Budi Rahardjo wrote: > On 8/3/06, muhamad cpsmb tarigan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > kalo kami disini gak pernah google nama kandidatnya tapi kami melakukan > > kontak referensi dengan kenalan di persh sebelumnya. > > > > misalnya ariya datang dari pondikati networks pasti saya telpon temen > > main saya di pondikati networks dan nanya ke mereka "is he / she a good > > guy" , kalau dia jawab "this guy is trouble maker" boleh dipastikan > > tidak ada panggilan face to face interview. > > > > tapi kalo temen saya itu balesnya "this guy is the best guy in planet" > > , kita mungkin sudah menyiapkan salary package buat dia bahkan sebelum > > interview. > > di tempat saya juga persis seperti yang dilakukan oleh carlos. > referensi dari teman/network ini *lebih powerful*. > > yang juga menjadi masukan (untuk kami) bukan hanya sekedar keahliannya, > akan tetapi attitudenya (misalnya malas, nerd tulen - dikasih komputer > internet dan rokok > produktif!, atau a**h*l*, cerewet, perfectionist, dll.) > ini perlu untuk menempatkan ybs. bakalan cocok dengan culture > dimana ybs berada atau tidak > > -- budi
dalam HRD ada 4 matrix kategory performance employee : 1. Highly Competency -- High Motivation (Performing ) 2. Highly Competency -- Low Motivation (Holding ) 3. Low Competency -- High Motivation (Learning) 4. Low Competency -- Low Motivation (Struggling). Cara untuk mengetahui dimana level employee tersebut adalah dengan memberikan sekitar 200 series of question, nanti dari situ ada matrixnya berapa scorenya. Nanti begitu sudah dapat employee ini termasuk kategori yg mana, akan diberikan semacam "how to" untuk memecahkan masalahnya. Misalnya untuk di kategory #1, employeenya diberikan promosi sebagai tech leads dsb, dan untuk nomor 4 mungkin dibilangin "you are at wrong time at wrong position". Yang sering kejadian juga --dan ini sangat tipikal untuk softwar/qa/hw engineer-- , ada engineer yang sangat kompeten dan motivasi tinggi begitu bekerja di software project yg isinya new release/full new features , tapi langsung "jebret" motivasinya hilang sewaktu hanya bekerja di software maintenance release project yg kerjanya hanya fixing bugs. kalau di valley sini ada dua alasan sw/qa engineer resign : 1. proyeknya terlalu banyak (overload) dan 2. proyeknya terlalu sedikit (overkill). jadi emang bener harus pas banget "mix and match" antara kebutuhan proyek dan attitude engineer. -mcp --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ http://teknoblogia.blogspot.com/2005/02/tata-tertib-milis-v15.html -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
