Tujuh Melati nan Layu Oleh: AGUS SOPIANN
SEMINGGU menjelang lebaran 2001. Jalan Buahbatu yang panas dan sibuk hampir sepanjang tahun, ternyata masih menyisakan keteduhan, ketenangan. Mampirlah ke sebuah rumah yang berjarak beberapa langkah dari mulut Jalan Mutiara. Di sini, Ki Umbara, nama populer untuk Wiredja Ranulaksa, tinggal ditemani dua cucu dan dua pembantunya. Istri Ki Umbara, Ruwisah binti Karta Perwata, sudah meninggal pada 1984 dalam usia 72 tahun. Sejak masuk ke halaman, kesan teduh sudah terasa. Tanaman perdu setinggi semeter lebih memagari areal seluas sekitar 20 meter persegi. Di pojok kiri, berdiri pohon jambu air yang sudah berjanggut suplir dan tumbuhan parasit. Di sampingnya, terdapat pohon nangka yang tumbuh tidak sengaja sejak dua tahun lalu gara-gara salah seorang anak Ki Umbara melempar biji nangka ke sana. Setiap hari, kedua pohon berdaun lebat dan rindang itu seperti tak pernah jemu mengumpulkan angin dan menjatuhkannya setelah jadi udara segar. Oksigen menerobos ke dalam ruang tamu yang sangat sederhana. Dua guci Cina, salah satunya setinggi pinggang, mengawal ruang kosong di sayap kanan. Selebihnya, meja dengan vas bunga plastik di atasnya, dan kursi model lama yang telah dimodifikasi ala kadarnya oleh kain tebal warna merah hati. Di salah satu kursi, terlihat tape compo, empat kaset dakwah Zainuddin M.Z. dan sekeping kaset tembang Sunda Mamah Dasimah. Ada juga balsem untuk menggosok hidung Ki Umbara yang sedang pilek. Kakek yang dikaruniai enam anak dan 15 cucu itu sekilas tampak sehat untuk usianya yang telah menginjak 87 tahun pada 2001. Dituntun cucunya, Rastri, seorang guru sekolah dasar, Ki Umbara berjalan tertatih-tatih. Tangan kanannya menggenggam kuat-kuat kepala tongkat jati penuh ukiran. Ia berkain, berpeci, bersandal kulit. Saya tahu kemudian, giginya tinggal satu, dan bicaranya kelu. Bergetar. Terbata-bata seperti bocah yang sedang belajar bicara. Matanya sudah tak awas benar sehingga saya harus lebih merapat agar gerak bibir saya terbaca olehnya. Belasan pertanyaan yang saya ajukan, dalam percakapan yang seluruhnya menggunakan bahasa Sunda, dijawab dengan satu kata: lupa. Lainnya, dengan pejaman mata. Juga geleng-geleng kepala. Sampai kemudian ia merogoh saku baju kampretnya. Dari dalam, ia keluarkan secarik surat tanpa amplop, yang diketik rapi. Tiada satu pun kesalahan ketik. Surat dari Ajip Rosidi. Sejak sebulan, ungkap Rastri, surat itu jadi hiburannya, dan selalu ditaruh di saku kemeja itu untuk sesekali minta dibacakan. Isinya antara lain mengabarkan: sejumlah buku dan karya-karya lain Ki Umbara di Mangle akan diterbitkan ulang oleh Ajip Rosidi, yang tempo hari memprakarsai Konferensi International Budaya Sunda, dengan biaya 70 ribu dolar US lebih. Dari kop, saya tahu, Ajip Rosidi mengirimkan surat dari Mino, Jepang. Nadanya sangat lembut, dengan bahasa Sunda halus, sebagaimana layaknya seorang anak yang berbicara pada orangtuanya. Bahasa Sunda memang mengenal tingkatan, mulai ningrat sampai Sunda pasar. Kepala surat bahkan jelas-jelas menyebut "Kangrama" yang artinya "ayahanda." Sebutan Ua, atau Uwak dalam bahasa Indonesia, pada tubuh surat, tiada lain sebuah penghormatan kepada seorang yang dituakan. Panggilan ini pula yang digunakan seluruh awak Mangle dan orang-orang yang mengenalnya secara dekat. Ki Umbara dan Mangle ibarat tubuh dengan jiwa. Ia boleh dibilang satu-satunya pengawal Mangle sejak pertama kali terbit hingga sekarang. Secara formal, memang ia bergabung sebagai redaktur sejak Mangle pindah ke Bandung, pada 1963. Namun, sebenarnya, sejak 1957, tahun pertama Mangle berdiri, Ki Umbara sudah mengirimkan karangan-karangannya. Hanya aktivitasnya sebagai gurulah yang membatasi dirinya sehingga tak bisa bekerja full time. Kepengarangan yang melekat pada dirinya dirintis sejak bersekolah di Noormal School, pendidikan lanjutan setelah mendapat dasar di Sekolah Rakyat. Bakatnya makin terasah ketika ia mengirimkan karangannya ke Balai Pustaka awal 1950-an. Ketika merapat ke Mangle, Ki Umbara mendapatkan gemblengan Mas Atje Salmoen, redaktur Mangle generasi awal. Tentang Salmoen, Ki Umbara punya pengalaman yang sampai kini dikenangnya. Suatu ketika Ki Umbara naik kereta-api ke Stasiun Jatinegara, Jakarta, untuk kemudian menyambung perjalanan dengan mobil menuju Bogor. Ia hendak menemui Salmoen. Di kereta api, ia duduk berdampingan dengan seorang yang ia sebut "babah," panggilan pasar untuk seseorang beretnis Cina. Ia menyebut teman sekereta-apinya demikian lantaran kulitnya yang putih bersih dan matanya yang sipit. Ki Umbara tak punya referensi cukup untuk mengajak "babah" bicara. Bahkan, saat turun pun dan menabrak badannya, Ki Umbara tak sempat meminta maaf. Sampai di Bogor, setelah keliling mencari-cari alamat Salmoen, Ki Umbara bertemu lagi dengan "babah" yang sama�yang ternyata pengarang pujaannya. "O, yang tadi nabrak, ya," Salmoen menggodanya. Ki Umbara hanya sanggup menganggukkan kepala, tanpa berani memandang wajahnya. "Saya malu sekali," katanya. Dari Salmoen, Ki Umbara memperoleh teknik-teknik mengarang serta sebuah nasihat yang sampai kini diingatnya. "Kunci mengarang, dengarlah orang. Apapun yang diomongkan orang, dengar. Jangan sekali-sekali menutup kuping," ujar Ki Umbara mengutip nasihat itu. "Bapak bahkan memerlukan diri datang ke kampung-kampung, termasuk kampung bapak di Bendungan, untuk mendengar cerita-cerita rakyat mulai korban kepala manusia untuk pembangunan jembatan, para penculik anak kecil sampai kelong wewe." Kelong wewe yang dimaksud adalah perempuan jadi-jadian dalam mitologi Sunda yang kerjanya menakut-nakuti orang di malam hari, dengan suara-suara seramnya. Bagi publik Mangle, Ki Umbara bukan hanya pengarang andal, tapi juga sosok bijak. Kritik-kritik sosial yang meluncur dari kepalanya tak pernah disampaikan sepedas-pedasnya, melainkan dengan cara guyon. Ia menuliskannya dalam Lempa Lempi Lempong, salah satu rubrik tetap yang jadi trade mark majalah itu. Karakter bijak dan ngemong itulah agaknya yang menuntun kariernya hingga dipercayai jadi pemimpin redaksi dalam kurun 1972-1979. Ketika Oejang Darajatoen, anak kandung Oeton Moechtar, pemilik Mangle, mengambil alih kepemimpinan dari kepala sampai leher, Ki Umbara ditempatkan sebagai penasihat redaksi. Tahun 1986, Ki Umbara mencoba meninggalkan Mangle. Namun, awak redaksi menghalanginya. Padahal, saat itu usia Ki Umbara sudah menginjak 72 tahun, usia yang lebih dari pantas untuk menikmati hari tua bersama anak-cucu. "Bapak tidak boleh keluar dari dulu. Dari tahun 1980-an. Selama Mangle ada, bapak dijanjikan tidak akan ditelantarkan," ujar Ki Umbara. Apa boleh buat, nama Ki Umbara masih terus terpajang di boks redaksi sampai sekarang, walaupun sejak awal 1990-an ia tak pernah lagi menyentuh mesin tik. Karya-karyanya yang dimuat Mangle sejak itu tak lebih dari pemuatan ulang. Sebagai penasihat redaksi, Ki Umbara mendapat kiriman gaji pensiun dari Mangle sebesar Rp 100 ribu saban bulan. Jika ada cerita yang dimuat ulang, ia mendapat tambahan. Kadang Rp 7.500, kadang Rp 15 ribu. "Seringnya tujuhribu limaratus," kata Rastri menimpali. "Kemarin bapak diberi Rp 120 ribu," Ki Umbara mengungkap gaji Desember 2001. "Itu tak termasuk THR. Kan nanti bapak diberi THR," Rastri menghibur kakeknya. THR, tunjangan hari raya, yang biasa diberikan perusahaan menjelang Idul Fitri. Peraih Hadiah Sastra Rancage 1991 itu mengangguk-angguk. Ada bening di kedua sudut matanya. Sepertinya ia menangis �entah untuk apa. *** Sumber: PANTAU. Tahun III Nomor 023 - Maret 2002 :: halaman 26-33. http://www.pantau.or.id/ __________________________________ Do you Yahoo!? New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages! http://promotions.yahoo.com/new_mail ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0EHolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

