Mba Dahlia, tolong confirm ulang lagi perihal tulisan anda tentang
“Fatwa Sesat MUI ttg Ahmadiyah..”, karena tulisan ini bisa berdampak
besar ttg suatu pemahaman.
 
Sekali lagi agar di-clear-kan tulisan ini.
 
thks
 
-----Original Message-----
From: Roosdiana Ischak [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, January 03, 2008 5:05 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [tqn] Tahun Baru
 
Saya sungguh amat terkejut ketika anda menyinggung tentang Ahmadiyah dan
fatwa MUI tentangnya. Bagaimana sebenarnya pandangan anda mengenai
Ahmadiyah? Apakah pandangan anda itu mewakili TQN? Tolong dijawab karena
itu mungkin akan mengubah seluruh pandangan saya selama ini tentang TQN.

 
Roosdiana.
 
On 1/3/08, dahlia putri <[EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
com> wrote: 
  
 <http://denmasbagus.blogspot.com/2007/12/tahun-baru.html> Tahun Baru
....
Tahun baru Masehi menjelang. Banyak di antara kita yang merencanakan
berbagai kegiatan akhir tahun sesuai dengan kebiasaannya masing-masing
bagai sebuah ritual yang harus dijalani. Tetapi sesungguhnya tanpa
ritual apa pun tahun baru pasti terjadi, tidak usah dinanti, bahkan kita
tidur pun, tahun baru pasti terjadi. Kalau tidak percaya silakan dicoba
!!! 
Seminggu terakhir ini, sungguh terasa miris hati ini melihat dan
mendengar berita dari seantero negeri. Sungguh sangat memprihatinkan. 
Kekerasan masih terjadi di mana-mana – bahkan atas nama kebenaran, atas
nama agama, bahkan atas nama Allah. Kita lihat yang terakhir terjadi
penyerangan dan pengrusakan (masjid) dari jemaat Ahmadiyah di Parung,
Lombok, Bulukumba dan Tasikmalaya yang semua berawal dari Fatwa sesat
dari MUI, diikuti dengan keluarnya Surat Keputusan Bersama tentang
pelarangan Ahmadiyah trus terjadi pengerahan massa dan penyerangan
jemaat Ahmadiyah termasuk merusak milik mereka. Arena PILKADA di
Sulawesi Selatan pun memakan korban, kekerasan kembali terjadi akibat
tidak adanya kepuasan di antara para CAGUb dan CAWAGUB. 
Musibah terjadi seluruh pelosok Indonesia : banjir terjadi di daerah
Nias, Padang, sungai Batanghari – Jambi meluap, Muara Baru – Jakarta,
Gresik, Lamongan, Malang, Trenggalek, Ngawi, Magetan, Bojonegoro,
Ponorogo, Madiun, Solo, Bantul, Pekalongan, Semarang, Purwodadi; tanah
longsor di daerah Karanganyar – Jateng, Banyumas, Wonogiri, Gianyar –
Bali; angin kencang / puting beliung di daerah Tulungagung, Banyumas,
Kapuas – Kalteng; gempa kembali mengguncang Aceh dengan 5,9 SR; gerbong
yang anjlok dan terbakar di daerah Lampung; pesawat Angkatan Laut yang
jatuh di perairan Sabang dan mungkin masih banyak yang lain yang belum
terdata. Belum lagi lumpur Lapindo yang belum teratasi di Sioarjo.
Kerugian material demikian banyaknya, korban jiwa pun tidak sedikit dan
biaya sosial yang terjadi setelah adanya bencana. 
Siapa yang salah atas semua ini ? Bila dilogikakan, bisa saja diurut
faktor penyebab bencana yaitu faktor manusia dan faktor alam itu
sendiri. Dari faktor manusia adalah kesalahan dalam mengelola alam yang
mungkin sudah sangat berlebihan dan kurangnya antisipasi menghadapi
kemungkinan yang bisa diprediksi. Kesalahan itu sendiri bisa terjadi
secara sistemik, kolektif maupun sendiri-sendiri. Sedangkan yang dari
faktor alam yaitu perubahan cuaca yang sangat ekstrem yang pada akhirnya
kembali lagi ke manusianya itu sendiri. Bukankah yang merusak tatanan
alam adalah manusia sendiri ? Sehingga jika alam bergolak itu adalah
akibat dari sebab yang dilakukan manusia. Manusia sebagai khalifah
berarti bahwa secara sunatullah alam semesta ini mengorbit pada manusia
atau bisa dikatakan bahwa manusia menjadi pusat/inti gerakan alam
semesta. Manusia yang bagaimana yang dikatakan sebagai khalifah ? Ya
tentu saja manusia yang selalu patuh dan tunduk (sesuai dengan
eksistensi kehambaannya) untuk mengorbit kepada tuhannya yaitu ALLAH.
Bukankah dalam salah satu Hadis Qudsi Allah berfirman : Bumi dan
langit-Ku tidak bisa menampungKu, tetapi hanya hati hambaKu yang beriman
yang bisa menampungKu. Hati yang terus thowaf dengan dzikrullah dalam
seluruh aspek syariat dan hakikat yang bisa mengikat alam untuk terus
bergerak secara selaras. Semakin banyak manusia yang hatinya lepas dari
thowaf dzikrullah semakin banyak pula disharmoni alam yang terjadi
karena keluar dari orbit, yang berarti semakin banyak dan dahsyat
bencana yang akan dituai. 
[Q.S. Al Qashash (28) : 77 ] : Dan carilah pada apa yang telah
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah
kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah
(kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. 
[Q.S. Al A'raaf (28) : 56 ] : Dan janganlah kamu membuat kerusakan di
muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya
dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).
Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat
baik . 
Saat ini cukuplah bagi kita untuk menyalahkan diri kita sendiri,
cukuplah bagi kita menakar diri kita sendiri, karena masing-masing kita
pasti memiliki andil berapa pun prosentasenya dalam menyumbang tingkat
akumulasi kegelapan. Kita akui atau tidak, pasti kita lebih banyak
lupanya kepada Allah daripada ingatnya karena selama ini mungkin hati
kita lebih banyak matinya daripada hidupnya. Yang selalu kita hidupkan
adalah akal kita, sehingga ibadah pun sering kita akali / akal-akalan.
Ibadah masih kita perdagangkan kepada Allah dengan konsep untung rugi,
sehingga kita selalu menuntut imbalan atas ibadah yang kita lakukan.
Padahal tanpa diminta pun pasti Allah akan berikan karena itulah yang
sudah dijamin untuk kita, tetapi kita lalai dalam hal yang dituntut oleh
Allah kepada kita, yaitu ibadah itu sendiri. 
"Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin oleh Allah dan
kelalaianmu melaksanakan apa yang dituntut darimu, adalah bukti rabunnya
mata batinmu ". (al-Hikam, Ibnu 'Athâillâh As-Sakandarî)
Mari untuk tahun baru Masehi 2008 kita tidak usah menambah tingkat
kegelapan yang sudah terjadi dengan tidak melakukan ritual tahun baru
yang tidak ada manfaatnya sama sekali, yang tidak menambah kedekatan
kita dengan Allah dan hanya mengumbar hawa nafsu belaka. 
Mari kita sama-sama berdoa untuk keluarga kita, anak keturunan kita
sampai akhir jaman kelak, untuk seluruh anak negeri dan seluruh generasi
negeri ini di masa mendatang semoga Allah senantiasa memberikan tetapnya
iman, terangnya hati, keselamatan dunia-akhirat , ampunan-Nya serta
keridhoan-Nya. Aamiin. (doa yang diajarkan Syeikh Abdul Jalil Mustaqim,
PETA – Tulungagung). 
ROBBANAA ZHOLAMNAA ANFUSANAA WA ILLAM TAGHFIRLANAA WA TARHAMNAA
LANAKUUNANNA MINAL KHOSIRIIN.
  _____  

Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo!
Search.
<http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http:/tools.search.yahoo.com/newsearc
h/category.php?category=shopping>  



-- 
Roosdiana 
 

Kirim email ke