Tujuh Melati nan Layu

Oleh: AGUS SOPIANN

OGOR 1957. Di sebuah rumah kos di Jalan Kebon
Kembang�kini Jalan Dewi Sartika�sejumlah pemuda biasa
berkumpul. Mereka umumnya mahasiswa Fakultas
Peternakan dan Pertanian Universitas Indonesia
(sekarang Institut Pertanian Bogor). Ada juga kelompok
intelektual lain seperti wartawan dan guru. Tak
seperti biasanya, sore itu ruang percakapan diisi
wajah-wajah serius.

"Mataholang," kata yang satu.

"Tandang!" seru yang lain.

"Mangle!" timpal Wibisana.

Rochana Sudarmika �pemilik rumah kos, yang juga kolega
mengajar Wibisana di Sekolah Dasar Kebon Kembang�
mendengar perbincangan tersebut. Ia memotong
perbincangan, "Bagaimana kalau Mangle saja?"

Diskusi berakhir. Mereka sepakat menerbitkan majalah
bulanan. Mangle terpilih sebagai namanya. Tanpa harus
didesak, Oeton Moechtar, suami Sudarmika, langsung
menyatakan bersedia jadi penyandang dana. Kesediaannya
diwujudkan dalam bentuk bangunan kantor di belakang
rumahnya, lima unit mesin tik, payung Yayasan
Kebudayaan Sunda, hingga modal Rp 10 ribu disetor.

Moechtar sempat didaulat untuk memimpin penerbitan. Ia
menolak. Kesibukannya sebagai pejabat dinas kehutanan
Bogor jadi alasan. Moechtar �yang sesekali meluangkan
waktu untuk mengarang (yang terkenal: Modana dan
Mustika Leuweung)� menunjuk istrinya. Sudarmika pun
jadi direktur.

Selama dua minggu mereka menyiapkan nomor perdana.
Tenggat terkejar. Seluruh naskah segera dilarikan ke
percetakan Quick di kawasan Tanah Abang, Jakarta.
Opmaak diserahkan sepenuhnya ke orang-orang di
percetakan.

Nomor perdana selesai dicetak dalam 24 halaman, dengan
harga eceran seringgit. Oplahnya? "Sajipeunlah,"
ungkap Eto Hidayat, 60 tahun, sopir pertama Mangle. Ia
jadi sopir sejak usia 15 tahun. Kini, ia pensiun dan
jadi teknisi di percetakan Mangle.

Ungkapan "sajipeun" artinya tiras keseluruhan Mangle
cukup dimuat dalam satu jip. Ia menaksir antara 2.000
sampai 3.000 eksemplar.

Sampul edisi pertama Mangle menampilkan Ika Rostika,
seorang juru kawih dari sanggar Mang Koko, seniman
karawitan ternama Jawa Barat. Di sampingnya, terdapat
untaian tujuh bunga melati. Angka "tujuh" mengingatkan
pada jumlah pemrakarsa pendirian Mangle: Oeton
Moechtar, Rochamina Sudarmika, Wahyu Wibisana, Sukanda
Kartasasmita, Saleh Danasasmita, Utay Muchtar, dan
Alibasah Kartapranata. Mangle sendiri, dalam bahasa
Sunda, berarti untaian melati yang biasa dikenakan
pada pengantin.

Selain tujuh melati, kelak Mangle pun dihiasi sebuah
candrasengkala: Sukaning Indriya Gapuraning Rahayu.
Candrasengkala bikinan Mas Atje Salmoen�bekas redaktur
Balai Pustaka, yang dianggap guru bagi banyak
pengarang Sunda �ini kurang lebih berarti "Kesukaan
Membaca Gerbang Kebahagiaan." Tafsir akan lain
maknanya bila ia dieja dari arah sebaliknya. Ia kini
jadi sebuah kronogram. Rahayu bisa berarti satu,
Gapuraning sembilan, Indriya lima, Sukaning tujuh. Ini
jelas menerangkan tahun pertama Mangle diterbitkan,
1957. Persisnya, 21 November 1957.

Tak ada judul pada sampul. Satu-satunya rangkaian
huruf lain selain logotif dan candrasengkala adalah
brand image yang menjelaskan kalau Mangle merupakan
majalah umum dan panglipur (hiburan). Isi perut Mangle
memberi penegasan. Cerita pendek tentang kehidupan
sehari-hari, utamanya dengan setting kampung, cerita
pewayangan, guyonan, dan kisah-kisah menggelikan yang
dialami pembaca dalam rubrik "Pangalaman Para Mitra"
dapat disebut sebagai contoh-contoh faktualnya. Porsi
non-hiburan secara reguler barangkali terletak pada
rubrik pengajaran bahasa Sunda.

Sebagai majalah hiburan, Mangle jelas tak bisa
diharapkan jadi media perlawanan budaya terhadap
penguasa sebagaimana dicita-citakan Wahyu Wibisana
jauh-jauh hari. Pada 1960-an, Mangle malahan jadi
corong rezim dengan memuat artikel serial tentang
Manipol Usdek (Manifestasi Politik Undang-Undang Dasar
1945, Sosialisme, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi
Terpimpin dan Kepribadian Nasional).
Sekurang-kurangnya dua halaman dihabiskan untuk
menjelaskan bab-bab ajaran Soekarno, yang berjejuluk
"pemimpin besar revolusi" itu.

"Akang kan inginnya majalah sastra, majalah yang
memberi jalan pada kebudayaan dan harga diri Sunda?"
tanya saya kepada Wibisana baru-baru ini.

"Betul. Tapi yang punya duit bukan Akang," jawab pria
kelahiran 1935, yang sampai saat ini masih rajin
menulis buku-buku pelajaran bahasa Sunda. Terakhir, ia
sedang berusaha menamatkan triloginya mengenai
pelik-pelik bahasa Sunda, masing-masing sebanyak 2.000
halaman.

Wahyu Wibisana sebenarnya tidak gagal amat mendesakkan
konsepnya. Selaku redaktur kepala, Wibisana masih
didengar pemodal ketika ia menyodorkan 30 banding 70
untuk sastra banding hiburan. Dalam perkembangannya,
konsep inilah agaknya yang memberi Mangle identitas
lain, selain sekadar majalah hiburan. "Karena banyak
karya yang dimuat di situ punya kekuatan sastra, juga
aspek bahasa dan sastra sering dibahas dalam
karya-karya yang dimuat itu, secara tidak langsung
Mangle ikut memekarkan sastra Sunda," komentar Ajip
Rosidi, seorang novelis dan ketua Yayasan Kebudayaan
Rancage, yang mengadakan penyusunan Ensiklopedia
Sastra Sunda, dan kini mukim di kota Mino, Jepang.

Rosidi mengatakan pada saya, Mangle bahkan dapat
disebut sebagai salah satu referensi penting untuk
meneliti perkembangan sastra Sunda mulai 1957 sampai
sekarang. "Lagi pula," sambung Rosidi, "hampir seluruh
pengarang Sunda pernah memuatkan karya-karyanya di
Mangle."

Apapun pendapatnya, belum lagi setahun bersama Mangle,
Wibisana hengkang ke Bandung. Orang tak pernah tahu
persis musababnya. Kalau ditanya, ia biasa memberikan
jawaban klise, "Akang pindah ngajar." Begitukah?
Sebuah koran tua di Bandung yang mulai terbit pada
1920, Sipatahoenan, punya catatan yang menunjukkan,
sejak 1958 Wibisana pernah bekerja di sana.

[Pada 1963 Mangle lagi-lagi kehilangan pemimpin]


                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers!
http://promotions.yahoo.com/new_mail


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke