On Fri, Oct 21, 2005 at 11:09:52PM -0700, ahutapea wrote: > Pak, investasi di industri SDA itu besar sekali dan begitu juga dengan > menjalankan operasional perusahaan SDA. OPEX & CAPEX nya besar 'pak > tiap tahun, bahkan perusahaan tambang besar saja harus minjem duit > setiap tahun untuk ngebiyaiin OPEX & CAPEX tersebut karena alasan > cash-flow.
dulu, waktu masih bantu-bantu ngajar statistik, saya selalu menekankan supaya tidak terlalu terfokus pada detail. paham secara detail itu baik, tapi kalau sekedar dapat 'insight' itu tidak perlu mengerjakan pekerjaan tukang. anyway, waktu itu kan cuman t-test. simple, tapi saya heran orang jadi 'panik' gara-gara cuman clerical tasks tsb. bersibuk-sibuk karena dikadalin oleh dosennya :-) (saya bukan dosen). dengan memahami 'underlying assumptions' plus input dan output, orang akan dapat insight yang bagus tentang data. lepas dari ybs ngerti atau tidak cara hitungnya. gitu saja. ilustrasinya gak jelas ya kalau dikaitkan kasus yang dibahas :-) barangkali mirip sama yang disampaikan kwik yang disuguhi itung-itungan di atas kertas plus dikata-katain: udah sekolah sampai ke AS kok idiotnya masih mengerak he..he.. jadi, keept it stright, kalau itu refots bin capex bin whatever, lantas kenapa dengan begitu idiotnya 'mereka' datang ke sini? anda mengilustrasikan soal kelebihan 'tunjangan' bagi penduduk setempat (sorry, walaupun saya alergi mendengar istilah upeti dan sejenisnya) tapi, pernahkan anda membayangkan kalau itu dikelola secara mandiri dan digunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat setempat, saya yakin papua tidka seperti yang sekarang kita lihat, dan mungkin daerah indonesia timur dan sekitarnya tidak akan seperti yang kita lihat sekarang. sederhana bukan? terlalu terfokus pada detil seringkali membuat yang di sini (menunjuk kepala, otak) melimpah ruah, tapi jadi kurang di sini (menunjuk dada/hati). dalam 'berperang', seperti kata musashi, terlalu berfokus pada detail juga membuka kelemahan, justru kita harus melihat lawan secara keseluruhan tanpa memusatkan pandangan pada suatu apa pun. > Saya tidak ada masalah bila perusahaan lokal mengelola perusaaan SDA > tapi kita harus lihat dari segi efektif dan efisiensi. Bandingkan saja > Kaltim Prima Coal dengan Bukit Asam, jauh sekali perbedaan. seperti saya berkali-kali berusaha menyampaikan, dua kesalahan berturut-turut tidak akan otomatis membuat sesuatu menjadi benar. komentar saya untuk di atas: memang banyak orang yang suka atau gemar atau hobby atau doyan mendapat uang banyak tanpa melakukan apa-apa. ada yang dengan menjajah bangsa sendiri, ada yang dengan bangga menjadi germo atas bangsa sendiri. ilustrasi lagi, adi jadi sopir taksi dengan kirim setoran 100-150 ribu sehari, dengan janji setelah 5/10 tahun mobil tsb. menjadi milik pribadi. pernah berpikir tidak kalau dengan 4-5 jt/bulan, ybs bisa mencicil mobil kelas menengah hanya dalam waktu cuman 3 tahun? jahat bukan? Terus ada orang asing yang membuka usaha dengan transportasi, dengan pat-gulipat (utang ke bank di indonesia untuk membuat usaha taksi di indonesia), kemudian menawari adi untuk dengan skema yang sama, hanya dengan setoran 30 ribu sehari. jadi ya sudah, serahkan saja bisnis taksi di sini pada orang asing. gitu? semuanya kan soal pilihan. kalau dalam security ada istilah: every little bit helps. saya lebih memilih mengelola semuanya secara mandiri kalau bisa. 'mereka' ke sini karena kita ini 'mangsa' yang empuk. bukan karena ada di antara kita yang brengsek, walaupun seringkali ini jadi 'excuse'. Salam, P.Y. Adi Prasaja
