Budi Rahardjo wrote: > On 5/6/06, m.c. cptrwn <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Mereka tipikalnya kalau melihat buggy code di source code gak beri > > "easy fix" atau "patch" (seperti sebagian engineer di SV), tapi mereka > > memilih rewrite the whole code. > > setahu saya memang tenet dari programming ya begitu > (lupa baca dimana. brook's "mythical man month"? > atau kayaknya di "programmers at work", yang menceritakan > 19 programmers who shaped the computer industry)
pada kenyataanya kagak semua developer mau begitu pak , biasanya yang muda muda dan bener2 tulen aja yg semangat rewrite code. kalau yang sudah agak "tua" dan sedikit demotivated kebanyakan sich bakal kasih workaround saja, atau kalau perlu feature yg buggy tersebut dihilangkan dari release :)) sering kali ada kejadian, iya releasenya meet dengan schedule/deadline, tapi dari 100 showstopper di awal release yg harus diperbaiki ternyata cuman 10 yang bener2 fixed, sisanya 90 workaround atau dihapus dari product roadmap :)) nah di banyak kejadian, programer2 di sv yang pada males2 untuk rewrite code, biasanya "ngoper" responsibilitas files/modules/featurenya ke engineer2 muda di bangalore sana. developer bangalore sih makin seneng dikasih challenge begitu karena bagus untuk masa depanya dia dan 'prove they can exceed the expectation' (bukan hanya get the job done). -mcp
