Tujuh Melati nan Layu

Oleh: AGUS SOPIANN

KAMAR redaksi hanya beberapa langkah dari pintu utama;
melewati ruang resepsionis yang sebagian sudutnya
diisi meja Karno Kartadibrata. Dua lampu neon yang
bergelantungan di atas kabel-kabel tua meneranginya.
Bentuk ruang mengingatkan tata letak bus kota.
Meja-kursi, sebagian di antaranya dipajangi komputer,
berderet dari depan ke belakang dalam dua saf. Lemari
besi, kabinet arsip, bufet, sofa, tampak
berdesak-desak, seperti saling sikut memperebutkan
lahan sekitar 4 x 10 meter persegi.

Tepat di seberang kamar redaksi, terletak sebuah
ruangan agak besar, sekitar 7 x 10 meter persegi.
Inilah ruangan percetakan yang berisi mesin potong
Polar-Mohr Standard, mesin jahit kawat Hohner Economy,
dan Heidelberg untuk isi dan cover. Mesin pelat
Duplihot HS 130 menempati sudut lain, di sebuah bedeng
tersembunyi di balik pintu tripleks. Seluruh mesin
dibeli tahun 1980, tatkala Mangle mendapatkan kucuran
kredit Rp 90 juta dari Bank Dagang Negara. Ketika itu,
kurs dolar atas rupiah masih sekitar Rp 600.

Andai tak ada peralatan-peralatan tersebut, sulit
membayangkan bagaimana perjalanan nasib Mangle,
terutama sekali sejak krisis moneter memukul
perekonomian Indonesia menjelang jatuhnya Soeharto
dari kursi kepresidenan. Sejak 1997, oplah cetak
Mangle memang hanya 5.000 eksemplar, dengan harga
eceran Rp 4.000 per eksemplarnya. "Ada subsidi silang
dari order cetak luar," kata Darajatoen. Dengan order
ini, ia menandaskan, separuh langkah bisnis Mangle
disangga usaha percetakan.

"Apa saja yang bisa dicetak di sini?"

"Kartu nama, apa saja. Semua diterima," ujar seorang
petugas percetakan dalam bahasa Sunda halus. Hambali,
demikian jati diri pria itu, kemudian melanjutkan
pekerjaannya, memotong-motong kertas. "Mangle
kebanyakan orang. Untung percetakan bisa memberi
makan."

Hingga akhir 2001, karyawan Mangle sekurang-kurangnya
43 orang. Separuh di antaranya tenaga redaksi.
Sebagian karyawan tetap, sebagian lagi honorer.

Bukan perkara gampang bagi Darajatoen untuk dapat
memberi makan mereka. Kalkulasi kasar memperlihatkan,
buat hidup sebulan, Mangle sekurang-kurangnya
memerlukan biaya sekitar Rp 30 juta untuk gaji,
produksi, dan biaya umum. Angka ini mungkin akan lebih
membengkak lagi ketika datang musibah kenaikan harga
kertas. Padahal, kertas yang diperlukan untuk
menerbitkan Mangle tidak dibeli dari distributor
besar, tapi dari kelas leveransir di Jalan Cibadak,
Bandung.

Untuk 4.000 eksemplar per minggu, dalam satu bulan,
Mangle sekurang-kurangnya memerlukan 100 rim plano
untuk isi, dan 12 rim kertas kunsdruck untuk sampul.
Total biaya yang dibutuhkan untuk semua itu sekitar Rp
10 hingga Rp 15 juta. "Kertas saja Rp 5 juta. Hanya
untuk satu-dua kali terbit," kata Moechtar.

Yang sedang dihadapi Mangle jelas bukan aktivitas
investasi tapi perkara bertahan hidup. Persoalannya,
bagaimana Mangle bisa bertahan dengan pengeluaran Rp
30 juta per bulannya? Kelihatannya, Mangle masih punya
selisih pendapatan Rp 50 juta dari penjualan oplah
sebulannya yang 20 ribu eksemplar itu. Tapi, ini
selisih di atas kertas. Dalam prakteknya, tidak
seluruh oplah terjual, dan tidak seluruhnya
menghasilkan uang cepat. Lagi pula, biaya rutin Rp 30
juta itu tidak termasuk ongkos-ongkos percetakan
dengan segala tetek-bengeknya.

Beralasan kalau awak Mangle �termasuk Darajatoen
sendiri� menilai medianya dalam kondisi "hirup teu
neut paeh teu hos". Saya agak kesulitan
mengindonesiakannya secara persis, tapi kira-kira
peribahasa tua tersebut setara dengan "bagai kerakap
di atas batu, hidup segan mati tak mau." Dalam kalimat
yang lebih pendek, ngos-ngosan. Gamblangnya: sekarat.

Jalan keluar dari situasi tersebut teorinya adalah
menggenjot pemasaran, baik oplah maupun iklan.
Betapapun, di hadapannya terbentang pasar yang amat
besar. Simak hasil riset Galura, sebagaimana
disampaikan pemimpin redaksinya, Us Tiarsa. Dia
bilang, dari 42 juta warga Jawa Barat, lebih
separuhnya penutur bahasa Sunda. Angka melek huruf
pun, berangkat dari data Sensus Ekonomi Nasional 1999,
relatif tinggi, yakni sekitar 92 persen.

Namun, indahnya angka-angka tadi sepertinya tak
berarti apa-apa buat Mangle. Selain daya beli
masyarakat sedang melemah akibat pukulan krisis
ekonomi, Mangle harus berhadapan dengan minimnya biaya
operasi. Sekarang saja, biaya pengiriman majalah ke
luar kota tak lepas dari karitas 4848, sebuah
perusahaan angkutan di Jawa Barat yang punya jaringan
ke berbagai daerah.

Jangan tanya dana promosi. Sejak 10 tahun terakhir
ini, Mangle hampir tak melakukan kegiatan promosi,
selain memasang iklan barter dengan penerbit media
massa setempat. Itu pun tidak banyak. "Mangle termasuk
barang dagangan, namun harus diberi perhatian oleh
pemerintah dan lembaga-lembaga terkait," ujar Duduh
Durahman. Pemikiran Durahman bermuara pada tesisnya,
bahwa selain memuat kepentingan bisnis, Mangle juga
menampung unsur emosional, kebanggaan, rasa memiliki,
dan tanggung jawab masyarakat Pasundan. "Mangle
merupakan salah satu media pewarisan budaya."

Pemerintah Jawa Barat rupanya telah lama mendengar
suara semacam itu. Itu sebabnya, seperti dikatakan
Darajatoen, sejak tahun 1980, Mangle mendapat bantuan
setiap tahunnya. Hanya saja jumlahnya hanya cukup
untuk stok kertas dua edisi, Rp 5 juta. Baru sejak
2001, Mangle seperti mendapat durian runtuh tatkala
pemerintah setempat memberikan bantuan Rp 50 juta per
tahun. Sejak tahun itu pula, badan legislatif di sana
ikut-ikutan bermurah hati, memberi Rp 25 juta.

"Bagaimana kalau wartawan secara perorangan juga
memperoleh bantuan. Misalnya, amplop?" iseng-iseng
saya bertanya suatu hari di penghujung 2001.

"Nya meungpeun carang we," tukas Moechtar. Maksudnya,
pura-pura tidak melihat.

"Artinya dibolehkan?"

"Mau apa lagi...."

[Seminggu menjelang lebaran 2001.]

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke