komentar umum saya:1. mahasiswa china/india yg ke luar negeri kalo gak salah masing2 60.000 (enampuluh ribu) dan 30.000 (tiga puluh ribu) per-tahun. india katanya miskin, lha kok? faktanya adalah: kelompok middle-class (=pengusaha/wiraswasta/profesional) india sekitar 30% yg berarti
Cak Fatih, Bisa lebih specifik ngga dengan data yang 60.000 dan 30.000 pertahun ini maksudnya gimana, bisa juga di bilang miskin karena mungkin saja jumlah rata2 orang kaya di India di banding dengan total jumlah penduduk serta populasi yang terserbar sangat besar range nya.
sekitar 300-an juta. kalangan ini cukup banyak krn PNS hunter umumnya kalangan bawah. yg atas lebih demen jadi pengusaha/wiraswasta/profesional. mereka2 ini ya tentu saja sangat mampu unt. sekedar biayain anak2nya ke LN. selain itu, unt. kalangan tak mampu mrk belajar keras (keras dlm standar pelajar india = sangat mati2an dlm standar kita) unt. dapat beasiswa ke LN. spt pernah saya tulis di sini "Dinamika ABG INDIA" etos belajar mrk sedemikian tingginya sampe gak ada waktu buat pacaran.
Kalau Di Indo kebalik, jangan sampai jadwal kuliah mengganggu jadwal pacaran, Zaki mungkin bisa kasih tanggapan, gimana fenomena pelajar kita di indonesia di liat dari sisi lain oleh seorang Zaki yang suka membaca dari pada dugem. Terus apa bisa ngga merubah culture pelajar dan mahasiswa Indo sekarang menjadi lebih ke reading and learning oriented, ini bukan target setahu dua tahun tapi target jangka panjang, kalau orang jerman bilang make strategy salami, jadi di kikis slice by slice.
2. hidup avonturir di LN, ke negara yg lebih makmur atau kadang malah lebih miskin, kayaknya udah jadi 'hobi' org India dan cina. di kita bila udah mapan, tak akan ke LN. Umumnya hanya unskilful worker yg betul2 gak bisa hidup di DN jadi pergi ke LN.
mungkin calture orang Indo, selalu senang di comfort Zone TM, hahahah sedihnya, semoga carlos, gue atau yang lain yang ada di LN ngga disebut unskilful worker.
dalam reportase BBC soal india beb. tahun lalu, banyak kalangan profesional (dokter, dll) dg penghasilan sangat cukup masih ingin bermigrasi ke LN (canada, usa, uk,dll). alasannya: agar masa depan anak2nya lebih baik lagi kelak.
yep bener, ini sebenernya salah satu strategy bagus juga yang perlu ditiru, di beberapa tempat di perancis, saya melihat generasi pertama dan kedua dari India dan China ini bekerja di sektor informal, atau buruh kasar just for life dan bagusnya system sosialis orang yang tergolong miskin di tanggung oleh negara, udah gitu sekolah free, jadi third generation sekrang udah banyak masuk di middle level bahkan ada satu atau dua yang udah sampai ke top level.
3. soal kehabisan/kelebihan stok dosen: bila expertise dosen itu diukur dari seberapa banyak yg bergelar S3 (phd, DR), maka jelas kita kekurangan. karena kuliah s2 s3 di indonesia sangat dipersulit baik oleh sistem (4 tahun s2, dan 4 thn [?] s3) plus biaya selangit. bandingkan dg negara2 lain. sehingga daerah merasa kesulitan banget buat program pascasarjana, krn. dosen2nya pada s1 ato cuma s2. akhirnya terjadi fenomena 'dosen terbang' airlines itu yg dampak buruknya bagi sang dosen adalah tak pernah/jarang nulis buku.
sebenarnya usul saya mengarah ke sini juga, jadi supaya banyak dosen yang berkwalitas, supaya bisa menciptkan lulusan yang ber-kelas, kalau dosenya sibuk terbang lha mahasiwanya pada ngambang :-))
Adjie
