Ma'af nich ikutan nimbrung,

 

Coba dong di fikirkan lebih dengan hati nurani yang paling dalam lagi mengenai 
kebebasan beragama dan fatwa MUI.

Tinjauan dari kita yang memahami islam dari golongan kita, sudah tentu 
Ahmadiyah akan berseberangan dan mungkin akan membuat kacau.

Tetapi balik lagi jika kita berfikir bahwa didalam kehidupan ini kita dikasih 
pilihan, dan diberikan kebebasan untuk memilih jalan dengan segala 
konsekuensinya.

Andaikatanya dalil kebebasan beragama dalam islam dipakai (QS Al-Kafirun) dan 
lebih mendalami perbedaan jalan spiritualitas, tentu fatwa MUI akan 
bertentangan dengan dalil ini. Klo MUI mengatasnamakan "Islam", tentu yang 
beragama islam jika udah tahu itu sesat akan berbuat anarkhis dan sebangsanya, 
sekalipun keislamammnya belum cukup, namun jika agama diinjak2 maka mereka akan 
siap untuk bertempur dsb.

Pernahkah Nabi SAW menghujat orang yang mencemooh Islam, dan gimana sikap 
beliau thd agama lain ???????....>>> ayo dong di diskusikan"""!!! 

Kita yang sedang meniti perjalanan juga belum tentu sampai pada 7-an kita, 
kenapa harus terlalu mengurusi orang lain sementara tiket ke Syurga alias 
kebahagiaan yang abadi belum ditangan.

Mas2, Bapa'2, Ibu2, Mba'2 disini jika udah ada tiket untuk masuk syurga 
bighoiri hisab, boleh dong bagi2 infonya yang menyatakan "PASTI" akan masuk 
syurga, ini lho tiketnya.

 

Mari kita muhasabah diri dan mencoba mengawali dari diri kita dan keluarga 
kita, sebagai protect awal dari masuknya faham saudara kita yang 
mengatasnamakan islam yang mungkin ber7an akan menghancurkan islam, mengadu 
domba dan lain sebagainya dari islam itu sendiri.

Cobalah kita baca sejarah kehancuran rakyat Aceh yang fanatic dengan islam oleh 
pemerintahan belanda.

Semoga kita lebih berhati2 dalam berujar dan menelaah sesuatu agar tidak 
menyakiti orang lain dan mari saling menghargai + menghormati.

 

wassalam 

 

 

 

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Yayat 
Supriyatna
Sent: Thursday, January 03, 2008 5:53 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [tqn] Tahun Baru

 

MUI tidak pernah mengintruksikan siapapun untuk berbuat anarkis termasuk 
menyerbu Jamaah Ahmadiah (Laknatullah Alaihim),soal main serbu itu bukanlah 
tanggung jawab MUI, tidak ada asap kalau tidak ada api.

  

        ----- Original Message ----- 

        From: dahlia putri <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  

        To: [email protected] <mailto:[email protected]>  

        Sent: Thursday, January 03, 2008 5:15 PM

        Subject: Re: [tqn] Tahun Baru

         

        Ya memang sesat, tapi kan harusnya diajak dialog dulu tidak main serbu.
        
        Roosdiana Ischak <[EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > wrote: 

                Saya sungguh amat terkejut ketika anda menyinggung tentang 
Ahmadiyah dan fatwa MUI tentangnya. Bagaimana sebenarnya pandangan anda 
mengenai Ahmadiyah? Apakah pandangan anda itu mewakili TQN? Tolong dijawab 
karena itu mungkin akan mengubah seluruh pandangan saya selama ini tentang TQN. 
                 

                Roosdiana.
                 

                On 1/3/08, dahlia putri <[EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL 
PROTECTED]> > wrote: 

                Tahun Baru .... 
<http://denmasbagus.blogspot.com/2007/12/tahun-baru.html> 

                Tahun baru Masehi menjelang. Banyak di antara kita yang 
merencanakan berbagai kegiatan akhir tahun sesuai dengan kebiasaannya 
masing-masing bagai sebuah ritual yang harus dijalani. Tetapi sesungguhnya 
tanpa ritual apa pun tahun baru pasti terjadi, tidak usah dinanti, bahkan kita 
tidur pun, tahun baru pasti terjadi. Kalau tidak percaya silakan dicoba !!! 

                Seminggu terakhir ini, sungguh terasa miris hati ini melihat 
dan mendengar berita dari seantero negeri. Sungguh sangat memprihatinkan. 

                Kekerasan masih terjadi di mana-mana - bahkan atas nama 
kebenaran, atas nama agama, bahkan atas nama Allah. Kita lihat yang terakhir 
terjadi penyerangan dan pengrusakan (masjid) dari jemaat Ahmadiyah di Parung, 
Lombok, Bulukumba dan Tasikmalaya yang semua berawal dari Fatwa sesat dari MUI, 
diikuti dengan keluarnya Surat Keputusan Bersama tentang pelarangan Ahmadiyah 
trus terjadi pengerahan massa dan penyerangan jemaat Ahmadiyah termasuk merusak 
milik mereka. Arena PILKADA di Sulawesi Selatan pun memakan korban, kekerasan 
kembali terjadi akibat tidak adanya kepuasan di antara para CAGUb dan CAWAGUB. 

                Musibah terjadi seluruh pelosok Indonesia : banjir terjadi di 
daerah Nias, Padang, sungai Batanghari - Jambi meluap, Muara Baru - Jakarta, 
Gresik, Lamongan, Malang, Trenggalek, Ngawi, Magetan, Bojonegoro, Ponorogo, 
Madiun, Solo, Bantul, Pekalongan, Semarang, Purwodadi; tanah longsor di daerah 
Karanganyar - Jateng, Banyumas, Wonogiri, Gianyar - Bali; angin kencang / 
puting beliung di daerah Tulungagung, Banyumas, Kapuas - Kalteng; gempa kembali 
mengguncang Aceh dengan 5,9 SR; gerbong yang anjlok dan terbakar di daerah 
Lampung; pesawat Angkatan Laut yang jatuh di perairan Sabang dan mungkin masih 
banyak yang lain yang belum terdata. Belum lagi lumpur Lapindo yang belum 
teratasi di Sioarjo. Kerugian material demikian banyaknya, korban jiwa pun 
tidak sedikit dan biaya sosial yang terjadi setelah adanya bencana. 

                Siapa yang salah atas semua ini ? Bila dilogikakan, bisa saja 
diurut faktor penyebab bencana yaitu faktor manusia dan faktor alam itu 
sendiri. Dari faktor manusia adalah kesalahan dalam mengelola alam yang mungkin 
sudah sangat berlebihan dan kurangnya antisipasi menghadapi kemungkinan yang 
bisa diprediksi. Kesalahan itu sendiri bisa terjadi secara sistemik, kolektif 
maupun sendiri-sendiri. Sedangkan yang dari faktor alam yaitu perubahan cuaca 
yang sangat ekstrem yang pada akhirnya kembali lagi ke manusianya itu sendiri. 
Bukankah yang merusak tatanan alam adalah manusia sendiri ? Sehingga jika alam 
bergolak itu adalah akibat dari sebab yang dilakukan manusia. Manusia sebagai 
khalifah berarti bahwa secara sunatullah alam semesta ini mengorbit pada 
manusia atau bisa dikatakan bahwa manusia menjadi pusat/inti gerakan alam 
semesta. Manusia yang bagaimana yang dikatakan sebagai khalifah ? Ya tentu saja 
manusia yang selalu patuh dan tunduk (sesuai dengan eksistensi kehambaannya) 
untuk mengorbit kepada tuhannya yaitu ALLAH. Bukankah dalam salah satu Hadis 
Qudsi Allah berfirman : Bumi dan langit-Ku tidak bisa menampungKu, tetapi hanya 
hati hambaKu yang beriman yang bisa menampungKu. Hati yang terus thowaf dengan 
dzikrullah dalam seluruh aspek syariat dan hakikat yang bisa mengikat alam 
untuk terus bergerak secara selaras. Semakin banyak manusia yang hatinya lepas 
dari thowaf dzikrullah semakin banyak pula disharmoni alam yang terjadi karena 
keluar dari orbit, yang berarti semakin banyak dan dahsyat bencana yang akan 
dituai. 

                [Q.S. Al Qashash (28) : 77 ] : Dan carilah pada apa yang telah 
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu 
melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada 
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu 
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang 
yang berbuat kerusakan. 

                [Q.S. Al A'raaf (28) : 56 ] : Dan janganlah kamu membuat 
kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya 
dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). 
Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik . 

                Saat ini cukuplah bagi kita untuk menyalahkan diri kita 
sendiri, cukuplah bagi kita menakar diri kita sendiri, karena masing-masing 
kita pasti memiliki andil berapa pun prosentasenya dalam menyumbang tingkat 
akumulasi kegelapan. Kita akui atau tidak, pasti kita lebih banyak lupanya 
kepada Allah daripada ingatnya karena selama ini mungkin hati kita lebih banyak 
matinya daripada hidupnya. Yang selalu kita hidupkan adalah akal kita, sehingga 
ibadah pun sering kita akali / akal-akalan. Ibadah masih kita perdagangkan 
kepada Allah dengan konsep untung rugi, sehingga kita selalu menuntut imbalan 
atas ibadah yang kita lakukan. Padahal tanpa diminta pun pasti Allah akan 
berikan karena itulah yang sudah dijamin untuk kita, tetapi kita lalai dalam 
hal yang dituntut oleh Allah kepada kita, yaitu ibadah itu sendiri. 

                "Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin oleh Allah dan 
kelalaianmu melaksanakan apa yang dituntut darimu, adalah bukti rabunnya mata 
batinmu ". (al-Hikam, Ibnu 'Athâillâh As-Sakandarî)

                Mari untuk tahun baru Masehi 2008 kita tidak usah menambah 
tingkat kegelapan yang sudah terjadi dengan tidak melakukan ritual tahun baru 
yang tidak ada manfaatnya sama sekali, yang tidak menambah kedekatan kita 
dengan Allah dan hanya mengumbar hawa nafsu belaka. 

                Mari kita sama-sama berdoa untuk keluarga kita, anak keturunan 
kita sampai akhir jaman kelak, untuk seluruh anak negeri dan seluruh generasi 
negeri ini di masa mendatang semoga Allah senantiasa memberikan tetapnya iman, 
terangnya hati, keselamatan dunia-akhirat , ampunan-Nya serta keridhoan-Nya. 
Aamiin. (doa yang diajarkan Syeikh Abdul Jalil Mustaqim, PETA - Tulungagung). 

                ROBBANAA ZHOLAMNAA ANFUSANAA WA ILLAM TAGHFIRLANAA WA TARHAMNAA 
LANAKUUNANNA MINAL KHOSIRIIN.

                
________________________________


                Looking for last minute shopping deals? Find them fast with 
Yahoo! Search. 
<http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http:/tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping>
  

                
                
                
                -- 
                Roosdiana 

         

        
________________________________


        Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. 
<http://us.rd.yahoo.com/evt=51438/*http:/www.yahoo.com/r/hs>  

 

Kirim email ke