Tujuh Melati nan Layu Oleh: AGUS SOPIANN
SEBELUM Ki Umbara benar-benar bekerja menjalankan tugasnya, langkahnya terhenti di tengah jalan. Tanpa jelas sebabnya, kepemimpinan redaksi diambil-alih Sukanda Kartasasmita, salah seorang pendiri Mangle, yang kini jadi menantu Oeton Moechtar. Tidak banyak yang dilakukan Kartasasmita, selain mengubah periodisasi terbit Mangle menjadi mingguan dengan oplah 50 ribu eksemplar. Bukannya membawa kemajuan, oplah Mangle terus merosot hingga mencapai 30 ribu eksemplar per minggu. Ki Umbara pun kembali dinaikkan jadi pemimpin redaksi. Tapi, tampaknya, Mangle tak menemukan jalan baru untuk dapat mendongkrak lagi oplahnya. Pilihan kembali periodisasi terbit ke format semula, sebulan tiga kali terbit, tak pernah mereka ambil. Tahun 1979, Departemen Penerangan menginventarisasi ulang penerbitkan seraya mengingatkan kembali agar karyawan diberi porsi saham. Sejarah berulang. Awak Mangle lagi-lagi terlibat aksi bisik-bisik. Malang buat Ki Umbara, ia terkena langkah pengamanan manajemen. Kedudukannya digantikan Oejang Darajatoen Moechtar, anak kandung keluarga Moechtar. Di masa kepemimpinan Darajatoen, struktur kepengurusan redaksi Mangle kembali berubah. Banyak nama yang kemudian mendapat tempat di hati masyarakat. Namun, itu setelah mereka keluar dari Mangle. Beberapa di antaranya Abdullah Mustappa, Yoseph Iskandar, atau Aam Amalia. Mangle sendiri tak kunjung mampu berlari. Jangankan oplahnya naik, sekadar mempertahankan saja sudah sulit. Dan itulah yang terjadi hingga akhirnya oplah tinggal 10 ribu eksemplar sebelum krisis moneter 1997. Celakanya lagi, iklan yang masuk makin lama makin seret. Belakangan, yang tersisa tidak lebih dari iklan barter, iklan kursus menjahit, ucapan selamat kepada pejabat yang naik pangkat, atau iklan ulang tahun suatu daerah. "Mangle semata-mata hidup dari penjualan per eksemplar dan sumbangan-sumbangan yang tidak mengikat, baik dari pemerintah (daerah) maupun dari lembaga swasta dan perorangan," ungkap Duduh Durahman, kini wakil pemimpin redaksi bidang fiksi. Darajatoen Mochtar berusaha sekuatnya menyehatkan bisnis Mangle, semisal dengan melakukan intensifikasi penagihan. Tapi zaman sudah berubah rupanya. Berbeda dengan masa Wibisana, agen-agen tak lagi cemas kalau pengiriman Mangle dihentikan. "Mereka tak bereaksi. Tak ada respons. Mangle bukan Tempo atau Kompas, yang kalau dihentikan pengirimannya, agen akan kelabakan," Darajatoen menyampaikan kegundahannya. Sadar situasi, Darajatoen mengalihkan pandangan dari pola penjualan eceran. Ia mendekati instansi-instansi dan perusahaan-perusahaan agar dapat berlangganan secara borongan. Tapi, ini pun tak banyak hasilnya. Mereka baru membeli banyak kalau kebetulan punya event penting. "Mangle menulis kegiatan mereka, dan mereka membeli Mangle," tambah Darajatoen. Ia kemudian menunjuk Bank Jabar, PT Telkom, Pos dan Giro, serta Pupuk Gresik, yang selama ini menyangga pasar Mangle. "Kalau ulang tahun atau ada kegiatan penting," begitu kata Darajatoen, "Telkom biasanya memesan 100 eksemplar." Sulitnya mendongkrak oplah, menurut Durahman, amat berpengaruh pada kesejahteraan karyawan. Gaji karyawan, yang menjadi kunci utama untuk membuka masalah tersebut, hampir tak pernah terperhatikan. Berapa sebenarnya gaji karyawan Mangle? Darajatoen mengatakan, karyawan tetap redaksi rata-rata memperoleh imbalan Rp 300 ribu per bulannya. Sedangkan redaktur mendapat gaji rata-rata Rp 500 ribu. Tapi, Karno Kartadibrata, wakil pemimpin redaksi bidang nonfiksi, punya angka berbeda. Redaktur menurutnya berkisar Rp 200 ribu. Ini pun buat karyawan tetap. Mereka yang berstatus honorer, total gaji yang diterima bisa lebih kecil lagi, berkisar Rp 100 ribu. "Semuanya serba tertutup. Tak pernah ada transparansi. Tapi, Akang mendapat Rp 650 ribu," ucap Karno Kartadibrata. "Para karyawan bisa bertahan hidup dari gaji, itu satu keajaiban," timpal Durahman. "Tetapi memang begitulah kenyataannya. Banyak karyawan yang terpaksa berimprovisasi memanfaatkan kesempatan dan ketrampilan yang dimiliki; merangkap sebagai montir alat elektronik, makelar, buka warung, tukang kredit, atau tukang jahit." Awak redaksi bisa saja mendapatkan "uang lebih" dari kantor. Cara yang paling sederhana adalah dengan menulis fiksi, yang menurut Durahman, akan dibayar penuh oleh Mangle. Tapi, selain keterbatasan kolom dan tidak banyak awak redaksi yang punya kemampuan menulis fiksi, honor pun tak punya daya saing. Honor pengarang Mangle memang hampir tak pernah naik lagi dalam lima tahun terakhir ini. Seorang pengarang cerita pendek hanya dihargai Rp 45 ribu sampai Rp 75 ribu. Ini kata Darajatoen. Perkiraan Durahman lebih kecil lagi. Tapi, ia enggan menyebut jumlah persisnya. "Yah, kira-kira sepadan dengan harga sebelas liter beras. Bayangkan saja," tandasnya tersenyum kecut. Satu-satunya yang dia banggakan dari Mangle dalam perkara honor adalah ketepatannya dan kecepatannya membayar. "Mangle tak pernah menipu. Hari ini menulis, besok sudah bisa diambil honornya. Bahkan Mangle kalau perlu membayar di muka. Ini dari dulu sampai sekarang." [Halaman Mangle sekarang 74 lembar.] __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/0EHolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

