Assalamu alaikum wr wb
Sedikit komentar dari orang awam.
Saya lebih setuju dengan pendapat pak Ali Abidin ttg faham Pantheisme ini - yang mirip
lagu January Christy. Dan bahwa Allah lebih dekat dengan urat leher kita sendiri -
saya rasa tidak bisa ditafsirkan begitu saja sebagai manunggaling kawula gusti - itu
semata-mata KeserbaMahaTahuan Alloh ttg makhluqnya.
Ttg diskusi masalah ini saya fikir milis bukan wahana yang tepat karena begitu berat
topiknya dan perlu sangat-sangat hati-hati.
Mohon maaf
Wassalam
-----Original Message-----
From: Ali Abidin [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Monday, February 22, 1999 3:18 PM
To: '[EMAIL PROTECTED]'
Subject: RE: [Tasawuf] Sistem Alam Semesta
Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Wah...wah...wah... Tambah berat pak Sunarman. Tadinya saya mencoba
mencari di internet barangkali ada tulisan ulama mengenai paham
pantheisme (pandangan sistem alam semesta adalah Tuhan itu sendiri
disebut pantheisme ya..?) .....ternyata nggak dapat. Saya sendiri
sebenarnya jauh dari mampu & berminat bicara tentang ketuhanan yang ada
dalam topik ini.
Setiap manusia dalam benaknya sebenarnya memiliki konsepsi tentang
Tuhan, meski mungkin susah mewujudkannya dalam kata-kata.
Rasanya saya curiga nih bahwa pak Sunarman sebenarnya cuman ingin cerita
tentang konsep ketuhanan (Pantheisme versus "Tuhan pencipta alam semesta
beserta isinya") tetapi menghindari metode khutbah jumat (yang sepi
tanya jawab). Jika memang begitu adanya, tolong deh untuk tema ini pak
Sunarman pakai metode khutbah jumat saja, sebab rasanya tidak ada yang
cukup berani melayani dialog dalam tema ini.
>Allah saya pandang melalui pendekatan aspek-aspek-Nya. Saya
>memisahkan aspek-aspek [sisi, wajah, manifestasi] Allah menjadi:
>- Allah sebagai Pencipta
>- Allah sebagai Pemelihara
>- Allah sebagai Pembinasa
>- Allah sebagai Sistem [Pengendali] Alam Semesta
>- Allah sebagai Sumber Kehidupan
>- Allah sebagai Pendidik [Sumber Ilmu Pengetahuan]
>- Dst
>
>Saya tidak melihat adanya kontradiski antara aspek-aspek di atas;
>peran sebagai pencipta dan pemelihara tak perlu diperlawankan dengan
>peran sebagai pembinasa; demikian pula peran Allah sebagai pencipta
>tidak kontradiksi dengan perannya sebagai sistem.
>
Saya juga kok tidak melihat bahwa mengatakan Allah sebagai pencipta
Sistem Alam Semesta maka berarti melakukan kontradiksi antara peran
Allah sebagai pencipta dengan perannya sebagai pemelihara alam semesta.
Atau barangkali menurut pak Sunarman begitu?
>Rupanya anda memahami Allah sebagai pencipta sistem, dan bukan
>sistem itu sendiri. Dari asumsi anda ini maka terdapat kemungkinan:
>{1) Allah berada di dalam sistem (2) Allah berada di luar sistem.
>Mana yang mewakili pandangan anda?
Jika pertanyaan pak Sunarman "di dalam vs di luar sistem" ini saya
pahami sebagai apakah Allah terikat oleh Sistem alam semesta atau tidak,
maka jawabannya menurut saya adalah Allah tidak terikat oleh sistem alam
semesta yang diciptakan-Nya.
Sebagaimana Tuhan adalah Baka, maka dalam pandangan pantheistic
Alam-Semesta tidak akan pernah berhenti dari siklus
penciptaan-pemeliharaan-pemusnahan. Alam akan mengembang, kemudian
menyusut kembali dan kemudian akan kembali mengembang dst...dst...
Apakah pak Sunarman juga beranggapan demikian?
>
>Sekiranya tidak menjadikan anda lebih mumet, mohon dijelaskan,
>menurut pemahaman anda, di mana Allah berada, sementara kita tahu
>bahwa Allah tidak terikat dalam dimensi ruang dan waktu?
Karena Allah tidak terikat ruang-waktu maka pertanyaan "Dimana" jadi
bener-bener susah menjawabnya, bahkan benar-benar tidak relevan. Buat
saya Tuhan saya kenali lewat atributnya (asmaul husna) sehingga saya
tidak berusaha menempatkan Tuhan ada di mana tetapi sebagai "Maha
Mendengar" maka saya yakin bahwa Dia mendengar doa saya, "Maha Melihat"
maka dia melihat semua tingkah laku saya dst...dst. Tanpa saya harus
mengurung Tuhan dalam "Dimana".
>
>Saya juga jadi penasaran ingin tahu, dalam pemahaman anda, apakah
>Allah itu merupakan Tuhan yang berpribadi [personal God] ataukah tak
>berpribadi [impersonal God].
>Kalau Allah itu berpribadi, apakah Dia itu berbentuk dan bermassa;
>apakah Allah itu aktif melakukan suatu perbuatan seperti: marah,
>senang, menghukum, memuji, mendengar, berbicara, berjalan dll?
Aduh, Tuhan berpribadi atau tidak berpribadi? Rasanya terlalu jauh
mengibaratkan Tuhan sebagai manusia. Pertanyaan ini rasanya ditrigger
oleh ajaran di dalam tradisi agama kristen (kalau tidak salah ayat ini
ada di awal Perjanjian Lama) dimana dikatakan bahwa Tuhan menciptakan
Adam sebagaimana gambar diri-Nya ("by His Picture").
Saya sendiri menyadari bahwa atribut Allah (asmaaul husna) dapat
dipergunakan untuk memahami Tuhan hanya secara terbatas. Bila dikatakan
"Maha Melihat" tentunya tidak dibayangkan sebagai memiliki mata dst,
ataupun melihat sebagimana manusia proses manusia melihat, melainkan
bahwa Dia melihat seluruh tingkah laku saya dst. Maha Mendengar
tentunya tidak lantas dipahami bahwa Allah mendengar lewat proses
seperti manusia mendengar dimana getaran diteruskan oleh gendang telinga
via tulang-tulang lunak hingga ke susunan syaraf dst..dst. Melainkan
bahwa Allah mendengar doa hambanya dst...
Jadi pertanyaan tsb saya kira cuman terlalu jauh mempersonifikasikan
Tuhan. Mungkin pak Sunarman bisa memberikan penjelasan apa gunanya
pertanyaan seperti di atas dalam memahami ketuhanan? Atau barangkali pak
Sunarman beranggapan lebih jauh bahwa Tuhan memiliki tangan, kaki dst?
>
>Jelas bahwa Ia tidak melakukannya sendiri. Ia
>melakukannya melalui makhluk-makhlukNya. Allah memberi rezki, tetapi
>tak pernah terdengar ada rezki yang turun dari langit. Saya sendiri
>selalu mendapatkan rezki melalui orang lain, tetapi Allah yang
>memperoleh kredit sebagai Pemberi Rezki. Kalau saya sakit, saya
>berobat ke dokter, ia memberi suntikan dan obat sehingga saya
>sembuh; namun kredit tetap harus diberikan kepada Allah sebagai
>Pemberi Kesembuhan. Saya bekerja keras untuk menciptakan berbagai
>disain alat-alat industri, tetapi Allah pula yang berhak mendapat
>kredit sebagai Sang Pencipta.
Saya mencoba menjawab dengan jujur apa yang saya sadari tentang hal ini.
Saya sendiri tidak mampu sejauh itu memberikan seluruh kredit kepada
Allah. Bila saya menciptakan desain alat industri maka sayalah
penciptanya, bukan Allah yang mendapat kredit sebagai Sang Pencipta.
Paling jauh saya bersyukur kepada Allah bahwa saya diberi nikmat
sehingga mampu mencipta. Allah sendiri adalah Maha Pencipta. Saya
menyadari bahwa toh tubuh ini beserta semua perangkatnya hanyalah amanat
yang harus saya pertanggung-jawabkan penggunaannya kepada Allah. Bahkan
lebih jauh ketika saya menggunakan otak saya untuk menciptakan desain
alat industri yang kemudian berguna untuk manusia lainnya, maka saya
merasa telah menggunakan amanah tsb dengan baik.
Jadi barangkali saya memang tidak mampu sejauh itu mengembalikan semua
kredit kepada Allah SWT. Tetapi hal ini tidak ada hubungannya dengan
panteisme.
>Dari contoh-contoh kejadian itu, salahkah kalau saya berpendapat
>bahwa Allah 'ada' di dalam diri orang yang memberi rezki, dokter
>yang memberi obat, insinyur yang menciptakan suatu karya, seniman
>yang menghasilkan lukisan, guru yang mengajar, dll.? Sekiranya Dia
>berada di luar sana, mengapa justru Dia yang berhak menerima
>kredit-kredit atas perbuatan orang-orang itu?
Jika memang pantheis terkagum-kagum pada sistem ini dan memberikan
seluruh kredit kepada sistem ini (yang menurut phanteis adalah Tuhan itu
sendiri) maka orang yang meyakini bahwa ada pencipta sistem ini akan
memberikan kredit kepada Pencipta sistem tsb. Sistem ini cuman salah
satu makhluk-Nya.
Jika diumpamakan phanteist terkagum-kagum kepada software tertentu
(misalnya microsoft word) sedangkan saya terkagum-kagum kepada manusia
pencipta software tsb.
Saya yakin bahwa bila pak Sunarman hanya ingin menghadapkan Pantheisme
(System di alam semesta ini adalah Tuhan itu sendiri) pada paham "Tuhan
pencipta Alam Semesta beserta sistemnya", maka sampai habis energi kita
tidak akan pernah ketemu, tidak akan pernah ketemu sintesanya. Karena
pantheisme rasanya juga dominan pada beberapa ajaran agama hingga saat
ini. Bila memang disadari akhirnya tidak akan memiliki kesimpulan
apa-apa, maka buat apa menghabiskan energi pada topik ini? Saya sendiri
tidak mampu (& tidak mau) untuk beradu argumentasi melawan pantheisme
yang sama usianya dengan usia manusia di bumi.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)