Assalamu'alaikum wr wb,
Mengapa kita baru prihatin atau baru tersentuh rasa-bersaudara kita
terhadap sesama muslim
setelah ada suatu peristiwa yang mengenaskan ya...?. Misalnya pembantaian
dsb.
Dan anehnya lagi perasaan ini hadir hanya sesaat saja. Buktinya pembantaian
yang berlansung
sekian lama di Bosnia, kini tak lagi dirasakan sebagai bagian dari
darah-daging kita yang teriris.
Perang sepanjang jaman di Timur Tengah adalah pemandangan yang biasa yang
tidak menyentuh
nurani lagi. Mengapa? Apakah memang manusia mempunyai sifat imum?
Sudah berapa Rasul dan Nabi yang diturunkan di daerah itu (Timur-Tengah)
tapi kok tidak tercipta
suasana 'aman-tentram' versi 'kita' ya....? Mengapa hal ini terus terjadi?
Ribuan manusia berdoa tentang keselamatan-kemakmuran di muka Bumi. Bukan
hanya manusia biasa
tapi juga para Manusi Suci, Para Nabi, Rasul, Awlia dan para
Sholihiin...... kenapa dunia tetap saja isinya
begini? Apakah Tuhan tidak mendengar do'a hambanya? Mana nanji-Mu Yaa..
Allah yang Engkau
janjikan pasti akan mengabulkan setiap do'a hambaMu?
Akankah kita protes kepada Allah ? Ini adalah ide yang gila..... gile...
bener!!
Bukankah hal ini penyebabnya hanya satu hal, yaitu karena adanya Syaitan
sebagai pemicu kejahatan.
Mengapa Allah tidak menghilangkan syaitan itu dari tatanan system jagad
raya ini agar aman damai?
Mengapa Allah dulu-dulunya menciptakan atau mengadakan syaitan padahal
Allah Maha Tahu apa
yang bakal diperbuat syaitan terhadap dunia?
Rekan-rekan milis yang terhormat,
Tidaklah perlu kita saling menyalahkan satu dengan yang lain. Peristiwa
demi peristiwa yang terjadi
itu menurut saya bukan murni kehendak manusia. Dari beberapa pertanyaan
saya di atas kalau dicari
jawabannya akan sangat sulit. Karena jawabanya itu menyangkut wewenagn
mutlak Allah. Seolah-olah
kita akan mendikte Allah yang Maha Tahu.
Menurut saya yang perlu kita lakukan adalah mawas diri, usaha semampunya
menurut kapasitasnya,
lalu mengambil pelajaran dan hikmah dari semua kejadian itu.
Kejadian-demi kejadian yang mengerikan itu tidak ada yang sia-sia. Semua
menggambarkan
keseimbangan ada baiknya dan ada pula buruknya. Juga sebagai bahan-bakar
iman agar tetap
membara-menyala dalam hati kita...
Semoga kita senantiasa dituntun Allah di atas jalan yang diridloiNya.
Amiin.
Kurang lebih mohon maaf.
Wassalamu'alaikum wr wb,
Wargino
Eko Raharjo <[EMAIL PROTECTED]> on 03/04/99 07:38:19 AM
Please respond to [EMAIL PROTECTED]
To: "'[EMAIL PROTECTED]'" <[EMAIL PROTECTED]>
cc: (bcc: Wargino Sihim)
Subject: RE: [Tasawuf] RE: Oknum Polisi Berondong Jamaah Sholat
Assalamu'alaikum wr wb.
Saya jadi membayangkan bagaimana sekarang anda saudara seagama yang saya
cintai seadainya bertemu dengan rasulullah dan menanyakan apa yang telah
kamu lakukan terhadap saudara-saudaramu yang teraniaya di-Ambon ;sedih
membayangkannya
Dikatakan kita beriman tapi kita belum tergerak dan tersentuh dengan
penderitaan saudara kita. Barangkali sangat banyak yang kita lakukan
selain doa. Doa memang wajib .. tetapi alangkah lebih baik kita juga
berjihad dengan harta yang kita miliki walaupun tidak seberapa dan
menyalurkannya lewat bantuan kemanusian yang dikelola oleh saudara
muslim lainnya.
Saya belum bisa belum bisa mengerti bila ada orang yang mampu berserah
diri tapi membiarkan saudara-saudara kita teraniaya. Sementara kita
masih bisa menikmati dan mencintai kehidupan duniawi seperti sebelumnya
seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Tidak usah kita berpikir ini rencana jangka panjang yang harus terjadi
di-Indonesia dan kita tidak bisa melakukan apa-apa. Bisa, kita bisa
melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan masing-masing jangan tunggu
sampai anda tahu semua fakta baru tergerak untuk membantu karena
barangkali saat tersebut sudah terlambat.
Maafkan saya yang sedih dan bingung.
Wassalamu'alaikum Wr Wb
Eko Raharjo
>----------
>From: R. Sunarman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent: Wednesday, 3 March 1999 15:33
>To: Tasawuf
>Subject: [Tasawuf] RE: Oknum Polisi Berondong Jamaah Sholat
>
>Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
>
>Memang kita semua serba salah. Ada dorongan agar kita berbuat
>sesuatu, tetapi kita tidak dapat merumuskannya dengan jelas. Apa
>yang dapat kita lakukan dalam kapasitas kita masing-masing? Menunggu
>perintah seseorang untuk beramai-ramai menyerbu Ambon? Menunggu
>seseorang mengkoordinir pengumpulan dana untuk membantu mereka? Saya
>sendiri menyadari keterbatasan yang ada pada saya, sehingga saya
>hanya mampu mengajak rekan-rekan untuk berdoa. Kita serahkan kepada
>Allah agar 'turun tangan' dengan cara-Nya sendiri untuk menolong
>umat yang selama ini mengagungkan-Nya. Allah Mahatahu dan
>Mahabijaksana; Dia tahu apa yang terbaik bagi kita, bagi bangsa
>kita.
>
>Untuk dapat bertindak, kita terlebih dahulu perlu mencari akar
>permasalahannya, dan saya memperoleh ilham bahwa negara kita ini
>telah rusak dalam berbagai sektor kehidupan. Negara-negara adidaya
>berusaha menundukkan kita dengan pola-pola 'divide et empera' yang
>kita semua sudah mafhum. Mereka tidak lagi menggunakan kekuatan
>militer untuk membuat kita takluk, tetapi dengan cara menimbulkan
>saling permusuhan dan kekacauan-kekacauan lain. Bukan hanya
>Indonesia; kawasan Asia termasuk Malaysia pun diguncang. Mereka
>belum akan berhenti sebelum berhasil menundukkan seluruh dunia. Saya
>melihat bahwa kita sekarang ini *secara makro* tak berdaya untuk
>melakukan apa-apa yang lebih bermanfaat selain berdoa. Hanya Allah
>yang mampu mengatasi semua ini. Mengenai hal ini saya tidak dapat
>menunjukkan bukti. Anda dapat mempertanyakan kebenarannya kepada
>hati nurani anda sendiri.
>
>Jadi anda lihat, kalau insight tersebut benar dan kita menyalahkan
>umat Kristen di Ambon, maka kita keliru. Mereka pun menderita akibat
>ulah negara adidaya itu, sedangkan mereka itu saudara kita pula.
>Kita perlu menyelesaikan masalah ini di luar konteks 'Islam melawan
>Kristen.'
>
>Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
>RS
>
>-----Original Message-----
>From: Eko Raharjo
>Sent: Wednesday, March 03, 1999 7:26 AM
>Subject:RE: Oknum Polisi Berondong Jamaah Sholat
>
>> Assalamu'alaikum wr. wb.
>
>> Apakabar Pak Sunarman ?
>> Membaca mail Pak Sunarman saya jadi serba salah , saya sangat sedih
>> dengan kejadian yang menimpa saudara-saudara kita di-Ambon, belum lagi
>> berita di Indonesia dan diluar negeri yang dengan jelas
>> menjungkirbalikkan fakta.
>> Saya jadi bertanya-tanya kemana umat islam yang lain dan kemana para
>> pemuka agama kita kenapa terus membiarkan saudara kita dibantai tanpa
>> perlawanan yang seimbang.
>> Tapi disisi lain saya juga tidak ingin umat salah bertindak hingga tidak
>> adil seperti yang di-isyaratkan agama.
>
>> Menurut mail bapak kejadian di-Ambon merupakan awal dari rentetetan
>> panjang kekacauan yang akan menimpa umat islam dan tanah air tercinta.
>> Dan beberapa orang pandai telah mempersiapkan diri untuk keadaan perang
>> agama.
>> Selama ini saya belum tahu dan belum melihat niat baik kelompok non
>> islam atau barangkali saya yang bodoh dan kurang punya kepekaan untuk
>> melihat kebobrokan dan kekurangan kita. Kalau bapak tidak keberatan saya
>> ingin dijelaskan lebih jauh tentang mail bapak dibawah hingga saya dapat
>> lebih bijaksana bersikap. Terus untuk kejadian di Ambon kenapa hanya doa
>> yang bapak anjurkan sementara lebih dari itupun sebenarnya kita mampu
>> melakukan (atau bapak hanya mengatakan itu dalam milis ) ,terima kasih
>
>
>> Wassalamu'alaikum wr wb
>
>> Eko Raharjo
>
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)