Hi Mpal,

Sebenarnya Bang Juara yang tau ini..
Menurut buku Darwin Prints (Peranginangin) pada abad ke 1 Masehi pun telah ada 
kerajaan Karo dengan nama Raja Pa Lagan. Jika Plato benar akan benua Atlantik 
yang hilang dan dihubungkan dengan sejarah merga Tarigan (mereka menghabisi 
manuk sigurda-gura yang berkepala tujuh dengan mengumpan anak gadis). 

Melihat hal diatas maka kalak Karo telah lama mendiami pulau Sumatera (sebagian 
Karo karena kemudian akan datang India Tamil dan juga kemungkinan Sepuluh Suku 
Yang Hilang).

Ada kemungkinan suku Karo adalah suku tertua di Sumatera Utara bahkan salah 
satunya di Sumatera. 

Oya, Letkol Sempa Sitepu membuat asal-usul Karo dalam bukunya dan dia bisa 
merunutnya dari
Nabi Nuh (kata kila merga Tarigan yang punya bukunya, saya sudah pesan
tapi dia belum ke Medan).

Mengenai eksistensi Karo, pengakuan adalah salah satu bentuk kemerdekaan. Telah 
banyak usaha kita, mengatakan, menjelaskan bahwa kita Karo dan tak sama dengan 
suku apapun du bumi ini bahkan sekarang telah ada usaha melalui media seperti 
yang dilakukan Bang Juara lewat Radio Netherland maupun Sikamoni. Langkah 
selanjutnya saya kira kongres Rakyat Karo dan akan ada butir-butir dibacakan di 
TV: "Kami orang Karo. (titik) dan tolong hargai...

Mbera pepagi..


Makaro La Merimah


--- Pada Sel, 20/7/10, Inigo Tarigan <[email protected]> menulis:

Dari: Inigo Tarigan <[email protected]>
Judul: Re: [tanahkaro] Re: Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 20 Juli, 2010, 5:17 PM







 



  


    
      
      
      Mjjh Bang Juara dan Impal Moses,
 
Kalau saya justru sebaliknya, bagaimana kalau sebenarnya yang dimaksud Batak 
dalam catatan sejarah adalah orang Karo?? Walau tidak seluruhnya, tapi 
rasa-rasanya ada bagian-bagian tertentu dari catatan itu justru lebih mengarah 
ke etnis Karo.
 
Kalau memang ada temuan2 lain silakan saja dipublish, saya rasa awam perlu tau 
dan berhak untuk menilai.
 
Bujur,  να σε χαρώ





From: Lagaman <juara_ginting@ yahoo.co. uk>
To: tanahk...@yahoogrou ps.com
Sent: Tue, July 20, 2010 1:44:41 AM
Subject: [tanahkaro] Re: Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?

  

Aku yakin, apa yang kam katakan ini, susah dimengerti orang banyak. Memandang 
dari sisi Batak tapi tidak tau apa-apa mengenai Batak. Kalau mereka kenal Batak 
dan akhirnya memilih untuk memandang dari sisi Batak, itu adalah pilihan bebas. 
Banyak orang Karo tidak tau bahwa GBKP itu baru muncul di tahun 1943. 
Sebelumnya bernama Gereja Karo dan sampai sekarang masih ada Gereja Karo di 
Siantar karena menentang nama GBKP.

Karena berita di Analisa ini, beberapa Runggun GBKP mengadakan seminar dan 
mengundang saya menjadi pembicara utama. Artinya, banyak jemaat GBKP masih 
ingin mendapat kejelasan soal ini dari saya. Dengan kata lain, mereka masih 
terbuka untuk berdiskusi dan kurasakan mereka ingin membuktikan bahwa Karo 
bukan Batak. Soal nama GBKP, itu urusan lain, kata mereka.

jg

--- In tanahk...@yahoogrou ps.com, Moses
 S <moshe_...@.. .> wrote:
>
> Sip..
> 
> Saya kira terlalu sering kita memandang dari sisi Batak tapi tidak dari sisi 
> Karo. Orang Batak bukan orang Karo dan sebaliknya..
> 
> Persamaan Karo dengan Batak ya sama-sama keturunan Adam itu saja.
> 
> 
> 
> --- Pada Sen, 19/7/10, Inigo Tarigan <kikintarigan@ ...> menulis:
> 
> Dari: Inigo Tarigan <kikintarigan@ ...>
> Judul: Re: [tanahkaro] Kenapa (harus) Karo Bukan Batak?
> Kepada: tanahk...@yahoogrou ps.com, komunitaskaro@ yahoogroups. com, 
> infok...@yahoogroup s.com
> Tanggal: Senin, 19 Juli, 2010, 8:39 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Kolonialisme dan Etnisitas - Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut
>   
> Doktoral Daniel Perret ini, menambah khasanah kita tentang Karo sebelum 
> kemerdekaan. Meski bukan kajian etnik semata, tetapi banyak menyinggung 
> masalah etnisitas Karo dari yang lainnya. Termasuk terminilogi Batak yang 
> mencakup aspek sosial, budaya, politik dan ekonomi. 
> Batak dalam literatur baru dikenal dalam laporan Nicolo de’Conti (1430) 
> yang selama setahun tinggal di Scimuthera (Kerajaan Samudra) di pantai timur 
> sumatera. Disebutkan nama tempat tempat Batech, sebagai populasi yang 
> bersifat kanibal dan gemar berperang. Selanjutnya dalam laporan terkenal Tome
 Pires, Suma Oriental (awal abad ke-16). 
> Adalah F. Mendes Pinto, orang Eropa pertama yang masuk ke pedalaman Sumatera 
> Utara yang merekamnya secara tertulis dalam Peregrination. Diantaranya 
> catatan tentang adanya kunjungan duta raja orang Bata ke kapten Melaka yang 
> baru Pedro de Faria di tahun 1539. Mendes juga yang mencatat pertama kamu 
> adanya masayarakat Aaru di pesisir timur laut Sumatera dan mengunjungi 
> rajanya yang muslim. Sementara itu, dua puluh tahun sebelumnya, Duarte 
> Barbosa sudah mencatat tentang kerajaan Aru yang ketika itu dikuasai oleh 
> orang kanibal penganut paganisme.
> Tak sedikit, sejak istilah Batech (Nicolo de’Conti), diikuti juga dengan 
> Bata (Tome Pires, Mendes Pinto), Batang (Sidi Ali Celibi, 1954), Batas (Joao 
> de Barros, 1563). Hingga kemudian Beaulieu (1629-1621), laporan Tionghoa 
> (tertanggal 01/03/1701), Hamilton (1727) dan Charles Miller (1772), sampai 
> akhirnya William Marsden (1783) membuat pembedaan Carrow
 dan Batta, dilanjutkan John Anderson (1823) yang mendeskripsikan pembedaan 
Mandiling atau Kataran, Pappak, Tubba, Karau-karau, Kappak dan Alas
> Dalam buku bersampul warna biru (warna kebangsaan Karo? â€"hal 70) ini, 
> diuraikan juga ruang geografi (peta Batak) versi ‘orang Eropa’ 
> berturut-turut versi Junghun (1841), Collet (1925), Kennedy (1945), 
> Cunningham (1958), Reid (1979) dan Sibeth (1991) (hal 63). Fakta ini 
> menunjukkan berbagai kepentingan yang melandasi kawasan stategis Sumatera 
> Utara sejak jaman pra sejarah hingga saat ini dan juga masa mendatang 
> (Penulis) 
>   
> Batak sebagai terminologi perlawanan 
> Sebagai sebuah karya ilmiah, Perret sangat hati-hati dalam menempatkan mitos, 
> walaupun tidak sepenuhnya mengabaikannya bahkan cukup memberikan suatu 
> kerangka pikir dalam menguraikan hipotesa-hipotesany a. 
> Catatan tentang Sumatera, diawali dengan tulisan geograf Yunani, Ptolomeus 
> (abad ke-2)
 yang menggambarkan Sumatera sebagai kawasan ‘berbahaya’ yang dihuni orang 
pemakan manusia, (hal 55) menjadikan belahan Timur dunia ini menjadi kawasan 
yang dirahasiakan dari kekayaan alamnya kamper dan kemenyan sebagai bahan yang 
lebih mahal dari emas saat itu (Penulis). Yang pasti transaksi dagang bahan 
baku mumi (kamper dan kemenyan) sudah terjadi saat itu dan masih terus 
dilakukan oleh pedagang dari daratan Asia Timur, Asia Selatan juga dari Timur 
Tengah hingga abad ke-10. (hal 55)
> Perkembangan pelayaran Eropa (Perret tidak menyakan demikian, tetapi penemuan 
> Selat Malaka, oleh bangsa Eropa mengakibatkan pantai timur Sumatera menjadi 
> lebih ramai dari sebelumnya),  yang akhirnya mencatat pergeseran kepentingan 
> dari pantai barat menuju pantai timur Sumatera.  Tercatat, pertanaman 
> komoditi lada juga gambir dan kapas sebagai awalan, dilanjutkan  tembakau di 
> tahun 1863, sejak kedatangan Jacob Nienhuys ke tanah Deli
 (Medan). Diawali pembukaan percontohan seluas 75 hektar hingga konsesi 2000 
bouw (1 bouw = 0,7 ha) di tahun 1865, selanjutnya di tahun 1868 sudah ada 6 
perkebunan yang menghasilkan lebih dari 200 ton tembakau. Di tahun 1869 berdiri 
Deli Maatschappij dan
> Nederlandsche Handel- Maatschappij dengan luasan lahan 7.000 hektar (hal 181) 
> Penambahan luasan perkebunan ini menjadikan Deli sebagai kota multi etnik 
> dengan masuknya tenaga kerja dari Pinang-Singapura (China dan Keling), orang 
> Banjar dari Kalimantan juga orang Jawa dari Semarang, termasuk orang-orang 
> dari pegunungan (Karo) juga dari selatan Danau Toba. 
> Peningkatan ekspor tembakau berbanding terbalik dengan ekspor lada dan pala , 
> hal ini disebabkan matinya tanaman dan ‘kerusuhan yang terus-menerus’ di 
> pedalaman yang disertai dengan ‘perusakan tanaman’ (hal 183)
> Pembukaan Terusan Suez, mendorong maraknya perdagangan pendatang, sehingga 
> luasan areal
 meliputi Langkat, Serdang juga Urung Hamparan Perak dan berlanjut ke Urung 
Sunggal. Tahun 1872, ketika ‘Perang Batak’ (de Batak Oorlog) meletus, pada 
saat yang sama hampir semua datuk dan kejuruan memiliki perkebunan lada dan 
pala dan mempekerjakan buruh-buruh yang berasal dari pegunungan (hal 185)
> Kepentingan dagang ini akhirnya mendorong terjadinya perlawanan dari Urung 
> Sunggal (dan orang gunung) dengan Maskapai (dan Sultan) yang menggiring pada 
> penggunaan istilah ‘Batak Oorlog’ yang tidak tepat, karena secara tidak 
> langsung telah menciptakan Melayu di pihak lain dan seolah menjadi perang 
> etnik.  Sebagaimana diketahui juga di 1878 berawal juga pemberontakan Si 
> Singamangaraja XII  di utara Tapanuli, hal ini semakin menegaskan 
> ‘Batak’ sebagai sebuah kepentingan politik. Pemisahan Batak-Melayu ini 
> diperkuat dengan penunjukan Kontrolir urusan Batak di akhir tahun 1880 serta 
> berlakunya
 adat peradilan Dusun (yang disusun dalam bahasa Karo) oleh seorang Kontrolir di
> tahun 1909. 
>   
> Batak sebagai daerah enclave 
> Hubungan Si Singamangaraja XII dengan Aceh berlangsung cukup baik, hingga 
> akhirnya mengungsi dan tewas di pedalaman Singkel pada 1907. Demikian juga 
> Datuk Kecil Baru (Sunggal) dengan Alas, pasca pernikahan puterinya dengan 
> pemimpin Alas. Sejak perang Aceh 1873, timbul kekhawatiran berkembangnya 
> Kerajaan Aceh hingga ke Minangkabau yang bertabrakan dengan kepentingan 
> kolonial. Pada saat yang hampir sama, di tahun 1880, Rheinische 
> Missionsgesellscaft telah sukses membangun 25 cabang di wilayah 
> Sibolga-Sipirok- Bahal Batu, hal ini terjadi setelah 20 tahun sebelumnya 
> didirikana 4 post pertama. Pada waktu itu misionaris telah membaptis 5.000 
> penduduk asli, kemajuannya pesat hingga mencapai  400.000 di tahun 1929 (hal 
> 257). Namun demikian misi yang dilakukan Nederlandsche Zendelinggenootscha
 p mengalami keterlambatan, yakni
> berkisar 500-an di tahun 1910 sejak 20 tahun sebelumnya dan baru mencapai 
> 2500-an di tahun 1930 (hal 267). Meski demikian, hal ini cukup efektif 
> membentuk barrier peluasan dan perlawanan Kerajaan Aceh. Walau akibatnya 
> justru menimbulkan masalah baru, terbentuknya identifikasi baru Melayu/Islam 
> dan Batak/Kristen. Padahal sebenarnya di tahun 1874 Tuanku Raja Hitam dari 
> Aceh cucu mantan sultan Deli pergi ke Tanah Gayo dan Alas untuk mengobarkan 
> pemberontakan rakyat melawan Deli. 
> Walau demikian tak terbantahkan, adanya intervensi kolonial yang memberi 
> kemudahan kepada misi dalam pendirian kedai, sebaliknya melarang Haji Talib 
> asal Binjai yang didatangkan Sibayak Kabanjahe. Sebaliknya dalam sebuah 
> kerapan tahun 1901 sultan Deli melarang kepala-kepala di pedalaman memeluk 
> agama Kristen (hal 237)
>   
> Batak ‘Sekolahan’ 
> Perkembangan misi di daerah selatan danau Toba,
 mendorong percepatan pembangunan kesadaran pendidikan, ditambah kedekatannya 
dengan Minangkabau. Pada akhir 1909 Tapanuli sudah mempunyai 365 sekolah dan di 
tahun 1938 Huria Kristen Batak telah mengelola 584 sekolah dengan 50.000 siswa 
yang orang tuanya Kristen, Islam juga penganut kepercayaan setempat (hal 259). 
Sebaliknya di pegunungan di tahun 1910 baru mencapai 2000an siswa (hal 267). 
> Banyak pertanyaan timbul dalam masyarakat Karo, dalam hiruk pikuk perubahan 
> tersebut. Berbagai pertanyaan dan keragu-raguan menjawab lambatnya 
> berkembangnya Kristenisasi, sebaliknya perusakan identitas nasional Karo 
> justru terdengar di tahun 1929 (hal 306). 
> Kondisi ini berakibat terus pada masa berikutnya, hingga terbangunnya 
> kesadaran Batak baru dikalangan intelektual Tapanuli, Batak yang semula 
> sebagai sebuah ejekan dijunjung menjadi kebanggaan dan ikatan solidaritas 
> baru. Tahun 1920 di Kabanjahe, sewaktu pesta derma Hatopan Kristen Batak, 
> Abdullah
 Loebis menyinggung masalah ekonomi dengan menjelaskan betapa ‘bangsa 
Batak’ ketinggalan dibandingkan ‘bangsa-bangsa lainnya’ (hal 363). 
Solidaritas Batak dibangun guna memperhadapkan dengan orang Banjar. Persaingan 
di tingkat nasional dengan pemuda Minangkabau dalam  Jong Sumatera melahirkan 
Jong Batak (Penulis). 
> Sementara itu, kebangkitan kesadaran pendidikan orang Mandailing justru ingin 
> menanggalkan identitas Batak. Pertentangan dua kelompok ini sedemikian 
> terbuka, digambarkan dalam beberapa kasus dalam surat khabar, bahkan 
> memsasuki ranah peradilan (hukum) (hal 321). Pun di dalam internal Toba, 
> istilah Batak dan Tapanuli dipertentangkan (hal 326). 
> Walau demikian Pemerintah, tetap memberi dukungan kepada identitas baru 
> ‘Batak’ ini dengan pameran benda Batak yang diselenggarakan di Deli 
> (1916), di Batavia (1919) serta rencana pameran di Balige (1922) dengan 
> syarat semua orang Batak
 (Tapanuli, Simalungun, Karo) bekerja sama  Tahun 1925 Ooskust van Sumatra 
Comite meresmikan musium etnografi yang dihadiri sejumlah tokoh masyarakat 
‘Batak’ dikunjungi oleh 519 orang Eropa dan 161 bukan Eropa (hal 303-304).
>   
> Agenda-agenda perubahan Karo 
> Peran-peran awal perubahan (1890) banyak didukung oleh pemimpin tradisional 
> yang terkenal ketangguhan bersenjata mereka, misanya Pa Mbelgah, Sibayak 
> Kabanjahe.  Di tahun 1907, Pa Sendi, Sibayak Lingga banyak terlibat 
> kerjasama dalam membangun dataran tinggi. Kecerdasan, kharisma, kemajuan 
> ekonomi demi kesejahteraan rakyatnya dengan cepat menghantarnya menjadi 
> pemimpin terpenting dalam seluruh onderafdeeling Karolanden (hal 331). Tahun 
> 1915 ia melakukan studi banding ke Padang perihal pengelolaan bank rakyat 
> ‘Ialah’, jumlah bank kampung (dorpbanken) berkembang mencapai 33 buah. 
> Juga berperan dalam pendirian Neutrale Hollandsche
 Indlandsche School di Kabanjahe tahun 1922 sekolah kerajinan tangan tekstil di 
Lingga dan Batukarang juga bengkel besi di Lingga. 
> Lebih dari yang diikatakan Abdullah Loebis, dalam pesta derma Hatopan Kristen 
> Batak (1920) bahwa Karo, Simalungun, Pakpak, Toba dan Mandailing membentuk 
> satu bangsa yang sama yaitu bangsa Batak.   
> Di tahun 1935 setelah meninggalnya Pa Sendi setahun sebelumnya, Gubernur 
> Pesisir Timur mengangkat anaknya Raja Kelelong sebagai Sibayak Lingga baru, 
> dengan penobatannya diiringi pengangkatan sumpah menurut adat setempat, 
> panggung resmi beratap khas daerah berikut bendera nasional Karolanden (lima 
> bintang putih berlatar hitam) (hal 332).
> Pada saat bersamaan juga di tingkat masyarakat, terbentuk kesadaran baru 
> dengan hadirnya berbagai macam perkumpulan. Persadan Batak Karo (1919) 
> diketuai Mohammad Noech yang bergerak dalam lapangan pendidikan dan 
> pertanahan, termasuk di  Sarikat
 Penoeloeng  (1919) diektuai Sutan Dewasa di Arnhemia, Persadan Batak Karo 
Kangkat Hoeloe (diketuai Langgar) di Tanjunglangkat, bergerak dalam solidaritas 
menghadapi ‘kekuasaan baru’ kesultanan. Moesjawarat Setia Karo Medan (1928) 
diketua Mboelgah Sitepu (pemimpin koran Tjermin Karo). Tahun 1939, Comite 
Pertemuan Karo di Medan, menyelenggarakan malam hiburan diantara ‘Indonesia 
Batak Karo’. Selain itu juga Ripe Kematen di Rumah Mbacang, Persadan Karo di 
Siantar, Perkoempoelan Ripe “ Sisampat-sampaten� di Ujung Labuhan.
> Juga media massa, Soeara Karo dan Sendjata Karo oleh Nerih Ginting di 
> Kabanjahe, Tjermin Karo (1924-1925) oleh Mboelgah Sitepu,  Pandji Karo 
> (1929) di Kabanjahe, Sinalsal  (1931) di Simalungun, Merga Si Lima (koran 
> Kristen), Anak Batak  (1932) diterbitkan Perkumpulan Bintang Karo di 
> Berastagi, Poetra
> Karo (1935) milik Sibayak Ngianken Sinoelingga dan Sibayak
 Geleren Sinoelingga.
> Bulan Maret 1934, perkumpulan Setia Karo, memutuskan membuat terbitan sendiri 
> dengan tujuan membantu anggotanya dari berbagai masalah yang berkaitan dengan 
> adat. Pendirian Sjarikat Tani Indonesia (SETIA) pada Juni 1938 juga didorong 
> untuk melindungi adat Karo, yang lahir dari sekumpulan petani dari pedalaman 
> Deli dengan dukungan penuh sebuah partai nasionalis Gerakan Rakyat Indonesia. 
> Perkumpulan SETIA terus berkembang dan menjadi komunitas tertutup di tahun 
> 1942, saat kedatangan Jepang yang mempunyai anggota sekitar 2.000 orang yang 
> berasal dari 300 kuta (hal 359 â€" 361).
>   
> Catatan akhir Penulis: 
> 1.       Entitas Karo sebagai satu etnik, jelas berbeda dengan Toba dan 
> Simalungun juga dengan Alas, Gayo, Mandailing bahkan Melayu dlsb. 
> 2.       Batak tidak semata terminologi etnik, juga merupakan
 terminologi politik, ekonomi dan sosial yang didalamnya selalu bersinggungan 
dengan masalah riil masyarakat di jamannya.
> 3.       Pemunculan Karo sebagai etnik , kawasan maupun 
> ‘kepentingan’ seharusnya tidak semata kebutuhan identitas kekinian, 
> tetapi merupakan historical process dari masa lalu hingga masa mendatang yang 
> melampai wadah maupun kategori-kategori, yang kadang justru menjebak.
>  
>  
>   
>  
>






      

    
     

    
    


 



  





Kirim email ke