Depok, Kompas - Pelajaran Bahasa Sunda di sekolah-sekolah di wilayah Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Banten, dinilai sangat kering, menjemukan, bahkan menakutkan.
"Materi pelajarannya sangat linguistik, tidak ditekankan pada penguasaan bahasa percakapan sehari-hari," kata staf pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI), Maman S Mahayana, dalam percakapan dengan Kompas di kampus UI Depok, Rabu (28/6).
Maman menyayangkan siswa SD kini dijejali hal-hal seperti itu sehingga pelajaran Bahasa Sunda menjadi hal yang mengerikan. "Seharusnya pelajaran itu ditekankan pada aspek komunikasi dalam tata pergaulan dan kehidupan sehari-hari," katanya.
Hal senada disampaikan budayawan Sunda, Ajip Rosidi. "Pelajaran Bahasa Sunda selama ini memang tidak benar. Jam pelajaran sangat kurang, guru-guru tidak menguasai materi, sedangkan buku-buku pelajarannya tidak bermutu," kata Ajip di UI.
Ada konspirasi
Menurut Ajip, sebenarnya sudah ada buku pelajaran Bahasa Sunda yang baik, tetapi karena ada konspirasi pejabat dan penerbit, buku-buku bermutu malah tidak dipilih sebagai buku ajar.
"Ini terjadi pada banyak jenis buku ajar, bukan hanya buku pelajaran Bahasa Sunda," kata Ajip yang kini mengelola majalah berbahasa Sunda Cupumanik, dan diterbitkan di Bandung.
Ajip merasa sedih karena banyak orang Sunda tidak bangga lagi berbahasa Sunda. "Gunakanlah Bahasa Sunda dalam percakapan sehari-hari dalam keluarga antara ayah, ibu, anak dan kerabat di rumah. Persoalannya, hal ini tidak dilakukan banyak keluarga Sunda. Gejala ini juga terjadi dalam keluarga Jawa," ungkapnya.
Menurut Ajip, jika bahasa ibu tidak diturunkan kepada generasi berikutnya, bahasa Sunda, juga bahasa Jawa, akan punah. Tanda-tanda bahasa ibu akan hilang sudah tampak.
"Orang biasanya menyalahkan anak muda yang enggan belajar Bahasa Sunda, tetapi tidak berpikir sebenarnya bukunya tidak tersedia. Saya mendirikan penerbit Qiblat Buku Utama yang menerbitkan buku-buku berbahasa Sunda, yang jumlahnya sudah 70 judul," kata Ajip Rosidi.
Sementara itu staf pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Munawar Holil menambahkan, persoalan pelik yang dihadapi dalam pengajaran bahasa Sunda adalah guru yang tak punya kualifikasi.
"Ada kasus di Parung. Guru yang mengajar Bahasa Sunda tak punya latar belakang pendidikan Bahasa Sunda dan bukan orang Sunda. Ini kan aneh?" kata Munawar.
Tantangan ke depan, bagaimana membuat orang Sunda mau belajar Bahasa Sunda. "Sebab saat ini orang berpikir praktis dan pragmatis, apakah setelah belajar Bahasa Sunda, ada untungnya. " katanya. (KSP)
--
~:ngadék sacékna, nilas saplasna:~
:.lembur deudeuh.:
http://banjarasih.blogsome.com __._,_.___
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
| Corporate culture | Business culture of china | Organizational culture |
| Organizational culture change | Organizational culture assessment | Jewish culture |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "urangsunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

