Assalamu'alaikum w.w.
Mohon ma'af jika sebelumnya saya yang dha'if ini ingin ikut menambahkan
persoalan yang sedikit bersinggungan barangkali dengan pembahasan ini.
Saya pernah dapat sedikit penjelasan tentang konsep IMANEN dan TRANSENDEN.
Kalau tak salah (mohon yang lebih tahu agar mengoreksi), konsep TRANSENDEN
adalah pemahaman Ketuhanan yang melihat bahwa hubungan Tuhan dan manusia
itu adalah Tuhan "berada di atas sana" menciptakan dan mengawasi manusia
beserta alam semesta. Dia berada di "Kursi-nya/singgasananya" melaksanakan
Ke-Maha Kuasaan dan Maha Melihatnya. Jadi dia berada "di luar" manusia. Di
sini manusia jadi "takut" karena dengan Maha Melihatnya Allah, maka manusia
tidak mungkin bisa sembunyi untuk berbuat salah.
Sedangkan konsep IMANEN adalah konsep "didalam". dalam konsep ini, "Allah
lebih dekat kepada manusia dari manusia kepada urat lehernya sendiri","Jika
kamu ingin kenal Allah, maka kenalilah dirimu sendiri", Allah minta
"dikunjungi, minta diberi makanan karena lapar, minta diberi air karena
haus", yaitu dengan cara mengasihi, memberi makan, dan memberi minum orang
miskin.
" Kemanapun kamu menghadap, maka kamu menghadap Allah".
Ini berarti Allah "dapat ditemukan dalam diri manusia, dalam diri orang
fakir dan miskin, kemanapun kita menghadap di Alam semesta". Mungkin konsep
ini beriringan dengan konsep "tali tasbih" yang disampaikan Pak Sunarman.
Kedua konsep ini punya landasan pemikiran tersendiri, dan sepertinya tidak
bertentangan. Mungkin yang lebih tepat adalah konsep ini saling melengkapi.
Tampaknya dalam dunia Tasawuf, konsep Imanen ini lebih dominan.
Sebagai perbandingan, dalam filsafat, Rene Descartes mangatakan bahwa dunia
materi bukanlah realita yang sebenarnya. Dia berkesimpulan bahwa Segalanya
bisa dia ragukan keberadaannya, kecuali dirinya yang berfikir yang tidak
mungkin diragukan adanya.
Sedangkan dalam Tasawuf, fikiran manusia itu juga bukan realita yang
sebenarnya, akan tetapi Allah lah yang merupakan realita yang sebenarnya.
Sekian saja sekedar tambahan.
Wassalamu'alaikum w.w.
Satria Iman Pribadi
----------
> From: Ali Abidin <[EMAIL PROTECTED]>
> To: '[EMAIL PROTECTED]'
> Subject: RE: [Tasawuf] Sistem Alam Semesta
> Date: Friday, February 19, 1999 9:59 AM
>
> Assalaamu alaikum wr. wb
>
> Wah, bahasan ini malah rasanya lebih rumit lagi daripada tema "Misi
> Hidup"...... :-). Disini kita berbicara tentang konsep alam semesta dan
> konsep ketuhanan. Bener-bener saya merasa lepas dari mulut Buaya dan
> dilempar ke mulut Singa.
>
> Tubuh manusia bila dicangkokkan benda asing ke dalamnya akan terjadi
> reaksi penolakan. Menurut saya, demikian juga bila pada benak manusia
> dicangkokkan pemikiran yang asing akan terjadi reaksi penolakan yang
> sama. Hipotesa pak Sunarman menimbulkan reaksi penolakan di benak saya
> :-), jadi ternyata masih "benda asing".
>
> Saya tunggu kok nggak ada yang melayani undangan menguji hipotesis ini
> padahal saya tidak ingin menjadi orang pertama yang menularkan
> kebingungan. Jadi mohon orang dekil yang bingung ini diberi informasi
> :-)
>
> >Saya punya hipotesis
> >[yang masih perlu diuji] bahwa salah satu aspek Allah adalah sistem
> >itu sendiri.
>
> Mungkin pak Sunarman bisa menerangkan lebih lanjut apa yang dimaksud
> dengan kalimat di atas.
> Saya takut ini merujuk pada paham bahwa Allah adalah Sistem itu sendiri.
> Dalam paham ini, Tuhan adalah jiwa dari alam semesta ini seperti adanya
> Jiwa bagi Manusia. Dalam paham ini, seperti juga manusia yang terdiri
> dari milyaran sel hidup yang "berdiri sendiri" tetapi pada saat yang
> sama juga adalah satu kesatuan yag digerakkan oleh Jiwa. Maka demikian
> juga seluruh alam semesta ini sebenarnya adalah satu kesatuan yang
> digerakkan oleh satu jiwa yaitu "Tuhan". Dalam paham ini Tuhan bukanlah
> pencipta alam semesta melainkan satu kesatuan dengan alam semesta ini.
> Paham seperti ini kalau tidak salah diyakini oleh penganut agama Budha
> misalnya (ayat ini saya kutip sembarangan dari tulisan rekan) agama
> Buddha Theravada menyatakan "tidak ada [pribadi] Brahma yang menciptakan
> alam semesta ini."
>
> Paham tsb jelas susah diterima oleh akal saya yang terlanjur memahami
> bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta beserta sistemnya. Sistem bukan
> merupakan Tuhan itu sendiri ataupun salah satu aspek (apapun arti aspek
> di sini) dari Ketuhanan.
>
> >Semua makhluk bergerak menurut sistem itu. Tali tasbih
> >itu hanya satu, tapi ia menembus dan merangkai semua butir tasbih.
> >Kalau tiap individu makhluk hidup adalah sebuat butiran tasbih, maka
> >terlihat bahwa sesungguhnya Allah itu berada di dalam diri tiap
> >makhluk, tetapi juga sekaligus di luarnya.
>
> Karena menurut saya Sistem bukan Tuhan itu sendiri sehingga statement
> "Allah berada di dalam diri tiap makhluk" otomatis tidak bisa saya
> terima. Semua Makhluk memang terikat dalam sistem yang ada, tetapi tidak
> lantas dapat dikatakan bahwa Allah berada dalam diri tiap makhluk.
>
> Saya lebih cenderung bahwa dengan merenungi ciptaanNya dan menyadari
> adanya sistem di alam semesta ini maka kita akan menyadari kebesaran
> Tuhan yang menciptakan semua ini.
>
> Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
>
> >
>
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)