Mjjh Bang Juara dan Impal Moses, Kalau saya justru sebaliknya, bagaimana kalau sebenarnya yang dimaksud Batak dalam catatan sejarah adalah orang Karo?? Walau tidak seluruhnya, tapi rasa-rasanya ada bagian-bagian tertentu dari catatan itu justru lebih mengarah ke etnis Karo.
Kalau memang ada temuan2 lain silakan saja dipublish, saya rasa awam perlu tau dan berhak untuk menilai. Bujur, να σε χαρώ ________________________________ From: Lagaman <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tue, July 20, 2010 1:44:41 AM Subject: [tanahkaro] Re: Kenapa (harus) Karo Bukan Batak? Aku yakin, apa yang kam katakan ini, susah dimengerti orang banyak. Memandang dari sisi Batak tapi tidak tau apa-apa mengenai Batak. Kalau mereka kenal Batak dan akhirnya memilih untuk memandang dari sisi Batak, itu adalah pilihan bebas. Banyak orang Karo tidak tau bahwa GBKP itu baru muncul di tahun 1943. Sebelumnya bernama Gereja Karo dan sampai sekarang masih ada Gereja Karo di Siantar karena menentang nama GBKP. Karena berita di Analisa ini, beberapa Runggun GBKP mengadakan seminar dan mengundang saya menjadi pembicara utama. Artinya, banyak jemaat GBKP masih ingin mendapat kejelasan soal ini dari saya. Dengan kata lain, mereka masih terbuka untuk berdiskusi dan kurasakan mereka ingin membuktikan bahwa Karo bukan Batak. Soal nama GBKP, itu urusan lain, kata mereka. jg --- In [email protected], Moses S <moshe_...@...> wrote: > > Sip.. > > Saya kira terlalu sering kita memandang dari sisi Batak tapi tidak dari sisi >Karo. Orang Batak bukan orang Karo dan sebaliknya.. > > Persamaan Karo dengan Batak ya sama-sama keturunan Adam itu saja. > > > > --- Pada Sen, 19/7/10, Inigo Tarigan <kikintari...@...> menulis: > > Dari: Inigo Tarigan <kikintari...@...> > Judul: Re: [tanahkaro] Kenapa (harus) Karo Bukan Batak? > Kepada: [email protected], [email protected], >[email protected] > Tanggal: Senin, 19 Juli, 2010, 8:39 AM > > > > > > > >  > > > > > > > > > > Kolonialisme dan Etnisitas - Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut >  > Doktoral Daniel Perret ini, menambah khasanah kita tentang Karo sebelum >kemerdekaan. Meski bukan kajian etnik semata, tetapi banyak menyinggung >masalah >etnisitas Karo dari yang lainnya. Termasuk terminilogi Batak yang mencakup >aspek >sosial, budaya, politik dan ekonomi. > > Batak dalam literatur baru dikenal dalam laporan Nicolo de’Conti (1430) > yang >selama setahun tinggal di Scimuthera (Kerajaan Samudra) di pantai timur >sumatera. Disebutkan nama tempat tempat Batech, sebagai populasi yang bersifat >kanibal dan gemar berperang. Selanjutnya dalam laporan terkenal Tome Pires, >Suma >Oriental (awal abad ke-16). > > Adalah F. Mendes Pinto, orang Eropa pertama yang masuk ke pedalaman Sumatera >Utara yang merekamnya secara tertulis dalam Peregrination. Diantaranya catatan >tentang adanya kunjungan duta raja orang Bata ke kapten Melaka yang baru Pedro >de Faria di tahun 1539. Mendes juga yang mencatat pertama kamu adanya >masayarakat Aaru di pesisir timur laut Sumatera dan mengunjungi rajanya yang >muslim. Sementara itu, dua puluh tahun sebelumnya, Duarte Barbosa sudah >mencatat >tentang kerajaan Aru yang ketika itu dikuasai oleh orang kanibal penganut >paganisme. > Tak sedikit, sejak istilah Batech (Nicolo de’Conti), diikuti juga dengan > Bata >(Tome Pires, Mendes Pinto), Batang (Sidi Ali Celibi, 1954), Batas (Joao de >Barros, 1563). Hingga kemudian Beaulieu (1629-1621), laporan Tionghoa >(tertanggal 01/03/1701), Hamilton (1727) dan Charles Miller (1772), sampai >akhirnya William Marsden (1783) membuat pembedaan Carrow dan Batta, >dilanjutkan >John Anderson (1823) yang mendeskripsikan pembedaan Mandiling atau Kataran, >Pappak, Tubba, Karau-karau, Kappak dan Alas > Dalam buku bersampul warna biru (warna kebangsaan Karo? â€"hal 70) ini, >diuraikan juga ruang geografi (peta Batak) versi ‘orang Eropa’ >berturut-turut versi Junghun (1841), Collet (1925), Kennedy (1945), Cunningham >(1958), Reid (1979) dan Sibeth (1991) (hal 63). Fakta ini menunjukkan berbagai >kepentingan yang melandasi kawasan stategis Sumatera Utara sejak jaman pra >sejarah hingga saat ini dan juga masa mendatang (Penulis) > >  > Batak sebagai terminologi perlawanan > Sebagai sebuah karya ilmiah, Perret sangat hati-hati dalam menempatkan mitos, >walaupun tidak sepenuhnya mengabaikannya bahkan cukup memberikan suatu >kerangka >pikir dalam menguraikan hipotesa-hipotesany a. > > Catatan tentang Sumatera, diawali dengan tulisan geograf Yunani, Ptolomeus >(abad ke-2) yang menggambarkan Sumatera sebagai kawasan ‘berbahaya’ yang >dihuni orang pemakan manusia, (hal 55) menjadikan belahan Timur dunia ini >menjadi kawasan yang dirahasiakan dari kekayaan alamnya kamper dan kemenyan >sebagai bahan yang lebih mahal dari emas saat itu (Penulis). Yang pasti >transaksi dagang bahan baku mumi (kamper dan kemenyan) sudah terjadi saat itu >dan masih terus dilakukan oleh pedagang dari daratan Asia Timur, Asia Selatan >juga dari Timur Tengah hingga abad ke-10. (hal 55) > Perkembangan pelayaran Eropa (Perret tidak menyakan demikian, tetapi penemuan >Selat Malaka, oleh bangsa Eropa mengakibatkan pantai timur Sumatera menjadi >lebih ramai dari sebelumnya), yang akhirnya mencatat pergeseran kepentingan >dari pantai barat menuju pantai timur Sumatera. Tercatat, pertanaman >komoditi >lada juga gambir dan kapas sebagai awalan, dilanjutkan tembakau di tahun >1863, >sejak kedatangan Jacob Nienhuys ke tanah Deli (Medan). Diawali pembukaan >percontohan seluas 75 hektar hingga konsesi 2000 bouw (1 bouw = 0,7 ha) di >tahun >1865, selanjutnya di tahun 1868 sudah ada 6 perkebunan yang menghasilkan lebih >dari 200 ton tembakau. Di tahun 1869 berdiri Deli Maatschappij dan > Nederlandsche Handel- Maatschappij dengan luasan lahan 7.000 hektar (hal 181) >Penambahan luasan perkebunan ini menjadikan Deli sebagai kota multi etnik >dengan >masuknya tenaga kerja dari Pinang-Singapura (China dan Keling), orang Banjar >dari Kalimantan juga orang Jawa dari Semarang, termasuk orang-orang dari >pegunungan (Karo) juga dari selatan Danau Toba. > > Peningkatan ekspor tembakau berbanding terbalik dengan ekspor lada dan pala , >hal ini disebabkan matinya tanaman dan ‘kerusuhan yang terus-menerus’ di >pedalaman yang disertai dengan ‘perusakan tanaman’ (hal 183) > Pembukaan Terusan Suez, mendorong maraknya perdagangan pendatang, sehingga >luasan areal meliputi Langkat, Serdang juga Urung Hamparan Perak dan berlanjut >ke Urung Sunggal. Tahun 1872, ketika ‘Perang Batak’ (de Batak Oorlog) >meletus, pada saat yang sama hampir semua datuk dan kejuruan memiliki >perkebunan >lada dan pala dan mempekerjakan buruh-buruh yang berasal dari pegunungan (hal >185) > Kepentingan dagang ini akhirnya mendorong terjadinya perlawanan dari Urung >Sunggal (dan orang gunung) dengan Maskapai (dan Sultan) yang menggiring pada >penggunaan istilah ‘Batak Oorlog’ yang tidak tepat, karena secara tidak >langsung telah menciptakan Melayu di pihak lain dan seolah menjadi perang >etnik. Sebagaimana diketahui juga di 1878 berawal juga pemberontakan Si >Singamangaraja XII di utara Tapanuli, hal ini semakin menegaskan ‘Batak’ >sebagai sebuah kepentingan politik. Pemisahan Batak-Melayu ini diperkuat >dengan >penunjukan Kontrolir urusan Batak di akhir tahun 1880 serta berlakunya adat >peradilan Dusun (yang disusun dalam bahasa Karo) oleh seorang Kontrolir di > tahun 1909. >  > Batak sebagai daerah enclave > Hubungan Si Singamangaraja XII dengan Aceh berlangsung cukup baik, hingga >akhirnya mengungsi dan tewas di pedalaman Singkel pada 1907. Demikian juga >Datuk >Kecil Baru (Sunggal) dengan Alas, pasca pernikahan puterinya dengan pemimpin >Alas. Sejak perang Aceh 1873, timbul kekhawatiran berkembangnya Kerajaan Aceh >hingga ke Minangkabau yang bertabrakan dengan kepentingan kolonial. Pada saat >yang hampir sama, di tahun 1880, Rheinische Missionsgesellscaft telah sukses >membangun 25 cabang di wilayah Sibolga-Sipirok- Bahal Batu, hal ini terjadi >setelah 20 tahun sebelumnya didirikana 4 post pertama. Pada waktu itu >misionaris >telah membaptis 5.000 penduduk asli, kemajuannya pesat hingga mencapai >400.000 >di tahun 1929 (hal 257). Namun demikian misi yang dilakukan Nederlandsche >Zendelinggenootscha p mengalami keterlambatan, yakni > berkisar 500-an di tahun 1910 sejak 20 tahun sebelumnya dan baru mencapai >2500-an di tahun 1930 (hal 267). Meski demikian, hal ini cukup efektif >membentuk >barrier peluasan dan perlawanan Kerajaan Aceh. Walau akibatnya justru >menimbulkan masalah baru, terbentuknya identifikasi baru Melayu/Islam dan >Batak/Kristen. Padahal sebenarnya di tahun 1874 Tuanku Raja Hitam dari Aceh >cucu >mantan sultan Deli pergi ke Tanah Gayo dan Alas untuk mengobarkan >pemberontakan >rakyat melawan Deli. > > Walau demikian tak terbantahkan, adanya intervensi kolonial yang memberi >kemudahan kepada misi dalam pendirian kedai, sebaliknya melarang Haji Talib >asal >Binjai yang didatangkan Sibayak Kabanjahe. Sebaliknya dalam sebuah kerapan >tahun >1901 sultan Deli melarang kepala-kepala di pedalaman memeluk agama Kristen >(hal >237) >  > Batak ‘Sekolahan’ > Perkembangan misi di daerah selatan danau Toba, mendorong percepatan >pembangunan kesadaran pendidikan, ditambah kedekatannya dengan Minangkabau. >Pada >akhir 1909 Tapanuli sudah mempunyai 365 sekolah dan di tahun 1938 Huria >Kristen >Batak telah mengelola 584 sekolah dengan 50.000 siswa yang orang tuanya >Kristen, >Islam juga penganut kepercayaan setempat (hal 259). Sebaliknya di pegunungan >di >tahun 1910 baru mencapai 2000an siswa (hal 267). > > Banyak pertanyaan timbul dalam masyarakat Karo, dalam hiruk pikuk perubahan >tersebut. Berbagai pertanyaan dan keragu-raguan menjawab lambatnya >berkembangnya >Kristenisasi, sebaliknya perusakan identitas nasional Karo justru terdengar di >tahun 1929 (hal 306). > > Kondisi ini berakibat terus pada masa berikutnya, hingga terbangunnya > kesadaran >Batak baru dikalangan intelektual Tapanuli, Batak yang semula sebagai sebuah >ejekan dijunjung menjadi kebanggaan dan ikatan solidaritas baru. Tahun 1920 di >Kabanjahe, sewaktu pesta derma Hatopan Kristen Batak, Abdullah Loebis >menyinggung masalah ekonomi dengan menjelaskan betapa ‘bangsa Batak’ >ketinggalan dibandingkan ‘bangsa-bangsa lainnya’ (hal 363). Solidaritas >Batak dibangun guna memperhadapkan dengan orang Banjar. Persaingan di tingkat >nasional dengan pemuda Minangkabau dalam  Jong Sumatera melahirkan Jong Batak >(Penulis). > > Sementara itu, kebangkitan kesadaran pendidikan orang Mandailing justru ingin >menanggalkan identitas Batak. Pertentangan dua kelompok ini sedemikian >terbuka, >digambarkan dalam beberapa kasus dalam surat khabar, bahkan memsasuki ranah >peradilan (hukum) (hal 321). Pun di dalam internal Toba, istilah Batak dan >Tapanuli dipertentangkan (hal 326). > > Walau demikian Pemerintah, tetap memberi dukungan kepada identitas baru >‘Batak’ ini dengan pameran benda Batak yang diselenggarakan di Deli >(1916), >di Batavia (1919) serta rencana pameran di Balige (1922) dengan syarat semua >orang Batak (Tapanuli, Simalungun, Karo) bekerja sama  Tahun 1925 Ooskust van >Sumatra Comite meresmikan musium etnografi yang dihadiri sejumlah tokoh >masyarakat ‘Batak’ dikunjungi oleh 519 orang Eropa dan 161 bukan Eropa >(hal >303-304). >  > Agenda-agenda perubahan Karo > Peran-peran awal perubahan (1890) banyak didukung oleh pemimpin tradisional >yang terkenal ketangguhan bersenjata mereka, misanya Pa Mbelgah, Sibayak >Kabanjahe.  Di tahun 1907, Pa Sendi, Sibayak Lingga banyak terlibat kerjasama >dalam membangun dataran tinggi. Kecerdasan, kharisma, kemajuan ekonomi demi >kesejahteraan rakyatnya dengan cepat menghantarnya menjadi pemimpin terpenting >dalam seluruh onderafdeeling Karolanden (hal 331). Tahun 1915 ia melakukan >studi >banding ke Padang perihal pengelolaan bank rakyat ‘Ialah’, jumlah bank >kampung (dorpbanken) berkembang mencapai 33 buah. Juga berperan dalam >pendirian >Neutrale Hollandsche Indlandsche School di Kabanjahe tahun 1922 sekolah >kerajinan tangan tekstil di Lingga dan Batukarang juga bengkel besi di Lingga. > > Lebih dari yang diikatakan Abdullah Loebis, dalam pesta derma Hatopan Kristen >Batak (1920) bahwa Karo, Simalungun, Pakpak, Toba dan Mandailing membentuk >satu >bangsa yang sama yaitu bangsa Batak.   > Di tahun 1935 setelah meninggalnya Pa Sendi setahun sebelumnya, Gubernur >Pesisir Timur mengangkat anaknya Raja Kelelong sebagai Sibayak Lingga baru, >dengan penobatannya diiringi pengangkatan sumpah menurut adat setempat, >panggung >resmi beratap khas daerah berikut bendera nasional Karolanden (lima bintang >putih berlatar hitam) (hal 332). > Pada saat bersamaan juga di tingkat masyarakat, terbentuk kesadaran baru > dengan >hadirnya berbagai macam perkumpulan. Persadan Batak Karo (1919) diketuai >Mohammad Noech yang bergerak dalam lapangan pendidikan dan pertanahan, >termasuk >di Sarikat Penoeloeng (1919) diektuai Sutan Dewasa di Arnhemia, Persadan >Batak Karo Kangkat Hoeloe (diketuai Langgar) di Tanjunglangkat, bergerak dalam >solidaritas menghadapi ‘kekuasaan baru’ kesultanan. Moesjawarat Setia Karo >Medan (1928) diketua Mboelgah Sitepu (pemimpin koran Tjermin Karo). Tahun >1939, >Comite Pertemuan Karo di Medan, menyelenggarakan malam hiburan diantara >‘Indonesia Batak Karo’. Selain itu juga Ripe Kematen di Rumah Mbacang, >Persadan Karo di Siantar, Perkoempoelan Ripe “ Sisampat-sampatenâ€� di Ujung >Labuhan. > Juga media massa, Soeara Karo dan Sendjata Karo oleh Nerih Ginting di >Kabanjahe, Tjermin Karo (1924-1925) oleh Mboelgah Sitepu, Pandji Karo (1929) >di Kabanjahe, Sinalsal (1931) di Simalungun, Merga Si Lima (koran Kristen), >Anak Batak (1932) diterbitkan Perkumpulan Bintang Karo di Berastagi, Poetra > Karo (1935) milik Sibayak Ngianken Sinoelingga dan Sibayak Geleren Sinoelingga. > Bulan Maret 1934, perkumpulan Setia Karo, memutuskan membuat terbitan sendiri >dengan tujuan membantu anggotanya dari berbagai masalah yang berkaitan dengan >adat. Pendirian Sjarikat Tani Indonesia (SETIA) pada Juni 1938 juga didorong >untuk melindungi adat Karo, yang lahir dari sekumpulan petani dari pedalaman >Deli dengan dukungan penuh sebuah partai nasionalis Gerakan Rakyat Indonesia. >Perkumpulan SETIA terus berkembang dan menjadi komunitas tertutup di tahun >1942, >saat kedatangan Jepang yang mempunyai anggota sekitar 2.000 orang yang berasal >dari 300 kuta (hal 359 â€" 361). >  > Catatan akhir Penulis: > 1.      Entitas Karo sebagai satu etnik, jelas berbeda dengan Toba dan >Simalungun juga dengan Alas, Gayo, Mandailing bahkan Melayu dlsb. > > 2.      Batak tidak semata terminologi etnik, juga merupakan > terminologi >politik, ekonomi dan sosial yang didalamnya selalu bersinggungan dengan >masalah >riil masyarakat di jamannya. > 3.      Pemunculan Karo sebagai etnik , kawasan maupun > ‘kepentingan’ >seharusnya tidak semata kebutuhan identitas kekinian, tetapi merupakan >historical process dari masa lalu hingga masa mendatang yang melampai wadah >maupun kategori-kategori, yang kadang justru menjebak. >  >  >  >  >
