Dalam pandangan saya, aliran Ahmadiyah bukan saja sesat, tetapi menyesatkan. Banyak saudara kita yang ikut aliran ini menyangka bahwa mereka belajar Islam. Tapi bukankah ajarannya tidak bersumber dari Nabi Muhammad SAW, melainkan dari Mirza Ghulam Ahmad yang berasal dari India? Mirip dengan aliran baru di Indonesia dengan nabi barunya itu.
On 1/3/08, Susila, Priya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ma'af nich ikutan nimbrung, > > > > Coba dong di fikirkan lebih dengan hati nurani yang paling dalam lagi > mengenai kebebasan beragama dan fatwa MUI. > > Tinjauan dari kita yang memahami islam dari golongan kita, sudah tentu > Ahmadiyah akan berseberangan dan mungkin akan membuat kacau. > > Tetapi balik lagi jika kita berfikir bahwa didalam kehidupan ini kita > dikasih pilihan, dan diberikan kebebasan untuk memilih jalan dengan segala > konsekuensinya. > > Andaikatanya dalil kebebasan beragama dalam islam dipakai (QS Al-Kafirun) > dan lebih mendalami perbedaan jalan spiritualitas, tentu fatwa MUI akan > bertentangan dengan dalil ini. Klo MUI mengatasnamakan "Islam", tentu yang > beragama islam jika udah tahu itu sesat akan berbuat anarkhis dan > sebangsanya, sekalipun keislamammnya belum cukup, namun jika agama diinjak2 > maka mereka akan siap untuk bertempur dsb. > > Pernahkah Nabi SAW menghujat orang yang mencemooh Islam, dan gimana sikap > beliau thd agama lain ???????....>>> ayo dong di diskusikan"""!!! > > Kita yang sedang meniti perjalanan juga belum tentu sampai pada 7-an kita, > kenapa harus terlalu mengurusi orang lain sementara tiket ke Syurga alias > kebahagiaan yang abadi belum ditangan. > > Mas2, Bapa'2, Ibu2, Mba'2 disini jika udah ada tiket untuk masuk syurga > bighoiri hisab, boleh dong bagi2 infonya yang menyatakan "PASTI" akan masuk > syurga, ini lho tiketnya. > > > > Mari kita muhasabah diri dan mencoba mengawali dari diri kita dan keluarga > kita, sebagai protect awal dari masuknya faham saudara kita yang > mengatasnamakan islam yang mungkin ber7an akan menghancurkan islam, mengadu > domba dan lain sebagainya dari islam itu sendiri. > > Cobalah kita baca sejarah kehancuran rakyat Aceh yang fanatic dengan islam > oleh pemerintahan belanda. > > Semoga kita lebih berhati2 dalam berujar dan menelaah sesuatu agar tidak > menyakiti orang lain dan mari saling menghargai + menghormati. > > > > wassalam > > > > > > > ------------------------------ > > *From:* [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] *On Behalf Of *Yayat > Supriyatna > *Sent:* Thursday, January 03, 2008 5:53 PM > *To:* [email protected] > *Subject:* Re: [tqn] Tahun Baru > > > > MUI tidak pernah mengintruksikan siapapun untuk berbuat anarkis termasuk > menyerbu Jamaah Ahmadiah (Laknatullah Alaihim),soal main serbu itu bukanlah > tanggung jawab MUI, tidak ada asap kalau tidak ada api. > > > > ----- Original Message ----- > > *From:* dahlia putri <[EMAIL PROTECTED]> > > *To:* [email protected] > > *Sent:* Thursday, January 03, 2008 5:15 PM > > *Subject:* Re: [tqn] Tahun Baru > > > > Ya memang sesat, tapi kan harusnya diajak dialog dulu tidak main serbu. > > *Roosdiana Ischak <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > Saya sungguh amat terkejut ketika anda menyinggung tentang Ahmadiyah dan > fatwa MUI tentangnya. Bagaimana sebenarnya pandangan anda mengenai > Ahmadiyah? Apakah pandangan anda itu mewakili TQN? Tolong dijawab karena itu > mungkin akan mengubah seluruh pandangan saya selama ini tentang TQN. > > > Roosdiana. > > > On 1/3/08, *dahlia putri* <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > *Tahun Baru ....*<http://denmasbagus.blogspot.com/2007/12/tahun-baru.html> > > Tahun baru Masehi menjelang. Banyak di antara kita yang merencanakan > berbagai kegiatan akhir tahun sesuai dengan kebiasaannya masing-masing bagai > sebuah ritual yang harus dijalani. Tetapi sesungguhnya tanpa *ritual* apa > pun tahun baru pasti terjadi, tidak usah dinanti, bahkan kita tidur pun, > tahun baru pasti terjadi. Kalau tidak percaya silakan dicoba !!! > > Seminggu terakhir ini, sungguh terasa miris hati ini melihat dan mendengar > berita dari seantero negeri. Sungguh sangat memprihatinkan. > > Kekerasan masih terjadi di mana-mana – bahkan atas nama kebenaran, atas > nama agama, bahkan atas nama Allah. Kita lihat yang terakhir terjadi > penyerangan dan pengrusakan (masjid) dari jemaat Ahmadiyah di Parung, > Lombok, Bulukumba dan Tasikmalaya yang semua berawal dari Fatwa sesat dari > MUI, diikuti dengan keluarnya Surat Keputusan Bersama tentang pelarangan > Ahmadiyah trus terjadi pengerahan massa dan penyerangan jemaat Ahmadiyah > termasuk merusak milik mereka. Arena PILKADA di Sulawesi Selatan pun memakan > korban, kekerasan kembali terjadi akibat tidak adanya kepuasan di antara > para CAGUb dan CAWAGUB. > > Musibah terjadi seluruh pelosok Indonesia : banjir terjadi di daerah Nias, > Padang, sungai Batanghari – Jambi meluap, Muara Baru – Jakarta, Gresik, > Lamongan, Malang, Trenggalek, Ngawi, Magetan, Bojonegoro, Ponorogo, Madiun, > Solo, Bantul, Pekalongan, Semarang, Purwodadi; tanah longsor di daerah > Karanganyar – Jateng, Banyumas, Wonogiri, Gianyar – Bali; angin kencang / > puting beliung di daerah Tulungagung, Banyumas, Kapuas – Kalteng; gempa > kembali mengguncang Aceh dengan 5,9 SR; gerbong yang anjlok dan terbakar di > daerah Lampung; pesawat Angkatan Laut yang jatuh di perairan Sabang dan > mungkin masih banyak yang lain yang belum terdata. Belum lagi lumpur Lapindo > yang belum teratasi di Sioarjo. Kerugian material demikian banyaknya, korban > jiwa pun tidak sedikit dan biaya sosial yang terjadi setelah adanya bencana. > > > Siapa yang salah atas semua ini ? Bila dilogikakan, bisa saja diurut > faktor penyebab bencana yaitu faktor manusia dan faktor alam itu sendiri. > Dari faktor manusia adalah kesalahan dalam mengelola alam yang mungkin sudah > sangat berlebihan dan kurangnya antisipasi menghadapi kemungkinan yang bisa > diprediksi. Kesalahan itu sendiri bisa terjadi secara sistemik, kolektif > maupun sendiri-sendiri. Sedangkan yang dari faktor alam yaitu perubahan > cuaca yang sangat ekstrem yang pada akhirnya kembali lagi ke manusianya itu > sendiri. Bukankah yang merusak tatanan alam adalah manusia sendiri ? > Sehingga jika alam bergolak itu adalah akibat dari sebab yang dilakukan > manusia. Manusia sebagai khalifah berarti bahwa secara sunatullah alam > semesta ini mengorbit pada manusia atau bisa dikatakan bahwa manusia menjadi > pusat/inti gerakan alam semesta. Manusia yang bagaimana yang dikatakan > sebagai khalifah ? Ya tentu saja manusia yang selalu patuh dan tunduk > (sesuai dengan eksistensi kehambaannya) untuk mengorbit kepada tuhannya > yaitu ALLAH. Bukankah dalam salah satu Hadis Qudsi Allah berfirman : Bumi > dan langit-Ku tidak bisa menampungKu, tetapi hanya hati hambaKu yang beriman > yang bisa menampungKu. Hati yang terus thowaf dengan dzikrullah dalam > seluruh aspek syariat dan hakikat yang bisa mengikat alam untuk terus > bergerak secara selaras. Semakin banyak manusia yang hatinya lepas dari > thowaf dzikrullah semakin banyak pula disharmoni alam yang terjadi karena > keluar dari orbit, yang berarti semakin banyak dan dahsyat bencana yang akan > dituai. > > [*Q.S. Al Qashash (28) : 77* ] : Dan carilah pada apa yang telah > dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah > kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah > (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan > janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak > menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. > > [*Q.S. Al A'raaf (28) : 56* ] : Dan janganlah kamu membuat kerusakan di > muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan > rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya > rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik . > > Saat ini cukuplah bagi kita untuk menyalahkan diri kita sendiri, cukuplah > bagi kita menakar diri kita sendiri, karena masing-masing kita pasti > memiliki andil berapa pun prosentasenya dalam menyumbang tingkat akumulasi > kegelapan. Kita akui atau tidak, pasti kita lebih banyak lupanya kepada > Allah daripada ingatnya karena selama ini mungkin hati kita lebih banyak > matinya daripada hidupnya. Yang selalu kita hidupkan adalah akal kita, > sehingga ibadah pun sering kita akali / akal-akalan. Ibadah masih kita > perdagangkan kepada Allah dengan konsep untung rugi, sehingga kita selalu > menuntut imbalan atas ibadah yang kita lakukan. Padahal tanpa diminta pun > pasti Allah akan berikan karena itulah yang sudah dijamin untuk kita, tetapi > kita lalai dalam hal yang dituntut oleh Allah kepada kita, yaitu ibadah itu > sendiri. > > "*Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin oleh Allah dan kelalaianmu > melaksanakan apa yang dituntut darimu, adalah bukti rabunnya mata batinmu > *". (*al-Hikam, Ibnu 'Athâillâh As-Sakandarî*) > > Mari untuk tahun baru Masehi 2008 kita tidak usah menambah tingkat > kegelapan yang sudah terjadi dengan tidak melakukan ritual tahun baru yang > tidak ada manfaatnya sama sekali, yang tidak menambah kedekatan kita dengan > Allah dan hanya mengumbar hawa nafsu belaka. > > Mari kita sama-sama berdoa untuk keluarga kita, anak keturunan kita sampai > akhir jaman kelak, untuk seluruh anak negeri dan seluruh generasi negeri ini > di masa mendatang semoga Allah senantiasa memberikan *tetapnya iman*, > *terangnya > hati*, *keselamatan dunia-akhirat *, *ampunan-Nya* serta *keridhoan-Nya*. > Aamiin. (doa yang diajarkan Syeikh Abdul Jalil Mustaqim, PETA – > Tulungagung). > > *ROBBANAA ZHOLAMNAA ANFUSANAA WA ILLAM TAGHFIRLANAA WA TARHAMNAA > LANAKUUNANNA MINAL KHOSIRIIN*. > ------------------------------ > > Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! > Search.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http:/tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping> > > > > > -- > Roosdiana > > > ------------------------------ > > Never miss a thing. Make Yahoo your > homepage.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51438/*http:/www.yahoo.com/r/hs> > > > -- Roosdiana
