Ya memang sesat, tapi kan harusnya diajak dialog dulu tidak main serbu.

Roosdiana Ischak <[EMAIL PROTECTED]> wrote:            Saya sungguh amat 
terkejut ketika anda menyinggung tentang Ahmadiyah dan fatwa MUI tentangnya. 
Bagaimana sebenarnya pandangan anda mengenai Ahmadiyah? Apakah pandangan anda 
itu mewakili TQN? Tolong dijawab karena itu mungkin akan mengubah seluruh 
pandangan saya selama ini tentang TQN. 
 
  Roosdiana.
 
  On 1/3/08, dahlia putri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                Tahun Baru 
....
  Tahun baru Masehi menjelang. Banyak di antara kita yang merencanakan berbagai 
kegiatan akhir tahun sesuai dengan kebiasaannya masing-masing bagai sebuah 
ritual yang harus dijalani. Tetapi sesungguhnya tanpa ritual apa pun tahun baru 
pasti terjadi, tidak usah dinanti, bahkan kita tidur pun, tahun baru pasti 
terjadi. Kalau tidak percaya silakan dicoba !!! 
  Seminggu terakhir ini, sungguh terasa miris hati ini melihat dan mendengar 
berita dari seantero negeri. Sungguh sangat memprihatinkan. 
  Kekerasan masih terjadi di mana-mana – bahkan atas nama kebenaran, atas nama 
agama, bahkan atas nama Allah. Kita lihat yang terakhir terjadi penyerangan dan 
pengrusakan (masjid) dari jemaat Ahmadiyah di Parung, Lombok, Bulukumba dan 
Tasikmalaya yang semua berawal dari Fatwa sesat dari MUI, diikuti dengan 
keluarnya Surat Keputusan Bersama tentang pelarangan Ahmadiyah trus terjadi 
pengerahan massa dan penyerangan jemaat Ahmadiyah termasuk merusak milik 
mereka. Arena PILKADA di Sulawesi Selatan pun memakan korban, kekerasan kembali 
terjadi akibat tidak adanya kepuasan di antara para CAGUb dan CAWAGUB. 
  Musibah terjadi seluruh pelosok Indonesia : banjir terjadi di daerah Nias, 
Padang, sungai Batanghari – Jambi meluap, Muara Baru – Jakarta, Gresik, 
Lamongan, Malang, Trenggalek, Ngawi, Magetan, Bojonegoro, Ponorogo, Madiun, 
Solo, Bantul, Pekalongan, Semarang, Purwodadi; tanah longsor di daerah 
Karanganyar – Jateng, Banyumas, Wonogiri, Gianyar – Bali; angin kencang / 
puting beliung di daerah Tulungagung, Banyumas, Kapuas – Kalteng; gempa kembali 
mengguncang Aceh dengan 5,9 SR; gerbong yang anjlok dan terbakar di daerah 
Lampung; pesawat Angkatan Laut yang jatuh di perairan Sabang dan mungkin masih 
banyak yang lain yang belum terdata. Belum lagi lumpur Lapindo yang belum 
teratasi di Sioarjo. Kerugian material demikian banyaknya, korban jiwa pun 
tidak sedikit dan biaya sosial yang terjadi setelah adanya bencana. 
  Siapa yang salah atas semua ini ? Bila dilogikakan, bisa saja diurut faktor 
penyebab bencana yaitu faktor manusia dan faktor alam itu sendiri. Dari faktor 
manusia adalah kesalahan dalam mengelola alam yang mungkin sudah sangat 
berlebihan dan kurangnya antisipasi menghadapi kemungkinan yang bisa 
diprediksi. Kesalahan itu sendiri bisa terjadi secara sistemik, kolektif maupun 
sendiri-sendiri. Sedangkan yang dari faktor alam yaitu perubahan cuaca yang 
sangat ekstrem yang pada akhirnya kembali lagi ke manusianya itu sendiri. 
Bukankah yang merusak tatanan alam adalah manusia sendiri ? Sehingga jika alam 
bergolak itu adalah akibat dari sebab yang dilakukan manusia. Manusia sebagai 
khalifah berarti bahwa secara sunatullah alam semesta ini mengorbit pada 
manusia atau bisa dikatakan bahwa manusia menjadi pusat/inti gerakan alam 
semesta. Manusia yang bagaimana yang dikatakan sebagai khalifah ? Ya tentu saja 
manusia yang selalu patuh dan tunduk (sesuai dengan eksistensi kehambaannya)
 untuk mengorbit kepada tuhannya yaitu ALLAH. Bukankah dalam salah satu Hadis 
Qudsi Allah berfirman : Bumi dan langit-Ku tidak bisa menampungKu, tetapi hanya 
hati hambaKu yang beriman yang bisa menampungKu. Hati yang terus thowaf dengan 
dzikrullah dalam seluruh aspek syariat dan hakikat yang bisa mengikat alam 
untuk terus bergerak secara selaras. Semakin banyak manusia yang hatinya lepas 
dari thowaf dzikrullah semakin banyak pula disharmoni alam yang terjadi karena 
keluar dari orbit, yang berarti semakin banyak dan dahsyat bencana yang akan 
dituai. 
  [Q.S. Al Qashash (28) : 77 ] : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan 
Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan 
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) 
sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat 
kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang 
berbuat kerusakan. 
  [Q.S. Al A'raaf (28) : 56 ] : Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka 
bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut 
(tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah 
amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik . 
  Saat ini cukuplah bagi kita untuk menyalahkan diri kita sendiri, cukuplah 
bagi kita menakar diri kita sendiri, karena masing-masing kita pasti memiliki 
andil berapa pun prosentasenya dalam menyumbang tingkat akumulasi kegelapan. 
Kita akui atau tidak, pasti kita lebih banyak lupanya kepada Allah daripada 
ingatnya karena selama ini mungkin hati kita lebih banyak matinya daripada 
hidupnya. Yang selalu kita hidupkan adalah akal kita, sehingga ibadah pun 
sering kita akali / akal-akalan. Ibadah masih kita perdagangkan kepada Allah 
dengan konsep untung rugi, sehingga kita selalu menuntut imbalan atas ibadah 
yang kita lakukan. Padahal tanpa diminta pun pasti Allah akan berikan karena 
itulah yang sudah dijamin untuk kita, tetapi kita lalai dalam hal yang dituntut 
oleh Allah kepada kita, yaitu ibadah itu sendiri. 
  "Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin oleh Allah dan kelalaianmu 
melaksanakan apa yang dituntut darimu, adalah bukti rabunnya mata batinmu ". 
(al-Hikam, Ibnu 'Athâillâh As-Sakandarî)
  Mari untuk tahun baru Masehi 2008 kita tidak usah menambah tingkat kegelapan 
yang sudah terjadi dengan tidak melakukan ritual tahun baru yang tidak ada 
manfaatnya sama sekali, yang tidak menambah kedekatan kita dengan Allah dan 
hanya mengumbar hawa nafsu belaka. 
  Mari kita sama-sama berdoa untuk keluarga kita, anak keturunan kita sampai 
akhir jaman kelak, untuk seluruh anak negeri dan seluruh generasi negeri ini di 
masa mendatang semoga Allah senantiasa memberikan tetapnya iman, terangnya 
hati, keselamatan dunia-akhirat , ampunan-Nya serta keridhoan-Nya. Aamiin. (doa 
yang diajarkan Syeikh Abdul Jalil Mustaqim, PETA – Tulungagung). 
  ROBBANAA ZHOLAMNAA ANFUSANAA WA ILLAM TAGHFIRLANAA WA TARHAMNAA LANAKUUNANNA 
MINAL KHOSIRIIN.
    
---------------------------------
  Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.   
  
  
  








-- 
Roosdiana   

                         

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke