Tujuh Melati nan Layu
Oleh: AGUS SOPIANN
PADA 1963 Mangle lagi-lagi kehilangan pemimpin. Mas
Atje Salmoen, redaktur-cum-pengarang yang memberi
cetak biru pada Mangle, memutuskan membuat majalah
sendiri, Sari, juga berbahasa Sunda. Tak ada huru-hara
pada awal perceraian ini. Pangkal penyebab hanyalah
karena Salmoen tak bisa mengikuti kepindahan markas
besar Mangle ke Bandung.
Oetoen Moechtar mengutus Sukanda Kartasasmita untuk
menemui Wibisana, yang berhasil diajak bergabung
kembali sekaligus duduk sebagai pemimpin redaksi.
Pembenahan di tubuh Mangle dimulai. Penyundaan
struktur kepengurusan mengawalinya. Sekadar contoh,
pucuk pimpinan tertinggi yang selama ini menggunakan
kredit direktrise kemudian pemimpin umum, diubah jadi
pupuhu. Sedang pemimpin redaksi disundakan menjadi
girang rumpaka. Nama-nama yang selama ini asing buat
kepengurusan media, sekalipun majalah berbahasa Sunda,
tiba-tiba bermunculan: dari panangkes (redaktur
pelaksana), juru duum (sirkulasi), sampai candoli
(keuangan).
Kepindahan Mangle ke Bandung juga ditandai oleh
dimulainya keseriusan untuk mengelola sektor
bisnisnya. Mangle yang sejak pertama terbit tak pernah
menagih uang langganan, membalik sikapnya. Sopir Eto
Hidayat pun dikelilingkan ke berbagai daerah. Tagihan
Mangle tidak sulit ditarik. Sepertinya orang lebih
takut kehilangan sebagian jatah uang belanja ketimbang
kiriman Mangle. Intensifikasi penagihan ini sungguh
luar biasa hasilnya. "Waktu diadakan penagihan,"
kenang Hidayat, "orang Mangle terkejut sebab ternyata
mereka kaya."
Bersamaan dengan itu, Mangle merekrut para penulis
yang bersemangat. Ki Umbara, Ami Raksanagara, Dudu
Prawiraatmadja, Duduh Durahman, Yus Rusyana, atau
Saini K.M. adalah beberapa di antaranya. Mangle tak
salah pilih. Ki Umbara, umpamanya, berhasil membumikan
apa yang disebut Ajip Rosidi "sastra dakwah
Islamiyah"�walaupun untuk itu Ki Umbara harus
berhadapan dengan para penulis sastra kiri, yang
dengan tensi tinggi berusaha merevolusikan "sastra
realis" �anak kandung paham realisme sosialis.
Sebelum bergabung, Umbara dikenal sebagai redaktur
majalah Pelet dan kontributor Balai Pustaka yang
terbilang produktif. "Karya-karyanya yang mula-mula
menarik perhatian karena memperlihatkan mutu yang jauh
menjulang di atas karya-karya sebelumnya, ialah yang
menceritakan pengalaman manusia mukmin yang tersesat
atau masuk ke dalam dunia siluman atau jin," tulis
Ajip Rosidi merujuk pada cerita pendek Kasilib
(Terseret ke Dunia Siluman) yang dimuat Mangle pada
1963.
Cerita-cerita lain yang bergenre sama �yang juga
melambungkan nama Umbara sekaligus Mangle� bisa
disebut beberapa di antaranya lagi. Taruhlah Nu Ilang
Tanpa Karana (Yang Hilang Tanpa Sebab), Mang Marebot
Dipinangsaraya (Mang Marebot Dimintai Tolong), atau
Teu Tulus Paeh Nundutan (Batal Mati Ketika Mengantuk).
Cerita-cerita ini, menurut Rosidi dalam karyanya
Sastra dan Budaya (1995), bukan saja telah melanjutkan
tradisi dakwah Islamiyah dalam sastra Indonesia,
melainkan bersesuaian pula dengan perkembangan fiksi
dunia mutakhir, tatkala para pengarang kian cenderung
meninggalkan realisme dan seolah berlomba-lomba
menciptakan karya-karya nonrealis. "Apa yang
dilukiskannya sebenarnya merupakan kehidupan yang
dianggap real dalam dunia orang kecil di perkampungan
Sunda," tulis Rosidi.
Jerih payah Ki Umbara tidak sia-sia. Belum lagi
setahun masa kepemimpinan Wibisana, oplah Mangle sudah
bisa dilarikan ke angka 30 ribu eksemplar; naik 200-an
persen dari semula. Akhir 1963, oplah naik jadi 50
ribu eksemplar. Roda bisnis Mangle pun berputar makin
cepat. Setahun kemudian, awak percetakan PT Ekonomi di
Jalan Oto Iskandardinata mencetak 90 ribu eksemplar
per bulannya.
"Saya kira Akang orang yang paling berhasil menggenjot
oplah Mangle," puji saya pada Wibisana.
Ia mengibas-ngibaskan tangan. "Tidak persis begitu,"
Wibisana mencoba membuang pujian. "Zaman Akang beda.
Saingan belum banyak, terbit tidak seperti sekarang
seminggu sekali. Jangan lupa, waktu itu kebahasaan
Sunda masih eksis. Penuturnya masih banyak."
Meraih sukses barangkali sama sulitnya dengan
mempertahankannya. Mangle yang sedang menyala kuat,
tak urung mengundang laron-laron untuk ikut menikmati
sinarnya. Tak heran kalau berbagai kader partai
politik berdatangan meminang Mangle. "Waktu itu musim
bergandul," ucap Wibisana mengacu pada aturan rezim
Soekarno yang mengharuskan tiap media punya gandulan
politik. "PNI, kiri, kanan, terus merongrong," katanya
lagi. PNI adalah Partai Nasional Indonesia, sedangkan
kiri dan kanan masing-masing sebutan untuk kalangan
komunis dan kaum agama.
"Partai apa akhirnya?"
"Partai militer. Hahaha," gelaknya.
Militer waktu itu jadi simbol netralitas. Ia lebih
berfungsi sebagai pemadam kebakaran dan tak
berkepentingan pada kekuasaan. Wibisana merasa, media
hanya bisa berkembang manakala tak terlibat berbagai
kepentingan, terutama politik. "Orang politik mulai
mengambil jarak," katanya. "Sebelum itu Akang sempat
dapat ancaman-ancaman. Bahkan ada yang mengancam akan
mencungkil mata segala."
Seiring sukses yang dicapai, biduk Mangle mulai
terancam bocor oleh friksi internal yang tiba-tiba
menggejala. Aturan Departemen Penerangan agar pemilik
media massa memberikan sahamnya 20 persen kepada
karyawan, jadi biangnya. Pemilik keberatan.
Desas-desus mulai berterbangan di meja-meja awak
Mangle. Perang dingin tak dapat dielakkan lagi.
Sekuat tenaga Wibisana menjaga keharmonisan kerja.
Ketika eskalasi konflik makin memanas dan pemilik
saham mulai merasa gerah, Wibisana dihadapkan pada
pilihan sulit. Oeton Moechtar menginstruksikan
Wibisana memecat sejumlah awak redaksi yang dianggap
susah diatur. Dalam daftar Wibisana, terdapat
nama-nama Ki Umbara, Duduh Durahman, Yus Rusyana, dan
Saini K.M.; orang-orang yang selama ini sudah
memberikan nama besar Mangle, sekaligus sudah dianggap
saudara sendiri olehnya. "Pak Oeton tidak sependapat
dengan mereka," kata Wibisana. "Setelah
ditimbang-timbang, Akang memilih memecat diri
sendiri."
Tahun 1966, era Wibisana angkat kaki. Seluruh
temannya, yang diminta Moechtar untuk dipecat,
terpana. Mereka akhirnya mengikuti langkahnya.
[Sepeninggal Wibisana, Mangle dimasuki orang politik:
Mh. Rustandi Kartakusumah, kader Partai Nasional Indonesia.]
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/