MUI tidak pernah mengintruksikan siapapun untuk berbuat anarkis termasuk 
menyerbu Jamaah Ahmadiah (Laknatullah Alaihim),soal main serbu itu bukanlah 
tanggung jawab MUI, tidak ada asap kalau tidak ada api.
  

  ----- Original Message ----- 
  From: dahlia putri 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, January 03, 2008 5:15 PM
  Subject: Re: [tqn] Tahun Baru


  Ya memang sesat, tapi kan harusnya diajak dialog dulu tidak main serbu.

  Roosdiana Ischak <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

    Saya sungguh amat terkejut ketika anda menyinggung tentang Ahmadiyah dan 
fatwa MUI tentangnya. Bagaimana sebenarnya pandangan anda mengenai Ahmadiyah? 
Apakah pandangan anda itu mewakili TQN? Tolong dijawab karena itu mungkin akan 
mengubah seluruh pandangan saya selama ini tentang TQN. 
     
    Roosdiana.
     
    On 1/3/08, dahlia putri <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
      Tahun Baru ....
      Tahun baru Masehi menjelang. Banyak di antara kita yang merencanakan 
berbagai kegiatan akhir tahun sesuai dengan kebiasaannya masing-masing bagai 
sebuah ritual yang harus dijalani. Tetapi sesungguhnya tanpa ritual apa pun 
tahun baru pasti terjadi, tidak usah dinanti, bahkan kita tidur pun, tahun baru 
pasti terjadi. Kalau tidak percaya silakan dicoba !!! 
      Seminggu terakhir ini, sungguh terasa miris hati ini melihat dan 
mendengar berita dari seantero negeri. Sungguh sangat memprihatinkan. 
      Kekerasan masih terjadi di mana-mana - bahkan atas nama kebenaran, atas 
nama agama, bahkan atas nama Allah. Kita lihat yang terakhir terjadi 
penyerangan dan pengrusakan (masjid) dari jemaat Ahmadiyah di Parung, Lombok, 
Bulukumba dan Tasikmalaya yang semua berawal dari Fatwa sesat dari MUI, diikuti 
dengan keluarnya Surat Keputusan Bersama tentang pelarangan Ahmadiyah trus 
terjadi pengerahan massa dan penyerangan jemaat Ahmadiyah termasuk merusak 
milik mereka. Arena PILKADA di Sulawesi Selatan pun memakan korban, kekerasan 
kembali terjadi akibat tidak adanya kepuasan di antara para CAGUb dan CAWAGUB. 
      Musibah terjadi seluruh pelosok Indonesia : banjir terjadi di daerah 
Nias, Padang, sungai Batanghari - Jambi meluap, Muara Baru - Jakarta, Gresik, 
Lamongan, Malang, Trenggalek, Ngawi, Magetan, Bojonegoro, Ponorogo, Madiun, 
Solo, Bantul, Pekalongan, Semarang, Purwodadi; tanah longsor di daerah 
Karanganyar - Jateng, Banyumas, Wonogiri, Gianyar - Bali; angin kencang / 
puting beliung di daerah Tulungagung, Banyumas, Kapuas - Kalteng; gempa kembali 
mengguncang Aceh dengan 5,9 SR; gerbong yang anjlok dan terbakar di daerah 
Lampung; pesawat Angkatan Laut yang jatuh di perairan Sabang dan mungkin masih 
banyak yang lain yang belum terdata. Belum lagi lumpur Lapindo yang belum 
teratasi di Sioarjo. Kerugian material demikian banyaknya, korban jiwa pun 
tidak sedikit dan biaya sosial yang terjadi setelah adanya bencana. 
      Siapa yang salah atas semua ini ? Bila dilogikakan, bisa saja diurut 
faktor penyebab bencana yaitu faktor manusia dan faktor alam itu sendiri. Dari 
faktor manusia adalah kesalahan dalam mengelola alam yang mungkin sudah sangat 
berlebihan dan kurangnya antisipasi menghadapi kemungkinan yang bisa 
diprediksi. Kesalahan itu sendiri bisa terjadi secara sistemik, kolektif maupun 
sendiri-sendiri. Sedangkan yang dari faktor alam yaitu perubahan cuaca yang 
sangat ekstrem yang pada akhirnya kembali lagi ke manusianya itu sendiri. 
Bukankah yang merusak tatanan alam adalah manusia sendiri ? Sehingga jika alam 
bergolak itu adalah akibat dari sebab yang dilakukan manusia. Manusia sebagai 
khalifah berarti bahwa secara sunatullah alam semesta ini mengorbit pada 
manusia atau bisa dikatakan bahwa manusia menjadi pusat/inti gerakan alam 
semesta. Manusia yang bagaimana yang dikatakan sebagai khalifah ? Ya tentu saja 
manusia yang selalu patuh dan tunduk (sesuai dengan eksistensi kehambaannya) 
untuk mengorbit kepada tuhannya yaitu ALLAH. Bukankah dalam salah satu Hadis 
Qudsi Allah berfirman : Bumi dan langit-Ku tidak bisa menampungKu, tetapi hanya 
hati hambaKu yang beriman yang bisa menampungKu. Hati yang terus thowaf dengan 
dzikrullah dalam seluruh aspek syariat dan hakikat yang bisa mengikat alam 
untuk terus bergerak secara selaras. Semakin banyak manusia yang hatinya lepas 
dari thowaf dzikrullah semakin banyak pula disharmoni alam yang terjadi karena 
keluar dari orbit, yang berarti semakin banyak dan dahsyat bencana yang akan 
dituai. 
      [Q.S. Al Qashash (28) : 77 ] : Dan carilah pada apa yang telah 
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu 
melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada 
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu 
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang 
yang berbuat kerusakan. 
      [Q.S. Al A'raaf (28) : 56 ] : Dan janganlah kamu membuat kerusakan di 
muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa 
takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat 
Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik . 
      Saat ini cukuplah bagi kita untuk menyalahkan diri kita sendiri, cukuplah 
bagi kita menakar diri kita sendiri, karena masing-masing kita pasti memiliki 
andil berapa pun prosentasenya dalam menyumbang tingkat akumulasi kegelapan. 
Kita akui atau tidak, pasti kita lebih banyak lupanya kepada Allah daripada 
ingatnya karena selama ini mungkin hati kita lebih banyak matinya daripada 
hidupnya. Yang selalu kita hidupkan adalah akal kita, sehingga ibadah pun 
sering kita akali / akal-akalan. Ibadah masih kita perdagangkan kepada Allah 
dengan konsep untung rugi, sehingga kita selalu menuntut imbalan atas ibadah 
yang kita lakukan. Padahal tanpa diminta pun pasti Allah akan berikan karena 
itulah yang sudah dijamin untuk kita, tetapi kita lalai dalam hal yang dituntut 
oleh Allah kepada kita, yaitu ibadah itu sendiri. 
      "Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin oleh Allah dan kelalaianmu 
melaksanakan apa yang dituntut darimu, adalah bukti rabunnya mata batinmu ". 
(al-Hikam, Ibnu 'Athâillâh As-Sakandarî)
      Mari untuk tahun baru Masehi 2008 kita tidak usah menambah tingkat 
kegelapan yang sudah terjadi dengan tidak melakukan ritual tahun baru yang 
tidak ada manfaatnya sama sekali, yang tidak menambah kedekatan kita dengan 
Allah dan hanya mengumbar hawa nafsu belaka. 
      Mari kita sama-sama berdoa untuk keluarga kita, anak keturunan kita 
sampai akhir jaman kelak, untuk seluruh anak negeri dan seluruh generasi negeri 
ini di masa mendatang semoga Allah senantiasa memberikan tetapnya iman, 
terangnya hati, keselamatan dunia-akhirat , ampunan-Nya serta keridhoan-Nya. 
Aamiin. (doa yang diajarkan Syeikh Abdul Jalil Mustaqim, PETA - Tulungagung). 
      ROBBANAA ZHOLAMNAA ANFUSANAA WA ILLAM TAGHFIRLANAA WA TARHAMNAA 
LANAKUUNANNA MINAL KHOSIRIIN.

--------------------------------------------------------------------------
      Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! 
Search. 



    -- 
    Roosdiana 




------------------------------------------------------------------------------
  Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. 

   

Kirim email ke