Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Ali Abidin wrote:
> Rasanya saya curiga nih bahwa pak Sunarman sebenarnya cuman ingin cerita
> tentang konsep ketuhanan (Pantheisme versus "Tuhan pencipta alam semesta
> beserta isinya") tetapi menghindari metode khutbah jumat (yang sepi
> tanya jawab). Jika memang begitu adanya, tolong deh untuk tema ini pak
> Sunarman pakai metode khutbah jumat saja, sebab rasanya tidak ada yang
> cukup berani melayani dialog dalam tema ini.
Wah, ketahuan rahasia saya!
Memang rasanya kurang enak kalau nulis tidak ditanggapi, seperti
khotbah Jum'at itu. Saya tidak suka di-iya-kan begitu saja. Karena
itu saya terlebih dulu membuat 'pemanasan' tetapi kiranya sampai di
sini saja pemanasan itu. Saya mengajak rekan-rekan untuk menyudahi
topik hubungan Allah dengan sistem alam semesta; kini kita menyentuh
isi, yaitu bagaimana sistem itu sendiri. Di sini pun saya hanya akan
mengemukakan pokok-pokok masalah untuk kita renungkan bersama-sama,
untuk kita cari jawabannya dari dalam lubuk hati kita masing-masing.
Saya berpendirian bahwa tasawuf itu bukan indoktrinasi.
Kesimpulan-kesimpulan merupakan hak pribadi kita masing-masing dan
tidak perlu kita pertentangkan. Seperti saya tulis dalam posting
berjudul "Titik-titik" kemarin, pemahaman manusia selalu berubah,
berkembang menurut tingkatan kita.
Sudah saya sebut dalam posting awal bahwa salah satu unsur di dalam
sistem adalah hukum sebab-akibat, yang dikenal pula dengan hukum
karma. Hukum ini muncul dalam dua alam, yaitu alam fisik dan alam
metafisik, seperti yang pernah disinggung dalam tanggapan Sdr Yani
dan Sdr Nana.
Hukum sebab-akibat dalam alam fisik telah banyak kita kenal melalui
pelajaran biologi, fisika, mekanika dll. Misalnya, air itu jika
dipanasi akan memuai, dan jika didinginkan akan menyusut sampai suhu
4 derajat C, lalu memuai sampai menjadi es, menurut kaidah tertentu.
Di alam metafisik, melalui kaidah-kaidah agama, kita mengenal
akibat-akibat yang [dapat] timbul apabila kita melakukan sesuatu
perbuatan. Allah, Sang Pencipta Sistem, telah menyatakan bahwa
setiap zarah kebaikan dan setiap zarah keburukan yang kita lakukan
akan berbalas. Tidak penting apakah Allah sendiri yang turun tangan
ataukah Dia menggerakkan hamba-Nya yang lain untuk memberi balasan,
tetapi sudah ditetapkan di dalam sistem, setiap aksi pasti ada
reaksinya.
Shalat, dzikir, doa, puasa, sedekah, zakat, qurban, haji dll akan
menimbulkan akibat tertentu sesuai dengan cara yang kita lakukan dan
dalam kondisi yang ada pada diri kita masing-masing. Apabila kita
sudah menyadari akibat dari perbuatan ini, maka kita tidak perlu
lagi mempersoalkan apakah shalat itu wajib atau tidak. Kita shalat
dengan penuh keikhlasan dan kekhusyukan bukan karena hal ini wajib,
tetapi kita sendirilah yang membutuhkan efek yang timbul dari shalat
yang benar.
Kalaupun dalam al Qur'an muncul kata-kata dalam bentuk perintah,
sebenarnya kita mempunyai pilihan: mengikuti, atau mengabaikan. Tiap
pilihan membawa akibat tersendiri. Kita boleh saja mengabaikan
perintah itu, asalkan kita siap menerima konsekuensinya. Kalau kita
tidak membayar zakat [dengan semestinya], maka kita perlu siap bahwa
harta kita akan dirampas dengan paksa atau kita akan mengalami
bencana dalam bentuk lain. Sistem Allah-lah yang mengatur bentuk
akibat itu.
Dalam hidup ini, kita perlu menempatkan kebahagiaan [ketenangan
jiwa] sebagai 'akibat' atas perbuatan-perbuatan kita. Oleh karena
itu maka setiap tindakan yang akan kita lakukan perlu terlebih dulu
dipikir masak-masak mengenai akibatnya. Jika sekiranya perbuatan itu
akan berakibat terusiknya ketenangan jiwa kita, maka selayaknya
perbuatan itu tidak usah dilakukan. Apabila kita tekun mengamati
rincian dari hukum sebab-akibat ini melalui pengalaman kita sendiri
dan pengalaman orang lain, insya Allah kita akan bertambah arif
setiap hari. Pelajaran sejarah di sekolah semestinya tidak berhenti
pada catatan peristiwa-peristiwa, tetapi harus diarahkan pula untuk
menonjolkan akibat dari perbuatan-perbuatan manusia, agar pengalaman
generasi terdahulu bermanfaat bagi generasi-generasi sesudahnya.
Dalam perkembangan ruhaniah, kita melalui tingkatan yang kita sebut
syariat. Dalam tingkatan ini kita menyadari adanya pahala dan dosa.
Dua hal inilah yang kita peroleh sebagai hasil dari perbuatan kita.
Namun dalam tingkat ma'rifat, keduanya sudah lenyap. Atas perbuatan
'baik', orang tidak mendpat pahala, dan sebaliknya, atas perbuatan
'buruk', ia tidak terkena dosa. Mengapa demikian? Ia bukan lagi
dirinya sendiri! Ia sudah menjadi hamba Allah yang sejati. Jiwanya
sangat tenang, tak terusik oleh apapun, oleh ancaman siksaan atau
kematian sekalipun.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)