adi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> tingkat kesehatan masyarakat itu satu indikator, kualitas pendidikan itu
> indikator berikutnya. dua-duanya hanyalah secuil bagian dari siklus yang
> besar. coba deh diikutin dulu 'siklus' yang ini, baru kita ngomong soal
> indonesisasi IT dunia.
...

memang benar kualitas pendidikan itu salah satu indikator.
akan tetapi, saya melihat kualitas pendidikan di Amerika juga tidak
begitu hebat, bahkan cenderung kacau! (untuk bachelor ke bawah)
tapi buktinya tetap sukses tuh.

di acara jay leno, dia mengambil 3 orang sembarang di jalan
kemudian diadu dalam kuis.
wah... kasihan sekali melihat bloon-nya (maaf) orang tersebut.
kelihatan betapa kacaunya pendidikan di sana.
mereka sangat tidak peduli terhadap hal2 yang di luar lingkungan
lokal mereka. contohnya, ditanya soal letak kanada di atlas
pun mereka mungkin tidak tahu. he he he.

sekarang banyak orang di Amerika yang mempertanyakan arah
dari pemerintah Amerika. saya sedang membaca buku
"the world is flat" karangan thomas friedman.
di situ dibongkar banyak hal yang harusnya dipikirkan orang
Amerika (dan orang lain juga sih). salah satunya education.
eh, buku itu *wajib* dibaca oleh orang IT. :)

kalau soal education, india memang sudah berada di jalur
yang benar/lurus :) maklum mereka sadar bahwa satu-satunya
jalan keluar dari kemiskinan adalah education. apa lagi?
dan mereka mau investasi ke sana.


> kita tidak sedang ngomong puluhan ribu orang indonesia yang berjaya
> sampai dikontrak oleh perusahaan IT dari planit mars. tapi kita bicara
> soal puluhan/ratusan juta orang yang terancam busung lapar. kita tidak
> sedang ngomong soal avian influenza yang sempat bikin bule-bule itu
> gemeteran sampai nyerocos nggak karuan takut ketularan, tapi kita
> ngomong soal kematian ibu dan anak di Indonesia yang masih, bahasa
> latinnya, ting-tlecek, yang (masih) merupakan problem *real* di negara
> kita.

lah, apa India nggak lebih pusing tuh?
India miskinnya *lebih* dari Indonesia.
bulan lalu saya ke New Delhi. [dan ke old Delhi]
sopir three-wheeler (bajay) turun dari bajaynya
terus kencing di pinggir jalan. he he he.
kumuh.
penduduknya lebih banyak dari Indonesia.
korupsi di sana juga jalan tuh.
tapi toh Bangalore tetap jalan.

ok kita tahu bahwa kita punya masalah lain.
tapi kita lupa bahwa negara lain pun punya masalah yang sama.
bahkan mungkin lebih berat.
jadi jangan kita jadikan permasalahan tersebut sebagai
masalah utama.

> buset dah kalau orang sudah bingung sakit mau berobat kemana, mau pilih
> mati saja juga masih bingung mau dikubur di mana, mau sekolah
> muahaaaallll. masih disuruh bersaing :-)

India dan China juga menghadapi masalah yang sama.


> cina bisa sukses bukan karena intel/ibm, tapi karena mereka lebih
> gampang ngeplaki germo-germo penjual bangsanya sendiri, ukm diurusin,
> niaga diatur dengan peraturan yang amat-sangat strict.

bukan berarti di sana gak ada korupsi lho.

saya pernah tanya kepada pelaku bisnis di silicon valley,
mengapa mereka ke India, China, Israel (di sono perang terus!)?
padahal di tempat sana sama kacaunya dengan negara lain.
yang penting, kata para pengusaha ini, adalah
"they get the job done!" itu saja ternyata.

nah, kita juga harus demikian. biar saja bbm naik kek, flu burung kek,
bom bali kek, yang penting bagaimana "the job done!"
kita harus buktikan itu. bahwa kita juga bisa get the job done.

pengamatan saya, kita ini memang bisa "get the job done".
tapi hanya satu kali. kalau diulang lagi, eh gak bisa.
gak repeatable gitu. artinya ... mungkin gak ada proses.
nah, bagaimana kita bisa konsisten get the job done.


> > Btw,nyalahin Puskesmas juga **gak jamanya** lagi sekarang,
>
> kayaknya ini salah tulis. puskesmas itu soko guru sistem kesehatan di
> negara mana pun.

maksudnya rekan kita itu, udah gak jamannya lagi kita cari
kambing hitam gitu. yuk kita maju sama-sama yuk...

...
> di sini gunanya PT
> sebenarnya, bisa melakukan riset berkesinambungan. tapi mana, sudah bbrp
> generasi lho :-) kenyataannya paling pinter menelorkan orang berdasi.
...

itulah. bagaimana kita bisa mengubah ini?
mari kita cari solusinya dan kita eksekusi solusi ini yuk.

> BTW, saya bicara soal *institusi* bukan seorang Budi Rahardjo yang
> kebingunan saat masuk kelas muridnya 'nggong semua. Saya baca tulisan
> itu, pertama kali yang ada di benak saya: lah kok bisa? lah kok bisa
> manusia-manusia 'nggong itu duduk di situ? BTW, masih sistem belajar
> kasih petuah masih populer ya.

masih populer di SD, SMP, SMA kali ya?
permasahalan yang saya hadapi ternyata cultural.
[bahwa bertanya itu salah. bahwa kalau menjawab salah itu aib.]

ketika mahasiswa diajak untuk lebih terbuka, ternyata tidak siap :(
jadi dosen di Indonesia tidak bisa seperti dosen di LN.
dosen harus lebih banyak kerja keras untuk sekalian mengubah kultur.
yah sudah nasib jadi dosen. mau apa lagi. terpaksa harus mau
ikut mengubah kultur ini.

> dan, maksudnya 'bukan jamannnya lagi' itu gimana? wong ini masalah real
> yang kita hadapi. apa maksudnya gini: bukan jamannya mikirin yang
> gituan, biarin aja orang-orang tidak berguna itu tewas dengan sukses?
> yang penting seluruh dunia kenal indonesia si raja IT? gak kan?

maksudnya carlos bukan begitu. maksudnya kita cari solusi maju
terus gitu.

> yuk bikin milis baru. groups.or.id masih nganggur tuh .. he..he..
> wis ah .. over and out :-)

hi hi hi. komentar saya sih, layanan groups.or.id ini termasuk yang
tidak diseriusi oleh pengurusnya. mungkin itu dulu ya?
harus jadi obsesi dong mas adi. terus saja ditekuni.

-- budi

Kirim email ke