Assal�mu 'alaikum wr wb.
Bismillahirrahmanirrahiim.
Masya Allah, sungguh saya takut sebenarnya membahas masalah-masalah yang
begini.
Namun sedikit saya ingin urun rembug yang belum tentu kebenarannya.
Apa yang rekan-rekan kemukakan tentang alam semesta yang kian menjurus
kepada Sang Pencipta system itu nampaknya akan semakin jauh dan kabur dari
yang 'sebenarnya' kalau kita tetap mambahas dalam dimensi PIKIRAN.
Kita sering menegaskan bahwa belajar tasawuf, tidak cukup hanya
mengandalkan daya pikir saja. Alasannya kekuatan pikir itu terbatas, produk
dari pikir itu adalah sebuah kreasi pikiran, imaginasi, khayalan, logika
dan pada akhirnya akan terlahir sebuah karya/produk fikir yang disebut
'CIPTA'.
Maqam dari kebenaran pikir ini dalam wacana tasawuf merupakan kebenaran
yang bersifat relatif bisa juga di katakan kebenaran rendah yaitu produk
akal bawah (maaf ini hanya sebutan, bukan menilai hasil pikir kita rendah).
Kawasan yang kita kunjungi ini (dalam topik diskusi ini) sebenarnya akan
mejurus pada kawasan dimana pikiran tidak berlaku lagi. Di sinilah puncak
kesulitan dalam perjalanan spiritual. Bagi yang hanya mengandalkan daya
pikir saja lambat-laun akan mentok dan jatuh tersungkur....
Kalau demikian dengan apa pendekatanya, tentu pertanyaan ini yang akan
muncul.
Pendekatan yang lebih tinggi dari pikir (akal bawah) yaitu dengan
"olah-rasa".
Sayangnya produk dari olah-rasa (akal atas) tidak mudah untuk dialih
bahasakan dengan bahasa tulis maupun lisan. Kebenaran mutlak yang 'nyata'
dalam rasa itu hanya bisa dipahami oleh orang yang sudah diberikan ijin
untul 'melihatnya'.
Tapi jangan cemas 'ijin' itu diberikan dengan dua cara, yakni atas usaha
manusia dan karunia langsung dari Allah SWT.
Walaupun demikian dalam diskusi ini tanpa suara atau tulisan bakalan tidak
jalan. Tapi paling tidak saya mengajak untuk sama-sama melatih pemahaman /
penajaman rasa itu walau tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, paling
tidak insya Allah kita akan bisa menemukan kebenaran absolut yang 'NYATA'
dalam rasa sejati itu.
Pendapat saya tentang system alam semesta ini saya sepakat bahwa system itu
adalah ciptaan Allah Azza wa Jalla. Tapi Allah tidak berada dalam system
itu, tidak juga berada diluar system itu, Allah tidak berada dalam diri
manusia, juga tidak berada dalam diri setiap makluk. Jadi Allah itu ADA
namun TIDAK BERADA (hal ini pernah saya posted pada tulisan beberapa waktu
yang lalu).
Tentang Allah itu berpribadi atau tidak saya belum berani berpendapat.
Ada beberapa pendapat yang sering kita temukan dalam milis ini, misalnya:
"Manusia itu diciptakan sesuai dengan citraNya",
"...Katakanlah sesungguhnya Aku ini dekat....."
"...tidak memuat Dzatku......"
".... man aroba nafsahu faqad aroba robbahu....."
"...setelah kusempurnakan, maka Kutiupkan RuhKu...."
Dan banyak lagi baik kutipan ayat maupun hadist yang berhubungan dengan hal
ini.
Pemahaman saya yang dangkal ini melihat bahwa tamsil di atas, menunjukkan
bahwa kalau kita ingin mencari Tuhan, mengenal Tuhan jangan lari
kemana-mana, carilah dalam dirimu sendiri. Itu memang benar! Tapi Tuhan itu
tetap TIDAK BERADA dalam diri kita!
Lalu kanapa disuruh mencari Tuhan dalam diri kita?
Sementara saya berpendapat bahwa, karena "cermin" Tuhan itu ada dalam diri
kita.
Sebuah ilustrasi:
Diantara kita tentu sudah pernah atau mungkin sedang jatuh cinta.
Kalau misalnya saya sedang jatuh cinta dengan si Laila, tentu dia akan
senantiasa "berada" di kelopak mataku dan senantiasa "berada" dalam hatiku.
Tapi pada kenyataannya, Laila tidak pernah berada di situ.
Contoh ini tidak sepenuhnya benar karena cinta yang demikian biasanya ada
unsur lain yang bekerja misalnya nafsu, serta tidak berada pada tataran
ruhani yang terdalam/terhalus. Tapi cinta pada Allah adalah cinta suci yang
berada pada rasa-sejati yang "mutlak" kebenarannya.
Untuk membahas topik ini menurut pendapat saya akan lebih mendekati sasaran
kalau kita bahas bersama sebuah tamsil yang luar biasa indahnya yang
dikirim rekan Supriyono yang berjudul "Tujuh Lembah Menuju Tuhan" tgl
18-Feb-99.
Saya berpendapat barang siapa "memahami dengan sebenarnya" tamsil itu insya
Allah akan terjawab beberapa pertanyaan sekaligus antara lain:
Pertanyaan Pak SK Karim, Topik Misi Hidup, Topik System Alam Semesta,
Memahami taqdir, Zuhud, Islah, Tarikat, Ma'rifah, Mukasafah, Muraqabah,
Uns(cinta),Fana, Peristiwa pembunuhan Al-Halaj, wahdatul wujud,
Manunggaling Kawulo Gusti, Syaik Siti Jenar, Laa illaha illaHU,... dan
seabrek masalah tasawuf serta kehidupan lainnya yang intinya secara
explisit terangkum dalam tamsil tersebut.
Bahkan Insya Allah akan bisa menjawab berbagai pertanyaan lain karena "di
situ" letak 'samudra ilmu' yang tak pernah kering.
Silahkan dihayati alenia-demi alenia, kalimat demi kalimat kata-demi kata,
kosongkan kepala tajamkan rasa.... seperti layaknya seorang patik tunduk
bersila mengharap fatwa sang Raja....
Bagi yang mau sharing pendapat dipersilahkan.....
Kurang lebih mohon maaf,
Wassalamu'alaikum wr wb,
Wargino
------------------ deleted----------------
Memang begitu. Tetapi tujuan saya mengangkat tema ini bukan untuk
mencari suatu kesimpulan, melainkan hanya mengumpulkan
pandangan-pandangan. Mereka yang maqamnya sangat tinggi pun tidak
mau menarik kesimpulan dalam hal-hal begini.
> Tubuh manusia bila dicangkokkan benda asing ke dalamnya akan terjadi
> reaksi penolakan. Menurut saya, demikian juga bila pada benak manusia
> dicangkokkan pemikiran yang asing akan terjadi reaksi penolakan yang
> sama. Hipotesa pak Sunarman menimbulkan reaksi penolakan di benak saya
> :-), jadi ternyata masih "benda asing".
Penolakan yang wajar! Yakinlah, bukan hanya anda yang menolak. Dan
saya bukan hanya tidak keberatan, tetapi malah mengundang
pandangan-pandangan yang menentang. Untuk mencapai tingkat
obyektivitas yang lebih tinggi, semua pandangan akan saya terima
untuk menguji hipotesis itu. Kalaupun saya tampak ngotot, saya hanya
sekedar menguji seberapa kuat argumentasi anda.
> >Saya punya hipotesis
> >[yang masih perlu diuji] bahwa salah satu aspek Allah adalah sistem
> >itu sendiri.
> Mungkin pak Sunarman bisa menerangkan lebih lanjut apa yang dimaksud
> dengan kalimat di atas.
Allah saya pandang melalui pendekatan aspek-aspek-Nya. Saya
memisahkan aspek-aspek [sisi, wajah, manifestasi] Allah menjadi:
- Allah sebagai Pencipta
- Allah sebagai Pemelihara
- Allah sebagai Pembinasa
- Allah sebagai Sistem [Pengendali] Alam Semesta
- Allah sebagai Sumber Kehidupan
- Allah sebagai Pendidik [Sumber Ilmu Pengetahuan]
- Dst
Saya tidak melihat adanya kontradiski antara aspek-aspek di atas;
peran sebagai pencipta dan pemelihara tak perlu diperlawankan dengan
peran sebagai pembinasa; demikian pula peran Allah sebagai pencipta
tidak kontradiksi dengan perannya sebagai sistem.
> Paham tsb jelas susah diterima oleh akal saya yang terlanjur memahami
> bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta beserta sistemnya. Sistem bukan
> merupakan Tuhan itu sendiri ataupun salah satu aspek (apapun arti aspek
> di sini) dari Ketuhanan.
Rupanya anda memahami Allah sebagai pencipta sistem, dan bukan
sistem itu sendiri. Dari asumsi anda ini maka terdapat kemungkinan:
{1) Allah berada di dalam sistem (2) Allah berada di luar sistem.
Mana yang mewakili pandangan anda?
Dalam hipotesis saya, Allah bukan berada di luar atau di dalam
sistem, melainkan sistem itu sendiri merupakan perwujudan Allah.
> Karena menurut saya Sistem bukan Tuhan itu sendiri sehingga statement
> "Allah berada di dalam diri tiap makhluk" otomatis tidak bisa saya
> terima. Semua Makhluk memang terikat dalam sistem yang ada, tetapi tidak
> lantas dapat dikatakan bahwa Allah berada dalam diri tiap makhluk.
Sekiranya tidak menjadikan anda lebih mumet, mohon dijelaskan,
menurut pemahaman anda, di mana Allah berada, sementara kita tahu
bahwa Allah tidak terikat dalam dimensi ruang dan waktu?
Saya juga jadi penasaran ingin tahu, dalam pemahaman anda, apakah
Allah itu merupakan Tuhan yang berpribadi [personal God] ataukah tak
berpribadi [impersonal God].
Kalau Allah itu berpribadi, apakah Dia itu berbentuk dan bermassa;
apakah Allah itu aktif melakukan suatu perbuatan seperti: marah,
senang, menghukum, memuji, mendengar, berbicara, berjalan dll?
> Saya lebih cenderung bahwa dengan merenungi ciptaanNya dan menyadari
> adanya sistem di alam semesta ini maka kita akan menyadari kebesaran
> Tuhan yang menciptakan semua ini.
Saya juga begitu, Mas. Kita melihat segala benda dan kejadian di
alam semesta ini, lalu kita merenung, bagaimana Allah melakukan
segala sesuatu. Jelas bahwa Ia tidak melakukannya sendiri. Ia
melakukannya melalui makhluk-makhlukNya. Allah memberi rezki, tetapi
tak pernah terdengar ada rezki yang turun dari langit. Saya sendiri
selalu mendapatkan rezki melalui orang lain, tetapi Allah yang
memperoleh kredit sebagai Pemberi Rezki. Kalau saya sakit, saya
berobat ke dokter, ia memberi suntikan dan obat sehingga saya
sembuh; namun kredit tetap harus diberikan kepada Allah sebagai
Pemberi Kesembuhan. Saya bekerja keras untuk menciptakan berbagai
disain alat-alat industri, tetapi Allah pula yang berhak mendapat
kredit sebagai Sang Pencipta.
Dari contoh-contoh kejadian itu, salahkah kalau saya berpendapat
bahwa Allah 'ada' di dalam diri orang yang memberi rezki, dokter
yang memberi obat, insinyur yang menciptakan suatu karya, seniman
yang menghasilkan lukisan, guru yang mengajar, dll.? Sekiranya Dia
berada di luar sana, mengapa justru Dia yang berhak menerima
kredit-kredit atas perbuatan orang-orang itu?
Wassal�mu 'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)