasan ‘berbahaya’ yang dihuni 
orang pemakan manusia, (hal 55) menjadikan belahan Timur dunia ini menjadi 
kawasan yang dirahasiakan dari kekayaan alamnya kamper dan kemenyan sebagai 
bahan yang lebih mahal dari emas saat itu (Penulis). Yang pasti transaksi 
dagang bahan baku mumi (kamper dan kemenyan) sudah terjadi saat itu dan masih 
terus dilakukan oleh pedagang dari daratan Asia Timur, Asia Selatan juga dari 
Timur Tengah hingga abad ke-10. (hal 55)
Perkembangan pelayaran Eropa (Perret tidak menyakan demikian, tetapi penemuan 
Selat Malaka, oleh bangsa Eropa mengakibatkan pantai timur Sumatera menjadi 
lebih ramai dari sebelumnya),  yang akhirnya mencatat pergeseran kepentingan 
dari pantai barat menuju pantai timur Sumatera.  Tercatat, pertanaman komoditi 
lada juga gambir dan kapas sebagai awalan, dilanjutkan  tembakau di tahun 1863, 
sejak kedatangan Jacob Nienhuys ke tanah Deli (Medan). Diawali pembukaan 
percontohan seluas 75 hektar hingga konsesi 2000 bouw (1 bouw = 0,7 ha) di 
tahun 1865, selanjutnya di tahun 1868 sudah ada 6 perkebunan yang menghasilkan 
lebih dari 200 ton tembakau. Di tahun 1869 berdiri Deli Maatschappij dan
 Nederlandsche Handel- Maatschappij dengan luasan lahan 7.000 hektar (hal 181) 
Penambahan luasan perkebunan ini menjadikan Deli sebagai kota multi etnik 
dengan masuknya tenaga kerja dari Pinang-Singapura (China dan Keling), orang 
Banjar dari Kalimantan juga orang Jawa dari Semarang, termasuk orang-orang dari 
pegunungan (Karo) juga dari selatan Danau Toba. 
Peningkatan ekspor tembakau berbanding terbalik dengan ekspor lada dan pala , 
hal ini disebabkan matinya tanaman dan ‘kerusuhan yang terus-menerus’ di 
pedalaman yang disertai dengan ‘perusakan tanaman’ (hal 183)
Pembukaan Terusan Suez, mendorong maraknya perdagangan pendatang, sehingga 
luasan areal meliputi Langkat, Serdang juga Urung Hamparan Perak dan berlanjut 
ke Urung Sunggal. Tahun 1872, ketika ‘Perang Batak’ (de Batak Oorlog) meletus, 
pada saat yang sama hampir semua datuk dan kejuruan memiliki perkebunan lada 
dan pala dan mempekerjakan buruh-buruh yang berasal dari pegunungan (hal 185)
Kepentingan dagang ini akhirnya mendorong terjadinya perlawanan dari Urung 
Sunggal (dan orang gunung) dengan Maskapai (dan Sultan) yang menggiring pada 
penggunaan istilah ‘Batak Oorlog’ yang tidak tepat, karena secara tidak 
langsung telah menciptakan Melayu di pihak lain dan seolah menjadi perang 
etnik.  Sebagaimana diketahui juga di 1878 berawal juga pemberontakan Si 
Singamangaraja XII  di utara Tapanuli, hal ini semakin menegaskan ‘Batak’ 
sebagai sebuah kepentingan politik. Pemisahan Batak-Melayu ini diperkuat dengan 
penunjukan Kontrolir urusan Batak di akhir tahun 1880 serta berlakunya adat 
peradilan Dusun (yang disusun dalam bahasa Karo) oleh seorang Kontrolir di
 tahun 1909.  
  
Batak sebagai daerah enclave 
Hubungan Si Singamangaraja XII dengan Aceh berlangsung cukup baik, hingga 
akhirnya mengungsi dan tewas di pedalaman Singkel pada 1907. Demikian juga 
Datuk Kecil Baru (Sunggal) dengan Alas, pasca pernikahan puterinya dengan 
pemimpin Alas. Sejak perang Aceh 1873, timbul kekhawatiran berkembangnya 
Kerajaan Aceh hingga ke Minangkabau yang bertabrakan dengan kepentingan 
kolonial. Pada saat yang hampir sama, di tahun 1880, Rheinische 
Missionsgesellscaft telah sukses membangun 25 cabang di wilayah 
Sibolga-Sipirok- Bahal Batu, hal ini terjadi setelah 20 tahun sebelumnya 
didirikana 4 post pertama. Pada waktu itu misionaris telah membaptis 5.000 
penduduk asli, kemajuannya pesat hingga mencapai  400.000 di tahun 1929 (hal 
257). Namun demikian misi yang dilakukan Nederlandsche Zendelinggenootscha p 
mengalami keterlambatan, yakni
 berkisar 500-an di tahun 1910 sejak 20 tahun sebelumnya dan baru mencapai 
2500-an di tahun 1930 (hal 267). Meski demikian, hal ini cukup efektif 
membentuk barrier peluasan dan perlawanan Kerajaan Aceh. Walau akibatnya justru 
menimbulkan masalah baru, terbentuknya identifikasi baru Melayu/Islam dan 
Batak/Kristen. Padahal sebenarnya di tahun 1874 Tuanku Raja Hitam dari Aceh 
cucu mantan sultan Deli pergi ke Tanah Gayo dan Alas untuk mengobarkan 
pemberontakan rakyat melawan Deli. 
Walau demikian tak terbantahkan, adanya intervensi kolonial yang memberi 
kemudahan kepada misi dalam pendirian kedai, sebaliknya melarang Haji Talib 
asal Binjai yang didatangkan Sibayak Kabanjahe. Sebaliknya dalam sebuah kerapan 
tahun 1901 sultan Deli melarang kepala-kepala di pedalaman memeluk agama 
Kristen (hal 237)
  
Batak ‘Sekolahan’ 
Perkembangan misi di daerah selatan danau Toba, mendorong percepatan 
pembangunan kesadaran pendidikan, ditambah kedekatannya dengan Minangkabau. 
Pada akhir 1909 Tapanuli sudah mempunyai 365 sekolah dan di tahun 1938 Huria 
Kristen Batak telah mengelola 584 sekolah dengan 50.000 siswa yang orang tuanya 
Kristen, Islam juga penganut kepercayaan setempat (hal 259). Sebaliknya di 
pegunungan di tahun 1910 baru mencapai 2000an siswa (hal 267). 
Banyak pertanyaan timbul dalam masyarakat Karo, dalam hiruk pikuk perubahan 
tersebut. Berbagai pertanyaan dan keragu-raguan menjawab lambatnya 
berkembangnya Kristenisasi, sebaliknya perusakan identitas nasional Karo justru 
terdengar di tahun 1929 (hal 306). 
Kondisi ini berakibat terus pada masa berikutnya, hingga terbangunnya kesadaran 
Batak baru dikalangan intelektual Tapanuli, Batak yang semula sebagai sebuah 
ejekan dijunjung menjadi kebanggaan dan ikatan solidaritas baru. Tahun 1920 di 
Kabanjahe, sewaktu pesta derma Hatopan Kristen Batak, Abdullah Loebis 
menyinggung masalah ekonomi dengan menjelaskan betapa ‘bangsa Batak’ 
ketinggalan dibandingkan ‘bangsa-bangsa lainnya’ (hal 363). Solidaritas Batak 
dibangun guna memperhadapkan dengan orang Banjar. Persaingan di tingkat 
nasional dengan pemuda Minangkabau dalam  Jong Sumatera melahirkan Jong Batak 
(Penulis). 
Sementara itu, kebangkitan kesadaran pendidikan orang Mandailing justru ingin 
menanggalkan identitas Batak. Pertentangan dua kelompok ini sedemikian terbuka, 
digambarkan dalam beberapa kasus dalam surat khabar, bahkan memsasuki ranah 
peradilan (hukum) (hal 321). Pun di dalam internal Toba, istilah Batak dan 
Tapanuli dipertentangkan (hal 326). 
Walau demikian Pemerintah, tetap memberi dukungan kepada identitas baru ‘Batak’ 
ini dengan pameran benda Batak yang diselenggarakan di Deli (1916), di Batavia 
(1919) serta rencana pameran di Balige (1922) dengan syarat semua orang Batak 
(Tapanuli, Simalungun, Karo) bekerja sama  Tahun 1925 Ooskust van Sumatra 
Comite meresmikan musium etnografi yang dihadiri sejumlah tokoh masyarakat 
‘Batak’ dikunjungi oleh 519 orang Eropa dan 161 bukan Eropa (hal 303-304).
  
Agenda-agenda perubahan Karo 
Peran-peran awal perubahan (1890) banyak didukung oleh pemimpin tradisional 
yang terkenal ketangguhan bersenjata mereka, misanya Pa Mbelgah, Sibayak 
Kabanjahe.  Di tahun 1907, Pa Sendi, Sibayak Lingga banyak terlibat kerjasama 
dalam membangun dataran tinggi. Kecerdasan, kharisma, kemajuan ekonomi demi 
kesejahteraan rakyatnya dengan cepat menghantarnya menjadi pemimpin terpenting 
dalam seluruh onderafdeeling Karolanden (hal 331). Tahun 1915 ia melakukan 
studi banding ke Padang perihal pengelolaan bank rakyat ‘Ialah’, jumlah bank 
kampung (dorpbanken) berkembang mencapai 33 buah. Juga berperan dalam pendirian 
Neutrale Hollandsche Indlandsche School di Kabanjahe tahun 1922 sekolah 
kerajinan tangan tekstil di Lingga dan Batukarang juga bengkel besi di Lingga. 
Lebih dari yang diikatakan Abdullah Loebis, dalam pesta derma Hatopan Kristen 
Batak (1920) bahwa Karo, Simalungun, Pakpak, Toba dan Mandailing membentuk satu 
bangsa yang sama yaitu bangsa Batak.   
Di tahun 1935 setelah meninggalnya Pa Sendi setahun sebelumnya, Gubernur 
Pesisir Timur mengangkat anaknya Raja Kelelong sebagai Sibayak Lingga baru, 
dengan penobatannya diiringi pengangkatan sumpah menurut adat setempat, 
panggung resmi beratap khas daerah berikut bendera nasional Karolanden (lima 
bintang putih berlatar hitam) (hal 332).
Pada saat bersamaan juga di tingkat masyarakat, terbentuk kesadaran baru dengan 
hadirnya berbagai macam perkumpulan. Persadan Batak Karo (1919) diketuai 
Mohammad Noech yang bergerak dalam lapangan pendidikan dan pertanahan, termasuk 
di  Sarikat Penoeloeng  (1919) diektuai Sutan Dewasa di Arnhemia, Persadan 
Batak Karo Kangkat Hoeloe (diketuai Langgar) di Tanjunglangkat, bergerak dalam 
solidaritas menghadapi ‘kekuasaan baru’ kesultanan. Moesjawarat Setia Karo 
Medan (1928) diketua Mboelgah Sitepu (pemimpin koran Tjermin Karo). Tahun 1939, 
Comite Pertemuan Karo di Medan, menyelenggarakan malam hiburan diantara 
‘Indonesia Batak Karo’. Selain itu juga Ripe Kematen di Rumah Mbacang, Persadan 
Karo di Siantar, Perkoempoelan Ripe “ Sisampat-sampaten” di Ujung Labuhan.
Juga media massa, Soeara Karo dan Sendjata Karo oleh Nerih Ginting di 
Kabanjahe, Tjermin Karo (1924-1925) oleh Mboelgah Sitepu,  Pandji Karo (1929) 
di Kabanjahe, Sinalsal  (1931) di Simalungun, Merga Si Lima (koran Kristen), 
Anak Batak  (1932) diterbitkan Perkumpulan Bintang Karo di Berastagi, Poetra
 Karo (1935) milik Sibayak Ngianken Sinoelingga dan Sibayak Geleren Sinoelingga.
Bulan Maret 1934, perkumpulan Setia Karo, memutuskan membuat terbitan sendiri 
dengan tujuan membantu anggotanya dari berbagai masalah yang berkaitan dengan 
adat. Pendirian Sjarikat Tani Indonesia (SETIA) pada Juni 1938 juga didorong 
untuk melindungi adat Karo, yang lahir dari sekumpulan petani dari pedalaman 
Deli dengan dukungan penuh sebuah partai nasionalis Gerakan Rakyat Indonesia. 
Perkumpulan SETIA terus berkembang dan menjadi komunitas tertutup di tahun 
1942, saat kedatangan Jepang yang mempunyai anggota sekitar 2.000 orang yang 
berasal dari 300 kuta (hal 359 – 361).
  
Catatan akhir Penulis: 
1.       Entitas Karo sebagai satu etnik, jelas berbeda dengan Toba dan 
Simalungun juga dengan Alas, Gayo, Mandailing bahkan Melayu dlsb. 
2.       Batak tidak semata terminologi etnik, juga merupakan terminologi 
politik, ekonomi dan sosial yang didalamnya selalu bersinggungan dengan masalah 
riil masyarakat di jamannya.
3.       Pemunculan Karo sebagai etnik , kawasan maupun ‘kepentingan’ 
seharusnya tidak semata kebutuhan identitas kekinian, tetapi merupakan 
historical process dari masa lalu hingga masa mendatang yang melampai wadah 
maupun kategori-kategori, yang kadang justru menjebak.
 
 
  
 


      

    
     

    
    


 



  





Kirim email ke