Budi Utomo:
> Saya kurang setuju kalau Allah Berkehendak menciptakan kejahatan di bumi
> ini. Saya tetap sepakat dengan kawan-kawan yang lain bahwa itu karena
> kebejatan aklak manusia. Dan bukan kehendak Allah.
Wargino:
> Terima kasih, itu hak anda untuk berpendapat dan saya juga tidak bermaksud
> mengarahkan pola fikir anda sebagaimana pendapat saya. Saya sendiri belum
> yakin benar, bahwa pendapat saya itu benar. Mungkin saya akan berubah
> pikiran setelah mendapat jawaban atau masukan dari rekan-rekan.
>
> Sedikit saya berkomentar,
> sepertinya pendapat anda ini mencampur adukkan antara masalah makluk dengan
> masalah Chalik. Maksud saya yang manusia mendefinisikan sebuah 'kejahatan'
> itu belum tentu berarti kejahatan bagi Allah. Allah jangan dimasukkan dalam
> obyek makluk. Kita sedang membahas kejadian di dunia makluk. Jadi Allah
> semestinya
> tidak ikut menjadi obyek dalam hal ini. Allah 'diluar' pengaruh segala
> bentuk hukum dan definisi. Maha Suci Dia dari segala sifat-sifat makluk
> yang dlo'if. Allah Berdiri Sendiri, Allah Berbeda dengan Makluk.
>
> Saya sama sekali tidak berpendapat bahwa Allah menciptakan kejahatan di
> muka bumi. Saya melihat yang manusia definisikan sebagai suatu 'kejahatan',
> tetapi dibalik itu secara seimbang terdapat limpahan karunia yang luar
> biasa.
Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
Selama kita masih menjadi manusia, kita selalu saja dihadapkan pada
dualisme atau dikotomi. Issue "Apakah Allah menciptakan kejahatan?"
pun tak terlepas dari dua jawaban yang saling bertentangan, "Ya" dan
"Tidak". Tampaknya kedua jawaban ini akan tetap ada bersama-sama
sampai akhir zaman, seperti keberadaan timur dan barat.
Masing-masing kubu dapat menampilkan segudang argumentasi untuk
mendukung jawabannya. Keduanya benar dan keduanya salah.
Lagi-lagi pernyataan ini membingungkan.
Agama itu memang penuh misteri, dan kita mudah terjebak dalam
hal-hal yang tidak perlu bila kita tidak menyadari untuk apa kita
belajar agama. Pelajaran agama, termasuk tasawuf, itu berjenjang.
Tiap jenjang diberi warna tersendiri dan dapat saja saling
bertentangan, misalnya issue di atas: ada jenjang-jenjang yang
diajarkan untuk menjawab TIDAK, sedangkan pada jenjang lain diajar
untuk menjawab YA.
Mengapa begitu?
Faham "Allah tidak menciptakan kejahatan" sangat tepat diajarkan
kepada para pemula. Bahkan sering dikatakan "Syaitan itu musuh
Allah." Tentu ajaran ini bermaksud baik dengan asumsi tertentu:
mendidik orang agar menghindari berbuat jahat. Faham yang sebaliknya
bahwa "Allah-lah yang menciptakan kejahatan" pasti tidak sesuai bagi
mereka karena mereka akan merasa tidak bersalah jika melakukan
kejahatan. Selain itu, ditinjau dari aspek psikologis, ajaran ini
memang tidak sesuai bagi mereka karena menimbulkan penolakan.
Faham yang belakangan ini hanya tepat bagi mereka di jenjang yang
lebih tinggi, mereka yang di dalam dadanya sudah tertanam keinginan
untuk selalu melakukan kebajikan dan menjauhi kemunkaran.
Orang-orang ini perlu melakukan reformasi spiritual dengan
menganggap bahwa kejahatan itupun datangnya dari Tuhan.
Apa manfaatnya?
Orang pada jenjang ini biasanya telah sering mengalami kepahitan
hidup melalui kejahatan-kejahatan yang dilakukan orang lain terhadap
dirinya. Mereka berada pada posisi sebagai penderita, sebagai korban
kejahatan. Tentu mereka sangat menderita. Dengan pemahaman baru
bahwa kejahatan itu Allah juga yang mendatangkan, maka mereka
sedikit-banyak akan terhibur. Allah mendatangkan keburukan kepada
mereka semata-mata karena hal ini merupakan cobaan atau hukuman atas
dosa-dosa yang mereka perbuat sendiri. Jadi kedatangan kejahatan itu
harus dijadikan pemicu untuk melakukan introspeksi dan bertaubat.
Orang yang disebut belakangan ini tidak mudah marah bila terjadi
malapetaka yang menimpa dirinya, keluarganya, teman-temannya,
golongannya, bangsanya dll. Mereka pertama-tama melakukan
introspeksi sebelum mengambil keputusan sehingga terkesan lamban
dalam bertindak. Biasanya, golongan ini terdiri dari orang-orang
yang sudah berumur.
Golongan pertama, umumnya terdiri dari orang-orang muda usia yang
masih memiliki energi sangat prima. Mereka mudah marah [impulsif]
dan cepat bertindak ketika melihat kemunkaran terutama bila mereka
atau golongan mereka yang menjadi korban. Meskipun mereka tahu bahwa
'Allah tidak menyukai kejahatan' tetapi mereka masih cenderung untuk
membalas kejahatan dengan kejahatan, tanpa disadari.
Lalu, secara obyektif, apakah kejahatan itu benar-benar diciptakan/
dikehendaki Allah atau bukan? Silakan menjawab dalam hati
masing-masing dan tidak perlu berdebat. Apapun jawaban yang
menenteramkan anda, jawaban itulah yang benar buat anda pada saat
itu. Inilah salah satu misteri agama.
Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)